
"Sekar? Buatkan saya kopi, sekarang!" Begitulah kira-kira ia memanggil dan memerintah sang istri.
Mungkin terdengar sedikit kasar, terutama ketika ia menggunakan penekanan pada saat mengatakan 'sekarang', tapi itu sudah biasa bagi seorang Sekar Purwadita Maharani, wanita dengan usia berkepala tiga yang kerap disapa 'Sekar'.
"Ini mas."
Sebagai bentuk setia nya kepada sang suami, Sekar masih menggunakan imbuhan 'mas' meski terkadang Arka sudah melarangnya karena itu cukup mengusik pendengaran Arka.
"Cuih."
"Ini panas Sekar!"
Sekar hanya terkekeh melihat suami nya yang kepanasan sambil mengibas-ngibas lidah menggunakan tangan.
"Kan baru saya bikin mas." Ujarnya dengan senyuman manis khas gadis Jawa.
"Kamu mau membuat lidah saya melepuh ya?!" Bentak Arka.
"Memangnya kalau saya membuatnya menggunakan air dingin, akan mas Arka minum?" Sekar tidak mencoba untuk melawan, ia hanya ingin bermain-main sebentar.
"Mulai berani ya kamu?! Buatkan saya teh manis dingin!"
Sekar tersenyum bangga sambil beranjak pergi. Sejauh ini, ia sudah berhasil membuat sang suami marah.
"Ini mas." Ujarnya setelah kembali dengan segelas teh yang tampak begitu segar.
Baru juga tangan kekar Arka menyentuh bagian luar gelas, ia sudah berseru kembali " Ini dingin Sekar!"
Sekar mulai bingung. Apa yang ia lakukan selalu saja salah di mata Arka. Kapan Arka akan membuka mata dan sekali saja melihat kebenaran serta kebaikan Sekar?
"Kan kata mas dingin." Ujarnya sambil menunduk. Kali ini ia tidak ingin bermain-main setelah melihat mata sang suami yang mulai merah menyala.
"Maksud saya teh biasa tidak pakai es!" Giginya sudah mulai menggertak.
Sekar tertunduk. Kalau suami nya sudah mulai marah begini, tidak ada secuil pun keberanian untuk menatap mata Arka.
"M-mau saya buatkan lagi?" Tanya Sekar sambil memainkan jari-jemarinya lunglai.
"Ah sudahlah, lebih baik kamu pergi!"
Sesuai perintah, Sekar meninggalkan Arka diruangan kerjanya dengan terdapat dua gelas penuh. Yang satu berisi kopi, yang satunya lagi berisi teh.
Sekar sampai lupa pada dua gelas itu karena dirinya sudah dikuasai takut oleh amarah Arka yang mulai memuncak.
****
Hari sudah menjelang sore. Sekar sudah mandi, wangi dan rapih. Sementara Arka? Entahlah, mungkin ia masih sibuk bergulat dengan laptop mengenai pekerjaannya.
Ada sedikit celah untuk melihat kedalam ruangan kerja Arka, pintunya tidak tertutup rapat. Dengan sangat hati-hati, Sekar mulai melangkah dengan perlahan.
Kosong, ia tidak mendapati Arka disana. Hanya ada tumpukan kertas, kursi dan laptop yang masih terbuka lebar saja.
Sadar bahwa Arka tidak ada didalam, Sekar langsung masuk.
Matanya berkeliling kesana kemari mencari apakah Arka ada disana atau tidak. Mungkin di kolong meja? Tidak. Lagipula untuk apa Arka berada disana.
Mata Sekar terhenti pada satu pemandangan yang juga membuat nya melukiskan senyuman.
Gelas yang tadi berisi teh dan kopi ternyata sudah habis. Ludes entah diminum siapa.
__ADS_1
Tidak perduli setan mana yang sudah meminumnya, tetap saja hati Sekar senang. Kini barulah saat nya untuk Sekar membersihkan gelas-gelas tersebut.
Langkah dan pandangan Sekar terhenti pada laptop Arka yang terbuka lebar. Niat Sekar adalah baik, yakni untuk membantu Arka menshut down laptop nya itu.
Klik
Satu tombol telah ditekan Sekar untuk kembali menghidupkan laptop.
"Lalu bagaimana mas, kamu minum teh nya?"
"Terpaksa aku minum. Saat itu aku haus, dan malas rasanya untuk pergi ke dapur mengambil air minum. Jadi aku minum saja air yang ada."
"Kan kamu bisa memanggilnya kembali untuk mengambil air putih saja dan biarkan saja teh serta kopi itu dibuangnya. Jika sayang, berikan saja pada pemulung!"
"Viona, aku tidak sekejam itu. Aku juga masih manusia yang bisa menghargai manusia lain, sekalipun itu Sekar."
Pesan tersebut di akhiri oleh Arka. Tidak ada lagi balasan dari lawan bicara yang bernama Viona.
