
Anin mengusap air matanya yang terus mengalir tanpa permisi dari pelupuk matanya, saat ini ia merasa begitu marah dan membenci Rafael. Pembicaraan yang terjadi antara dirinya dengan sang suami membuatnya merasa sangat sedih, semua masalah yang dulu pernah ia lupakan kini kembali muncul dan mengusik ketenangan hatinya.
Bicara dengan Rafael bukan membuat masalah menjadi selesai tapi malah semakin memperburuk keadaan. Anin semakin yakin dengan keputusan yang akan diambilnya tanpa adanya keraguan lagi.
"Sekarang semuanya sudah jelas, karena sejak awal hanya kata- kata itu yang ingin aku dengar dari mulutnya".
Anin ingat benar kata yang di ucapkan oleh suaminya tadi, kata yang membuat dirinya marah dan hati sakit. Ternyata ia memang tidak berharga sama sekali di mana sang suami. Lantas untuk apa Rafael mencarinya jika pada kenyataannya dirinya memang tidak pernah berarti apa- apa untuknya.
Flashback On
"Kalau seandainya aku tahu tentang kepemilikan Louis Jaya grup dan hubungan antara papaku dengan papamu, maka aku tidak akan pernah melakukannya. Aku tidak akan pernah membawamu dalam permasalahan ini dan juga pernikahan ini" Ucap Rafael.
"Lantas, apa kamu menyesalinya?" Tanya Anin.
"Iya, aku menyesalinya" Jawab Rafael.
"Aku sangat menyesalinya".
"Untuk itulah aku minta maaf atas semua perbuatanku dulu" Mohon Rafael.
Anin menutup matanya merasakan rasa sakit yang begitu dalam, akhirnya ia telah mengetahui isi hati dari sang suami.
Anin ternyata salah paham, ia menganggap jika Rafael menyesal karena telah menikahinya. Anin berkeyakinan jika suaminya itu memang tidak pernah mencintainya baik di saat dulu maupun saat ini. Dan dengan semua kenyataan itu, lantas untuk apa ia bertahan! Untuk apa ia bertahan dengan 'Cinta sendiri' nya yang justru membuat hatinya menjadi semakin terluka.
Anin tidak sadar jika sesungguhnya ia sudah salah menduga, Rafael sama sekali tidak pernah bermaksud seperti itu. Penyesalan yang Rafael ucapkan tadi bukanlah tentang pernikahan yang telah ia lakukan dengan Nindy tapi tentang perbuatannya yang telah menjerat Nindy dalam pernikahan ini. Yang Rafael sesalkan adalah tujuannya menikahi Nindy karena sebuah ambisi yang dulu meracuni hatinya. Rafael menyesali perbuatannya yang menuruti keinginan sang mama dan sadar jika cara yang ia lakukan itu salah.
Namun di balik rasa penyesalan itu muncul sedikit rasa syukur, Rafael bersyukur karena kebodohannya dulu telah membuatnya mengenal Nindy hingga tanpa sadar secercah cahaya cinta mulai menyusup kedalam hatinya. Cinta yang sempat ia ingkari tapi lambat laun mulai ia akui. Tapi sayang, Anin tidak pernah tahu tentang perasaannya karena Rafael belum mengatakan apapun padanya.
Tes, air matanya tiba- tiba jatuh.
Anin membuang wajahnya agar Rafael tidak melihatnya menangis, sama seperti yang pernah ia lakukan dulu sebelum pergi yaitu menyembunyikan tangisnya.
"Terima kasih karena kamu sudah bicara jujur, aku lega mendengarnya karena akhirnya semua rasa penasaranku sudah terjawab" Ucapnya.
"Jika hanya kata maaf yang kamu harapkan, maka aku sudah memaafkanmu".
Anin bangkit dari posisi duduknya.
"Sekarang pulanglah dan aku harap ini menjadi pembicaraan terakhir kita, karena aku tidak mau bicara apapun lagi denganmu".
Rafael terkejut mendengar ucapan sang istri.
"Memangnya kenapa? Apa aku melakukan kesalahan lagi? Apakah kata- kata ku tadi telah menyakitimu?" Tanya Rafael tidak mengerti.
"Tidak ada yang salah, hanya saja aku yang salah karena telah terlalu berharap banyak" Sahut Anin pedih.
"Nindy!" Lirih Rafael.
"Sebaiknya kamu pulang karena aku ingin beristirahat" Anin mengusir Rafael.
Tidak ingin membuat situasi semakin rumit, akhirnya Rafael memilih mengalah dengan mengikuti permintaan sang istri untuk pergi dari sana.
"Baiklah, aku akan pulang dulu. Kamu istirahat ya. Besok kita bicara lagi" Ucap Rafael.
"Tidak perlu repot- repot pak Rafael" Sahut Anin.
"Ini adalah pembicaraan terakhir kita karena sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Bagiku semuanya sudah jelas".
Rafael terpaku, ia merasa aneh mendengar ucapan dari istrinya itu.
"Oh ya, satu lagi!".
