
"Assalamualaikum! Bu Iyem ...." teriak Maya memanggil Bu Iyem.
Maya memasuki hotel lebih dulu. Kotak berisi makanan untuk Bu Iyem juga Ia yang bawa. Maya mencari Bu Iyem ke segala ruangan di lantai dasar. Sadar tak ada Bu Iyem di bawah, Maya pun segera ke atas, ke kamar Bu Iyem. Kamar Bu Iyem ada di sebelah kanan kamar Maya.
"Tok tok tok" suara ketukan pintu.
"Bu Iyem ... Bu ...." panggil Maya membuka pintu kamar Bu Iyem yang tak terkunci.
Maya celingukan mencari Bu Iyem di setiap sudut ruang kamar. Nihil. Bu Iyem juga tak ada.
'Kok nggak ada? Kemana Bu Iyem?' gumam Maya khawatir.
Maya segera turun. Ia setengah berlari menuruni anak tangga. Tergesa-gesa. Maya takut terjadi sesuatu dengan Bu Iyem. Seorang Ibu tua yang sudah Ia anggap seperti Neneknya sendiri.
"Bun ... Bunda ..." teriak Maya yang tengah menuruni anak tangga.
Betapa terkejutnya Maya yang sedang cemas tiba-tiba melihat sosok yang Ia cari sedari tadi. Bu Iyem sedang asik mengobrol denganku di ruang keluarga. Maya melongo melihat Kami.
"Bu Iyem ... kok bisa tau-tau di sini? Bu Iyem darimana? Aku cari-cariin tau!" tanya Maya sedikit menggerutu.
"Lah ... emang neng Maya nyari Ibu kemana? Ibu tadi di dapur neng. Bikin teh manis anget. Nggak tau kalo Neng Maya nyariin Ibu." kata Bu Iyem menjelaskan.
"Kirain kemana. Nih Bu Iyem, makan dulu. Pasti Bu Iyem belum makan. Ya 'kan?" ujar Maya menyerahkan kotak makan ke Bu Iyem.
__ADS_1
"E-eh ... tau aja Bu Iyem belum makan. Makasih Neng Maya." ucap Bu Iyem dengan kotak makan sudah berpindah ke tangannya.
Bu Iyem terlihat sangat lahap. Masakan di Restoran sunda itu memang enak, terasa pas di lidah. Tak jauh berbeda dengan masakan Bu Iyem. Sehari-hari lidah Kami sudah terbiasa dimanjakan dengan rasa masakan Bu Iyem. Bu Iyem yang pandai memasak saja sangat menikmati makanan yang Kami bawakan untuknya. Apalagi Kami yang notabene tinggal makan.
*****
Tak terasa, liburan Kami sudah memasuki hari ketiga. Tepatnya Senin. Awal rencana akan balik ke Jakarta Senin sore. Tapi Vino ada urusan Kantor yang tak bisa ditinggalkan. Kami pun segera mengepak barang-barang Kami. Setelah semua beres, Kami langsung ke Resto hotel untuk sarapan. Di Resto ini hampir semua menu ada. Membuat pengunjung tak bingung mau makan apa.
"Bun. Nggak buru-buru banget 'kan Bun?" tanya Maya yang sedang menyantap sepotong cake yang sudah tersaji di meja makan Kami.
"Engga. Santai aja makannya, nggak usah buru-buru." kataku sambil menyendok nasi goreng di piring yang ada di hadapanku.
"Berarti bisa dong mampir ke tempat souvenir untuk oleh-oleh. Buat temen-temen sekolahku Bun." ucap Maya memohon.
Aku mengangguk dengan mulut dipenuhi makanan. Vino dan Bu Iyem hanya terlihat menyimak obrolanku dan Maya.
"Bu Iyem. Kalo ada yang disuka, ambil aja. Buat anak dan cucu Bu Iyem di kampung. Nanti 'kan bisa dikirim via ekspedisi. Tuh, baju-baju nya juga bagus-bagus." kataku menunjuk ke arah deretan baju yang menggantung rapi di stand gantungan.
