Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Menginap?!


__ADS_3

Arka: Aku iri padanya. Pada sikapnya yang bisa memaafkan kesalahan orang lain dengan mudah. Karena itu adalah salaj satu kelebihan


Malam itu keduanya sudah sampai di hotel tempat dimana pesta berlangsung. Sudah banyak tamu yang menghadirinya. Mereka semua mengenakan pakaian mewah. Tidak sedikit juga diantara mereka yang membawa pasangannya.


Setelah memarkirkan mobil dan mematikan mesinnya Arka menarik nafasnya dalam. Membuat Sekar bertanya-tanya.


"Kenapa, Mas?"


Arka, sedari tadi pria itu terlihat sangat risih. Duduknya tidak nyaman. Masalahnya, ia sedang duduk berdampingan dengan seorang bidadari.


"Gerogi," ucap Arka sambil mengusap wajahnya yang terasa sedikit panas.


"Gerogi kenapa?"


"Soalnya mau nurunin bidadari," Sekar terkekeh. Tidak lama kemudian ia turun terlebih dahulu, "Ayo turun. Sebelum bidadarinya terbang," goda Sekar.


Saat Arka memasuki ruangan dimana acara sedang berlangsung. Seluruh mata tertuju pada Arka. Sebelumnya, Arka tidak pernah datang bersama Sekar ke acara yang ia hadiri. Tak cukup itu saja. Malam ini Sekar memang tampil mempesona. Membuat yang tua lupa umur. Membuat yang muda tergoda. Membuat yang berisitri ingin main poligami.


"Mas? Tampilanku buruk sekali ya? Kenapa orang-orang menatapku begitu?" Sekar menundukan kepalanya. Melihat penampilanya dari bawah. Takut kalau ada yang salah dengan pakaian yang ia kenakan.


"Tidak. Salahnya kau terlalu cantik," goda Arka. Membuat wajah Sekar bersemu merah.


"Itu Arka! bos besar!" Ujar salah seorang pria yang memegang gelas minuman. Lalu menghambur ke arah Arka.


"Halo Bos. Apa kabar?" Orang tersebut merangkul pundak Arka lalu menepuk-nepuk pundaknya. Sebut saja namanya Kemal----owner pesta ini. Kemal tidak sendiri. Dia bersama 2 orang lainnya yang merupakan teman Kemal dan Arka namun tidak terlalu akrab dengan Arka. Mereka saling merangkul satu sama lain.


"Wih. Cewek lu bro?" Tanya salah satu teman Kemal. Perawakannya tinggi besar. Tubuhnya kekar. Wajahnya perpaduan Indonesia dan luar negeri. Terlihat jelas dari warna kulitnya yang ke bule-bulean.


Arka mengangguk, "Iya."


Orang tersebut memperhatikan Sekar dari bawah sampai atas. Kemudian ia bersiul, "Bisa dong buat semalem doang?" Ia menaik turunkan alisnya. Membuat kening Sekar mengerut.


"Maksudnya?" Tanya Arka.


"Ekhem. Gue denger hubungan lo lagi kurang baik ya?" Tanya orang tersebut. Arka melirik Kemal. Seolah-olah menanyakan kepada Kemal apa maksud bule ini.


"Cewek lu cantik bro. Kebetulan bini gue juga lagi di luar negeri. Pinjem yah buat semalem doang," bule tersebut menarik lengan Sekar. Dengan kasar Arka menepisnya. Memegang tangan bule tersebut lalu memplintirnya. Membuat si pemilik tangan meringis kesakitan.


"KEPADA SIAPAPUN YANG ADA DISINI!" Arka berteriak sambil terus memplintir lengan bule itu. Membuat semua perhatian orang-orang teralihkan padanya.


"Dia!" Arka menunjuk Sekar, "Adalah istri saya," Arka melepaskan plintiran tangannya. "Yang dalam artian tidak boleh ada yang menggoda apalagi menyentuhnya."


Saat itu tawa bule tersebut pecah seketika. Ia tertawa terbahak-bahak sambil memijit lengannya pelan.


