Sang Mantan

Sang Mantan
JAHAT


__ADS_3

Pintu mobil terbuka dan Nindy bergegas keluar, ia ingin segera bertemu dengan Rafael untuk meminta penjelasan pada sumainya itu. Dengan langkah yang lebar, Nindy masuk kedalam kediaman keluarga Mahendra. Tidak ada satu orangpun yang ia temui di sana, hingga pandangan matanya tertuju pada lantai atas di mana kamar Rafael berada. Pintu kamar itu terlihat terbuka, sehingga ia langsung berinisiatif untuk naik ke lantai atas.


Langkah kaki Nindy terhenti saat ia mendengar percakapan yang terjadi antara Rafael dan sang mama, percakapan yang membuat Nindy semakin merasa kesal dengan suaminya yang bodoh itu.


"Bagaimana bisa dia sebodoh itu, apa dia tidak menyadari jika kehadirannya telah membuat hatiku berubah".


"Aku tahu jika Nindy sangat mencintai laki- laki itu ma. Dihatinya hanya ada satu nama, dan nama itu bukanlah namaku" Ucap Rafael.


Tidak tahan mendengar ucapan sang suami yang terus menerus meragukan cintanya, Nindy melangkah masuk untuk menemui suami dan ibu mertuanya itu.


"Tahu apa kamu tentang hatiku!" Ucap Nindy dengan nada suara yang tinggi.


Rafael dan bu Linda terkejut saat mendengar sebuah suara dari belakang mereka, keduanya memalingkan wajahnya menatap seseorang yang baru muncul dari balik pintu.


"Nindy!" Seru bu Linda.


Sementara itu Rafael diam, ia hanya menatap Nindy yang terus berjalan mendekatinya.


"Memangnya apa yang kamu tentang hatiku? Hah!" Tanya Nindy dengan geram.


"Memangnya siapa kamu, hingga bisa nge-just aku seenaknya begitu?".


"Tahu apa kamu tentang hati dan perasaanku?" Nindy menunjuk hatinya.


"Nindy! Kamu tenang dulu sayang" Bu Linda berusaha menenangkan Nindy yang tersulut emosi.


"Ma!" Rafael menatap sang mama memberikan sebuah isyarat agar sang mama meninggalkan mereka berdua.


"Tapi Raf,,,," Ucapan bu Linda terputus.


"Aku mohon, ma" Pinta Rafael.


Bu Linda menghela nafas, sungguh beliau tidak ingin meninggalkan putra dan menantunya saat ini. Beliau takut jika anaknya tidak menemukan titik temu dari permasalahnya dengan Nindy.


"Mama tunggu di bawah ya" Ucap bu Linda seraya melangkah pergi.


Tidak ada satu orang pun yang menjawab, baik itu Rafael maupun Nindy. Keduanya hanya terdiam, mereka saling menatap satu sama lain.


Hening.


Satu detik


Lima detik


Sepuluh detik


Tidak yang berani memulai kata, keduanya masih saling menatap tanpa berkedip.


Tidak tahan dengan situasi yang saat ini terjadi, Nindy melangkahkan kakinya mendekati Rafael dan tanpa di duga ia langsung mendaratkan beberapa pukulan tepat di dada suaminya.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku, berengsek!" Maki Nindy pada sang suami.


"Kenapa kamu terus mempermainkan hatiku"

__ADS_1


"Untuk apa kamu datang jika pada akhirnya kamu berniat untuk pergi kembali".


Nindy terus memukul Rafael hingga tanpa sadar ia mulai terisak, tangisnya tumpah saat menatap sang suami yang hanya diam tanpa memberikan perlawanan sedikitpun.


"Kenapa kamu harus kembali hadir di saat aku sudah bisa melupakanmu dan mulai membuka hati untuk orang lain. Kenapa kamu setega ini padaku" Sentak Nindy dengan suara yang mulai terdengar serak.


"Jahat. Kamu benar- benar jahat padaku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu".


Nindy meremas kemeja Rafael hingga mengenai kulit tubuhnya, namun Rafael tidak bergeming, ia tetap diam dan membiarkan sang istri meluapkan segala emosinya pada dirinya.


"Apakah aku memang tidak berarti apa- apa untukmu? Apa aku tidak pantas untuk mencintai dan di cintai? Apakah kehadiranku sungguh tidak pernah berarti apa- apa untukmu? Kenapa kamu begitu tega mempermainkan hatiku? Hiks,,, hiks,,, hiks?".


Nindy terus memaki Rafael yang di sertai dengan isak tangis, kedua tangannya juga masih memukul dada sang suami.


Rafael menahan tangan Nindy yang masih saja memukul tubuhnya dan dengan cepat ia merengkuh tubuh sang istri kemudian membawa tubuh itu kedalam pelukannya. Hatinya begitu perih saat mendengar semua curahan hati dan luapan emosi dari sang istri, ia tidak menyangka jika keputusannya untuk pergi justru kembali menorehkan luka baru bagi sang istri di saat luka lama belum sepenuhnya pulih.


"Maaf aku sayang!" Lirih Rafael sambil memeluk tubuh sang istri dengan erat.


"Aku memang salah. Aku memang laki- laki berengsek. Maafkan aku. Maaf aku karena telah menorehkan banyak luka di dalam hidupmu".


Nindy memberontak, ia masih terus memukul tubuh sang suami di manapun ia bisa. Sementara Rafael tidak bergeming, ia menghujani pucuk kepala dan di sekitarnya dengan ciuman yang bertubi- tubi, ia ingin meluapkan semua rasa yang berkecamuk di dalam hatinya.


"Jahat!" Maki Nindy dalam tangisnya.


"Ya, aku memang jahat" Sahut Rafael.


