Sang Mantan

Sang Mantan
Part 13


__ADS_3

Ku cari namanya di kontak ponselku. Ketemu. Segera Ku tekan dial yang berwarna hijau. Nomornya sudah tidak terdaftar lagi. Ku coba lagi nomor yang satunya. Sama. Nomor tak terdaftar.


"Arghhhh ... sial," kataku kesal dengan membanting ponselku ke bangku mobil di sebelahku.


Tanpa pikir panjang lagi, dengan cepat Ku lajukan mobilku ke tempat yang sudah lama sekali tak pernah Ku datangi. Tiba di persimpangan lampu merah. Pandanganku terlihat fokus ke depan. Tapi pikiranku melayang jauh ke masa saat Aku dan Vino baru mulai menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.


-----


"Sayang. Maaf ya, Aku nggak bisa nemenin belanja keperluan Kamu. Aku ada meeting penting. Kamu lanjut aja makannya. Aku sekalian bayar dulu. Nanti Aku jemput ya," ujar Vino yang baru saja menghabiskan minumannya dan langsung berdiri.


"Ya. Kalo nggak sempet jemput, jangan dipaksain. Aku bisa pulang naik taksi," kataku yang dibalas dengan anggukan Vino dan Ia pun pergi.


Aku sudah tak berselera lagi memakannya. Entah kenapa perutku mendadak kenyang. Ku letakkan sendok dan garpu yang Ku pegang ke piring. Meminum jus favoritku dan Vino. Aku segera bergegas untuk membeli keperluanku.


"PLAAAKKK," tamparan yang terasa keras dan panas tiba-tiba mendarat di pipiku.


"Auww," kataku meringis menahan sakit.


Tak ada hujan dan angin. Perempuan berwajah manis dengan postur tubuh yang tinggi semampai, begitu mengejutkanku. Kupegangi pipiku yang terasa perih dan memerah dengan wajah bingung. Bingung karena Aku sama sekali tak mengenalnya, dan harus merasakan tamparan yang Aku sendiri tak tau apa salahku.


"Dasar *******! Lo tau Gue siapa? Gue Indri, pacar Vino. Lo ngapain kegatelan sama cowok orang? Hah? Punya nyali gede Lo deketin Vino?" katanya dengan suara tak terlalu keras tapi sangat menusuk dan jarinya menunjuk ke arah wajahku.


"Sebentar, Lo pacarnya Vino?" tanyaku dengan menepis tangannya sembari menahan tawa.


"Jadi ini mantannya Vino yang ngaku-ngaku masih jadi pacarnya? Lucu ya? Nggak punya etika!" tambahku lagi dengan sedikit menekan kata terakhir.

__ADS_1


"Lo budeg? Gue belom putus sama Vino! Jadi mending Lo jauh-jauh dari Dia sebelum sesuatu terjadi sama Lo!" ujarnya penuh dengan ancaman.


Tak ada sedikit pun rasa takut di diri ini. Ancaman-ancamannya, justru membuatku ingin memberinya sesuatu yang akan membuat Dia berhenti berfikir kalau Aku wanita yang mudah di ancam. Sebenarnya bisa saja ku tampar balik perempuan itu. Tapi Aku masih memiliki rasa malu untuk ribut di keramaian.


'Biarlah, biar Ku balas dengan lidahku,' gumamku sembari mendekatkan diri ke hadapannya.


"Indri. Nama Lo indri? Kasian ya, segitunya pertahanin laki-laki yang udah jelas-jelas ngebuang Lo dari hatinya. Gue kasih tau, kalo sama laki-laki itu jangan terlalu banyak berharap. Takut nanti Lo nya gila kalo nggak sesuai sama harapan Lo," kataku membuat indri memelototiku.


"Oh iya. Satu lagi. Kalo Vino maunya sama Lo, ambil aja, beneran. Tapi ... sayangnya Vino maunya sama Gue," kataku lagi cengengesan dan berlalu meninggalkan Indri dengan wajah kesalnya.


