
Tubuhku yang masih terbaring setelah di ambil darahnya kurang lebih 450cc (ukuran kantong darah yang paling besar) terasa sangat lemas. Energiku seperti terkuras. Indri dan Dimas yang sedari tadi menemaniku, tersenyum melihatku telah usai mendonorkan darah.
"Minum yang banyak, Sya. Makanin tuh buah sama kue nya. Biar cepet pulih. Biar tenaga Lo balik lagi. Jangan pingsan, ntar yang ada nyusahin Gue," kata Dimas yang membuatku tersenyum kecut.
"Terserah Lo Dim, mau ngomong apa," kataku datar.
Dimas tertawa melihatku. mengusap-usap poniku dan mencubit pipiku. Ia pun mengupasi apel untukku. Sementara Indri hanya tersenyum memandangku dan Dimas.
"Kalian lucu ya. Temenan, chemistry nya dapet banget. Semoga langgeng ya pertemanannya. Jangan jadi te-te-em tapi," kata Indri meledek.
Aku dan Dimas saling berpandang mendengar ledekan Indri. Setelah cukup lama melongo, Aku dan Dimas tertawa. Kami memang seperti ini jika sudah bertemu. Dari dulu, banyak orang yang mengira Kami sepasang kekasih. Sampai pernah Nayla yang saat itu masih berpacaran belum menjadi istri Dimas, sempat mengira kalau Kami ada main di belakangnya. Saat itu Nayla belum mengenalku. Rasa cemburunya begitu besar, hingga pertengkaran demi pertengkaran pun terjadi di antaranya. Bersyukur sekarang Aku dan Nayla berteman baik.
"Ya udah, Dim. Sya. Gue duluan ya ke kantor polisinya. Mau langsung cabut laporan Vino. Soalnya Gue masih harus nemenin Rey di sini, Dia kan mau operasi," katanya pamit.
"Gue anter ya, Ndri?" kata Dimas menawarkan.
"Nggak usah. Lo temenin Tasya aja," kata Indri menolak.
"Ya udah, In. Hati-hati ya. Makasih," kataku sembari menempelkan kedua telapak tanganku di depan dada, tanda rasa terimakasih kepada Indri yang mau mencabut laporan untuk Vino.
Aku tersenyum. Rasanya senang, haru bercampur bahagia. Sebentar lagi Vino akan bebas. Vino akan kembali ke rumah. Kehadirannya pasti akan menjadi semangat Maya.
'Aku tak sabar ingin cepat-cepat menjemput Vino. Kemudian langsung menjemput Maya bersama Vino di sekolah. Kejutan bahagia ini pasti membuat Maya senang. Aku tak sabar melihat sunggingan senyum yang cantik dari Maya,' batinku tersenyum.
"Jangan senyum-senyum sendiri. Bagi-bagi kalo lagi seneng tuh. Giliran sedih aja baru lempar sana-sini," kata Dimas melempariku dengan kulit jeruk yang sedang Ia kupas.
"Udah tua, masih ... aja rese!" ķataku kesal.
Setelah Ku rasa tubuhku sudah kembali pulih. Aku dan Dimas langsung ke kantor polisi untuk menjemput Vino. Kebetulan polisi yang menangani kasus Vino barusan memberi info ke Dimas, bahwa Vino sudah bisa pulang. Sebenarnya Aku saja yang menjemput Vino juga bisa. Tapi Dimas juga harus ke kantor polisi mengurusi surat-surat pembebasan Vino.
__ADS_1
"Dim, fee buat Lo udah Gue transfer ke rekening Lo ya," kataku sebelum Kami terpisah menuju parkir mobil masing-masing.
"Ya ampun, Sya. Ngapain sih. Kan dari awal Gue bilang. Gue niat mau bantu Lo doang. Ikhlas Gue Sya. Nggak perlu lah pake fee-fee'an segala. Lagipula kasusnya belom sampe ke sidang pertama. Jadi nggak perlu Lo ngasih-ngasih fee ke Gue," katanya yang langsung menghardikku.
"Udah terima aja. Lo pantes kok Dim dapetinnya. Kalo Lo masih nggak mau juga. Gue ngasih buat anak lo, Nadim. Nggak boleh nolak, karena Nadim nggak bisa nolak!" kataku yang nggak mau kalah.
"Okelah. By the way ... Thanks ya, Sya." katanya berlalu dengan melambaikan tangan.
Aku mengangguk. Tersenyum melihat Dimas mau menerima fee dariku. Sebelumnya Aku meminta Dimas dan Indri merahasiakan ini semua. Aku tak mau Vino sampai tahu soal ini. Apalagi Rey. Rey pun sama sekali tak boleh mengetahuinya.
*****
Beberapa saat setelah Aku lapor diri sebagai penjamin Vino. Polisi keluar bersama Vino yang sudah mengenakan pakaian rumah. Wajahnya tersenyum. Begitu hangat. Membuatku berhambur memeluknya. Aku menangis, mensyukuri kuasa-Nya. Laki-laki yang ada di hadapanku akan segera pulang bersamaku. Tiga hari waktu yang cukup lama bagiku terpisah jarak dan waktu.
"Alhamdulillah. Aku bersyukur hari ini Aku bisa pulang dan kumpul lagi di rumah. Makasih ya Bun. Aku tau Kamu pasti susah payah ngeluarin Aku dari sini," kata Vino sembari menciumi kepalaku.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Hanya rasa haru yang saat ini ku rasakan. Vino melepaskan pelukannya. Mengajakku duduk di kursi yang tersedia. Saat Kami sudah dengan posisi duduk saling berhadapan. Vino memandangku, cemas.
