
Rasanya Aku ingin segera sampai ke Hotel. Berkumpul dengan suami dan anakku. Taksi yang Ku tumpangi seperti berjalan lamban, padahal itu cuma perasaanku.
"Drrrttt ... drrrrtttt ..." ponselku berdering.
Ku lihat nama penelepon di layar ponselku.
'Suamiku'
Mendadak langsung panas dingin. Semua yang buruk-buruk terlintas di kepalaku. Aku bak tawanan yang berada dalam kegentingan. Ku gelengkan kepala melawan kegelisahanku. Sungguh, tak terbayang jika Rey benar-benar membongkar semuanya.
Bukan lagi taksi yang Aku tumpangi sekarang. Aku seolah sedang menaiki salah satu wahana permainan di du*an, roller coaster, yang membuat jantungku serasa terhenti seketika.
Pelan-pelan, Ku atur nafasku agar sedikit merasa tenang. Segera Ku angkat panggilan dari Vino.
"Assalamualaikum Bunda. Lagi di mana? Kok lama angkatnya?" tanya Vino dari seberang telepon memulai percakapan.
"Waalaikumsalam. Di jalan arah ke Hotel. Kenapa Yah?" jawabku pelan.
"Udah mau maghrib Bun, Aku khawatir aja sama Kamu. Entah kenapa perasaanku dari tadi nggak enak. Maya juga nanyain Kamu terus. Ya udah kalo kamu baik-baik aja. Aku sama Maya tunggu Kamu di sini. Hati-hati ya Bun! Assalamualaikum!" ucap Vino yang membuatku makin merindukannya.
"Iya. Waalaikumsalam." kataku mengakhiri panggilan.
Ini cukup membuatku tenang. Ku pikir Rey mendatangi Vino dan membuka semua aibku. Tapi ternyata, dugaanku meleset. Aku semakin merasa bersalah. Vino begitu sempurna untukku dan Maya. Suami dan Ayah yang sangat mencintai istri dan anaknya. Suami yang tak pernah menekan istri harus sempurna.
'Huufhhh'
Aku menghela nafas. Terasa cukup sesak di dada ini. Ku lihat jam di tanganku lagi, pukul 16.35 yang berarti 17.35. Aku memang sengaja tak menyetel ulang arlojiku, toh cuma beberapa hari Aku di sini. Sudah sekitar setengah jam perjalananku. Aku tak tau berapa waktu yang harus ditempuh dari Rumah Rey ke Hotel.
__ADS_1
"Pak, kira-kira berapa lama lagi ya? Udah deket atau masih jauh?" tanyaku ke Pak supir.
Pak supir melihatku dari kaca spion dalam yang tertempel dikaca depan mobil.
"Sudah dekat bu, 10 menitan lagi lah." katanya menjawab tanyaku tadi.
Aku menoleh ke kiri jalan. Memandang kosong keluar kaca. Ku topang daguku dengan tanganku, seperti orang yang sedang berusaha memegangi wajah yang berat dan hendak jatuh.
*****
Taksi yang Ku naiki sudah berhenti di depan lobi Hotel. Begitu adem, sejuk, dan sangat asri. Vino memang sengaja memilih Hotel ini. Ia berharap nuansa Vila yang trendi, dan dikelilingi sawah serta menghadap ke Samudra Hindia ini, dapat memanjakan kami yang lumayan penat dengan segudang kesibukan di Ibukota.
'Ternyata Vino benar. Sangat asri, membuat pikiran menjadi rileks melihat pemandangan yang terpampang di hadapanku.' decakku kagum dan seketika lupa dengan yang baru saja Aku alami.
Vino sudah menungguku di Lobi. Bagai melihat kekasih yang sudah lama tak bertemu, Aku begitu senang. Ku hampiri Vino yang tengah asik memainkan ponselnya. Ku peluk erat tubuhnya. Aliran darahku terasa hangat. Menenagkan jiwaku yang baru saja tercabik.
Ku lihat semua sudut Lobi ini, tapi netraku tak menangkap seseorang yang Ku cari.
