
Lama Aku menangisi diri ini. Mataku semakin sembab. Pikiranku kacau. Membayangkan bagaimana nanti pas Vino pulang setelah selesai mengurus pekerjaannya itu. Aku sangat khawatir dengan apa yang akan Vino lakukan. Semua ini membuat pikiranku tersiksa. Membuat ragaku seakan terhempas jauh.
Aku mencoba bangkit. Mengusap airmataku yang tak hentinya mengucur. Ku coba tenangkan diri ini. Ku atur nafas agar lebih rileks lagi. Aku tak ingin membuat keadaan semakin terpuruk.
'Aku nggak boleh seperti ini. Aku nggak boleh begini. Ini yang Rey mau. Semakin Aku terpuruk, semakin senang dirinya!' batinku mencoba melawan ketakutan.
Ku alihkan pandangan ke sisi atas dinding kamar. Terlihat jam dinding besar menggantung. Sudah jam 7. Aku terlalu berlarut dalam penyesalan. Hingga waktunya makan malam, Aku belum juga keluar Kamar.
"Drrrttt ... drrrtttt ...." suara ponsel berdering.
Ku lihat. Ada whatsapp masuk. Dari Pak Angga. Presdir di Kantor tempat Vino bekerja. Yang juga Bosku dulu selagi masih bekerja di Kantor yang sama. Segera Ku baca isi pesannya.
['Bu Tasya. Tolong sampaikan ke Pak Vino. Besok pagi-pagi sekali sekitar jam 8 ada meeting dengan Pak Rudolf. Di Kafe SunResto. Langsung ke lokasi saja. Maaf merepotkan Bu Tasya, karena dari siang saya tidak bisa menghubungi Pak Vino. Terimakasih Bu Tasya.']
Aku sedikit mengerutkan dahi. Seolah mencerna kembali isi pesan yang barusan Ku baca.
'Bukannya dari siang Vino sedang di kantor dengan Pak Angga?' tanyaku dalam hati, bingung.
'Mungkin Pak Angga sedang ada pekerjaan di luar.' gumamku lagi meyakinkan.
Ku letakkan kembali ponselku di meja rias. Ku ikat rambutku yang panjang sepunggung sambil bercermin. Selesai. Rambutku terlihat rapi setelah di ikat kuncir kuda.
'Bu Iyem pasti kerepotan nyiapin makan malam sendirian.' gumamku membalikkan badan membelakangi cermin.
Aku segera keluar. Berjalan menuju dapur. Benar saja, Bu Iyem sedang asik kerepotan sendirian di dapur. Aku menghampirinya.
"Wah ... Bu Iyem. Udah mateng aja. Repot ya Bu? Baru Aku mau bantuin." kataku sambil mencicipi masakan Bu Iyem yang baru saja dituang ke wadah.
"Ya nggak lah Bu. Ini kan emang udah tugasnya Saya. Udah Ibu tunggu aja di depan. Nanti capek. Muka Ibu kayanya pucet." kata Bu Iyem menyuruhku pergi.
"Pucet gimana. Enggak. Aku aja baru bangun Bu. Udah nggak apa, sini Aku bantu natain ke meja makan." ujarku dengan memaksa.
Aku pun sibuk menata piring2 dan wadah yang lain ke meja makan keluarga. Hanya beberapa saat, semua sudah beres. Seketika Aku teringat Maya. Sedari tadi tak Ku dengar suaranya. Segera Ku temui Maya. Untuk memastikan apa yang sedang Ia lakukan. Tapi baru saja Aku bergegas ingin ke Kamarnya, Maya sudah muncul di hadapanku.
"Eh, Bunda. Masak apa Bun." tanya Maya dengan mata melihat ke arah meja makan.
__ADS_1
"Waahh ... ada ayam rica-rica sama sup baso. Duhh, makin laper Bun." ujar Maya sambil mengelus perutnya.
"Sabar. Tunggu Ayah. Sebentar lagi juga pulang." kataku dengan menepis tangan Maya yang ingin mencomot ayam kesukaannya itu.
Vino memang sibuk. Tapi sesibuk apapun, Dia selalu pulang untuk makan malam di Rumah. Kali ini, Aku merasa cemas. Aku takut karena masalah ini, Vino tak menyempatkan diri pulang untuk makan malam bersama di Rumah. Bayangan wajah Vino saat Dia tahu hubunganku dan melihat video adegan itu dengan Rey seketika hadir. Aku tak sanggup melihatnya. Buru-buru Ku tepis wajahnya dalam pikiranku. Ku tutup wajahku dengan kedua tanganku.
'Ya Allah ... maafin Aku Ayah.' kataku dalam hati.
"Assalamualaikum." terdengar suara dari ruang depan.
Aku segera menuju ke arah suara itu. Yang Ku tahu dengan jelas, itu suara Vino. Vino sudah pulang. Aku harus siap dengan resiko ini. Ku usap airmata yang sempat menetes tadi.
"Waalaikumsalam. Ayah udah pulang?" tanyaku pelan setelah membalas salam dan mencium tangannya.
Terlihat lelah di wajahnya. Seperti menyimpan kecemasan. Tak seperti biasanya Vino begini. Sudahlah, Aku tak mau menerka-nerka sesuatu dengan apa yang Aku lihat. Saat Aku ingin melepaskan pandanganku dari wajah nya. Vino memelukku. Erat. Nafasnya terasa berat. Seakan menahan tangis. Takut Maya melihat dan curiga dengan keadaan ini, Aku segera melepaskan pelukannya.
"Ayah. Jangan di sini. Kita omongin nanti setelah makan malam. Nanti di lihat Maya." kataku pada Vino. Vino hanya mengangguk pelan.
