
Nindy masih terdiam, ia sedang menyelami perasaannya sendiri.
"Berapa lama lagi waktu yang kalian butuhkan untuk memahami perasaan kalian masing- masing? Tidakkah waktu tujuh tahun itu cukup untuk kalian. Haruskah waktu di tambah menjadi tujuh tahun lagi?" Ucap dr Yulia lagi.
"Tolong tanya pada hatimu, apakah Rafael memang sudah tidak memiliki tempat lagi di sana? Apakah kamu tidak memiliki perasaan yang sama dengannya?"
Dr Yulia mengusap air mata yang mengenangi pelupuk matanya, ia sedih karena harus pernikahan sepupunya berada di ujung jurang perpisahan. Dr Yulia menatap Nindy, ia tahu jika wanita cantik yang juga sedang menatapnya itu memiliki hati yang baik jadi ia akan berusaha untuk menyatukan kembali dua hati yang telah lama di pisahkan oleh ego masing- masing.
"Aku tahu kalian saling mencintai, jika tidak pasti saat ini kalian sudah berada di pengadilan agama untuk mengurus perceraian atau mungkin saja kini kalian sudah bercerai. Tapi lihatlah, hingga saat ini kalian masih sah sebagai suami istri dan itu artinya Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kalian berdua untuk memperbaiki pernikahan ini".
Nindy menatap dr Yulia dalam- dalam, harus di akui jika hatinya mulai tersentuh mendengar ucapan yang di ucapkan oleh dr Yulia tadi.
"Aku harap kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik. Aku hanya bisa mendukung apapun yang menjadi keputusan kalian, toh kamu dan Rafael lah yang menjalani hubungan ini".
Setelah mengatakan banyak hal, dr Yulia memutuskan untuk pamit. Ia ingin memberikan ruang untuk Nindy agar bisa berpikir jernih.
.
Nindy melangkah dengan perlahan, ia sedang berjalan menuju ke unit apartemennya. Namun langkah kakinya terhenti saat ia melihat Sarah yang berdiri tepat di depan pintu apartemennya.
"Sarah!" Seru Nindy yang kaget melihat Sarah.
Sarah menatap Nindy.
"Akhirnya kamu pulang juga ya. Aku sudah satu jam menunggumu di sini" Balasnya.
"Satu jam!" Nindy terkejut.
"Untuk apa kamu menungguku? Dan kenapa kamu tidak menghubungiku terlebih dahulu jika ingin datang kemari".
"Aku terlalu marah padamu hingga aku tidak sanggup mendengar suaramu di telfon. Makanya aku memutuskan untuk datang menemuimu secara langsung" Balas Sarah.
Nindy mencoba menebak, untuk apa Sarah datang menemuinya karena selama ini hubungan mereka tidaklah terlalu dekat. Mereka hanya saling mengenal namun bukanlah kenalan layaknya seorang teman, lebih tepatnya dulu mereka adalah rival.
"Sebaiknya kita bicara di dalam saja" Ucap Nindy.
__ADS_1
"Tidak perlu" Sahut Sarah.
"Kita bisa bicara disini saja".
Nindy menghela nafas, aura ketegangan mulai terasa.
"Apa mau mu?" Tanya Nindy tanpa basa basi.
"Mauku! Kamu bertanya apa mauku? Heh!
Jika kamu mau tahu apa mauku, maka aku akan menjawabnya".
"Aku mau menam par mu, menjam bak rambutmu dan menghajar mu hingga babak belur. Puas!".
Nindy melotot, ia terkejut saat mendengar jawaban Sarah.
"Kenapa? Apa kamu takut" Sarah tersenyum sinis.
"Aku bertanya serius Sarah, tolong jangan bermain- main. Hari ini aku sudah punya banyak pikiran, jadi aku mohon jangan menambahkan beban pikiranku lagi" Balas Nindy.
"Aku tahu kamu cantik, tapi jangan gunakan kecantikan kamu itu untuk menjerat laki- laki".
"Apa maksudmu?" Sela Nindy.
"Jangan pura- pura bego, aku yakin kamu pasti tahu apa maksudku" Sahut Sarah.
"Kamu tahu, aku begitu membencimu saat kamu berhasil mendapatkan mas Haikal, namun aku berusaha untuk berlapang dada dan menerima semuanya dengan merelakan mas Haikal bahagia bersamamu. Tapi kenapa sekarang kamu justru menyakiti hatinya. Tidakkah kamu tahu jika mas Haikal begitu kecewa saat mengetahui kamu sudah menikah dan malah hingga saat ini kamu masih berstatus sebagai istri orang".
"Apakah kamu tidak pernah memikirkan perasaannya?" Sergah Sarah.
