Sang Mantan

Sang Mantan
BODOH


__ADS_3

Selepas kepergian Ardi, Nindy kembali menatap gumpalan surat yang tadi di buang olehnya dan perlahan ia melangkah untuk memungut kembali kertas surat tersebut. Nindy kembali membaca kata demi kata yang di tulis dengan tinta berwarna hitam itu secara perlahan. Dan untuk kesekian kalinya hatinya merasakan sakit, hatinya sakit karena harus kembali merasakan jalan takdir yang tidak sesuai keinginannya.


"Bodoh!" Umpatnya.


"Kenapa kamu mengambil keputusan tanpa bertanya lebih dulu padaku dan meminta pendapatku. Kamu memintaku untuk memberikan kesempatan padamu tapi kenapa kamu malah memilih untuk pergi".


Tadi Ardi mengatakan jika salah satu pengawalnya sempat melihat Rafael datang ke kafe saat ia bertemu dengan Haikal waktu itu dan itu artinya Rafael kembali salah paham padanya. Nindy sadar jika ia sudah terlalu lama membiarkan permasalahannya berlarut- larut, hingga akhirnya kesalah pahaman kembali terjadi.


Andai saja Nindy tahu jika saat itu Rafael juga datang ke kafe, pasti ia akan memperjelaskan semuanya pada saat itu juga. Tapi sayangnya ia terlambat mengetahui hal itu hingga akhirnya sebuah keputusan di buat oleh Rafael secara sepihak.


Seandainya Rafael tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Haikal, mungkinkah dia akan tetap pergi?


Flashback On


Haikal menatap wanita cantik yang sedang duduk di hadapannya, jujur hatinya begitu sakit saat akan mengatakan keputusannya saat itu.


"Aku akan kembali besok dan hari ini aku butuh jawaban darimu" Ucap Haikal.


"Siapa yang akan kamu pilih? Aku atau suamimu?" Tanyanya.


Nindy menatap Haikal, ia ragu untuk menjawabnya.


"Jika kamu tidak bisa memilih antara aku dan suamimu, maka aku yang akan mundur".


"Mas!" Nindy terkejut mendengar ucapan Haikal.


"Aku ingin kita putus" Ucap Haikal lantang.


Keputusan Haikal sungguh di luar dugaan Nindy. Ia tidak pernah menyangka jika Haikal akan mengambil keputusan itu.


"Hubungan kita sudah tidak baik- baik saja, Nin. Kita berada di dalam hubungan yang salah".


"Aku tahu" Sahut Nindy.


"Aku juga tidak menginginkan hal ini terjadi".


Haikal menggenggam tangan Nindy di atas meja.


"Kamu masih mencintai suamikan?" Tanya Haikal.


Nindy terdiam, ia tidak ingin menjawabnya karena khawatir akan membuat Haikal semakin terluka.


"Kamu tidak perlu menjawabnya, karena aku sudah tahu jawabannya".


Haikal menatap Nindy yang tertunduk.


"Dua tahun waktu yang kita habiskan bersama nyatanya tidak mampu untuk menguatkan cinta kita. Faktanya kamu masih menyimpan perasaan untuk suamimu itu".


"Aku tahu jika saat ini kamu pasti sedang dilema untuk menentukan pilihan, kamu pasti kesulitan untuk memilih antara kami berdua. Maka dari itu biarkan aku yang mundur, aku sadar jika cintamu padaku tidak sebesar cintamu kepada suamimu".


"Aku minta maaf mas" Lirih Nindy.


"Kamu tidak perlu minta maaf, mungkin kita memang tidak berjodoh" Sahut Haikal.

__ADS_1


"Mulai saat ini aku akan melepaskanmu untuk kembali bersama suamimu. Kembalilah padanya, karena aku tahu dia sangat mencintaimu meskipun aku tidak yakin apakah rasa cintanya sebesar rasa cintaku pada dirimu".


Nindy mulai terisak, inilah yang ia takutkan yaitu menyakiti hati salah satu dari pria yang mencintainya. Haikal adalah laki- laki yang baik dan kini ia telah menyakiti hati laki- laki itu.


"Sebelum aku pergi, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" Tanya Haikal.


Nindy mengangkat wajahnya dan menatap Haikal.


"Apa!" Tanyanya.


"Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?" Pinta Haikal.


Nindy mengangguk dengan air mata yang mulai mengalir.


"Tentu saja boleh. Apa kamu akan pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu" Jawabnya.


Haikal tersenyum, ia langsung bangun dan menghampiri Nindy, sementara itu Nindy juga melakukan hal yang sama. Kini keduanya sedang berdiri saling berhadapan satu sama lain. Tangan Haikal terulur kedepan meminta agar Nindy datang kepelukannya. Nindy yang memahami maksud dari Haikal tersebut langsung mendekat dan memberikan sebuah pelukan untuk pria yang kini telah menjadi mantan kekasihnya itu.


"Aku sangat mencintaimu" Aku Haikal dengan suara paraunya.


"Iya, aku tahu" Balas Nindy dengan nada suara yang terdengar serak.


