Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Sekar's History


__ADS_3

"Nak, kamu mau baju yang mana?"


Tami menunjukan kedua baju yang sudah menjadi pilihannya, Sekar hanya tinggal memillih salah satu diantara kedua baju tersebut. Tapi sepertinya itu sangat susah untuk Sekar, ia masih tetap diam dan enggan untuk menunjuk baju yang ia suka.


"Hmm? Sekar gak suka yah baju-baju disini? Gimana kalau kita pindah toko aja?"


Jika Tami berbelanja dengan Sekar, ia seperti berbelanja dengan sebuah Barbie. Cantik namun tidak bisa bicara.


"Yaudah, Mamah coba cari toko lain yah yang isinya baju-baju yang kamu suka."


Tami yang banyak berbicara sangatlah cocok dengan Sekar yang irit bicara dan sangat pemalu.


Allah ternyata masih sangat baik pada Sekar. Ia memberikan Sekar suami yang dingin dan galak, dan sebagai gantinya Ia memberikan mertua yang begitu perhatian dan sayang.


Sayangnya, Sekar tidak tahu bagaimana caranya menggunakan kebaikan mertuanya ini sehingga kebaikannya sering terbuang sia-sia.


Tami pergi berjalan menuju toko sebelah, toko yang mungkin terdapat baju yang Sekar suka. Sedari tadi, Tami terus saja memikirkan ingin membeli baju untuk Sekar. Mungkin karena melihat baju yang saat ini Sekar gunakan sangat kuno.


Sebelum Sekar mengikuti Tami, Viona menahannya.


"Kamu bisu ya? Tidak bisa setidaknya menunjuk satu baju saja? Bisa tidak berhenti membuat Tante Tami menanyaimu dan memikirkan tentangmu? Apa susahnya meminta ini itu dan semuanya selesai?"


Sekar masih membisu, ia enggan untuk membalas Viona karena tidak ada yang akan ia dapat dengan berdebat dengannya. Lagipula, Sekar sadar bahwa bukan disinilah tempat Sekar seharusnya.


"Atau terkejut dengan harga bajunya? Harga bajunya hampir sama kan dengan harga dirimu? Pantas saja!"


Setelah itu, barulah Viona pergi dengan melipat tangan di dada dan tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Sekar mencengkram kuat bagian bawah bajunya ketika harga dirinya disebut-sebut.


Ya, mungkin harga dirinya bisa dikatakan cukup rendah. Tapi serendah-rendahnya harga diri Sekar lebih rendah harga diri Viona yang sudi mendekati suami orang.


Tapi Viona berani melakukan itu karena ia sadar bahwa pasangan suami-istri ini tidak saling mencintai.


Perkataan Viona yang menyakitkan berhasil membawa Sekar kembali ke masa lalu....


Flashback On


Panti Asuhan Bunga Kasih


Bandung


"Saya ingin mengadopsi satu anak saja, Mba." Ujar salah satu wanita kepada pengurus panti asuhan.


"Tapi maaf bu, anak ini tidak bisa dipisahkan. Mereka harus terus berdua bersama-sama." Ujar petugas tersebut.


"Apa mereka kembar?" Tanya pria itu.


"Tidak, mereka tidak kembar, usianya berbeda 5 tahun. Namun, mereka sangat tidak ingin untuk dipisahkan.


Panggil saja mereka Gusdur dan Milka. Sepasang suami istri yang belum dikaruniai oleh anak padahal usianya sudah berangsur tua, sudah hampir berkepala empat usianya.


Meski begitu, baru saat ini mereka terpikir ingin mengadopsi seorang anak.


Dari sekian banyaknya anak, Gusdur dan Milka tertarik pada Siska, yakni kakak Sekar.


Siska terlihat sangat ceria, anggun dan dewasa di usianya yang baru menginjak 13 tahun. Keceriaan dan senyuman Siska dapat menarik hati Gusdur untuk ingin mengadopsinya.