"Maya mana Yah?" tanyaku pada Vino.
"Maya di atas, lagi di kamarnya. Nungguin Kamu, minta dinner di luar katanya." jawab Vino dengan mimik wajah menunjuk ke Kamar Maya .
"Ya udah. Kamu mandi dulu sana, terus kita Maghrib berjama'ah. Kamar kita di atas sebelah kamar Maya. Sekalian ajak Maya turun." kata Vino lagi, menyuruhku.
Aku mengangguk kemudian berlalu meninggalkan Vino. Langkahku dengan sepatu hak yang menaiki anak tangga terdengar cukup jelas, membuat Maya beranjak mencari arah sumber suara. Pintu kamar terbuka, dan Ku dapati Maya yang tengah berdiri. Ia berlari, memelukku.
"Makasih ya Bunda. Udah dengerin Aku buat pulang cepet. Gimana Bun urusan Kantornya? Udah selesai 'kan? Bunda pasti capek ya? Mau Aku ambilin es jeruk kesukaan Bunda? Atau Bunda mau apa, nanti Aku bikinin Bun?" cerocos Maya menembakku dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
Maya memang berusia masih sangat kecil. Usia-nya 9 tahun, Ia memulai Sekolah dengan usia 5 tahun dan sekarang sudah duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 4. Tapi pemikirannya sudah sangat dewasa. Dewasa dalam hal kekeluargaan, bukan pergaulan. Maya anak yang penurut, Ia tak pernah sekali pun membantah Aku dan Vino. Maya tahu, Ayah dan Bundanya hanya ingin membuatnya bahagia dan tak salah jalan.
"Bunda bingung sayang, jawab yang mana dulu. Banyak banget nanya nya. Kaya detektif." kataku kemudian menggelitikkan tanganku ke perutnya.
Kami pun tertawa berdua.
"Ya udah. Bunda mandi dulu ya. Kamu disuruh turun tuh sama Ayah, siap-siap sholat maghrib." ujarku ke Maya.
*****
Tubuhku sudah segar kembali. Sudah suci untuk melakukan sholat. Akan Ku perbaiki jalanku, Akan Ku tebus semua kesalahanku dengan sungguh-sungguh beribadah. Aku ingin menjalani hidup dengan normal lagi seperti dulu.
"Drrrttt ... Drrrttt." ponselku berdering.
Sebuah pesan whatsapp masuk. Dari Rey. Buru-buru Ku buka isi pesannya. Ternyata Rey mengirimiku sebuah foto. Aku tak percaya dengan apa yang ku lihat. Bola mataku serasa mau keluar. Jantungku seketika berhenti.
'Apalagi ini?' gumamku kaget.
Rey mengirimiku foto ketika kami sedang bermesraan di ranjang. Mungkin Rey diam-diam memvideokan adegan ranjangku dengannya, sewaktu Kami melakukannya di Rumah Rey. Rey benar-benar keterlaluan. Kalau sampai Vino melihat ini, Dia pasti akan segera menceraikanku.
"Drrrttt ... Drrrttt ..." ponselku berdering lagi.
Sebuah pesan whatsapp kembali masuk. Dari Rey.
['Kalo Kamu tetap mau pergi dariku, video kita akan kesebar. Itu baru screenshoot yang Aku kirim ke Kamu. Aku nggak main-main! Aku rela menanggung malu seumur hidup, asal malu bersamamu.'] isi pesan Rey kepadaku.
'Heuuhhh ... Bodoh! Aku memang sangat bodoh! Bisa-bisanya Aku jatuh cinta dengan Laki-laki licik itu! Hiks ... hiks ...' batinku menangis.
__ADS_1
'Gimana kalo ucapan Rey sungguh-sungguh? Itu artinya bukan hanya Vino yang akan tau, bukan hanya diceraikan Vino, tapi lebih buruk dari yang Aku takutkan. Arrrggghhhhh ... Aku bisa gila mikirin ini semua!' kataku dalam hati.