"Lihat? Istri nya saja terlihat tidak perduli. Cinta bertepuk sebelah tangan ya? Kasihan. Kamu sama saya saja yuk sayang," ujar orang tersebut.


Arka geram. Ia mengepalkan tangannya. Menarik kerah baju bule itu. Mungkinkah Arka akan menghantamnya?


Sebelum itu terjadi. Sekar maju dan memegang tangan Arka.


Plak!


Satu tamparan gesit melesat di pipi putih pria bule. Sekar yang melakukannya.


"Dia," Sekar menunjuk Arka. "Adalah suami saya." Sekar melihat para pengunjung yang sibuk memperhatikan. "Dalam artian hanya dia yang bisa menggoda dan menyentuh saya." Kemudian Sekar menunjuk bule tersebut. Menoyor kepalanya kencang, "Bule sinting." Ujarnya.


Sekar menarik lengan Arka untuk melenggang dari sana. Jantungnya menggebu. Lidahnya terasa kelu. Tubuhnya mendadak panas dingin. Apalagi tangannya. Terasa seperti baru memegang air panas mendidih.


Sekar tidak pernah menampar, mengatai, membentak seseorang di depan umum seperti itu. Apalagi seorang pria. Pria bule yang tidak kenal Sekar. Terlebih dia adalah teman sang pemilik acara .


"Degdegan yah?" Tanya Arka ketika mereka sudah berada di luar. Gadis itu tidak menjawab. Hanya menganggukan kepala lalu memegang dadanya.


"Sini kalau degdegan," Arka menarik lengan Sekar. Memeluk Sekar. Menelungkupkan kepala gadis itu di pangkuannya, "Aku tidak menyangka kau bisa melakukan hal itu tadi," ucap Arka sambil menyiratkan sebuah senyuman di bibirnya.

__ADS_1


"Aku juga," ucap Sekar sedikit gemetar.


Arka merunduk. Menyeimbangkan tingginya dengan tinggi Sekar. Meraup kedua belah pipi Sekar, "Terimakasih sudah membelaku," terakhir. Ia mencium kening Sekar.


Gelas minuman yang Arnold pegang pecah seketika. Membuat tangannya terluka. Arnold, pria itu sedang berdiri tepat di samping Arka. Dengan jarak yang lumayan jauh. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Sekar membela Arka, Sekar menampar tamu, Sekar di peluk Arka, Sekar di cium Arka. Ia melihat semuanya.


Hati Arnold mendadak panas. Tadinya ia kesini untuk bersenang-senang dan bahagia atas pernikahan sahabat semasa kuliahnya. Namun justru luka yang ia dapat manakala melihat Sekar begitu mesra dengan Arka.


"Itu Kak Arnold!" Sekar tak sengaja melihat Arnold. Arnold hendak kabur tadinya. Tapi tidak jadi karena sudah tertangkap basah.


"Ayo," Sekar mengajak Arka untuk menghampiri Arnold.


"Kak Arnold dis--- KAK ARNOLD TANGANNYA TERLUKA!" Sekar memekik melihat telapak tangan Arnold yang berlumuran darah. Mata Sekar bulat sempurna. Ia menarik telapak tangan Arnold. Dengan lembut, Sekar meniup tangan Arnold.


"Aku cari obat dulu ya. Arka, titip Kak Arnold ya." Sekar melenggang pergi ke dalam dengan setengah berlari.


Arka maju beberapa langkah agar bisa lebih dekat dengan Arnold.


"Lihat? Bahkan dia tidak ingat kau menurunkannya di tengah jalan!" Mata Arka mendadak merah menyala. Ia tak suka ketika Sekar memperhatikan Arnold.


Arnold terbelalak. Mengapa Arka bisa tahu kalau Arnold menurunkan Sekar saat itu?


"Kau harus tahu. Saat itu Sekar dihadang preman. Mereka hampir melecehkan Sekar," ucap Arka penuh penekanan.


"Kapan? Dimana?" Tanya Arnold dengan raut wajah khawatir.