Sayangnya, Siska tidak ingin dipisahkan dengan sang adik yang saat itu masih berusia 8 tahun. Akan tetapi, Gusdur juga tidak ingin memiliki anak lebih dari satu sekalipun itu adik kandung Siska, terlebih karena mereka melihat wajah Sekar yang selalu murung dan tidak terlalu berbaur bersama teman-temannya.


"Bagaimana ini? Saya hanya ingin anak yang berusia 13 tahun itu, tidak dengan adiknya." Ujar Gusdur kepada pengurus panti.


"Maaf pak, kami juga sudah ditugaskan untuk tidak memisahkan mereka berdua apapun yang terjadi." Jawab pemilik Panti, ia masih berusaha mempertahankan agar Sekar dan Siska tidak dipisahkan.


"Mungkin kami akan menerimanya jika ia seceria dan secerah kakak nya. Tapi lihatlah dia, dia begitu pemurung dan jarang berbaur. Sementara anak yang kami inginkan adalah anak yang ceria." Tukas Gusdur.


"Memangnya kenapa ia bisa murung seperti itu sementara kakaknya adalah seseorang yang ceria?" Tanya Milka.


Penarik panti menghela nafas, ini pasti cerita yang sulit dan sakit untuk diceritakan.


"Namanya Sekar, usianya baru menginjak 8 tahun. Ya, ia mengalami depresi yang sangat berat sehingga membuat mental nya sedikit terganggu. Dulu, saat kedua orang tuanya masih hidup dan sebelum ia dimasukan ke panti asuhan, ia mengalami hal yang tidak bisa dilupakannya hingga sekarang. Kedua orang tua Sekar bertengkar hebat yang diperkirakan karena masalah ekonomi. Tanpa sengaja, Ibu Sekar menusukan sebuah pisau dapur pada Ayah Sekar sehingga membuat Ayah Sekar meninggal saat itu juga. Dan Sekar melihat kejadian tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Ia menyaksikan bagaimana Ibu nya sendiri merenggut nyawa Ayah nya. Pada saat itu, usia Sekar masih 6 tahun dan tentunya kejadian itu sangat membekas di benak Sekar dan tidak bisa ia lupakan sampai sekarang. Ibu Sekar dipenjara, Ayah nya meninggal. Hal itu membuat Sekar stress dan membuat nya menjadi anak yang pemurung dan jarang berbaur."


Gusdur dan Malik terlihat mangut-mangut, kini mereka mengerti kejadian buruk yang telah menimpa Sekar dan membuatnya menjadi seperti itu.


"Dimana Siska saat itu? " Tanya Gusdur.


"Saat itu Siska sedang berada di rumah nenek nya. Saat Ayah mereka dinyatakan di bunuh, Nenek Sekar mengalami serangan jantung dan meninggal di tempat. Setelah itu, kakek Siska dan Sekar tidak mampu untuk mengurus mereka sendirian sehingga menyerahkannya kepada kami, Panti Asuhan."

__ADS_1


Gusdur dan Milka kembali melihat Sekar. Gadis itu menyendiri dan duduk di sebuah ayunan dengan memeluk sebuah boneka Panda.


"Itu boneka kesayangannya yang selalu ia bawa kemana-mana."


Gusdur menarik nafas berat. Sepertinya ini bukanlah keputusan mudah untuk mereka. Menerima Sekar berarti harus menerima segala kekurangannya dan siap memenuhi kebutuhan hidupnya.


"Jika Anda tidak berkenan mengadopsi keduanya, maka biarkanlah kedua orang tua lain yang mengadopsinya."


Saat mereka dilanda kebingungan, tiba-tiba Siska datang dengan memperkenalkan Sekar.


"Halo Om, Tante. Kenalin, ini adik aku namanya Sekar."


Dengan lucu dan lugunya Siska memperkenalkan Sekar kepada Gusdur dan Milka. Sayangnya, Sekar enggan untuk berkenalan dan berjabat tangan, ia hanya memeluk boneka Panda nya sambil ketakutan.