Hati Sekar teriris kala melihat suaminya masih berhubungan dengan wanita bernama Viona itu.
Tidak bisakah ia cukup hanya dengan satu istri sesetia, sebaik dan setulus Sekar? Hanya ada sedikit perbedaan saja antara Sekar dan Viona, yakni masalah kecantikan.
Sekar memiliki kecantikan yang apa adanya alias dia tidak berdandan dan tidak bisa berdandan. Membuat wajahnya yang masih mulus itu terlihat kusam dan kumal.
Viona memang cantik, lipstik merah di bibirnya tidak pernah pudar, begitupun blush on dan make up lainnya. Tetapi sekali saja ia tidak mengenakan make up, pucatlah sudah wajah nya bagai mayit berusia satu hari.
"Sedang apa kamu disini?!"
Arka mengejutkan Sekar, tapi justru Sekar yang lebih terkejut. Disana, diambang pintu, Arka sudah berdiri dengan bertelanjang dada, hanya bagian bawah nya saja yang ia tutupi menggunakan handuk putih tebal, agar sang burung tidak terbang. Darah Sekar berdesir, mengalir lebih deras dari biasanya.
Arka mengeringkan rambut nya menggunakan handuk mini. Kala rambutnya itu tersibak, menambah kesan ketampanan pada pria berusia 35 tahun itu.
"A-anu mas." Kikuk Sekar.
"Tolong buatkan saya nasi goreng, dan cepatlah!"
Arka memerintah kepada Sekar seperti dirinya memerintah seorang pembantu.
Tapi, bagai pembantu yang digajih, Sekar pun tidak pernah menolak perintah Arka.
Baginya, mengabdi dan menuruti perintah suami adalah hal penting yang harus diutamakan. Tidak ada dalam sejarah hidup Sekar dan keluarganya untuk membangkang sang suami ataupun menolak keinginannya jika itu masih didalam batas wajar.
Sekar melewati Arka sambil menunduk. Ia takut pandangannya lolos begitu saja menatap otot kekar dan perut roti sobek Arka yang memang sering berolahraga.
Saat Sekar lewat, wangi khas Arka yang seperti wangi minyak Cassablanca menerobos masuk melewati bulu-bulu hidung Sekar sehingga membuatnya merem melek.
"Astagfirallah." Ujarnya sambil menampar pelan pipi gembungnya.
Padahal wangi suami sendiri, kenapa harus istigfhar saat tidak sengaja menciumnya?
***
Selang malam, Sekar dan Arka menikmati makan malam bersama, santapan nasi goreng hangat handmade of Sekar.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut dua insan ini. Selain..
"Aku sudah selesai, rapihkan mejanya."
Meski hidangan malam sangat lah nikmat, minuman segar dan angin menyejukan, tidak ada sama sekali rasa hangat dan kemesraan diantara kedua mahluk ciptaan Tuhan ini.
__ADS_1
5 tahun sudah Sekar berumah tangga, tidak pernah sekalipun Arka memanjakannya, melakukan hal mesra kepadanya apalagi menyuapinya saat makan. Itulah nasib menikah karena terpaksa tanpa ada perasaan cinta.
Jika saja bukan karena Siska, mungkin Sekar sekarang ini sedang berbahagia dengan kekasih tercinta, Arnold.
Arnold adalah pria yang 180° jauh berbeda dengan Arka. Mereka bagaikan bumi dan langit. Sikap Arka selalu melangit, dan Arnold selalu merendah. Itulah mengapa Sekar mencintai pria lembut nan baik hati seperti Arnold.
Meski begitu, Sekar yakin akan adanya cinta. Meski sulit tapi demi sang kakak, Sekar akan berusaha mencintai Arka dan membuat Arka jatuh hati kepadanya.
"Arnold, maafkan saya. Saya percaya bahwa ini adalah takdir Tuhan, takdir Tuhan yang pahit yaitu takdir yang memisahkan kita." Gumam Sekar kepada angin malam.
Di Bab pertama, kenalan dulu yuk sama pemeran 'Cinta Satu Malam'
Ini dia nih si tuan tampan namun dingin, babang Arka
Kalau ini si gadis pendiam, imut kok. Sekar
Nah, yang satu ini si pembuat bencana alias Viona
Yang satu ini paket komplit. Tampan+ baik hati+ sholeh, idaman author banget, Arnold
Kalau yang di atas kakaknya, yang ini adiknya. Gak kalah ganteng kok, Pasha
Tuan-tuannya udah, sekarang giliran supirnya, Waluyo
__ADS_1
Nanti pas di akhir cerita, akan ada cast tambahan, semua pemeran akan saya sertakan fotonya. Dan di sebagian cerita, akan saya sertakan juga beberapa foto yang berhubungan dengan isi cerita bab tersebut. Jangan lupa terus baca ya. Kisah babang tampan sama neneng Sekar.