
Sekar: Ketakutan bukanlah hal yang lucu untuk dipermainkan.
"Ka ih kecilin volumenya." Sekar menutup kupingnya rapat-rapat. Karena dengan usil nya Arka menaikan volume televisi yang saat ini sedang menanyangkan film horor favorit Arka. Sementara Sekar, gadis itu ketakutan.
"Gak usah takut. Ini kan hanya film. Rekayasa semata," ucap Arka. Tak mengerti ketakutan yang saat ini sedang menyerang Sekar.
"Tapi aku takut Ka," Sekar menangkup kepalanya menggunakan kedua tangannya. Benar-benar tak ingin mendengar suara ketawa kunti yang begitu menggelegar. Rasanya masuk ke dalam jiwa.
Tapi sifat usil Arka sedang muncul. Melihat Sekar ketakutan Arka justru semakin menjadi. Ia berharap takutnya Sekar akan berbuah manis. Yang nantinya akan menjadi pelukan hangat teruntuk Arka.
"Ka aku mohon. Aku takut Ka," ucap Sekar. Bahkan ia tak kuasa turun dari ranjang. Benar-benar takut. Volume yang Arka pasang seperti volume di bioskop. Terdengar kencang. Bahkan sampai ke kamar Waluyo yang di bawah.
"Gawat. Itu Non Sekar pasti nonton film hantu. Duh gak tau aja pak Arka istri nya takut film gituan," ucap Waluyo. Dirinya saat ini sedang menonton bola ditemani secangkir kopi hangat.
Arka tersenyum menyeringai. Begitu mengerikan, "Sekar hantu nya keluar dari lorong rumah sakit!" Arka menarik tangan gadis itu yang sedang sibuk menutup telinga. Memejamkan mata.
"Ka aku takut," cercah Sekar.
"Sekar hantunya perempuan."
"Sekar hantunya ngesot."
"Sekar hantunya gak pake baj---"
"ARKA!"
Sekar sudah tidak tahan. Ia benar-benar kesal. Arka memang sengaja.
Sekar berdiri. Pipi nya basah. Entah sejak kapan. Keringat dingin membasahi permukaan mukanya. Wajah nya begitu merah. Menahan rasa takut. Dada nya naik turun. Nafas nya terpenggal. Menatap Arka dengan tajam. Membuat Arka kicep. Tak mengedipkan mata sedikitpun.
"Se-Sekar?" Gugupnya.
Ketika sadar bahwa Sekar benar-benar ketakutan. Arka meraih remote TV. Mematikan televisi nya. Tapi Sekar sudah benar-benar ketakutan. Ia berdiri dengan nafas yang telah berubah menjadi satu-satu. Menatap Arka dengan tatapan jengah nan kesal.
"A-aku. Ta-tadi aku kira. Mmm a-anu," Gugup Arka. Karena Sekar terus menatapnya tajam.
"Puas?" Tanya Sekar tiba-tiba.
"A-aku. Bu-bukan begitu maksudnya tadi."
Arka salah telak. Bukan pelukan yang ia dapat. Mungkin sebentar lagi tamparan.
"Aku takut. Apa itu kurang jelas?" Tanya Sekar. Setetes air mata luruh dari matanya.
"Ma-maaf. Tadi bukan begitu maksudnya."
"Iya. Maksudnya kamu berusaha menakutiku. Tidak usah ditakut-takuti. Aku sudah takut. Aku lemah ya? Iya lemah. Perempuan penakut. Takut nya sama hantu."
"Sekar maaf," gumam Arka lirih.
"Aku yang harusnya minta maaf. Seharusnya ak--"
"Sttt," Arka menarik tubuh Sekar. Menelungkupkan kepala gadis itu di dadanya. Menggenggam nya erat.
"Maaf ya. Tadi bukan gitu maksudnya. Tadinya mau anu biar di kiss hehe. Ternyata takut beneran," ucap Arka blak blakan. Karena takut Sekar akan marah jika dirinya membuat alibi baru.
"Iya gakpapa. Aku juga minta maaf. Terlalu cengeng," ucap Sekar.
"Nggak kok. Namanya juga takut."