"******* sialan Lo!" kata Indri terdengar samar olehku yang sudah menjauh pergi.


-----


"Tiiinnnnnnn," suara klakson mobil di belakangku membuyarkan lamunanku.


'Aku harus menemuinya. Aku harus bicara empat mata dengannya. Semoga Indri masih tinggal di sana,' batinku penuh harap.


Langit sudah gelap, menandakan hari sudah berganti malam. Akhirnya, Aku pun tiba di kediaman Indri. Ku parkirkan mobil di depan Rumahnya. Ku buka pagar yang tak terkunci. Dengan langka terburu-buru Ku lewati pekarangan Rumah yang cukup luas. Kini, Aku sudah berdiri tepat di depan pintu Rumah Indri.


"Tok Tok Tok" suara pintu yang Ku ketuk.


"Assalamualaikum. Permisi," ucapku dengan salam.


Tak ada suara yang menyahut dari dalam Rumah. Tapi Aku mencoba sabar menunggu. Memilih duduk di kursi teras yang biasanya memang disediakan untuk tamu yang datang. Cukup lama. Aku menoleh beberapa kali, pintu tak kunjung dibuka. Ku tunggu beberapa saat lagi, berharap segera ada yang membukakan pintu.

__ADS_1


"Ceklek," suara pintu terbuka.


Mendengar itu, Aku sumringah. Aku pun berdiri dan menoleh ke arah suara pintu yang dibuka oleh pemiliknya. Ku hampiri wanita paruh baya yang kira-kira seusia dengan Bu Iyem.


"Mbak siapa ya? Ada yang bisa Saya bantu?" tanyanya ramah.


"Saya Tasya, Bu. Bisa bertemu dengan Indri?" kataku yang langsung menanyakan Indri.


"Indri? Indri siapa ya? Di sini nggak ada yang namanya Indri, Mbak," katanya yang terlihat bingung.


Aku tergelak. Mataku melihat sekitaran Rumah yang ada di hadapanku. Aku merasa yakin Kalau Aku tak salah. Ini memang benar Rumah Indri yang dulu pernah sering Ku singgahi.


"Ohh ... mungkin yang Mbak maksud pemilik lama rumah ini," katanya lagi penuh keyakinan.


"Maksudnya Bu? Indri pindah?" tanyaku meyakinkan diri.


"Mungkin Mbak. Mungkin orang yang Mbak maksud itu ya pemilik lama rumah ini. Soalnya Saya baru pindah sekitar dua tahun yang lalu," katanya menjelaskan.


Tubuhku seakan lemas tak bertenaga setelah tahu pemilik rumah ini bukan lagi orang yang Ku cari.


"Maaf Bu, apa Ibu tau pemilik rumah yang lama pindah kemana?" kataku bertanya dengan hati-hati. Takut si Ibu merasa terganggu karena Aku belum juga pergi dan malah bertanya.


"Duh ... Saya kurang tau Mbak. Saya cuma beli rumah ini. Kalo pindah kemananya saya nggak tau," katanya masih ramah.


"Ya udah, Bu. Maaf kalo sudah mengganggu waktu istirahat Ibu ya. Saya permisi, Terimakasih," kataku sambil menyalami tangan.

__ADS_1


Aku segera menyudahi obrolan. Takut nantinya malah tambah merepotkan si pemilik rumah. Ku lihat langit yang semakin gelap. Tiba-tiba Aku teringat Maya di rumah. Maya pasti akan sangat sedih jika makan malam hanya ditemani oleh Bu Iyem. Aku tak kuat membayangkan wajah Maya yang menanti kehadiranku sekarang di Rumah. Buru-buru Ku nyalakan mobil. Bergegas pulang. Berharap keadaan jalan malam ini berpihak pada keinginanku.


'Indri ... Lo di mana sih? Apa maksudnya semua ini? Fakta apa lagi yang Aku belum ketahui? Semua ini bikin Aku sakit kepala. Biar nanti Ku suruh Dimas menyelidikinya,' kataku dalam hati.


__ADS_2