
Arnold: Jika cara halus tidak berguna. Sesekali harus dengan cara memaksa.
"Ibu gak tau seberapa besar cinta kamu sama Sekar. Tapi Ibu yakin gak ada kalimat yang mampu mengungkapnnya. Arnold, ada cinta yang tidak bisa dimiliki. Bisa karena cinta sebelah tangan, bisa karena orang ketiga."
Arnold membalikan badannya, menghadap Ibu nya, "Tapi yang orang ketiga tuh Arka bukan Arnold!" bentaknya kasar.
"Orang ketiga itu bisa disingkirkan. Kalau kamu berpikir begitu, maka perjuangkan cintamu untuk Sekar."
Arnold berpikir. Perkataan Ibu nya barusan seperti kipas angin tangan yang menampar dirinya dengan sangat keras lalu menyadarkan dirinya bahwa ia harus berjuang. Berjuang demi mendapatkan Sekar.
"Sekar adalah wanita yang tidak melupakan siapa yang menolongnya saat dirinya sedang kesusahan. Meski sudah 5 tahun menikah dengan Arka, Ibu yakin masih ada ruang di hati Sekar untuk mencintaimu. Bangkitlah Arnold, do'a Ibu menyertaimu," (Wah gawat nih kalau udah diiringi do'a Ibu. Arka bisa ketebas:v).
Wanita tua itu mengelus bagian punggung belakang Arnold. Ia memberikan semangat segenap jiwa agar Arnold bangkit dan meraih kebahagiaannya.
"Percayalah, Nak. Bahagiamu dengan Sekar dan bahagia Sekar denganmu. Ibu yakin itu," emosi Arnold semakin mengumpul. Tinggi melebihi bukit Sahara. Bukan emosi akan amarah. Tapi emosi semangat yang membara untuk menggapai cinta.
Dari dalam kamar, Pasha datang dengan mengapit sebuah pensil di sela-sela jari tengah dan jari manisnya.
"Semangatt. Pasha selalu di depan mendukung Kak Arnold. Lagian Pasha gak suka kalau kak Sekar sama Kak Arka. Kan dulu Kak Arnold yang nolongin Kak Sekar dari jalan," ucapnya memberikan semangat dengan gaya bak Ultramen.
Arnold mengantupkan bibir. Perkataan Pasha dan Ibu nya berhasil membukakan mata hati Arnold. Hati yang terkecil dan terdalam yang sempat dadas karena Sekar-Nya diambil Arka.
Namun kini semangatnya bangkit kembali, "Benar. Sudah cukup main-mainnya. Saatnya aku bangkit dan mengambil Sekar," ia bangkit. Mengepalkan tangannya dengan mata berbinar dan muka yang sumringah. Bahagia semangatnya telah kembali.
"Jangan lupa bilang sama Kak Arka makasih udah jagain Kak Sekar selama 5 tahun, haha," kekeh Pasha sambil kembali ke kamar.
"Benar," ucap Arnold. Tekad, niat, semangatnya kini telah kembali. Ia sangat sadar bahwa Sekar tidak sepenuhnya mencintai Arka meskipun sudah 5 tahun berumah tangga. Ia akan kembali. Ia akan datang dan mengambil Sekar. Jika perlu bertarung tangan, akan ia lakukan. Jika perlu darah bercucuran, akan ia lakukan. Demi mendapatkan Sekar.
Sekar adalah dunianya. Emasnya. Yang sudah dicuri orang menyebalkan yang mengaku sebagai suami gadis itu. Kini permainan sudah usai. Pemilik asli nya harus segera datang dan mengambil barang tersebut tanpa memperdulikan nasib pencuri.
****
"Kalau berubah pikiran kasih tahu ya," ucap Arka sambil sesekali melihat ke arah Sekar.
"Udah hampir 15 kali kamu ngomong gitu," jawab Sekar tanpa melihat ke arah Arka sedikitpun.
"Mba sama Mas nya adek kakak yah? Kok mirip?" Tanya supir taksi sambil melihat mereka berdua dari kaca spion depan.
Sekar terkekeh, "Bukan, Pak. Hehe," menurutnya lucu saja jika ia dikatakan mirip dengan Arka.
Lain halnya dengan Arka. Ia justru tertegun. Terkejut mengapa bisa seseorang yang tidak dikenalnya, orang yang baru pertama kali melihatnya dan Sekar mengatakan dirinya dan Sekar mirip.
Ia kemudian melihat ke arah Sekar dan membatin, "Apa jangan-jangan dia adik ku?"
Tidak lama kemudian ia menggeleng keras, "Tidak. Dia istriku," batinnya.
"Ohh. Abisnya mirip hehe. Mba nya mau kemana? Bawa koper segala?" tanya supir tersebut.