Sekar mengeluarkan badannya dari pelukan Arka. Mendonggakan kepala. Menatap mata teduh pria itu, "Mau?" Tanyanya.
Arka mengerutkan kening. Tak mengerti maksud Sekar.
Sekar membuka kancing baju kemeja Arka satu persatu. Dengan begitu perlahan.
Mendapat kode itu, barulah Arka sadar. Lantas ia melepaskan pengaman badan Sekar. Hanya bagian atas nya saja.
"Maaf. Aku kurang peka," aku Sekar. Memegangi dada telanjang Arka.
"Maaf juga sudah menakut-nakuti mu."
__ADS_1
Sapaan mendarat di bibir gadis itu. Lantas Arka mendorong tubuh Sekar. Di tidurkan di atas ranjang king size nya. ******* demi ******* kembali terjadi. Tak ada kecanggungan. Dua-duanya sudah ahli.
Sekar melingkarkan tangannya di leher Arka. Memejamkan matanya. Menahan sensasi geli ketika ada sesuatu yang memasuki benda nya. Mendesah pelan.
Arka usil. Ia mengigit daun telinga Sekar halus, "Keluarkan apa yang ingin kau keluarkan," bisik nya lembut.
Sekar mengangguk. Namun tak ada suara yang ingin ia keluarkan. Ia hanya memejamkan matanya dalam. Ketika permainan semakin leluasa.
Tangan Arka mengusap halus pipi lembut Sekar yang sudah mandi keringat. "Ketika berkeringat begini. Kecantikan mu bertambah menjadi dua kali lipat."
Tangan Sekar mengusap bibir Arka. Mencubitnya pelan, "Arka juga."
Keduanya kembali melanjutkan permainan. Menyalurkan hasrat yang ingin di salurkan. Memberikan apa yang ingin di berikan. Saling memberi kehangatan dalam dinginnya malam. Saling meremas apa yang bisa di remas. Desahan kecil terdengar. Berlanjut hingga pagi menjelang.
*****
Tengah malam terpaksa Arka harus terbangun lantaran benda pipih yang ia letakan di atas meja samping tempat tidur nya terus berbunyi. Dan menolak untuk berhenti.
Tertera nama Zaki disana. Yang membuat pria itu berdecak sebal. Arka melirik Sekar sekilas. Kemudian terukir sebuah senyuman. Gadis mungil itu sedang tertidur dengan lelap. Matanya begitu damai. Berkutat di alam mimpi yang indah sepertinya.
Arka bangkit dari tidurnya. Melenggang pergi dari sana. Tentu ia tak ingin mengangkat telefon di dekat Sekar. Takut menganggu tidur Sekar.
"Halo, Zaki?" Tanya Arka dengan suara berat khas orang bangun tidur.
"Ngaco lo! Mana bisa!" Teriak Arka. Di susul tangan yang menutup mulutnya. Barusan dirinya berkata sedikit berteriak.
"Gak bisa Zak. Kasian Sekar. Lagian kita baru pulang dari Bandung. Masa Sekar gue..."
Tut Tut Tut
"Sialan!" Bentak Arka. Meremas hebat ponsel nya.
Ia kembali ke kamar. Mendapati Sekar yang masih tertidur pulas. Arka merebahkan diri di samping Sekar. Menarik pundak gadis itu. Membalikan badannya agar menghadap Arka.
Arka menarik nafas dalam. "Maaf ya," mengecup kening Sekar lama.
****
Pagi-pagi sekali Arka sudah bangun. Sarapan seadanya. Mandi dan bersiap-siap. Sementara Sekar yang baru bangun hendak mandi dan shalat shubuh terkejut mendapati suaminya tak berada di sampingnya.
"Arka?" Sekar menuruni tangga. Mencari-cari sosok pria bernama Arka. Tidak ada kepentingan. Hanya saja aneh rasanya karena Arka tiba-tiba tidak ada.
"Arka? Kamu dimana?" Tanya Sekar celingukan. Gadis itu menuju dapur. Tapi tidak ada disana.