"Asal kamu tahu, aku tidak pernah membohongi mas Haikal. Sejak awal aku sudah mengatakan semuanya pada mas Haikal dan mas Haikal sendiri juga tidak pernah merasa keberatan dengan semua masa laluku" Nindy mencoba untuk membela diri.
"Hah! Tidak keberatan katamu? Kamu yakin?" Balas Sarah.
"Aku sudah mengatakan jika akan menyelesaikan masalah ini secepatnya dan mas Haikal setuju, lalu apa masalahnya? Kenapa kamu harus ikut campur dalam urusanku!".
__ADS_1
"Karena aku tidak suka kamu mempermainkan hati mas Haikal" Balas Sarah.
"Aku tidak pernah mempermainkan hati mas Haikal" Sahut Nindy.
"Apa kamu pikir aku percaya itu?" Sela Sarah lagi.
"Masalah ini terjadi di luar batas kendaliku. Siapa yang akan mengira jika aku harus berada di situasi yang serumit ini. Aku bahkan tidak pernah menduga jika statusku masih sebagai istri pak Rafael padahal aku sudah mengugat cerainya tujuh tahun yang lalu".
"Lalu kenapa kamu tidak kembali kepada pak Rafael? Kamu masih istrinya yang sah".
"Permasalahanku tidak sesederhana yang kamu pikirkan" Sahut Nindy.
"Kamu tidak akan bisa bicara semudah itu jika kamu juga berada di posisiku saat ini".
"Apa kamu pikir aku suka berada dalam hubungan yang rumit seperti ini? Tidak Sarah, aku juga tidak menginginkannya. Saat ini aku juga sedang berusaha untuk melepaskan diri dari hubungan yang tidak sehat ini".
Sarah menatap Nindy dalam- dalam, ia dapat melihat jika Nindy mulai merasa putus asa.
"Seharusnya kamu tidak perlu memperumit masalah ini, yang harus kamu lakukan adalah mengambil keputusan berdasarkan hati nuranimu. Sebaiknya kamu tanyakan pada hatimu siapa yang lebih kamu cintai, pak Rafael atau mas Haikal?".
"Jika kamu memang mencintai mas Haikal maka ceraikan pak Rafael secepatnya. Tapi jika yang kamu cintai adalah pak Rafael maka putuskan mas Haikal segera mungkin" Ucap Sarah.
"Kamu harus tahu jika kamu tidak akan pernah bisa memiliki keduanya. Kamu jangan menjadi orang yang tamak dengan menginginkan mereka sekaligus, jangan coba- coba untuk mempermainkan hati laki- laki yang tulus mencintaimu karena suatu hari nanti mereka juga akan lelah dan memutuskan untuk pergi meninggalkanmu".
Nindy terdiam, situasi inilah yang membuatnya dilema. Nindy belum bisa menentukan pilihan diantara dua laki- laki yang saat ini mengisi relung hatinya. Suami dan kekasih! Keduanya memiliki tempat tersendiri di dalam hatinya.
"Pikirkan kata- kataku tadi, sebelum kamu kehilangan salah satu dari mereka atau justru keduanya".
Usai mengatakan hal itu Sarah langsung pergi, ia tidak mau ikut- ikutan pusing dalam pusaran hubungan asmara yang rumit itu. Sarah tahu jika situasi yang terjadi saat ini memang tidak sesederhana yang ia pikirkan sebelumnya, karena secara garis besar Haikal sudah menjelaskan semuanya kepada dirinya. Sarah hanya mencoba untuk membuka pikiran Nindy agar dapat berpikir dengan jernih hingga ia dapat mengambil keputusan yang terbaik untuk cinta segitiga yang saat ini membelitnya.
Nindy menyentuh dadanya yang terus berdebar dengan sangat kencang, ia merasa hatinya juga mulai ikut protes kepada dirinya agar ia bisa menentukan pilihan.
Hari ini Nindy telah di buat dilema oleh dua wanita yang menemui dan bicara panjang lebar dengannya. Yang satu berbicara tentang Rafael dan memintanya untuk menerima sang suami kembali sedangkan yang satu lagi berbicara tentang Haikal, sang kekasih yang telah ia sakiti hatinya.
Sejujurnya saat ini Nindy belum bisa menentukan pilihan karena ia tidak ingin menyakiti hati kedua pria itu. Tapi Nindy sadar jika ia tidak bisa membiarkan masalah ini terus berlarut- larut seperti ini. Apapun yang akan terjadi, ia harus menentukan pilihan secepatnya. Benar apa yang Sarah ucapkan tadi, cepat atau lambat ia pasti akan kehilangan salah satu diantara keduanya atau justru ia akan kehilangan kedua pria itu secara bersamaan.
__ADS_1
☆