"Mau ke pan--"
"Bukan urusan Anda!" Jawab Arka ketus.
Sekar melihat ke arah Arka. Ia mencubit lengan Arka sehingga si pemilik telapak tangan meringis kesakitan, "Galak banget sih," ujar Arka sambil mengusap-ngusap tangannya.
***
Tami sudah keluar dari dalam kamar. Sudah tidak menangis. Matanya begitu sebam, hidungnya merah.
"Mah?" Arman yang sedari tadi duduk di depan kamar Tami langsung bangkit saat melihat Tami keluar kamar.
"Jadi gini Mah kenapa kita rahasiain ini dari Mamah. Soaln-" ucapan Arman terhenti karena Tami memotongnya.
"Si Jaguar mana?" Tanya Tami ketus tanpa melihat ke arah Arman sedikitpun. Pandangannya lempeng ke depan.
Arman terkejut, "Mau ngapain Mah?" Tanyanya dengan sedikit takut. Takut Kelincinya itu akan dijadikan santapan siang.
"Mau Mamah gulai," jawab Tami singkat.
Arman langsung terduduk. Ia memohon di kaki Tami, "Mah maafin Papah. Jangan gulai si Jaguar Mah. Kasian dia lagi pacaran sama Kelinci tetangga sebelah," pinta Arman sambil terus memegangi kaki Tami.
"Tetangga sebelah mana? Janda bukan?!" Bentak Tami.
Arman menggeleng, "Bukan Mah. Pemiliknya pria kok," jelas Arman.
Tami tersenyum. Ia mengangkat tubuh Arman dan membuatnya berdiri kembali.
"Maafin Mamah juga," ucap Tami.
"Mamah juga salah kar--"
Arman tak ingin mendengar ucapan apapun dari Tami. Ia langsung memeluk Tami dengan sangat erat. Lalu mengusap rambutnya halus.
"Nggak. Papah yang minta maaf."
__ADS_1
Keduanya tersenyum. Terlelap dalam kata maaf. Saling kembali mengalirkan kasih sayang yang tadi sempat retak karena sebuah kebohongan.
Namun, kebohongan tidak mampu memisahkan kekuatan cinta yang begitu besar. Meski sakit pada awalnya. Namun keduanya kembali yakin bahwa ada alasan baik di balik sesuatu yang tidak bisa diucapkan kenyataannya.
"Maafin Papah. Maaf." Arman terlelap dalam pelukan istrinya. Ia benar-benar bahagia Tami-Nya telah kembali.
Namun itulah Tami. Dirinya hanya bisa marah sesaat kepada Arman. Seperti Sekar dulu, hati Tami bak hati bidadari yang di terapkan di tubuh manusia.
Arman adalah nafasnya. Mana mungkin Tami mampu tidak bernafas berlama-lama.
"Mamah maafin."
Ingat bukan bahwa Arman pernah mengatakan dirinya lah yang beruntung memiliki Tami? Itu benar. Tami tidak mencintai Arman berdasarkan harta ataupun rupa. Ia mencintai pria paruh baya itu apa adanya. Hingga rumah tangga keduanya tetap awet meski badai, gempa dan ombak telah menyerang. Tapi benteng cinta itu tetap kuat. Segalanya di dasari atas keyakinan dan kepercayaan satu sama lain.
***
Arnold: Sekar kamu tahu gak kenapa garam rasanya itu asin?
Sekar: Nggak, kenapa?
Arnold: Karena kalau manis itu kamu.
Arnold menggeleng keras, "Tidak tidak. Itu terlalu jadul. Sekar pasti tidak suka."
"Ekhem. Sekar kamu tau gak persamaan kamu sama nasi.... argh mana mungkin Sekar mau di samain sama nasi!"
Sesekali Arnold memukul kepalanya. Lalu memukul setir.
"Aku tidak bisa menggombali wanita."
Saat ini dirinya sedang berada di dalam mobil. Ia hendak pergi ke rumah Arka untuk menemui Sekar. Arnold mengira Arka sedang bekerja hari ini.
Pakaiannya teramat sangat rapih. Mengenakan baju dalaman putih polos dan kemeja casual warna biru langit. Tidak lupa dengan minyak wangi X-Man yang ia semprotkan ke seluruh bagian tubuhnya agar mengeluarkan bau sedap saat nanti sedang berada di dekat Sekar.
Dirinya sedang belajar mengenai cara merayu atau lebih dikenal dengan sebutan 'Menggombal'. Ia berpikir bahwa semua gadis menyukai rayuan, tidak terkecuali Sekar. Maka dari itu ia berusaha belajar membuat sebuah rayuan agar bisa menarik perhatian Sekar dan membuat Sekar senang.