"Tenang, Sekar. Mereka orang tua baik, sebentar lagi mereka akan membawa kita pergi dan membelikan kita boneka baru. Aku juga ingin boneka Beruang, jadi kita punya boneka masing-masing." Tukas Siska.


Apa yang dikatakan Siska barusan dapat membuat hati Gusdur dan Milka tersentuh hingga luluh. Dengan hati yang sedikit berat, akhirnya mereka mengadopsi keduanya dan membawa mereka pulang.


Sejak hari itu, tidak ada lagi panti asuhan bagi Sekar dan Siska. Mereka mulai menjalani kehidupan baru sebagai anak dari pasangan Gusdur dan Milka. Kehidupan yang mereka dapatkan jauh lebih bahagia dan lebih baik daripada panti asuhan.


Namun tetap saja, Sekar masih menjadi anak yang pemurung.


Berakhir sudah kisah pilu mereka di panti asuhan. Kini, keduanya telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar. Usianya bukan lagi usia anak-anak.


Siska, usianya kini sudah menginjak 18 tahun dan Sekar baru menginjak 13 tahun.


Tapi sepertinya kebahagiaan itu harus segera usai, karena pada suatu hari Gusdur meninggal karena penyakit yang ia alami.


Milka angkat tangan karena tidak bisa mengurusi semuanya dan tidak bisa mengurusi anak-anaknya. Saat itu, Siska sudah besar dan bisa mengurusi dirinya sendiri. Tapi lain halnya dengan Sekar, diusianya yang masih 13 tahun, Sekar masih perlu diurusi dan diperhatikan sementara Milka tidak sanggup untuk hal tersebut.


Dengan senang hati, Sekar di jual kepada saudagar kaya yang saat itu datang untuk membeli Sekar. Dikatakan senang hati karena selama ini kehadiran Sekar tidak pernah diinginkan.


Milka akan mengatakan bahwa Sekar kabur dari rumah kepada Siska jika Siska menanyakan.


Sayangnya, Siska melihat bagaimana Sekar dibawa paksa oleh para saudagar kaya dengan menggunakan mobil mewah.


Dari situlah awal kisah pilu dan menyedihkan Sekar kembali di mulai. Dirinya dipisahkan dari sang kakak dan harus menjalani kehidupan yang begitu menderita.


Bersama Tigor, pria yang membelinya, Sekar tidak pernah merasakan kelayakan hidup. Ia diperlakukan tidak lebih dan tidak kurang seperti binatang.


Lengkaplah sudah penderitaan hidup Sekar. Ayah meninggal, Ibu dipenjara, Nenek kakek entah dimana, dan kini Siska kakak satu-satunya yang ia miliki di dunia ternyata harus berpisah dari dirinya.


Meski begitu, Sekar tetap menduduki bangku sekolah. Tapi Tigor berkata bahwa alasan disekolahkannya Sekar adalah agar dirinya tidak terlalu bodoh dan suatu hari bisa dikirim ke luar negeri, untuk bekerja dan mendapatkan uang yang banyak.


Selama hidup dalam kekangan Tigor, Sekar tidak banyak melakukan perlawanan. Karena jika sekali saja dirinya melawan, maka satu cambukan sapu injuk akan mendarat di punggungnya. Mungkin itulah mengapa sampai saat ini Sekar juga tidak berani membantah ataupun melawan Arka, mungkin ia takut hal yang dialaminya pada masa dulu kembali terulang lagi.


Beberapa tahun telah berlalu, kini usia Sekar sudah menginjak 18 tahun. Saatnya kebahagiaan Sekar datang. Suatu hari, Siska telah berhasil menemukan dimana tempat tinggal Sekar. Dan ia datang untuk mengambil Sekar, tapi Siska tidak sendiri. Ia ditemani seorang pria gagah tinggi yang kita kenal adalah Arka.


Entah bagaimana Arka dan Siska bertemu, tapi pada saat itu Arka juga ikut serta untuk datang membantu menolong Sekar.