"Udah bangun yah? Udah mandi?" Sekar membalikan badan kala mendengar suara berat laki-laki yang ia cari. Itu Arka. Ia datang dari luar.
"Arka kamu kem--- lho? Kok pakaiannya rapih?"
Arka menghembuskan nafas kasar. "Maaf belum bilang. Bisa kesini sebentar? Ada yang ingin aku katakan."
Arka duduk di kursi ruang tengah. Di ikuti Sekar di sampingnya. Ketika wanita itu sudah duduk Arka mengelus lembut rambut Sekar. Tak tega mau mengutarakannya.
"Arka mau kemana?" Tanya Sekar begitu polos. Menciptakan sesak yang hebat bagi Arka.
"Janji ya jangan marah apalagi nangis," Arka mencubit pipi gembul Sekar. Di balas anggukan oleh wanita itu.
"Aku ada pekerjaan mendadak di Bali. Bareng Pak Jayur. Salah satu investasi Papah di Bali terancam di tutup. Karena sebuah kesalah pahaman. Tidak ada karyawan yang bisa menyelesaikannya. Harus aku sendiri yang turun tangan agar aset itu bisa terselamatkan. Semalam, Zaki menelefon. Memberitahukan nya. Mau memberitahu mu semalam tidak enak, tidur mu pulas."
Sekar hanya bergumam- oh sembari menunduk.
"Maaf ya. Tapi Sekar ngerti 'kan? Ini pekerjaan. Masa depan kita," Arka mengecup kening Sekar. Memberi gadis itu pengertian.
Sekar mengerti sangat mengerti. Tapi hatinya benar-benar menolak Arka untuk pergi.
"Berapa lama?"
Pertanyaan yang tidak ingin Arka dengar. "Tidak tahu. Tapi aku tidak sendiri. Ada Jayur yang membantu."
Arka memang tidak sendiri. Sekar lah yang sendiri.
"Kalau merasa kesepian disini bagaimana kalau tinggal di rumah Mamah Tami? Mamah Tami pasti mau kok," ucap nya. Arka juga khawatir meninggalkan Sekar sendirian. Wanita ini benar-benar bisa dalam bahaya.
__ADS_1
Sekar menggeleng, "Gak usah. Tinggal disini aja. Biar rumah ada yang urus. Cepet pulang ya, jangan lama-lama."
Entahlah. Sekar tak dapat membendungnya. Krystal itu luruh seketika. Arka menatap mata sendu gadis itu. Ingin mendekapnya lama.
"Iya. Janji gak akan lama-lama. Jaga diri baik-baik ya disini. Kalau ada apa-apa kabarin."
Baru kemarin Arka mengatakan dirinya akan terus menjaga Sekar. Tapi kenapa sekarang harus meninggalkan. Bisa kah ia menjaga Sekar dari jarak kejauhan?
"Bukan aku yang perlu di takutkan. Tapi kau. Bisa tidak tinggal disini sendirian? Kalau ada apa-apa langsung telefon Mamah Tami atau telefon aku ya. Terus kalau keluar jangan pernah sendiri. Ajak pak Waluyo. Aku akan cepat kembali. Karena," Arka mencolek hidung Sekar. "Ada janji yang harus kutepati pada gadis di depanku ini."
"Peluk sebentar boleh?" Tanya Arka. Merentangkan kedua tangannya.
"Belum man---"
"Jangan keseringan mandi. Nanti makin cantik," Arka memeluk tubuh gadis yang akan ia rindukan ketika dirinya di Bali nanti.
Arka tak bisa mengajak Sekar kesana. Karena kepergian Arka bukan untuk berlibur. Melainkan untuk urusan pekerjaan. Jika boleh meminta, ingin rasanya Arka libur bekerja 7 bulan atau 7 tahun tanpa harus berpisah dari Sekar. Tapi mau bagaimana lagi. Bekerja adalah salah satu kewajibannya. Itupun untuk Sekar juga.
"Hati-hati ya disana. Matanya di jaga," tutur Sekar.
"Mata disana. Hati disini."