"Di jalan tepat di mana kau meninggalkan gadis itu sendirian. Untung aku ada saat itu," Arka berkacak pinggang, "Aku tidak mengerti padamu. Katanya kau cinta Sekar. Menyanyanginya. Tapi kenapa kau membuatnya takut dan terluka? Kau tidak tahu bukan bagaimana takutnya Sekar kala itu? Syukur dia masih sehat! Dan syukur karena dia masih mengingatmu bahkan khawatir akan keadaanmu!"


"Kau--" Arnold menunjuk Arka. Hendak mengatakan sesuatu.


"Obatnya tidak ada. Hanya ada perban dan air hangat saja," Sekar membawa sebuah mangkuk berisi air hangat dan juga perban.


"Sini Kak," Sekar meraih tangan Arnold. Membawanya duduk di bawah.


Hati Arka panas melihat itu semua. Sekalipun ia tahu bahwa perasaan Sekar terhadap Arnold tidak lebih seorang Adik kepada Kakak. Namun Arka tahu bagaimana perasaan Arnold kepada gadisnya itu.


"Sekar?" Tanya Arnold.


"Hmm?" Ujar Sekar sambil masih fokus mengobati luka di tangan Arnold.


"Soal kemarin... yang aku menurunkanmu di jalan. Aku minta maaf."


Sekar membenahi letak rambutnya. Ia mengukir sebuah senyuman, "Tidak apa-apa. Aku mengerti saat itu Kak Arnold sedang buru-buru dan bisa terlambat kalau mengantarku kerja. Lagipula saat itu ada Arka kok. Jadi aku berangkat bersama Arka," ucap Sekar. Tidak ada raut muka marah ataupun kesal di mukanya. Murni seperti Sekar polos---- yang biasanya.


"Tidak. Aku tidak buru-buru. Sebenarnya aku cem---"


"Sudah malam. Ayo pulang," Arka menarik lengan Sekar. Membuat gadis itu berdiri. Sengaja Arka memotong perkataan Arnold. Arka takut Arnold mengatakan bahwa dirinya cemburu karena Sekar bekerja bersama Arka.


"Lho? Acaranya bagaimana?" Tanya Sekar.


"Dibatalkan. Kita pulang."


"Oh yasudah. Kak Arnold pulang bareng yuk," Arnold menonggakan kepalanya. Ia melihat tangan Sekar terulur untuk membantunya berdiri. Ya Allah, bagaimana Arnold bisa melupakan Sekar kalau Sekar justru baik begini.


"Tidak usah ajak dia! Dia bawa mobil sendiri!" Ucap Arka sambil menyentak tangan Sekar.


"Kan tangan Kak Arnold luka. Ayo Kak," Sekar merunduk. Mencoba membangunkan Arnold. Dengan kasar Arka menarik tubuh Sekar.


"Yaudah ayo," Arka menarik tubuh Arnold. Membantu pria itu berjalan. Padahal tangannya yang sakit, bukan kakinya. Arka hanya tidak ingin Sekar menyentuh Arnold sedikitpun.


"Kakak sensitif, suami posesif." Celetuk Sekar sambil melihat punggung Arnold dan Arka yang saat ini sedang saling merangkul.


Ayolah Arka, Arnold. Lupakan permusuhan kalian. Sekar akan lebih senang jika kalian bersama😭.

__ADS_1


******


"Kenapa bisa luka gitu, Kak?" Tanya Sekar buka suara setelah sedari tadi semuanya terdiam dalam keheningan.


"Gak tau," ucap Arnold datar tanpa melihat ke arah Sekar yang berada di depannya dan sedang menoleh ke arahnya sedikitpun.


Sekar bergumam, "Ohh. Yang tadi temen Kak Arnold juga?" Tanya Sekar sambil melihat ke belakang---- ke arah Arnold.


"Gak tau."


Alis Sekar memicing. Heran mengapa Arnold tiba-tiba dingin dan datar begitu padahal sebelumnya hangat.


"Kak Arnold bawa mobil ya tadi? Mobilnya di titip di sana dong?" Tanya Sekar---- dia tak jera meski Arnold terlihat tak perduli.


"Gak ta---"


"Gak tau malu!" Arka memotong ucapan Arnold. Membuat atensi dua orang itu teralihkan kepadanya. "Sudah di tolong malah ketus!" Jawab Arka galak.