Namun belum juga sampai di rumah Sekar, Arnold sudah stress. Dipikirnya rayuan tersebut terlalu jadul atau kuno dan Sekar tidak akan menyukainya.
"Bunga atau coklat? Dulu sih Sekar suka coklat. Tapi gimana kalau giginya keropos? Kalau bunga bagusnya bunga apa ya?" Cerocos Arnold. Bertanya pada diri sendiri.
****
"Kalau berupah pikiran kasih tahu ya," Arka belum juga melepaskan pandangannya dari Sekar. Ia malah semakin khawatir saat sebentar lagi akan segera sampai di panti asuhan.
"Oyah. Kapan mau buat surai cerai nya? Nanti kirim saja lewat pos. Jadi kamu tidak perlu repot-repot mengantarkannya," pinta Sekar.
Arka menunduk. Ia sangat sedih kala mengingat bahwa dirinya dan Sekar sebentar lagi akan resmi berpisah.
"Tapi ingat yah.. baru satu loh," cercah Arka. (Talak 1. Masih bisa rujuk tanpa menikah ulang).
Sekar tersenyum, "Iya mas."
"Sudah sampai Mba, Mas," ucap supir taksi.
Arka menarik nafasnya berat. Sebentar lagi ia akan berpisah dengan Sekar. Tidak sanggup rasanya harus meninggalkan gadis itu di tempat ini lagi.
Untuk terakhir kalinya. Arka kembali menatap Sekar. Pandangannya sangat sendu sekali. Ia tidak mampu menyembunyikan kesedihan, "Kamu yakin?"
"Aku yakin Mas. Sangat yakin. Ayo turun," Sekar turun terlebih dahulu dengan di susul Arka yang turun dari pintu sebelahnya.
Supir taksi juga ikut turun untuk menurunkan koper Sekar yang berada di bagasi belakang.
"Adiknya di jagain ya Mas. Soalnya cantik, hehe," ucap sopir taksi lalu kemudian masuk ke dalam mobil dan tancap gas. Takut diamuk pelanggan.
Arka mengepalkan tangannya. Hampir memukul sopir taksi tersebut. Namun Sekar menahannya sambil tersenyum.
"Dia bercanda kok Mas. Yuk masuk," pinta Sekar.
....
"Assalamualaikum," Sekar mengucapkan salam berbarengan dengan Arka.
Di siang hari seperti ini Panti Asuhan terlihat sangat sepi. Padahal biasanya ada banyak anak-anak yang sedang main di luar.
Melihat keadaan panti asuhan yang sepi membuat Arka melukiskan sebuah senyuman senang.
"Jangan-jangan udah bubar lagi? Udah tutup kali. Pulang yuk," ia menarik tangan Sekar untuk pulang.
Sebelum mereka benar-benar pulang, terdengar jawaban salam dari seorang perempuan dari dalam sana.
"Waalaikumsalam," melihat siapa yang datang, Sekar melepaskan pegangan tangan Arka.
"Ibu Anisaaa," Sekar langsung ambruk memeluk wanita paruh baya berhijab yang bernama Anisa itu. Tak kalah, Anisa juga memeluk Sekar sama eratnya. Bahkan dirinya menitikan air mata.
__ADS_1
Sekar tidak pernah lupa pada panti asuhan ini meski dulu dirinya masih sangat kecil saat keluar dari panti asuhan. Tempat dan namanya masih sama, yakni "Panti Asuhan Anisa Putri," hanya saja sudah tampak lebih bagus dari masa Sekar dulu. Mungkin mereka melakukan beberapa kali renovasi.
Meski sudah dewasa dan sudah berumah tangga, Sekar masih sering ke Panti Asuhan ini meski hanya untuk sekedar mampir. Jika tidak bersama Waluyo, maka Arnold yang biasa mengantarnya. Arka tidak pernah melarang kepergian Sekar. Karena memang tidak ada salahnya jika Sekar ingin menemui Ibu panti asuhan yang dulu mengurusnya.
"Kamu apa kabar, Nak?" Tanya Ibu Anisa. Perlahan, ia melepaskan pelukannya dari Sekar.
"Alhamdulilah Sekar baik. Ibu gimana?" Tanya Sekar balik.
"Alhamdulilah juga. Itu siapa?" Anisa menunjuk Arka yang berdiri lebih jauh di depannya.
Saat namanya disebut, Arka langsung maju menghampiri Anisa dan menjabat tangannya. Tapi karena bukan muhrim, maka Anisa tidak menerima uluran tangan Arka dan bersalaman dari jauh dengan hanya melipat tangan saja. Hal tersebut sontak membuat Arka malu dan membuat Sekar sedikit tertawa.
"Saya suami Sekar Bu," jelas Arka.