Sebelum makan malam. Seperti biasa Vino mandi lebih dulu. Sambil menunggu Vino, Aku menyiapkan jus stroberi kesukaannya. Vino memang selalu meminta jus stroberi setiap kali makan malam. Berbeda dengan Maya, yang hanya meminta Es teh manis di setiap makan malamnya.
Semua yang diperlukan sudah tertata rapi di meja makan. Bu Iyem sedang mencuci peralatan masak yang baru saja Ia pakai. Bu Iyem memang selalu tuntas mengerjakan sesuatu. Tak mau ada satu gelas pun yang kotor berlama-lama di westafel cuci piring. Pasti langsung Ia bereskan. Di ruangan berbeda, Maya sedang asik menonton tv diruang keluarga. Aku sendiri, duduk termangu di meja makan menunggu Vino selesai mandi.
"Maya. Kenapa di sini? Ayo ke meja makan!" terdengar suara Vino mengajak Maya untuk segera ke meja makan.
Aku pun memanggil Bu Iyem yang sedari tadi sibuk sama dapur. Tak selesai-selesai Ku perhatikan Bu Iyem membereskan dapur. Padahal perabotan masak yang Ia cuci pun sudah beres dan tertata seperti semula.
"Bu Iyem. Ngapain sih. Nggak kelar-kelar kayaknya di dapur. Udah, tinggal aja. Sini makan." kataku mengajak Bu Iyem segera ke meja makan.
"Ayo makan. Udah laper Aku tuh dari tadi." kata Maya yang tiba-tiba datang dan langsung menyendok nasi ke piringnya.
"Menahan laper sebentar akan terasa lebih nikmat pas makan ketika makannya bersama-sama. Apalagi makannya sama orang-orang yang kita sayangin." kata Vino kepada Maya.
Vino memang selalu memyempatkan waktu untuk bisa makan malam bersama Kami. Aku tersenyum melihatnya. Begitu besar cintanya kepada keluarga. Aku memang tak pantas untuk terus berada di sini. Aku merasa hidupku sudah tak ada arti. Harga diriku seakan lenyap. Lenyap bersama guratan lelah yang Ku lihat jelas di wajah Vino.
"Oh iya Yah. Tadi Pak Angga whatsapp Aku. Katanya ..." belum juga Aku selesai bicara, Vino sudah mengangguk dan memotongnya.
__ADS_1
"Pak Rudolf? Ya, Aku udah tau." katanya singkat.
Makan malam telah usai. Kami menghabiskan waktu dengan berbincang di ruang keluarga. Ku lihat begitu asiknya Vino, Maya dan Bu Iyem mengobrol. Sesekali Aku ikut nimbrung. Tapi terasa beda. Walaupun Vino terlihat biasa saja.
"Ayah. Aku duluan ke kamar ya, ngantuk." ujar Maya dengan dibarengi menutup mulutnya yang menguap.
"Ya udah. Ayah sama Bunda juga udah ngantuk. Yuk Bun, ke kamar." kata Vino yang tak sedikitpun berubah sikap dan bicaranya.
Aku mengangguk sekenanya. Langkahku menuju kamar terasa berat Ku rasakan. Berbagai prasangka buruk terlintas di benakku. Aku menghela nafas. Rasanya berat.
'Huufffhhhhh.'
Vino sudah lebih dulu masuk kamar. Kemudian Ku susul. Ku lihat, seperti tak ada apapun yang terjadi. Vino sama sekali tak menunjukan kemarahannya. Ia bahkan memanggilku dengan nada bicara yang seperti biasanya untuk ikut merebahkan diri di sampingnya.
"Sini Bun. Ngapain diri di situ." ajaknya semakin membuatku cemas.
Aku tak menuruti ajakan Vino untuk ikut merebahkan diri disampingnya. Tapi Aku duduk di sisi ranjang dekat Vino rebahan. Tak terasa air mataku sudah kembali menetes. Aku coba menahannya, tapi tak bisa.
"Ayah ... maafin A ..." suaraku terpotong.
Telunjuk Vino menempel di bibirku. Membuatku tak melanjutkan kata-kata. Vino mengusap air mataku dengan ibu jarinya. Memegang erat kedua pipiku dengan kedua tangannya. Tangisku semakin pecah. Kala melihat tatapan Vino yang terlihat kecewa.
"Jangan diterusin. Nggak usah dibahas lagi. Aku udah maafin Kamu. Semakin kita bahas soal itu, nantinya malah semakin buat Aku terluka." ucap Vino pelan dengan tangan masih di kedua pipiku, dan mata masih terus menatapku.
*****
Pagi-pagi sekali, saat hendak sarapan. Pak Dadang datang dengan raut wajah cemas. Firasatku kembali hadir. Sesuatu yang buruk pasti akan terjadi.
"Maaf Pak. Bu. Mengganggu waktu sarapannya. Itu. Anu. Ini. Apa. Itu." kata Pak dadang gugup.
"Kenapa Pak Dadang? Kok ngomongnya begitu?" kataku bertanya heran.
"Itu Bu. Anu. Ada polisi nyari Bapak katanya." ucap Pak Dadang sangat cemas.
Aku kaget. Bukan hanya Aku. Maya, Vino, dan Bu Iyem pun dibuat melongo dengan ucapan Pak Dadang.
__ADS_1
'Apa yang sedang terjadi? Ada masalah apa dengan Vino hingga tersangkut polisi? Apa ada masalah Kantor? Apa ada hubungannya dengan kemarin? Kemana Vino kalau bukan ke kantor kemarin? Astaga ... ada apa ini?' batinku bertanya-tanya. Cemas.