Sang Mantan

Sang Mantan
PENGUNTIT


__ADS_3

Seusai makan siang, Nindy beserta Shella dan bu Linda memutuskan untuk shoping di mall, mereka masih ingin menghabiskan waktu bersama. Berbagai toko yang menjual pakaian telah mereka kunjungi dengan memborong banyak barang. Sangking banyaknya barang yang mereka beli, hingga membuat para pengawal harus rela menenteng sejumlah tas belanjaan milik keluarga atasannya.


Dari ketiga wanita keluarga Mahendra itu, Shella lah yang paling banyak belanja. Shella membeli banyak barang untuk calon baby girls- nya, ia berdalih jika dirinya sedang ngidam dan ingin berbelanja sepuasnya.


"Kak Shella yakin mau membeli semua pakai ini?" Tanya Nindy saat melihat pakaian bayi satu troli penuh yang menjadi pilihan Shella.


"Ya yakin dong" Sahut Shella.


"Tapi ini terlalu banyak loh kak, kakak yakin jika baby girls- nya sempat memakai semua baju- baju ini. Nanti baby- nya keburu gede loh" Ucap Nindy.


"Kamu tenang aja, semua baju- baju ini pasti akan ke pake kok Nin, karena aku akan mengantikan bajunya setiap dua jam sekali. Jadi sehari baby girls akan pakai setidaknya lima sampai enam baju" Jelas Shella penuh antusias.


"Hah!" Nindy menggelengkan kepalanya, ia benar- benar takjub dengan jalan pikiran kakak iparnya itu.


"Sudah Nin, biarin aja. Tidak apa- apa kok. Biarkan Shella belanja sepuasnya" Sela bu Linda.


Shella menyeringai saat mendengar ucapan ibu mertuanya, ia senang karena mertuanya tidak marah tapi justru mendukungnya.


"Kamu tidak ingin membeli sesuatu Nin?" Tanya Shella pada Nindy.


"Tidak kak. Aku tidak tahu harus membeli apa" Jawab Nindy.


"Coba di pikir- pikir dulu, mungkin ada sesuatu yang ingin kamu beli" Ucap Shella.


"Hm, sepertinya tidak ada. Aku semua kebutuhanku sudah lengkap" Jawab Nindy.


Shella diam sesaat, ternyata adik iparnya itu benar- benar tidak bisa di ajak senang- senang. Shella melangkah mendekati ibu mertuanya dan membisikkan sesuatu hingga membuat bu Linda tersenyum dan mengangguk pelan sembari menatap ke arah Nindy. Sementara itu Nindy mengerutkan keningnya saat melihat Shella dan ibu mertuanya saling berbisik.


"Ikut kakak yuk" Shella menarik tangan Nindy untuk ikut bersamanya.


"Kita mau kemana?" Tanya Nindy.


"Udah, ikut aja" Shella merangkul adik iparnya dan membawanya memasuki sebuah toko.


Nindy hanya bisa pasrah dan mengikuti kakak iparnya meski dengan sedikit ogah- ogahan.


"Kamu coba pilih model mana yang kamu inginkan" Ucap Shella pada Nindy.


Nindy terkejut melihat seluruh pakaian yang berada di toko itu, kedua matanya melotot sempurna saat melihat baju kurang bahan yang terpasang di patung manekin.


"Kamu suka model yang mana Nin?" Tanya shella lagi.


Nindy tidak menyahut, ia bengong menatap semua baju yang menurutnya aneh itu.


"Kamu pilih mana yang kamu suka" Ucap Shella.


"Nggak ah kak, untuk apa aku membeli baju- baju ini. Lagi pula aku bingung baju itu mau di pake untuk apa?" Ujar Nindy.


"Loh, kok bingung mau di pake dimana. Ya di pake untuk menyenangkan suamimu lah" Sela Shella.

__ADS_1


"Kamu pake baju ini di depan Rafael".


"Hah! Maksudnya?" Nindy mencoba jauh- jauh pikiran yang kini ada di otaknya.


Mana mungkin Nindy berani memakai baju itu di depan Rafael, meskipun suaminya itu sudah melihat seluruh tubuhnya tapi tidak mungkin Nindy berani memakai baju kurang bahan itu didepan Rafael. Nindy merasa malu sendiri saat membayangkan dirinya berdiri hanya dengan baju yang mirip jaring laba- laba itu di depan suaminya.


