Sang Mantan

Sang Mantan
BUTUH KEJELASAN


__ADS_3

Nindy berlari cepat menuju ke arah pintu saat mendengar bel berbunyi, ia tidak sabar ingin bertemu dengan laki- laki yang telah membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak semalaman.


Klekk


Pintu terbuka lebar, senyum yang sempat merekah di bibir Nindy seketika menghilang saat melihat sosok yang berdiri di hadapannya.


"Selamat pagi bu Nindy!" Sapa Ardi sambil tersenyum.


"Pagi!" Sahut Nindy pelan.


Semangatnya langsung sirna saat melihat orang yang datang menemuinya ternyata bukanlah orang yang di harapkannya. Ada yang tahu siapakah orang yang Nindy harapkan itu?


"Apa apa ya? Kenapa pak Ardi datang kemari?" Tanya Nindy.


"Maaf bu Nindy, saya mendapat tugas dari pak Rafael untuk menjemput bu Nindy dan mengantarkan ibu ke kantor" Jawab Ardi.


"Pak Rafael yang menyuruhmu menjemputku?" Nindy ingin memastikan.


"Iya, benar bu" Sahut Ardi.


Nindy mengeluarkan kepalanya untuk melihat kearah pintu apartemen Rafael berharap suaminya itu muncul dari balik pintu tersebut.


"Pak Rafael sudah berangkat kekantor duluan bu" Ucap Ardi saat tahu jika Nindy sedang melihat apartemen pimpinannya.


"Sudah berangkat?" Tanya Nindy terkejut.


"Iya, bu. Pak Rafael sudah berangkat satu jam yang lalu dan beliau meminta saya untuk mengantarkan anda ke kantor" Ucap Ardi.


Nindy terdiam, ia sedang berpikir kenapa Rafael menyuruh Ardi untuk menjemputnya padahal mereka bisa berangkat bersama. Apakah sang suami masih marah padanya karena kejadian semalam?


"Mungkinkah dia masih marah karena kejadian semalam? Apa yang harus aku katakan jika aku bertemu dengannya nanti?".


"Maaf, bu Nindy. Apa kita bisa berangkat sekarang?" Tanya Ardi yang seketika membuyarkan lamunan Nindy.


"Eh, iya pak Ardi. Sebentar saya ambil tas dulu" Sahut Nindy.


Ardi mengangguk mengerti.


Nindy kembali masuk kedalam kamarnya dan mengambil tas serta segala keperluannya. Beberapa saat kemudian, ia kembali menemui Ardi dan mereka pun berangkat ke kantor bersama.


Saat sampai di basemen, Nindy kembali di buat terkejut saat melihat beberapa pria yang bertubuh kekar dan memakai seragam hitam tampak membungkukkan badannya menyambut kedatangannya dan juga Ardi.


"Mereka siapa pak Ardi?" Tanya Nindy yang mulai penasaran.


"Mereka adalah pengawal pribadi anda, bu Nindy" Sahut Ardi.


"Pengawal pribadi! Untukku?" Nindy terkejut.


"Iya, bu. Mereka akan mengawal anda kemanapun anda pergi" Jawab Ardi lagi.


"Tapi untuk apa para pengawal itu? Aku tidak membutuhkan mereka" Protes Nindy.


"Mulai saat ini, bu Nindy akan membutuhkan mereka karena akan banyak pemburu berita yang ingin bertemu dengan anda" Ucap Ardi.


"Hah! Pemburu berita. Maksudmu?".


"Saat ini banyak orang yang penasaran dengan bu Nindy dan ingin mengetahui semua hal yang berhubungan dengan anda, makanya para pemburu berita memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari tahu info apapun tentang anda".


"Untuk apa mereka melakukan itu? Memangnya apa yang menarik untuk mereka ketahui tentang hidupku? Dasar tidak punya kerjaan".

__ADS_1


"Katakan pada para pemburu berita itu, sebaiknya mereka berganti profesi menjadi pemburu kriminal dari pada memburu informasi tentang hidupku" Ketus Nindy.


Ardi menghela nafas, sepertinya pembicaraan mereka akan semakin memakan waktu.


"Kita bicara di dalam mobil saja bu, saya khawatir nanti kita akan terlambat jika membahas masalah ini sekarang" Ucap Ardi.


"Baiklah" Nindy mengangguk setuju.