Selama 5 tahun ke belakang, Arka tidak pernah mengantar Sekar sekalipun ke panti asuhan. Ia hanya memberi izin tanpa mengantarnya. Bahkan sampai orang-orang di panti mengira Arnold lah suami Sekar.
"Ohh ini. Lebih tua dari yang kemarin yah," ucap Anisa kurang ajar sehingga membuat Arka memelotot.
Sekar mendekatkan bibirnya ke kuping Arka lalu berbisik, "Arnold maksudnya."
Pastinya Arka geram dan ingin menjelaskan bahwa Arnold bukan siapa-siapa nya. Tapi apa daya. Toh memang salah Arka sendiri selama ini tidak mengantar Sekar. Jadi wajar saja orang-orang berpikir seperti itu.
"Yasudah. Mau masuk dulu?" Tanya Anisa sambil membantu Sekar membawakan kopernya.
Semuanya hendak masuk. Juga Arka. Tapi Sekar menahannya.
"Aku rasa kamu tidak perlu masuk," tukas Sekar.
"Kenapa?" tanya Arka terkejut.
"Bukan apa-apa. Tidak ada bedanya kamu masuk atau tidak. Toh disini tidak ada yang mengenalmu."
Tapi Arka menolak. Ia memaksa untuk tetap masuk. Menemui Anisa dan berbicara dengannya.
"Tetap tidak Mas. Tolonglah. Aku sudah memberikanmu izin untuk mengantarkanku. Sekarang pulanglah."
Sekar tidak ingin berlama-lama. Ia langsung masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Arka.
Dari luar, Arka memandangi kepergian Sekar tanpa berkedip sedikitpun.
Sama sekali Sekar tidak membalikan badannya hanya untuk sekedar melambaikan tangannya.
Meski begitu Arka tetap melambai-lambaikan tangannya pada punggung Sekar yang sebentar lagi akan segera masuk ke dalam.
Pilu sekali rasanya hati Arka. Sakit? Tentunya. Terluka? Pastinya. Ingin menangis, berteriak, mengambil Sekar kembali dan memeluknya? Jelas.
Tapi jangankan untuk dipeluk. Melambaikan tangan saja Sekar enggan untuk melakukannya.
"Salah apa yang sudah kuperbuat selama ini sampai Sekar semarah itu," batin Arka.
Tangannya beralih memegang dada. Rasanya dunia semakin menyempit. Tubuhnya serasa di sedot oleh tanah dan sebentar lagi akan tenggelam. Matahari berhenti bersinar dan angin serta udara menghilang sehingga menyesakan dada.
Menangis? Ya. Arka menangis saat itu. Setetes dua tetes air mata mulai membasahi pipinya. Sudah hampir 5 menit lebih ia berdiri di luar tanpa ada yang mempersilahkannya masuk. Ia berharap ada keajaiban. Ia berharap Sekar kembali ke luar.
Tapi cita-citanya itu tidak kesampaian. Setelah puas Arka menunggu Sekar belum kunjung juga keluar akhirnya Arka memutuskan untuk pulang.
***
"Oh. Lagi pergi sama Arka yah? Tumben pake motor?" Tanya Arnold. Ia sudah sampai di rumah Sekar. Tidak dengan coklat tidak juga dengan bunga. Melainkan dengan boneka.
Waluyo diam dengan memasang muka lesu. Ia duduk lalu menopang dagu nya dengan tangan. Pandangannya hampa ke depan.
"Tau gak Mas? Mas Arka sama Non Sekar pisah," tukas Waluyo singkat.
Mata Arnold langsung membulat. Hampir saja bola matanya loncat keluar.
"Pi-pisah gimana?" Wajahnya berubah menjadi berseri-seri. Sekali lagi ia mendengar pernyataan dari Waluyo pasti dirinya langsung tertawa bak nenek sihir.
"Iya. Pisah rumah, pisah hubungan. Cerai," jawab Waluyo lesu tanpa merubah posisi nya sedikitpun.
"Hah? Yeeessssss!!!" Arnold tertawa. Ia mengepalkan tangannya lalu meloncat setinggi mungkin. Boneka yang tadi di genggamnya ia cium-cium.
Waluyo beralih menatap Arnold sambil mengernyitkan dahi.
"Lha? Sampeyan edan?" Tanya Waluyo.
Tapi Arnold tidak mengindahkannya. Ia masih terus meloncat-loncat, " Horeeeeee," teriaknya sambil tertawa dan memejamkan mata. Menikmati keindahan kata yang baru saja keluar dari mulut Waluyo.
"Nyebut Mas nyebut! Ganteng-ganteng kok gampang kena sewur setan!" Tukas Waluyo sambil berjalan mundur. Berusaha menjauh dari Arnold yang sepertinya sedang kerasukan.
OTW rumah Sekar nih Arnold di manis.
__ADS_1