Sang Mantan

Sang Mantan
CEMBURU


__ADS_3

Pintu apartemen Anin terbuka dan Haikal tampak keluar dari sana yang di dampingi oleh Anin. Mereka harus berpisah setelah beberapa saat melepas rindu karena Haikal harus segera mencari hotel untuk dirinya selama ia tinggal di ibu kota.


"Aku pergi dulu ya, besok aku akan datang lagi" Pamit Haikal.


Anin mengangguk.


"Hati- hati ya, kabari aku jika sudah sampai di hotel" Balas Anin.


Keduanya saling menatap.


"Ah, sepertinya aku tidak bisa pergi" Keluh Haikal.


"Kenapa?" Sahut Anin.


"Aku tidak rela untuk meninggalkanmu" Balasnya lagi.


Anin terkekeh, Haikal selalu punya cara untuk membuatnya tersenyum.


"Lalu! Apa mas Haikal mau menginap di sini?" Pancingnya.


"Bolehkah?" Sahut Haikal.


"Bolehkah aku menginap disini?"


"Aku janji tidak akan nakal".


Plak


Anin memukul lengan Haikal.


"Jangan aneh- aneh deh".


Haikal cemberut, harapannya untuk menghabiskan waktu bersama sang kekasih harus pupus.


"Lebih baik sekarang mas Haikal pergi, ini udah malam".


"Kamu mengusirku?" Rajuk Haikal.


"Iya!" Sahut Anin.


"Hah! Begini banget ya nasib lajang, harus pergi dan mencari hotel sendiri padahal di sini adalah rumah pacarnya sendiri".


Haikal menghela nafas.


"Ya udah, aku pergi dulu ya" Pamit Haikal kemudian.


Anin mengangguk.


Haikal mendekat dan langsung memeluk Anin dengan erat, ia masih begitu merindukan kekasihnya itu.


"Kenapa aku tidak rela untuk meninggalkanmu" Bisiknya.


Haikal melepaskan pelukannya.


"Aku takut jika ada laki- laki lain yang akan datang menemanimu".


Anin menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya jika Haikal bisa secemburu itu.


"Udah, pulang ya! Aku mau istirahat".


"Tapi janji dulu" Ucap Haikal.


"Janji apa lagi?" Balas Anin.


"Janji, jika kamu tidak akan menerima laki- laki lain selain aku" Ucap Haikal lagi.


" Iya, aku janji".


"Benar ya!".


"Iya!"


Bukannya langsung pergi, Haikal malah kembali memeluk Anin untuk beberapa saat.

__ADS_1


Anin mendorong Haikal agar melepaskan pelukannya dan pergi dari sana.


"Udah, pergi sana" Usirnya sambil tersenyum.


"Dada sayang"


Haikal melambaikan tangan dan Anin membalasnya. Haikal terus melangkah hingga menghilang di balik pintu lift.


Anin kembali menutup pintu apartemennya tanpa menyadari jika ada seseorang yang menatap dirinya dengan tatapan yang penuh amarah.


Rafael menggepalkan tangannya dengan amarah yang telah memenuhi ubun- ubunnya. Ia begitu marah melihat sang istri di peluk mesra oleh laki- laki lain.


"Kurang ajar!" Umpat Rafael dengan mengertakkan giginya.


"Berani- beraninya kamu memeluk laki- laki lain, istriku".


"Kamu benar- benar telah menguji kesabaranku"


Niat hati ingin menemui sang istri untuk mengajaknya bicara baik- baik mengenai masalah perceraian mereka. Tapi kenyataannya Rafael justru di buat terkejut saat melihat seorang laki- laki yang keluar dari apartemen sang istri malam- malam. Dan yang lebih membuatnya marah adalah ketika ia malah harus menyaksikan secara langsung laki- laki itu memeluk istrinya dengan begitu mesra.


Rafael tahu jika laki- laki itu adalah pacar sang istri, dan itu artinya Anin telah berselingkuh darinya. Tapi sayangnya ia tidak bisa langsung melabrak pasangan kekasih itu begitu saja karena situasinya tidaklah sesederhana itu.


Hubungan Rafael dan Anin sangat- sangat Complicated.


Anin menutup pintu apartemennya dengan hati yang gelisah, ia tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya jika Haikal tahu tentang Rafael dan Rafael tahu tentang Haikal. Laksana buah simalakama, situasi saat ini benar- benar tidak menguntungkan bagi dirinya.


Saat ini Anin merasa seperti seorang pemain, pemain yang sedang mempermainkan hati dua orang pria yang memiliki hubungan dengannya. Yang satu adalah sang kekasih dan yang satu lagi adalah sang suami. Anin tidak tahu kenapa ia harus terlibat dalam hubungan yang rumit ini, hubungan yang membuat dirinya jadi serba salah dan tampak begitu bersalah.


Anin mengambil segelas air minum kemudian meneguknya dengan perlahan hingga air mineral itu tandas tak bersisa, tapi sayangnya air itu seolah tidak mampu untuk memuaskan dahaganya. Rasanya ia ingin meneguk lagi dan lagi hingga ia kekenyangan dengan air mineral.


Dikala Anin sedang menenangkan hatinya, tiba- tiba suara bel mengejutkannya.


