
"Bu Iyem. Mau masak apa buat sarapan pagi ini?" tanyaku sembari melipat mukena yang baru saja ku kenakan untuk sholat subuh berjamaah dengan Bu Iyem dan Maya.
"Ibu lagi mau sarapan apa? Nanti saya masakin. Neng Maya juga, maunya apa? Biar Bu Iyem masakin," kata Bu Iyem yang juga sedang melipat mukenanya.
"Cake yang semalem masih ada nggak, Bu Iyem? Aku mau cake aja," kata Maya yang sudah berdiri.
"Masih Neng. Semalem cuma Bunda neng yang makan. Pas Neng Maya nggak mau, terus nyuruh Bu Iyem makan, Bu Iyem langsung simpan di kulkas. Nggak doyan sama kue-kue kaya gitu Neng. Nanti Bu Iyem siapkan ya Neng," kata Bu Iyem yang juga sudah berdiri.
"Aku omelet aja Bu. Males makan nasi pagi-pagi," kataku sembari berlalu.
Aku dan Maya masuk kembali ke kamar masing-masing. Mengganti Pakaian dan menyiapkan keperluan Kami. Pagi ini Aku sudah bertekad ingin mendonorkan darah untuk Rey. Bukan karena Aku masih berharap cintanya, tapi semua demi Vino. Rey harus pulih. Agar kasus Vino tak semakin berlarut. Ku lihat jam yang baru saja Ku kenakan di tangan. Sudah jam 6 lebih 10 menit.
"Maya ... Udah belum? Yuk, sarapan. Nanti Kamu telat ke sekolahnya," kataku sedikit teriak di pintu kamar Maya yang tertutup.
Baru saja Aku selesai bicara. Pintu terbuka bersama Maya yang sudah siap dengan seragam sekolahnya. Kami pun segera ke meja makan. Di sana sudah tersedia menu yang tadi Kami pesan ke Bu Iyem.
"Bu Iyem. Kok gede banget potongan cake nya? Ini mah Aku nggak bakalan abis. di potong dua lagi aja, ini kebanyakan," kata Maya dengan mata terus melihat ke piring berisi cake di hadapannya.
"Abisin Neng. Biar kenyang. Biar nanti di sekolah nggak lemes. Nasi sama kue itu beda, kalo nasi biar sedikit bikin kenyangnya lama. Tapi kalo kue, cepet bikin laper lagi," kata Bu Iyem menerangkan.
Akhirnya Maya manut dengan Bu Iyem, Ibu tua yang sudah di anggap seperti Neneknya sendiri. Aku tersenyum melihat Maya yang memakan cake kesukaannya dengan wajah cemberut. Aku pura-pura tak mendengar keluhan Maya barusan. Kalau saja Aku ikut menimpali, sudah pasti menjadi senjata buat Maya untuk tetap tak menghabiskan cake yang sekarang Ku lihat tinggal sepertiga bagian lagi.
"Drrrttt ... Drrrttt ...." suara ponsel berdering.
Terlihat pesan whatsapp dari Dimas yang masuk. Segera Ku buka, Ku baca isi pesannya.
['Sya. Ke rumah sakit sekarang. Gue tunggu jam 8 ya. Kita ketemu di lobi depan rumah sakit.'] kata Dimas melalui pesan yang dikirimnya.
__ADS_1
'Ke rumah sakit? sekarang? mau ngapain Dimas minta ketemuan di rumah sakit? Apa Dia tau Aku memang mau ke rumah sakit buat donorin darah ke Rey?' batinku bertanya-tanya.
Aku yang tengah menikmati sarapan pagiku mendadak jadi tak berselera makan. Ku letakkan garpu di tanganku ke piring. Fokusku sekarang beralih ke ponselku. Sibuk membalas pesan dari Dimas.
['Ada hal penting apa Dim? Kenapa harus ke rumah sakit? Kenapa harus di rumah sakit ketemunya? Apa ada hubungannya dengan Rey?'] kataku lewat pesan yang Ku balas.
Beberapa menit. Centang dua di pesan yang Ku kirim belum juga berubah menjadi biru. Aku semakin penasaran. Semakin ingin cepat tahu alasan Dimas menyuruhku ke rumah sakit menemuinya. Tak sabar pesanku tak di baca-baca, segera Ku hubungi Dimas.
"Tuuuttt ... Tuuuttt ..." suara panggilan yang tersambung ke ponsel Dimas tak juga di angkat.
Ku lihat Maya sudah menghabiskan cake dan susu nya. Ku habiskan setengah gelas teh manis hangat di hadapanku. Aku bergegas. Ku suruh Maya untuk menyusulku ke mobil.
"Bunda ada janji sama Om Dimas. Cepetan May," kataku yang sudah berdiri.
Aku sudah berada di mobil. Mobil pun sudah menyala dan siap untuk melaju. Tapi Maya yang Ku tunggu tak juga datang. Baru saja ingin turun untuk menyusul Maya ke dalam dan menyuruhnya segera ke mobil, Maya sudah terlihat di depan pintu.