Sekar terkekeh. Ia sadar suaminya ini sedang kesal. Dengan lembut, Sekar mengelus lengan atas Arka. Membuat Arnold uring-uringan sendiri di belakang.


"Kamu kenapa, Mas? Sensi gitu kayaknya sama Kak Arnold," tanya Sekar. Suaranya lembut selembut sutera.


"Gakpapa. Kamu jangan banyak nanya sama orang lain!" bentak Arka.


"Kan Kak Arnold bukan lain. Dia Kakak ku sendiri."


Kata Kakak lebih sakit daripada luka yang saat ini sedang Arnold rasa di tangannya. Ia sakit sesakit mungkin. Menyaksikan gadis yang ia cinta bersanding, berbicara mesra bersama orang lain.


Sekelebat bayangan saat Arnold bersama Sekar dulu perlahan muncul di benaknya. "Kak Arnold jangan terluka. Sekar terluka juga... Kak Arnold tampan, sebelas dua belas sama artis bernama Lin Yi... Kak Arnold mempesona, kayak Artis Korea." Pujian demi pujian yang dulu pernah diutarakan Sekar kepada Arnold mendadak muncul begitu saja.


Arnold memejamkan matanya. Menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Susah payah meneguk pahit saliva nya. Arnold tak ingin membuka matanya kalau objek yang akan ia lihat nantinya adalah Arka dan Sekar.


"Kak Arnold bagaimana kalau malam ini menginap di rumah Arka?" Tanya Sekar tiba-tiba. Membuat kedua pria itu menoleh dan menatap tajam ke arahnya.


"Nginap? Ngapain juga? Kan dia punya rumah sendiri!" Tukas Arka galak.


"Sekali-sekali. Biar gak usah nganterin dia ke rumahnya. Bawa aja langsung ke rumah Mas Arka," ucap Sekar penuh pengertian.


"Gak usah! Arnold punya rumah sendiri. Biarkan saja dia pulang sendiri. Jadi kita tidak perlu mengantarnya!" Ujar Arka ketus. Membuat Arnold mendelik tajam kepadanya.


"Yasudah," Sekar menempelkan kepalanya di pundak Arka. Arnold memutar bola matanya malas, "Kalau begitu minta izin ya menginap di rumah Mas Arnold."


Spontan Arka mengerem mobilnya secara mendadak. Membuat Sekar terbentur ke depan. Arnold membulatkan matanya lebar-lebar, "Boleh!" Ujar Arnold semangat. Dengan sedikit berteriak.


"Heh!" Arka memelototi Sekar. Bukannya takut, Sekar justru terkekeh dan tersenyum. Namun ia mengulum senyumnya.


"Punya suami tap---"


"Arnold yang menginap di rumah Arka. Atau Sekar yang menginap di rumah Arnold?" Sekar mengedip-ngedipkan matanya. Lalu memasang jurus poppy eyes nya. Berusaha membuat Arka luluh.


Arka menarik nafas dalam-dalam. Menghembuskan nafasnya kasar. Selain lugu, Sekar juga ternyata menyebalkan.


"Arnold menginap di rumah Arka," ucap Arka finish.


Sekar memeluk Arka, "Terima kasih."


Gadis itu senang. Ia memiliki niat terselubung. Sekar, gadis itu ingin melihat Arka dan Arnold berteman, damai. Karena hubungan mereka berdua terlihat tidak baik-baik saja meski Sekar belum tahu kisah masa lalu Arka dan Arnold. Namun Sekar akan sangat senang jika kedua pria ini bersama.


Arnold, pria itu heran mengapa Sekar melakukan senua ini. Arnold tahu Sekar memang gadis baik. Tapi jika berteman dengan Arka? Bentar yah, Arnold pikir-pikir dulu.


Arka, pria itu tidak mengerti jalan pikiran Sekar. Setelah disakiti, Sekar masih saja berbaik hati. Padahal apa yang dilakukan Arnold saat itu nyaris merenggut mahkota atau bahkan nyawanya.


Tapi Arka tak mau ambil pusing. Daripada Sekar menginap di rumah Arnold.

__ADS_1


__ADS_2