Akhirnya cinta segitiga itu menemukan ujungnya, Haikal memilih mundur karena ia sadar jika posisinya tidak akan pernah menang dari Rafael yang jelas- jelas masih berstatus sebagai suami sah dari Nindy.


Flashback Off


Lamunan Nindy melenyap seketika saat Ardi masuk kedalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ardi!" Sengah Nindy dengan kesal.


Ardi langsung membungkukkan badannya untuk meminta maaf.


"Maafkan saya bu Nindy, saya terlalu terburu- buru ingin menyampaikan kabar penting kepada anda hingga saya lupa untuk mengetuk pintu" Kilah Ardi.


"Kabar apa? Apa kamu sudah menemukan keberadaan pak Rafael" Tanya Nindy.


"Benar bu, kami sudah menemukan keberadaan pak Rafael" Jawab Ardi.


"Kamu serius?" Tanyanya ingin memastikan.


"Iya bu, saya serius" Ucap Ardi.


Senyum di bibir Nindy langsung merekah, ia bergegas bangun dan menghampiri asistennya itu.


"Antarkan aku untuk bertemu dengannya" Pinta Nindy.


"Baik bu" Sahut Ardi.


Tanpa menunggu lama, Nindy langsung melangkah keluar dari ruangannya. Ia harus segera bertemu dengan laki- laki yang sudah beberapa hari ini menghilang tanpa kabar.


.


Bu Linda menatap Rafael yang sedang berkemas, beliau berusaha untuk menahan sang putra agar tidak pergi. Belum cukup rasa terkejut saat Rafael memberitahukan tentang keputusannya yang akan melepaskan LJ Grup dan juga Nindy, beliau harus kembali di kejutkan dengan keputusan Rafael yang tiba- tiba memutuskan untuk pergi dari rumahnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu melakukan ini, Rafa? Kenapa kamu harus pergi".


Rafael tidak menjawab, ia masih sibuk dengan barang- barang yang akan dikemasnya.


"Rafa!" Bu Linda menarik tangan Rafael untuk melihat kearahnya.


"Apa lagi sih, ma" Sahut Rafael.


"Jelaskan pada mama, kenapa kamu melakukan ini semua? Kenapa kamu mengambil keputusan ini tanpa membicarakannya terlebih dahulu pada mama".


"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi ma, semua ini adalah jalan yang terbaik untuk kita semua" Ucap Rafael.


"Terbaik untuk siapa Rafa? Untuk kamu? Atau untuk Nindy? Keputusan kamu bukanlah keputusan yang terbaik" Ucap bu Linda.


"Apa kamu sudah membicarakan masalah ini dengan Nindy? Apa Nindy setuju dengan keputusan kamu?".


"Dia pasti setuju ma" Sahut Rafael.


"Dari mana kamu tahu? Apa kamu sudah mengatakannya kepada Nindy?".


"Ma!" Rafael menatap sang mama.


"Tolong jangan bahas masalah ini lagi" Pintanya.


Bu Linda terdiam, beliau melihat luka dari tatapan mata Rafael.


"Bukankah seharusnya kamu mempertahankan Nindy dan mendapatkannya kembali tapi kenapa kamu justru melepaskannya?" Tanya bu Linda lagi dengan nada suara yang lebih pelan.


"Aku tidak bisa terus menerus menahan Nindy, ma. Nindy berhak bahagia" Jawab Rafael.


"Lantas bagaimana dengan kamu sayang, apakah kamu bahagia setelah kamu melepaskan istrimu?".


Rafael terdiam.


"Setidaknya aku tidak membuat Nindy semakin menderita dengan menahannya tetap di sampingku" Jawabnya.


"Jika mama menanyakan tentang hatiku, maka aku sudah tidak peduli. Aku sudah tidak peduli dengan hati ini dan rasa ini lagi. Bagiku, kebahagiaan Nindy jauh lebih penting dari pada kebahagiaanku sendiri".


"Kenapa kamu harus membohongi hatimu sayang, mama tahu jika hatimu sakit. Mama tahu jika kamu sangat mencintai istrimu".


"Aku memang sangat mencintai Nindy, ma. Tapi apa aku harus memaksanya untuk tetap bertahan disampingku sementara ada laki- laki lain yang di cintainya" Ucap Rafael dengan nada tinggi.


"Aku sudah pernah memaksanya hingga membuatnya hidupnya menderita dan kini aku tidak akan melakukannya lagi. Aku tidak akan lagi menahan Nindy untuk tetap di sisiku ma, tidak akan lagi"


"Mama tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku. Aku akan berusaha untuk berdamai dengan keadaan ini".


"Kamu yakin jika Nindy lebih mencintai laki- laki itu dari pada kamu? Mungkin saja rasa cinta Nindy lebih besar untukmu di bandingkan laki- laki itu" Ucap bu Linda.


"Tidak ma, aku tahu jika dia sangat mencintai laki- laki itu. Dihatinya hanya ada satu nama, dan nama itu bukanlah namaku" Tegas Rafael.


"Tahu apa kamu tentang hatiku!".


Rafael dan bu Linda terkejut saat mendengar sebuah suara dari belakang mereka, keduanya memalingkan wajahnya menatap seseorang yang baru muncul dari balik pintu.

__ADS_1



.


__ADS_2