Maya hanya mengangguk. Berlari menyusulku masuk ke mobil. Ku lihat wajahnya berubah kecut dengan bibir mungilnya yang maju beberapa senti.
"Kamu kenapa? Muka di tekuk begitu," kataku menahan tawa.
"Bunda nggak tau apa. Aku tuh kekenyangan, malah disuruh cepet-cepet," kata Maya masih dengan wajah yang di tekuk.
Aku hanya tertawa melihatnya. Ku lajukan mobil sambil tertawa. Maya pun ikut tertawa mendengar tawaku yang menggelitik perutnya.
*****
Begitu sampai di lobi rumah sakit. Mataku terpencar memandang ke segala arah. Cukup banyak orang yang Ku lihat. Tapi tak Ku temui sosok yang Ku cari.
__ADS_1
'Kemana Dimas? Katanya ketemu di sini. Kenapa malah Dia yang belum dateng?' gumamku kesal.
"Oiyy! Ngapain berdiri di sini? Duduk lah. Ayo," kata Dimas yang tiba-tiba muncul di belakangku.
"Yeee ... Gue nyariin Lo," kataku menepak bahu Dimas.
Kami pun duduk. Berbincang. Membicarakan solusi tercepat untuk Vino segera bebas. Dimas begitu yakin dengan yang Ia katakan padaku. Aku sendiri tak menyangka dan tak ada fikiran untuk melakukan itu. Niatku memang ingin segera mendonorkan darahku untuk Rey, tanpa paksaan apapun. Tanpa menekan siapapun.
"Tapi Dim, apa itu nggak terlalu jahat? Rey bisa mati kalo Gue telat donorin darah. Sampe sekarang aja belom ada pendonor yang cocok untuk Rey. Rey bisa bertahan karena bantuan alat medis yang terpasang di tubuhnya. Gue takut itu semua nggak akan bertahan lebih lama lagi. Urusan ke Vino juga bisa makin beresiko kalo Rey nggak selamat," kataku mencoba membantah Dimas.
"Percaya deh Sya. Rencana Gue pasti bakal berhasil. Bukan soal jahat atau enggak. This is just a trick. Okay?" ujar Dimas yang diberengi dengan mengajakku berjalan mengikutinya.
Tibalah Kami di sebuah kafe tak jauh dari lobi depan tadi. Kafe ini masih berada di dalam kawasan rumah sakit. Kulihat Dimas melambaikan tangan ke arah seorang wanita. Ya, Indri. Dimas mengajakku bertemu dengan Indri.
"Hai Dim, Sya. Sini duduk. Pesen, mau minum apa? atau mau makan?" katanya sangat ramah.
"Nggak. Nggak usah In. Minum aja, udah sarapan tadi di rumah," kataku yang langsung memesan minum.
"Okeh. To the point aja ya. Indri sebelumnya udah Gue jelasin, dan Tasya juga barusan udah Gue kasih pengertian. Ini udah Gue siapin surat-surat yang harus kalian tanda tanganin buat kelangsungan tindakan ke depannya. Silahkan, kalo mau dibaca dulu isinya," kata Dimas menjelaskan sembari menyodorkan beberapa lembar kertas yang sudah bermaterai.
"Dim ... Ini kelewatan! Nyawa bukan untuk main-main," kataku menampik kertas yang disodorkan Dimas ke arahku.
"Tasya. Nggak papa Sya. Gue bakal ngelakuin apa aja asal Rey bisa di selametin. Sebenernya tanpa perjanjian bermaterai ini pun, Gue pasti cabut tuntutan Gue ke Vino kalo Lu bersedia donorin darah buat Rey. Tapi Dimas ngelakuin ini, buat jaga-jaga, takut kalo Gue nanti berubah fikiran," kata Indri sembari menandatangani beberapa lembar kertas bermaterai.
Indri menggenggam erat jemariku. Tatapannya penuh harap. Ada ketulusan yang tersirat di mata Indri. Ketulusan cinta yang begitu besar untuk Rey. Kalau saja Aku tak datang saat acara itu. Mungkin saat ini Indri sudah menjadi istri Rey. Dibalik rasa sesalku, ada cemburu yang tiba-tiba datang. Cemburu melihat Indri begitu mencintai Rey, laki-laki yang tak mudah hilang begitu saja dari hatiku. Walau rasa benci kadang muncul, perlahan hilang terhimpit dengan sendirinya.
'Apa-apaan sih Aku ini. Masih saja memikirkan Rey. Cuma Vino prioritasku saat ini. Bukan yang lain,' batinku meyakinkan.
__ADS_1
Aku pun menandatangani kertas bermaterai yang ada beberapa lembar di hadapanku. Indri tersenyum melihatku. Senyumnya begitu manis. Seperti ada secercah harapan Ku lihat di matanya yang sedikit berembun.