
Rafael mengecup kening Nindy dengan mesra dan penuh sayang sebelum akhirnya ia melepaskan penyatuan mereka. Deru nafas yang terenggah- enggah terdengar saling bersahutan dari pasangan yang baru saja selesai menenguk nikmatnya cinta. Untuk sesaat tidak ada yang bersuara hingga kemudian Rafael di kejutkan oleh tangis sang istri yang berbaring di sampingnya.
"Hei, kamu kenapa sayang? Kenapa kamu menangis?" Rafael mengusap wajah Nindy lembut.
"Apa kamu sakit? Apakah aku telah menyakitimu?" Tanyanya penuh khawatir.
Nindy menggelengkan kepalanya sambil terisak.
"Kamu harus bertanggung jawab" Ucapnya sembari menatap Rafael.
"Hah!" Rafael tidak mengerti maksud ucapan sang istri.
"Aku sudah tidak perawan lagi. Hikkss,,,!" Nindy menutup wajahnya dan kembali menangis.
"Eh!" Rafael seketika bangun.
"Maksudnya gimana?" Tanyanya.
Nindy membuka tangannya lalu melihat Rafael tajam.
"Kamu sudah mengambil keperawa nanku, jadi kamu harus bertanggung jawab" Ucapnya.
"Jangan pernah mencoba untuk lari dari tanggung jawab, karena aku tidak akan pernah melepaskanmu".
Rafael terdiam sesaat hingga akhirnya ia tertawa terbahak- bahak.
"Hahahahaha,,,,!" Rafael tidak bisa menghentikan tawanya setelah menyadari maksud dari ucapan sang istri.
Plakk.
Nindy memukul lengan Rafael karena kesal.
"Kenapa kamu tertawa? Kamu sengaja mengejekku ya".
Rafael langsung menghentikan tawanya saat melihat wajah Nindy yang tampak kesal namun suara kekeh- han masih terdengar dari mulutnya.
"Maaf sayang, aku tidak bermaksud untuk menertawakanmu. Tapi sungguh, kamu itu lucu banget sih! Hahaha,,," Rafael kembali tertawa.
"Ih, jahat banget sih!" Nindy kembali merajuk.
Tidak ingin membuat Nindy semakin marah, Rafael berhenti tertawa lalu meraih tubuh sang istri dan memeluknya erat.
"Maafkan aku ya. Aku telah mengambil harta yang paling berharga dari dirimu".
Nindy terdiam, ia tidak membalas ucapan suaminya.
"Tapi kamu tidak perlu khawatir, karena aku akan bertanggung jawab".
"Kamu memang harus bertanggung jawab" Sahut Nindy.
Rafael tersenyum.
"Iya sayang" Jawabnya.
"Apa kamu pikir aku akan membiarkan laki- laki lain untuk bertanggung jawab atas dirimu? Tidak akan pernah aku biarkan hal itu terjadi".
Rafael melepaskan pelukannya lalu menatap Nindy.
"Apa kamu menyesalinya?" Tanyanya.
"Apa kamu menyesal karena aku telah mengambil dia,,," Rafael menunjuk ke bawah.
"Its,,, kenapa kamu bertanya seperti itu?" Nindy kembali memukul lengan Rafael karena ia tahu maksud dari suaminya itu.
"Lalu kenapa kamu menangis? Apa kamu tidak tahu aku begitu khawatir saat melihatmu menangis".
Nindy memalingkan wajahnya sembari berucap :
"Aku hanya tidak menyangka jika sekarang aku telah menjadi seorang istri seutuhnya. Akhirnya kamu mau menyentuhku".
Jlep.
__ADS_1
Rafael merasakan seolah sesuatu menusuk hatinya. Sakit dan perih namun tidak berdarah.
Rafael tidak tahu harus berkata apa, ia hanya bisa memeluk Nindy.
"Maaf, karena aku pernah menyia- nyiakanmu" Lirihnya.
Nindy menghela nafas panjang, kemudian kembali menatap Rafael.
"Kita akan memperbaikinya bersama- sama. Aku dan kamu harus bisa melupakan masa lalu dan meniti masa depan bersama" Ucap Nindy.
Rafael mengangguk.