Anin berbalik badan dan menatap Rafael.
__ADS_1
"Aku ingin melanjutkan gugatan cerai yang dulu sempat tertunda" Ucapnya.
"Apa?" Rafael kembali di buat terkejut.
"Nindy!"
"Tolong jangan lagi mempersulit keadaan. Sudah saatnya bagi kita untuk mengakhiri semua masalah ini".
Setelah mengatakan hal itu, Anin langsung meninggalkan Rafael yang masih berdiri membeku tanpa tahu harus berbuat apa.
Rafael menyentuh dadanya yang tiba- tiba saja terasa sangat sakit, bahkan rasa sakit itu melebihi dari semua rasa sakit yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
Flashback Off
Anin memejamkan matanya dan membiarkan air mata itu terus mengalir, ia berharap air mata itu dapat membawa pergi sedikit luka lara dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, Anin mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Hallo!".
"----- ------ -------"
"------ -------- -------".
"Baiklah. Terima kasih".
Anin menutup kembali ponselnya setelah bicara panjang lebar dengan seseorang di seberang sana.
"Aku harap kepurusanku ini adalah yang terbaik untuk aku dan juga kamu".
.
Ting ting
Ting ting
Klek
Pintu terbuka.
"Selamat pagi nona muda!"
"Paman!" Anin langsung memeluk seorang pria paruh baya yang kedatangannya sudah lama ia tunggu- tunggu.
Pak Rudi. Ya pria paruh baya itu adalah pak Rudi. Orang yang bertanggung jawab atas gugatan cerai yang pernah Nindy ajukan untuk Rafael.
Anin melepaskan pelukannya.
"Apa kabar nona muda?" Tanya pak Rudi sambil tersenyum.
"Baik. Seperti yang paman lihat" Sahut Anin yang juga ikut tersenyum.
"Silahkan masuk paman" Ucap Anin.
Pak Rudi mengangguk dan mengikuti nona muda dari keluarga Mahendra itu masuk kedalam apartemen.
"Jadi sekarang nona tinggal di sini?" Tanya pak Rudi.
"Iya paman. Aku tinggal disini. Tapi hanya untuk sementara" Jawab Anin.
"Lho kenapa begitu?" Tanya pak Rudi.
"Karena ini bukan apartemen milikku paman, tapi milik kantor tempatku bekerja" Jelas Anin.
__ADS_1
Pak Rudi menggerutkan keningnya.
"Milik kantor?" Tanya pak Rudi.
"Iya paman. Milik kantor".
"Memangnya ada apa paman? Sepertinya paman mengetahui sesuatu tentang apartemen ini" Tanya Nindy.
"Lho, memangnya nona muda tidak tahu?" Pak Rudi balik bertanya.
"Tahu apa?" Balas Anin.
Pak Rudi tersenyum kecil.
"Gedung apartemen ini adalah milik LJ grup nona dan secara otomatis apartemen ini adalah milik nona muda" Ucap pak Rudi.
"Apa?" Anin terkejut.
"Bagaimana mungkin paman, perusahaan yang memberikan apartemen ini padaku bukan LJ grup,,,,,!"
Anin mencoba mengingat sesuatu.
"Maksud paman, apartemen ini milik kak Rafael?".
Pak Rudi kembali tersenyum.
"Bukan milik tuan Rafael, nona. Tapi milik nona muda".
"Maksudnya?" Anin masih tidak mengerti.
"Tuan Rafael hanya memimpin LJ grup tapi yang menjadi pemilik sahnya adalah nona muda" Ucap pak Rudi.
"Hah!" Anin terkejut.
"Sudahlah, tidak usah di pikirkan. Suatu hari nanti nona muda juga akan mengerti".
"Tapi paman ----!".
"Sebenarnya untuk apa nona muda meminta saya datang kemari?" Pak Rudi mengalihkan pembicaraan.
"Hm itu!"
Anin bingung harus berkata apa.
"Begini paman, aku ingin bertanya tentang gugatan cerai yang pernah aku ajukan untuk kak Rafael. Kenapa hingga saat ini gugatan itu belum di proses?" Tanya Anin.
"Apa nona belum tahu jika gugatan cerai itu sudah di batalkan?" Tanya pak Rudi.
"Bukankah nona muda sendiri yang telah membatalkan gugatan cerai itu".
"Hah! Kenapa di batalkan pak? Bagaimana bisa? Aku tidak pernah membatalkan gugatan cerai itu" Jelas Anin.
"Tapi pengadilan mengatakan jika nona Nindy sendiri yang telah membatalkan gugatan itu" Ucap pak Rudi.
"Hah!" Anin mengerutkan keningnya.
"Masa sih? Sepertinya aku tidak pernah melakukan hal itu".
Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, padahal aku sudah menyerahkan semua masalah itu kepada paman, tapi kenapa justru pengadilan membatalkan gugatan itu.
☆
Ada yang tahu kerjaan siapa itu?
__ADS_1
siapa yang telah membatalkan gugatan cerai Anin kepada Rafael?
Next eps ya