Ardi membukakan pintu mobil untuk Nindy setelah itu ia pun bergegas ikut masuk kedalam mobil dan mengambil posisi dibbelakang setir. Mulai hari ini, Ardi mendapatkan tugas baru yaitu menjadi asisten pribadi sekaligus supir pribadi untuk nona muda LJ Grup tersebut.


.


Sementara itu di ruang pimpinan, Rafael sedang bersandar di atas sofa sambil sesekali meringis menahan sakit saat dr Yulia mencoba untuk menangani luka di wajahnya. Rafael segaja datang ke kantor lebih awal agar dr Yulia bisa mengobati lukanya karena ia harus menghadiri rapat penting pagi ini. Rafael tidak ingin orang- orang menertawakannya saat melihat wajahnya yang penuh dengan lebam kebiruan.


"Kenapa mukamu bisa lebam- lebam seperti ini sih? Sebenarnya kamu habis berkelahi dengan siapa?" Tanya dr Yulia sembari mengobati luka di wajah sepupunya itu.


"Kamu nggak perlu tahu. Tugasmu adalah hanya mengobati lukaku dan memastikan jika semua orang tidak akan menyadari dengan luka ini" Sahut Rafael dengan mata yang terpejam.


"Cih! Jadi kamu menggangguku pagi- pagi buta hanya untuk mengobati luka di wajah yang jelek ini" Dr Yulia kesal.


Rafael membuka matanya menatap dr Yulia, ia merasa terganggu dengan ucapan sepupunya tadi.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya dr Yulia saat melihat Rafael menatapnya.


"Apa kamu marah karena aku mengatakan jika wajahmu ini jelek?" Dr Yulia memberikan sedikit tekanan pada wajah Rafael hingga membuat Rafael kembali meringgis kesakitan.


"Aww,,,! Pelan- pelan dong. Kamu niat bantuin atau nggak sih?" Protes Rafael.


"Untuk apa kamu meminta bantuanku jika kamu sendiri tidak ingin berbagi cerita denganku" Balas dr Yulia.


"Memangnya kamu mau tahu tentang apa?".


Rafael menghela nafas panjang kemudian membenarkan posisi duduknya hingga tegap kembali. Ia menatap sepupunya sembari berkata:


"Semalam aku bertemu dengan pacar Nindy dan inilah yang ku dapat" Ucap Rafael sambil menunjuk wajahnya yang lebam.


"Hah! Serius lu? Nindy udah punya pacar? Masa sih?" dr Yulia tidak percaya.


Rafael mengangguk.


"Bisa kamu bayangkan bagaimana posisiku saat itu? Aku adalah suaminya yang sah tapi aku tidak bisa melakukan apa- apa saat bertemu dengan pacar istriku sendiri. Malahan aku mendapatkan bogem dari pacarnya itu".


Dr Yulia ikut menghela nafas, sepertinya hubungan sepupunya dengan sang istri masih jalan di tempat dan tidak ada perkembangan yang siknifikan.


"Lantas apa yang akan kamu lakukan sekarang? Kamu sudah bertemu dengan pacar istrimu dan kamu juga pasti sudah melihat interaksi yang terjadi diantara mereka kan. Lalu bagaimana menurutmu! Apa kamu masih punya peluang untuk kembali bersama Nindy lagi?".


Rafael mengangkat kedua bahunya


"Entahlah. Aku tidak bisa menebaknya".


"Nindy memanggil pacarnya dengan panggilan yang sangat mesra yaitu 'mas'. Sementara untukku, dia memanggilku dengan panggilan 'kamu' bahkan kadang- kadang 'anda'. Bukankah itu artinya dia memang sengaja ingin menjaga jarak denganku".


Rafael mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sepertinya peluangku sangat kecil untuk mempertahankan Nindy di sisiku, atau bahkan mungkin aku memang tidak memiliki peluang sedikitpun untuk itu".


Dr Yulia menatap Rafael yang tampak putus asa.


"Lalu! Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apa kamu akan menyerah? Apa kamu akan melepaskan istrimu untuk laki- laki lain? Apa kamu sanggup melihat Nindy bahagia bersama dengan laki- laki itu? Dan apa kamu yakin jika Nindy akan bahagia dengan pacarnya itu?".

__ADS_1


Rafael terdiam.


"Mungkin kamu tidak memiliki peluang karena kamu tidak pernah memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin".


"Apa kamu sudah meminta maaf pada istrimu?" Tanya dr Yulia.