"Enggak kok Yah. Aku nggak papa. Mungkin karena semalem Aku kurang tidur. Mikirin Kamu terus. Eh, nggak taunya Kamu sekarang bebas. Alhamdulillah kan?" kataku berbohong.
"Ya udah. Sekarang kita beli sesuatu yuk, Bun. Buat Maya. Masih dua jam lagi kan Maya pulang sekolahnya. Aku mau kasih kejutan buat Maya, Bun. Kangen sekali Aku dengannya," kata Vino sangat antusias.
*****
Kami sudah di sekolah Maya. Vino terlihat tak sabar. Berulang kali Ia melirik jam yang melingkar di tangannya. Berharap waktu cepat berputar, agar Ia dapat segera menemui Maya. Sebuah kotak hadiah kecil dengan pita cantik sudah Vino pegang sejak tadi. Tak sabar Ia memberikannya Ke Maya. Tak lama, terlihat segerombolan anak-anak sekolah keluar dari kelasnya. Vino semakin sumringah. Ia fokuskan pandangannya ke arah anak-anak yang keluar, hingga pandangannya berhenti di satu titik. Maya. Terlihat Maya yang berjalan sorang diri menuju ke arah mobil yang Ku parkir. Maya memang sudah hafal Aku biasa parkir di mana. Tanpa Ku beritahu pun Ia sudah paham.
"Clek," suara pintu mobil dibuka.
Maya masuk dan duduk di sebelahku. Ia tak tau ada Vino di dalam. Vino sengaja bersembunyi dengan menundukan kepala dan badannya agar tak terlihat oleh Maya. Aku pun segera melajukan mobil.
__ADS_1
"Bun, Aku kangen deh sama Ayah. Di kelas tadi Aku kepikiran Ayah terus. Apalagi temen-temen masih gangguin Aku soal Ayah yang di penjara. Aku makin kepikiran sama Ayah," kata Maya menunduk.
Aku tau Maya menunduk menutupi kesedihannya. Menahan air matanya agar tak semakin keluar. Aku terenyuh melihatnya. Aku sangat bersyukur Vino sudah bebas sekarang. Tak terbayang kalau Vino masih ditahan dan mendapat hukuman yang berat. Sudah pasti akan berimbas ke psikologis Maya.
"Maya jangan sedih dong. Cantiknya Bunda, nggak boleh keliatan murung. Nanti kalo Kamu sedih, Ayah pasti juga ikut sedih. Katanya kangen sama Ayah. Sini liat Bunda sayang, Bunda ada kejutan buat Kamu. Coba tengok ke kursi belakang," kataku yang berhasil membuat Maya tak jadi menangis dan penasaran.
Vino sudah duduk dengan tegap dan santai di kursi pinggir dekat jendela tepat di belakang kursi Maya. Maya menatapku heran, dan segera menoleh ke belakang kursi.
"Assalamualaikum Maya," ucap Vino menyapa Maya yang melongo melihatnya.
"Ayah? Ayah di sini? Ayah udah nggak di penjara? Ya Allah, Aku seneng banget. Berenti Bun. Pinggirin Mobilnya," kata Maya histeris.
Ku tepikan mobil dan berhenti. Maya pun langsung keluar dan berpindah duduk dekat Vino. Aku tersenyum melihat tingkah Maya. Senang rasanya melihat mereka bahagia.
"Ayah ... Aku kangen. Kangeeeeeen banget. Setiap mau ikut ke kantor polisi, Bunda nggak pernah ngijinin Aku," kata Maya merajuk manja memeluk Vino.
"Ayah juga kangen banget sama Maya. Kangen pengen nyuapin putri cantik Ayah yang manja. Kamu laper kan? Kita makan siang bareng ya," kata Vino mencubit gemas hidung Maya.
"Iya Yah. Laper banget. Bener kata Bu Iyem, sarapan cake walaupun udah kenyang banget, cepet lapernya lagi," kata Maya tertawa.
Aku yang sudah melajukan kembali mobil, hanya ikut tertawa kecil mendengar mereka bicara.
"Oh iya, Sayang. Ayah punya sesuatu buat Kamu. Sebagai tanda permintaan maaf Ayah karena udah bikin Maya sedih mikirin Ayah," kata Vino menyodorkan kotak kecil berpita ke Maya.
Maya sumringah. Langsung buru-buru Ia buka kotak kecil pemberian Vino. Jam tangan cantik dan elegan berwarna merah jambu telah di kenakannya. Maya terlihat senang. Vinonpun tersenyum melihat Maya suka dengan hadiahnya.
"Bagus banget, Ayah. Makasih. Aku suka," kata Maya senang.
"Ayah kasih Maya jam tangan ini bukan tanpa alasan. Ayah mau Kamu paham. Begitu sangat pentingnya waktu. Waktu yang sedang kita jalani sekarang ini ataupun nanti. Karena waktu tidak bisa diputar kembali lagi, berbuatlah sesuatu yang berarti. Hargai waktu. Jangan sampai kita menyesal dengan perbuatan kita sendiri," kata Vino dengan mimik wajah serius.
__ADS_1
Aku tertampar dengan ucapan Vino. Tak terasa airmataku mengalir begitu saja. Segera Ku usap kasar airmata yang terlanjur menetes. Aku tak mau terlihat sedang menangis oleh Maya dan Vino.