"Iya. Tapi kadang mata kalah sama hati. Ada begitu banyak wanita yang can--"
"Tapi gak ada wanita yang spesial. Ingat aku pernah mengatakan Sekar tidak ada duanya?" Sekar mengangguk. "Kalau pun ada wanita cantik. Paling ku berikan kepada Jayur."
"Disini yang harusnya jaga mata. Ada banyak pria yang lebih tampan dan lebih muda daripada Arka. Dan satu lagi, pria itu ganas lho. Hati-hati ya," ujar Arka.
"Seganas-ganas nya pria tak akan ditakuti oleh wanita jika wanita itu tutup mata," Arka menjadi teringat pada Viona. Berarti dulu mata Arka tertutup sampai-sampai ia bisa tergoda oleh sosok seorang Viona.
"Iya. Mandi gih. Abis itu shalat. Nanti sarapan bareng. Gak usah masak. Udah nyuruh Pak Waluyo beli sarapan di luar."
Terakhir. Bibir gadis itu di sapa Arka. "Morning kiss," ujar nya.
****
Saat yang paling Sekar tidak suka tiba. Saat yang paling menyesakan di dada. Dimana dirinya menyaksikan Arka naik ke dalam mobil. Menderek sebuah koper besar berisi baju dan berkas-berkas pekerjaan.
Sekar menatap Arka dengan nanar. Begitupun sebaliknya. Keduanya sangat berat untuk berpisah. Meski hanya untuk sementara.
Rasanya baru kemarin bertemu tapi harus berpisah lagi.
"Aku nyatet berat badan kamu lho. Nanti pas aku pulang harus lebih gendut."
Arka meraih tangan Sekar. Meletakannya di pipinya. Sekar hanya menunduk. Tak berani menatap Arka sedikitpun. Karena semakin ia melihat wajah Arka. Semakin sesak hatinya. Hingga Arka sadar bahwa Sekar benar-benar tidak ingin di tinggalkan.
"Sebentar kok. Nanti pulang lagi. Mau dibawain apa dari Bali?" Arka tak pernah merasa seperti ini sebelumnya.
Dulu, mati-matian ia menghindar dari Sekar. Pernah tersirat hendak tinggal di luar negeri. Lalu ada apa sekarang? Ke luar kota untuk urusan bisnis penting pun rasanya berat. Seperti bagian jantung tertinggal.
"Jangan murung gitu. Aku makin berat mau pergi nya," ucap Arka. Tak tahan melihat wajah memilukan Sekar.
"Pergi gih. Nanti terlambat," ucap Sekar setelah berhasil mengangkat wajah nya. Terdengar sedikit mengusir. Sengaja. Ia tidak ingin membiarkan dirinya larut dalam kesedihan. Ia harus mengerti bahwa Arka melakukan ini untuk dirinya juga.
"Marah ya?" Arka merunduk. Memegangi kedua lutut nya. Menatap wajah Sekar dari jarak dekat.
"Ih buruan Ka pergi. Tuh tuh pak Waluyo udah nungguin," Sekar menunjuk Waluyo yang sedang berdiri di samping pintu mobil. Menanti kehadiran Arka.
Arka menghela nafas berat. Ia tahu benar kalau Sekar marah dan kecewa. Terlebih kepergian Arka ini begitu mendadak. Arka sangat berat hati sekaligus merasa bersalah.
"Kamu masuk dulu. Terus kunci pintu nya dari dalam. Jangan biarin ada orang yang masuk. Apalagi masuk ke sini," Arka menunjuk dada Sekar.
"Kamu duluan yang pergi. Nanti aku masuk."
"Yaudah. Makan yang banyak ya, jaga diri baik-baik---" Arka berbicara sambil berjalan mundur. "Kabari kalau ada apa-apa. Jangan begadang, jangan nonton film hantu sendirian, ARKA SAYANG SEKAR," Teriak Arka ketika dirinya sudah sampai di pagar luar.
"Sekar juga sayang Arka," gumam Sekar lirih. Kemudian masuk ke dalam. Mengintip kepergian Arka dari jendela. Terlihat pria itu mengukir senyuman lalu melambai-lambaikan tangannya pada Sekar.
Arka sayang Sekar
__ADS_1
Meratapi kepergian Arka