Bu Iyem sumringah, senang dengan tawaranku. Ia pun mulai sibuk memilih oleh-oleh apa yang akan di berikan ke anak cucunya di kampung. Aku hanya mengambil beberapa bolpoint untuk nantinya Ku berikan ke teman-teman Kantor. Sementara Vino, hanya memperhatikan Kami sambil sesekali melihat-lihat souvenir yang ada di dekatnya. Puas telah mendapatkan apa yang di inginkan, Kami pun melanjutkan perjalanan.
*****
Jakarta.
__ADS_1
Begitu sampai di Rumah. Vino berganti pakaian dan langsung pergi lagi. Ia terburu-buru.
"Bun. Maaf ya, Aku langsung ke Kantor. Udah ditunggu yang lain di sana." ujar Vino memberikan tangannya untuk ku cium. Segera Aku meraihnya dan mencium punggung telapak tangannya.
"Salamin ke Maya, Aku buru-buru. Kamu juga baik-baik ya, langsung istirahat biar nggak capek. Ya udah, Assalamualaikum." pamit nya mencium keningku dengan mesra dan mengucap salam.
"Waalaikumsalam. Ati-ati Yah nyetirnya." kataku membalas salamnya. Vino pun mengangguk.
Entah kenapa. Perasaanku tak enak. Tak seperti biasanya. Seperti akan ada sesuatu yang besar terjadi. Ku gelengkan kepala agar tak memikirkan hal-hal buruk yang belum tentu akan terjadi. Ku sibukkan diri menata pakaian di koper ke lemari pakaianku. Lelah menghampiriku. Aku pun tertidur bersama tumpukkan pakaianku dan Vino.
Entah berapa jam Aku tertidur. Pas terbangun, tumpukan pakaian yang tadi di dekatku sudah tak ada. Ku buka Lemari pakaianku. Sudah tertata rapi. Aku tersenyum, sangat tahu siapa yang menatanya. Siapa lagi kalau bukan Bu Iyem. Ku ambil tas kecilku. Melihat ponselku di dalam tas, Aku langsung menepuk keningku.
'Astaga ... Aku lupa menghidupkan kembali ponselku.' kataku dalam hati.
Aku tak pernah memainkan ponselku saat di Hotel. Tapi anehnya, Vino tak menanyakan hal itu. Membuatku bertanya-tanya. Vino yang tak pernah sedikitpun tak memperhatikanku, hanya diam ketika Aku tak pernah terlihat memainkan ponsel ketika di Hotel.
'Ahh ... mungkin karena Dia terlalu menikmati liburan.' batinku berusaha cuek.
Ku hidupkan ponselku. Tak menunggu ponsel aktif sempurna, Aku langsung bergegas mandi. Ku pandangi tubuh ini lewat cermin yang sengaja di pasang berhadapan dengan pipa shower. Terpampang jelas tubuhku yang sintal, padat, dan putih. Aku menangis sejadinya. Di bawah guyuran air yang menutupi tangisanku. Menangis menyesali dan mengutuk perbuatanku selama ini.
Segera Ku lihat ponselku setelah selesai mengenakan baju. Ada beberapa pesan masuk. Ku scroll. Ada namanya. Ku buka pesannya lebih dulu.
['Suamimu, Vino. Udah tau soal hubungan kita. Aku udah bongkar semua kisah cinta kita selama dua tahun. Aku juga udah kirim video syur kita saat kita lakuin itu di jakarta. Dia bodoh! Dia pura-pura nggak tau di depanmu! Aku kira Dia akan langsung ceraikan Kamu. Tapi yang Ku lihat Dia semakin ingin membahagiakanmu! Bodoh suamimu!! Aku bersumpah Sya, akan Aku buat Kamu menjanda!']
__ADS_1
Pesan Rey yang dikirim bertepatan dengan hari dan jam saat Aku, Vino, dan Maya ada di Restoran sunda itu. Ternyata yang Kulihat waktu itu memang Dia. Aku memejamkan mata. Menjambak rambutku dengan kedua tanganku. Dadaku serasa dihujam pedang hingga menembus punggung. Terbayang, Gimana hancurnya hati Vino saat itu. Tapi Dia sanggup menahan diri untuk berpura-pura tak tau. Mengesampingkan egonya agar liburan Kami berjalan sempurna.
'Istri macam apa Aku ini? Ya Allah ... sungguh tega Aku! Menghianati Vino yang sangat tulus mencintaiku.' batinku menangis dengan airmata yang begitu deras.