"Iya, kita harus memperbaiki dan menghapus semua luka di masa lalu. Aku janji tidak akan mengulang kesalahan yang sama".
Nindy tersenyum lalu memberikan ciuman hangat untuk sang suami dan Rafael ikut membalas ciuman dari istrinya. Keduanya tampak begitu hanyut dan terbawa perasaan hingga tiba- tiba.
Kruuukkkk,,, Kruuukkkk
Refleks Nindy dan Rafael langsung melepaskan ciuman mereka saat mendengar suara yang berasa dari perut Nindy.
"Maaf, sepertinya dia lapar" Ucap Nindy sambil mengusap perutnya.
Rafael tertawa "Aku juga sudah sangat lapar".
Keduanya tertawa bersama saat menyadari apa yang telah mereka lakukan beberapa saat yang lalu. Mereka terlalu terhanyut dalam suasana asmara hingga melupakan makan malam yang telah di persiapkan.
"Pergilah membersihkan diri, aku akan mempersiapkan makan malam untuk kita" Ucap Rafael.
Nindy mengangguk, lalu meraih selembar kain dan melilitkan di tubuhnya kemudian bergegas kekamar mandi. Rafael menyeringai saat melihat tingkah sang istri yang menggemaskan.
.
Beberapa menit berlalu, Nindy keluar dari kamar mandi setelah memakai pakai yang lengkap. Bukan pakaian yang resmi, ia hanya mengenakan mini dress simple namun terlihat cantik di tubuhnya.
Nindy kaget saat melihat ranjang yang sebelumnya berantakan, kini sudah rapi kembali. Nindy yakin jika itu adalah pekerjaan Rafael, entah mengapa ia merasa suaminya seperti seorang pesulap yang mampu melakukan apapun dengan sangat cepat.
"Apa aku cantik?" Nindy menggoyangkan tubuhnya untuk menggoda.
"Hmmm, cantik. Sangat cantik" Sahut Rafael.
"Aku seolah sedang menatap bidadari" Pujinya.
Nindy menyeringai.
"Kamu tidak tahu jika aku memang bidadari! Apa kamu tidak ingat kalau kamu pernah mencuri selendangku dan menyembunyikannya hingga aku tidak bisa kembali ke kayangan" Canda Nindy.
"Oh iya, kamu benar. Aku memang telah mencuri selendang milikmu dan aku tidak berniat untuk mengembalikannya lagi" Balas Rafael.
"Aku akan menahanmu agar tetap berada di sampingku".
Keduanya tertawa bersama karena merasa lucu dengan lelucon yang mereka bicarakan tadi. Saat tengah asyik bercanda, Nindy tiba- tiba terkejut saat Rafael menunduk dan berlutut di kakinya.
"Apa kamu lakukan?" Nindy tidak bisa menutupi keterkejutannya saat melihat sang suami berlutut di hadapannya.
Rafael tidak menjawab, ia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari sakunya dan mengambil sebuah cincin di dalamnya.
"Anindya Maharani, maukah kamu menjadi Istriku di sepanjang hidupmu? Maukah kamu menemani dan mendampingiku seumur hidupku? Maukah kamu berbagi suka dan duka bersama denganku? Maukah kamu ------!".
"Mau" Sahut Nindy tegas.
"Mau, mau dan mau. Aku mau hidup bersama denganmu sepanjang hidupku hingga mau memisahkan kita".
Rafael tersenyum, ia tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya saat mendengar jawaban dari sang istri yang sangat di cintainya itu.
Rafael bangkit dan meraih tangan Nindy lalu menyematkan cincin di jari manis sang istri kemudian mencium tangan itu dengan lembut.
"Terima kasih sayang" Ucapnya.
"Aku tidak percaya jika kamu masih menyimpan cincin pernikahan kita dan selalu membawanya bersamamu. Padahal aku sempat berpikir jika kamu mungkin saja sudah menikah dengan wanita lain setelah aku pergi" Ucap Nindy.
__ADS_1
Rafael membelai rambut Nindy lalu mengelus pipinya.
"Mana mungkin aku bisa mencintai wanita lain sedangkan aku sudah tidak punya hati".