Siska main membawa Sekar kabur begitu saja saat tidak ada siapa-siapa di dalam rumah. Karena jika ia meminta baik-baik pasti tidak akan diberikan. Dan percuma saja jika dirinya meminta bantuan polisi karena sudah jelas-jelas Sekar di jual oleh Ibu angkatnya sendiri.


"Kak Siska?" Ujar Sekar saat melihat kedatangan Siska. Ia langsung ambruk memeluk Siska.


Arka sedikit mengangkat alis dan mengerutkan kening, ia pasti sedikit tidak percaya bahwa Sekar adalah adik dari Siska, kekasihnya, karena penampilan mereka yang sangat jauh berbeda.


Ya, Sekar sangatlah kumuh, lusuh, kotor, tubuhnya kurus kering dan bahkan rambutnya berminyak. Ia tidak pernah sempat untuk mengurus diri sendiri karena sibuk terus mengurus rumah Tigor.


Berbeda dengan Siska, sepertinya setelah Sekar laku terjual, kehidupan ekonomi Siska semakin membaik. Ia cantik, putih, bersih, dan juga wangi. Pantas jika pria seperti Arka bergidik melihat Sekar.


Meski begitu, Siska masih bisa mengenali adiknya itu.


"Dia siapa Kak?" Tanya Sekar.


"Namanya Arka, dia adalah pacar Kakak."


Arka tersenyum, bagaimanapun juga ia harus menerima kehadiran Sekar yang merupakan adik kekasihnya ini.


"Ayo kita pulang." Ajak Siska pada Sekar.


Sayangnya, Sekar menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin pulang karena dirinya tahu bahwa kehadirannya tidak diinginkan dan ia takut kembali di jual.


"Tidak. Kali ini kakak sendiri yang akan mencegah Ibu untuk memberikan mu pada orang seperti mereka, kini Kakak sudah dewasa."


Siska memegang tangan Sekar dan meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja selama Siska masih ada.


Tapi, Sekar lebih percaya pada keadaan yang memang tidak menginginkan kehadirannya.

__ADS_1


Pada saat mereka sedang asyik mengobrol, seseorang datang dan berseru.


"Hey!" Itu adalah anak buah atau orang suruhan Tigor. Mereka pasti sudah mengetahui diculiknya Sekar dan hendak mengambilnya kembali.


"Lari!" Teriak Siska.


Dor!


Belum juga mereka berlari sampai jauh, seseorang sudah menarik pelantuk pistol mini dan melayangkan sebuah peluru.


"Siska/Kak Siska!!"


Peluru yang tadi melayang tepat mengenai tubuh Siska.


Tidak, sebenarnya peluru itu hendak menyerang tubuh Sekar namun Siska sengaja menghalanginya.


Ia sengaja melakukan hal tersebut agar adiknya tetap selamat, tetap hidup dan akan mendapatkan kebahagiaannya suatu hari nanti.


Dunia ini tidak adil. Mengapa Siska terus bahagia dan Sekar terus menderita? Seolah-olah seluruh penderitaan Siska diberikan kepada Sekar. Siska ingin menghentikan itu semua.


Adiknya, darah dagingnya harus mengalami kebahagiaan yang ia rasa. Ia harus tertawa, memakan makanan yang enak dan harus merasakan apa itu cinta. Maka dari itu ia sengaja menyelamatkan Sekar dengan mengorbankan nyawa nya. Sudah saatnya ia pergi dan Sekar merasakan kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah ia rasa.


Orang-orang suruhan Tigor sudah kabur saat mereka melihat Siska terkapar.


"Kak Siska?!" Sekar menangis tersedu-sedu.


"Siska?!" Arka juga sama khawatirnya.


"Ayo kita ke rumah sakit."


"Tidak!"


Belum juga Arka mengajak Siska ke rumah sakit, Siska menahannya dengan sisa- sisa nyawa di tengah-tengah masa sekaratnya.


"Ke-kenapa?" Tanya Arka, matanya mulai bergelimang.