Shella gemas melihat Nindy yang hanya diam berdiri tanpa memilih pakai yang ia tunjuk itu, lalu dengan segera ia menarik Nindy dan membisikkan sesuatu pada adik iparnya itu.


"Hah!" Nindy menutup mulutnya saat mendengar bisikan Shella yang begitu menggelikan baginya.


"Memang harus seperti itu" Tanya Nindy sedikit ragu.


"Iya, kamu harus membuat suamimu tergila- gila padamu hingga ia tidak punya niat untuk melirik wanita lain" Ucap Shella lagi.


"Gimana! Kamu siapkan dengan misi ini".


"Baiklah , aku siap" Sahut Nindy dengan mengangguk mantap.


"Gitu dong, itu baru adik iparku".


Akhirnya Nindy mengiyakan saran dari kakak iparnya dan ia pun memilih beberapa baju berbahan tipis itu.


Nindy dan Shella terlalu asyik berbelanja sambil bercanda hingga keduanya tidak menyadari jika mereka tengah di ikuti oleh seseorang.


Tidak satu orangpun yang menyadari jika seseorang sedang mengikuti mereka sejak Nindy dan bu Linda keluar dari salon. Bahkan para pengawal yang selalu bersama mereka pun tidak menyadari jika mereka sedang diikuti.


.


"Kamu sudah pulang?" Tanya Nindy pada suaminya.


"Hm!" Sahut Rafael singkat.


"Kapan kamu pulang?".


"Beberapa jam yang lalu".


"Kenapa cepat sekali? Bukankah ini masih jam kantor?" Tanya Nindy lagi.


"Karena aku kangen kamu" Sahut Rafael sembari mengendus aroma tubuh sang istri.


Nindy menyunggingkan senyum.


"Tapi tidak seharusnya kamu meninggalkan kantor pada saat masih jam kerja. Kamu kan pimpinan, jadi kamu harus memberikan contoh yang baik pada pegawaimu" Ucap Nindy.


"Harus bagaimana lagi, saat ini aku begitu merindukanmu dan yang aku pikirkan hanyalah ingin segera bertemu kamu" Ucap Rafael.


"Kita masih bisa bertemu saat kamu pulang kerja kan!".


"Kamu tidak akan bisa membayangkan betapa aku merindukanmu, sayang".

__ADS_1


Rafael berhenti menciumi sang istri, kemudian memutar tubuh Nindy untuk menghadapnya. Sesaat Rafael terpukau melihat penampilan sang istri yang tampak begitu cantik dengan potongan rambut barunya.


"Kamu potong rambut?" Tanya Rafael sembari mengusap dan memainkan rambut Nindy.


"Hanya di rapikan sedikit karena ujungnya sudah terlalu kering dan rusak" Jawab Nindy sembari ikut mengusap rambutnya.


"Kenapa? Jelek ya!" Tanyanya.


Rafael menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Justru kamu tampak cantik dengan potongan rambut seperti ini" Pujinya.


"Benarkah!"


"Hm, serius. Kamu tampak cantik. Bahkan sangat- sangat cantik. Rasanya aku tidak rela jika ada laki- laki lain yang melihat kecantikanmu" Ucap Rafael jujur.


"Dasar gombal" Sela Nindy.


"Aku serius sayang" Sambung Rafael.


Nindy terkekeh.


"Sudah, ah. Jangan memujiku terus, nanti bisa- bisa aku terbang melayang".


Hap


"Dan aku akan memelukmu terus seperti ini agar kamu bisa terbang terlalu tinggi" Ucap Rafael sembari memeluk istrinya lagi.


Keduanya tertawa ngakak bersama.


"Oh iya, aku punya hadiah untukmu" Ucap Nindy sambil tersenyum genit.


"Hadiah! Untukku" Ulang Rafael.


"Iya, hadiah spesial" Sahut Nindy.


"Apa itu! Hadiah spesial apa yang kamu siapkan untukku" Tanya Rafael penasaran.


"Hm,,,!"


"Apa itu? Jangan membuatku penasaran sayang" Mohon Rafael.


"Hm, nanti aja deh" Nindy menyelonong pergi meninggalkan Rafael sembari mengulum senyum.


"Sayang!" Rafael mengekori istrinya dari belakang dan terus merengek manja.



.

__ADS_1


.


__ADS_2