Rafael mengangguk


"Lantas bagaimana responnya? Apa dia memaafkanmu?".


Rafael menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu, dia tidak pernah memberikan jawaban yang jelas tentang hal itu" Sahutnya.


"Aku sempat berbicara panjang lebar dengan Nindy dan berkata ingin mempertahankan pernikahan kami, tapi Nindy masih dengan kekeh dengan keputusan awalnya yaitu ingin bercerai dariku. Dan aku tidak tahu lagi bagaimana cara untuk meyakinkannya agar mau memberikan kesempatan kedua untukku".


"Mungkin saat ini aku berhasil menahannya agar tetap berada di perusahaan ini, tapi aku tidak yakin bisa menahannya untuk tetap berada disisiku".


Dr Yulia menghela nafas kemudian mengusap lengan Rafael perlahan.


"Apa kamu sudah bicara jujur padanya jika kamu mencintainya?" Tanya dr Yulia lagi.


Rafael mengangkat wajahnya dan menatap wajah sepupunya itu. Rafael sedang berusaha untuk memikirkan pertanyaan dari dr Yulia.


"Jadi kamu belum mengatakan jika kamu mencintai istrimu?" Tebak dr Yulia.


Rafael terdiam


Plakk


Dr Yulia memukul lengan Rafael dengan kesal.


"Kamu benar- benar bodoh Rafael! Bagaimana bisa kamu meminta Nindy untuk bertahan disisimu sementara kamu sendiri tidak pernah mengatakan jika kamu mencintai istrimu itu. Nindy pasti berpikir jika kamu menahannya hanya demi perusahaan semata".


"Coba kamu bayangkan jika kamu berada di posisi Nindy saat ini, apa kamu akan kembali kepada suami yang tidak mencintaimu atau bertahan pada kekasih yang mencintaimu dengan tulus".


Kata- kata yang baru saja keluar dari mulut dr Yulia mulai mengganggu pikiran Rafael, ia sedang meresapi setiap kata itu.


"Cinta! Kenapa aku sama sekali nggak kepikiran dengan kata itu. Apakah Nindy juga berpikir seperti itu? Apakah dia juga berpikir jika aku tidak mencintainya? Terus bagaimana dengan ciuman itu, apa Nindy menganggap jika itu hanya ciuman biasa yang tidak ada artinya bagiku? Apa ciuman itu tidak cukup menjelaskan jika aku mencintainya dan menginginkannya?".


"Seorang wanita butuh pengakuan dan juga butuh sebuah pernyataan yang jelas. Kami tidak ingin asal menebak dan tidak suka menebak- nebak hati seseorang. Mungkin Nindy bisa merasakan cintamu tapi dia tidak yakin dengan hal itu karena kamu tidak pernah mengatakannya secara langsung".


Rafael diam.


Dr Yulia kembali berkata:


"Jika kamu memang mencintainya dan menginginkan dirinya, maka kamu harus mengatakannya secara langsung. Katakan jika kamu jatuh cinta padanya dan hampir gila karena begitu menginginkannya".


"Setelah itu kamu hanya bisa menunggu bagaimana tanggapannya dan kamu harus bisa menerima apapun jawaban yang akan diberikan oleh Nindy saat itu".


"Jika dia membalas cintamu, maka pergunakan kesempatan itu dengan sebaik- baiknya karena kesempatan tidak akan datang untuk ketiga kalinya. Tapi jika seandainya Nindy menolak cintamu dan lebih memilih kekasihnya, maka kamu harus bisa melepaskan dan merelakannya. Karena kamu tidak akan bisa memaksa masuk kedalam hati yang telah berpehuni".


Rafael menatap mata dr Yulia dengan tajam, semua ucapan dari sepupunya itu begitu menusuk hatinya.


"Melepaskan Nindy! Apakah aku sanggup melakukan itu disaat seluruh hatiku sudah di penuhi olehnya. Mungkinkah aku bisa membunuh perasaan ini dan merelakannya dengan laki- laki lain?".


Harus diakui jika Rafael memang terlambat menyadari perasaannya, ia begitu terfokus untuk mempertahankan pernikahannya tanpa memikirkan bagaimana perasaan Nindy yang sebenarnya. Mungkin ucapan dr Yulia tadi benar, jika hati dan seluruh perasaan Nindy memang bukan lagi miliknya.


__ADS_1


__ADS_2