"Sudah saat nya aku pergi, sudah saat nya aku memberikan apa yang kupunya pada darah dagingku. Selama hidupku, aku selalu merasakan kebahagiaan. Tidak seperti Sekar, ia selalu saja menderita."


Sekar sudah menangis sejadi-jadinya, begiitupun Arka.


"Bawa dia pulang, katakan pada Ibu bahwa dia adalah Sekar, dan.... nikahi dia."


Mata Siska sudah semakin tertutup secara perlahan, bicaranya sudah terbata-bata. Sepertinya sebentar lagi akan ada jiwa yang pergi meninggalkan sebuah raga.


"Tidak! Aku tidak bisa mencintai gadis lain sekalipun itu adikmu!"


"Tidak Arka... kau bisa melihatku di dalam dirinya, aku adalah kakak nya. Kau bilang kau mencintaiku bukan? Maka cintai juga Se-Sekar. Jaga dia sebagaimana kau menjagaku, sayangi dia sebagaimana kau menyanyangiku. Berikan dia kebahagiaan dan tawa yang sudah lama hilang. Jika kau tidak bisa melakukannya untukmu, lakukan itu untukku. Aku mencintaimu, dan kau harus mencintai Sekar. Maka cinta kita akan tetap menyatu. Hanya padamu aku memohon dan meminta, hanya kau yang bisa."


Ya, itulah kalimat pesan terakhir dari seorang gadis bernama Siska. Gadis yang selalu dikelilingi kebahagiaan namun hatinya tetap saja terluka. Terluka karena keadaan keluarga dan berpisah dari adik satu-satunya yang ia punya.


"Siska?!!"


Tidak ingat tempat, Arka berteriak sejadi-jadinya menyerukan nama Siska.


***


Singkat cerita, Sekar dibawa pulang kerumah Milka. Arka menceritakan semua kejadian termasuk meninggalnya Siska.


Milka sangat tidak percaya akan itu semua. Ia tidak percaya pada kehadiran Sekar dan tidak percaya pada kematian Siska.


Sayangnya, jasad Siska telah menjadi bukti bahwa semuanya adalah fakta.


Apa yang diinginkan Siska tidak berjalan lancar. Ia sangat ingin Sekar hidup bahagia di rumah Milka. Tapi Milka masih sama seperti dulu, yakni enggan menerima kehadiran Sekar apalagi saat melihat penampilan Sekar yang bisa dikatakan mirip gelandangan.


"Tidak! Kau adalah pembunuh! Kau membunuh kakakmu sendiri, aku tidak mau satu rumah denganmu!" Dengan alasan itulah bagaimana Sekar ditolak dan diusir oleh Milka.


Arka dan Sekar tidak bisa memaksa sehingga mereka memutuskan untuk pergi. Sekarang, Sekar memiliki dua pilihan. Pertama, kembali ke Tigor dan menjalani pahitnya dunia dengan hidup sebagai seorang pembantu.


Kedua, menikah dengan Arka sesuai dengan pinta Siska. Tapi sepertinya pilihan keduanya hancur. Arka menolak untuk menikah dengan Sekar dengan alasan bahwa ia belum bisa melupakan Siska.


"Maaf, aku belum bisa menerima kehadiranmu dan melupakan Siska. Beri aku sedikit waktu."


Pupuslah sudah harapan Sekar untuk menikah dengan Arka saat Arka sudah menolaknya dengan terang-terangan.


Akan tetapi, Sekar juga tidak ingin kembali ke rumah Tigor dan mendapat siksaan di setiap harinya.


Akhirnya, ia menjadi gelandangan. Dirinya luntang lantung di jalan dan tidak menemukan tempat untuk pulang.

__ADS_1


Tapi hal tersebut tidak berangsur lama saat seorang pria datang menolongnya. Pria yang saat ini kita kenal dengan sebutan 'Arnold.'


Arnold datang dan membantu Sekar. Ia memberikan Sekar tempat pulang, memberikan Sekar makanan enak dan juga memberikan Sekar kebahagiaan.


__ADS_2