"Maksudmu?" Tanya Nindy yang tidak mengerti maksud ucapan suaminya.
"Mungkin kamu tidak tahu jika kepergianmu saat itu meninggalkan luka mendalam di hatiku. Kamu pergi dengan membawa separuh dari hatiku dan hal itulah yang membuat aku tidak bisa melupakanmu. Aku tidak yakin apakah itu cinta atau hanya rasa penyesalanku padamu. Tapi yang pasti, hatiku telah mati saat kamu pergi meninggalkanku" Ungkap Rafael jujur.
"Tidak dapat aku pungkiri jika kamu adalah pemilik hatiku. Dulu, saat ini dan hingga akhir nanti hanya kamu yang ada di dalam hatiku".
Tes.
Nindy tidak dapat membendung air matanya, ia begitu tersentuh mendengar setiap kata yang keluar dari bibir sang suami.
"Aku mencintaimu" Ucapnya tulus.
"Aku lebih mencintaimu, sayang" Balas Rafael.
Nindy memeluk Rafael dengan erat dan Rafael juga membalas pelukan dari sang istri, keduanya hanyut dalam perasaan yang penuh emosi. Untuk beberapa saat, mereka ingin menikmati pelukan kasih sayang dari hati yang paling dalam. Setelah puas meluapkan segala rasa didalam hati, keduanya melepaskan pelukan kemudian saling menatap.
Rafael mengusap air mata yang membasahi pipi Nindy, lalu mengecup kedua kelopak mata sang istri dengan lembut.
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak lagi mengungkit masa lalu dan mulai melangkah kedepan" Ucap Rafael.
Nindy mengangguk.
"Jadi, mari kita mulai meniti masa depan kita dengan di awali makan malam bersama" Lanjut Rafael lagi.
"Iya, aku setuju" Ucap Nindy.
Rafael mengulurkan tangannya kepada Nindy sembari berucap:
"Apa kamu sudah siap, sayang?"
Nindy mengangguk sambil meraih uluran tangan Rafael.
"Ya, aku sudah siap".
Rafael tersenyum, lalu menuntun Nindy untuk mengikuti jalannya, mereka melangkah keluar kamar. Nindy kembali terkejut saat melihat ruang tamu yang telah di tata dengan sedemikian rupa hingga tampak berbeda. Lampu ruangan yang di buat sedikit redup membuat suasana menjadi romantis.
"Kapan kamu menyiapkan semua ini?" Tanya Nindy pada Rafael.
"Tadi" Sahut Rafael singkat.
"Bagaimana caranya kamu menyiapkan semua ini dalam waktu yang singkat?".
Rafael terkekeh geli saat melihat ekspresi sang istri.
"Apa kamu lupa siapa suamimu ini? Bukankah aku sudah pernah mengatakan jika semuanya bisa terjadi hanya dengan satu jentikkan jariku" Pamernya.
Nindy memutar bola matanya, lama- lama ia mulai jengah melihat sikap sok pamer suaminya itu. Namun harus Nindy akui, ia sangat kagum pada kemampuan Rafael yang mampu melakukan apapun dengan mudah meski ia tahu jika suaminya itu di bantu oleh para pengawalnya.
"Kemarilah" Rafael menarik sebuah kursi untuk Nindy.
Nindy melangkah mendekati Rafael.
"Terima kasih" Ucapnya sembari tersenyum.
"Sama- sama sayang" Balas Rafael.
Rafael ikut tersenyum, lalu menarik kursi yang satu lagi untuk dirinya sendiri.
"Wah, aku tidak percaya kamu menyiapkan semua ini".
"Makanan yang kamu siapkan tadi sudah dingin, jadi aku meminta asistenku untuk membereskan makanan itu dan menyiapkan makanan yang baru. Aku harap kamu menyukainya" Jelas Rafael.
Nindy mengangguk mengerti.
"Ya udah, ayo kita makan" Ucap Rafael.
Akhirnya Rafael dan Nindy mulai menikmati makan malam mereka yang sudah sangat terlambat itu. Meskipun begitu, keduanya tetap bahagia dan tidak berhenti bersyukur karena mereka berhasil melewati ujian terberat dalam rumah tangganya.
__ADS_1
☆