"Kenapa kamu lakukan ini padaku?" Lirih Nindy.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku" Bisik Rafael.


"Ya Tuhan! Apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku harus kembali membuat luka di hati istriku?" Rafael begitu menyesali perbuatannya yang berniat untuk pergi meninggalkan Nindy setelah mengembalikan semua hak yang memang seharusnya menjadi milik istrinya itu.


"Maafkan aku sayang. Ku mohon maafkan aku".


"Maafkan laki- laki bodoh dan berengsek ini" Lirihnya.


Keduanya terisak dalam tangis dengan tubuh yang saling memeluk erat. Nindy makin menenggelamkan wajahnya di dalam dada sang suami tepat di bekas pukulannya tadi. Untuk sekian detik Rafael dan Nindy larut dalam perasaannya masing- masing hingga akhirnya Rafael melepaskan pelukannya kemudian menatap wajah sang istri. Keduanya saling menatap dengan mata yang sembab.


"Apa kamu marah karena aku pernah meninggal kan mu? Apakah kamu ingin membalasnya dengan hal yang sama yaitu pergi meninggalkan aku juga?" Ucap Nindy.


"Seharusnya kamu tidak usah datang mencariku, seharusnya kamu lupakan aku, seharusnya kamu anggap aku sudah mati saja sehingga kita tidak perlu bertemu lagi dan saling menyakiti seoerti ini. Untuk apa kita bertemu lagi jika pada akhirnya kita harus kembali berpisah, seharusnya kamu-----!"


Cup


Ucapan Nindy terputus di saat Rafael membungkam bibir cerewet sang istri yang terus memakinya dengan kata- kata yang menusuk hati. Rafael terus ******* bibir sang istri dalam- dalam hingga akhirnya ciuman itu terpisah karena keduanya mulai kesulitan bernafas.


"Cukup. Hentikanlah" Lirih Rafael dengan nafas yang terenggah- enggah.


"Jangan katakan apapun lagi, karena aku sudah tidak sanggup untuk mendengarkannya".


Rafael merengkuh kedua pipi Nindy dan menatapnya dalam- dalam, ia terus menatap setiap inci dari wajah sang istri dan berusaha untuk merekamnya di dalam memorinya. Setelah sekian tahun mereka berstatus sebagai suami dan istri, barulah kali ini Rafael menatap wajah istrinya dengan jarak yang begitu dekat dan dalam jangka waktu yang lama. Rafael harus mengakui jika istri kecilnya telah tumbuh menjadi wanita yang cantik bahkan begitu cantik dimatanya.


Jika dulu Rafael harus menundukkan kepalanya saat menatap wajah istri kecilnya, namun sekarang ia tidak perlu melakukan hal itu lagi. Karena istri kecil yang dulu sering di panggil bocil itu telah tumbuh dewasa dengan postur tubuh yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Kini tinggi tubuh Nindy sudah ideal untuk ukuran wanita dewasa.

__ADS_1


"Apa kamu tidak menginginkanku?" Nindy kembali mengajukan sebuah pertanyaan.


"Pertanyaan macam apa itu? Kenapa kamu mengajukan pertanyaan seperti itu. Tidakkah kamu menyadari jika aku sangat menginginkan mu, bahkan aku hampir gila karena begitu menginginkanmu hingga setengah mati" Ucap Rafael.


Nindy menatap mata sang suami lekat- lekat.


"Apa kamu tidak mencintaiku?" Tanyanya lagi.


"Sangat. Aku sangat mencintaimu" Sahut Rafael.


"Lantas kenapa kamu pergi!" Nindy kembali mendaratkan sebuah kepalan tinju di dada sang suami.


Rafael terdiam, ia tidak ingin menjawabnya.


"Untuk apa kamu berkemas dan untuk apa semua koper- koper itu?" Tunjuk Nindy pada koper- koper yang telah berjenjer rapi.


"Aku hanya ingin pergi liburan" Jawab Rafael asal.


"Kamu ingin pergi liburan?" Nindy mengulang ucapan sang suami.


"Iya, pergi liburan" Sahutnya.


"Kamu ingin pergi liburan sendiri? Kamu ingin pergi liburan tanpa mengajakku!" Kesal Nindy.


"Memangnya kamu mau ikut bersamaku?" Tanya Rafael iseng.


"Tidak. Aku tidak mau ikut dengan laki- laki jahat seperti dirimu" Nindy melepaskan tubuhnya dari pelukan sang suami.


Nindy melangkah menjauh seraya berucap :


"Jangan dekati aku lagi, jangan memeluk aku lagi dan jangan pernah menciumku lagi".


Rafael tersenyum, entah mengapa sikap sang istri terlihat begitu lucu di matanya.


"Sayang!" Goda Rafael.


"Jangan memanggilku sayang" Sergah Nindy kesal.


Tanpa menghiraukan kekesalan sang istri, Rafael melangkah mendekat dan langsung memeluk tubuh dan istri dengan erat.


"Sudah aku katakan jangan memeluk tubuhku lagi" Nindy berusaha untuk memberontak.


"Hush,,,! Diamlah" Bisik Rafael.


"Biarkan aku memeluk tubuh ini sebentar saja. Tahukah kamu jika aku begitu merindukan tubuh kecil milik istriku ini".


"Tubuhku tidak kecil" Protes Nindy.


Rafael tersenyum.


"Biarkan seperti ini sebentar karena aku sangat merindukanmu".


Nindy terdiam, ia tidak lagi melakukan aksi protes. Harus di akui jika pelukan sang suami juga begitu ia rindukan. Dan efek dari pelukan itu mampu memberikan ketenangan hingga semua kekesalan dan amarahnya menguap seketika.

__ADS_1



__ADS_2