Ting ting


Ting ting


Anin terdiam, ia sedang menebak siapakah yang datang.


"Siapa ya! Apa mungkin mas Haikal".


"Apa mungkin ada yang tertinggal" Ucap Anin sambil melihat ruang tamu tempat Haikal duduk tadi.


Anin melangkah mendekati pintu dan langsung membukanya.


Klekk


"Ada apa lagi sih mas,,,,!"


"Hah!" Anin memelototkan mata saat melihat sosok yang sedang berdiri di hadapannya.


"Ka kamu,,,,!".


Anin terpaku melihat Rafael yang sedang menatapnya dengan tajam.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Apa ada orang lain yang kamu harapkan untuk datang?" Ucapnya lagi.


Anin sedikit kelabakan, ia tidak tahu harus berkata apa.


"Apakah kamu mengharapkan jika yang datang adalah kekasihmu?".


"Apa kamu tidak senang jika suamimu yang datang?".


Anin mundur beberapa langkah karena Rafael terus melangkah mendekatinya.


"Ka kamu mau apa?" Tanya Anin dengan sedikit terbata.


"Menurutmu? Apa yang di inginkan oleh seorang suami ketika mendatangi istrinya" Ucap Rafael.


Rafael terus melangkah mendekat sementara Anin terus berjalan mundur. Anin merasakan tubuhnya gemetar melihat tatapan mata Rafael yang menatapnya dengan tatapan yang menusuk.


Rafael menyudutkan Anin pada sebuah dinding dan tanpa basa- basi langsung melu mat bibir sang istri dengan ganas.

__ADS_1


Anin memelototkan matanya saat menyadari apa yang sedang Rafael lakukannya padanya.


"Mmmmm" Anin berusaha untuk melepaskan diri namun tenaganya kalah kuat dari tenaga sang suami.


Rafeal tahu jika Anin menolaknya namun ia tidak peduli, ia masih terus bermain dengan bibir sang istri. Rafael menghi sap, melu mat dan mengicap semua rasa yang ada di bibir manis sang istri tanpa memperdulikan penolakan istrinya itu.


"Ah!"


Suara ******* terdengar saling bersahutan. Keduanya berusaha menghirup oksigen sebanyak- banyaknya.


"Apa yang kamu lakukan?" Maki Anin dengan tatapan mata yang penuh amarah.


"Aku hanya mencicipi bibir ranum milik istriku".


Rafael mengusap sisa- sisa sa liva dibibir sang istri.


"Manis" Ucapnya.


Anin menepis tangan Rafael yang sedang mengusap bibirnya.


"Apakah laki- laki itu pernah menciummu?" Tanya Rafael penuh penekanan.


Anin terdiam dan masih menatap tajam suaminya.


"Apakah laki- laki juga pernah menyentuh bibir ini?" Tanyanya lagi sambil kembali mengusap bibir sang istri.


Anin kembali menepis tangan Rafael.


"Aku tidak sehina itu" Balas Anin penuh amarah.


Rafael tersenyum sinis, ia meragukan hal itu. Bagaimana mungkin sepasang kekasih tidak pernah berciuman, memangnya dia anak kecil yang bisa di bodohi begitu saja.


"Benarkah demikian!".


"Bolehkah aku sedikit berbangga diri dan menganggap jika aku adalah laki- laki pertama yang menciummu".


Rafael kembali mengusap wajah dan bibir Anin meskipun sang istri terus menolaknya.


"Kemarin kamu mengusirku, tapi malam ini kamu malah menerima laki- laki lain di dalam rumahmu. Apa kamu sedang berusaha menjadi jal*** dengan berselingkuh dariku".


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi Rafael.


"Jaga ucapan anda pak Rafael, jangan pernah menuduhku seperti itu karena aku tidak sehina itu" Makinya dengan amarah.


Rafael tersenyum sambil menyusap pipinya.


"Kamu begitu baik pada laki- laki itu dengan tersenyum manis padanya, tapi kenapa kamu malah melakukan hal yang sebaliknya padaku" Bentak Rafael.


"Aku adalah suamimu tapi kamu malah bermain api dengan laki- laki lain, apa itu namanya jika bukan jala**".


Plak


Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Rafael.


Rafael mengertakkan giginya dan menatap tajam.


"Kamu ingin bermain- main denganku ya! Iya!" Sentak Rafael.


"Baiklah, jika itu maumu".


"Ayo kita bermain- main".


Tanpa menghiraukan penolakan sang istri Rafael langsung melu mat bibir merah muda itu kembali, ia terus mengu lum, mengi sap dan menye sap bibir itu berkali- kali. Entah mengapa Rafael begitu kecanduan dengan bibir tipis milik istrinya itu hingga membuatnya enggan untuk melepaskannya.


Anin berusaha memberontak dengan memukul dada Rafael namun sama seperti sebelumnya, tenaganya kalah jauh dengan tenaga suaminya.


Dengan bibir yang masih saling bertautan, Rafael mengangkat tubuh sang istri dan menggiringnya ke dalam kamar.



Eng i eng,,,,

__ADS_1


Apa yang akan terjadi?


Awww 🙈🙈🙈🙈


__ADS_2