Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
I Know You Can Change


__ADS_3

"Sekar?!"


Dipagi-pagi buta Arka sudah memanggil nama sang istri dengan setengah berteriak.


"Iya mas?" Sekar masuk kedalam kamar Arka yang berada lumayan jauh dari letak kamar nya.


"Baju kerja saya mana?" Mata bulat bagai orang India Arka mulai memelotot, memelototi Sekar yang saat itu tidak atau mungkin belum menyiapkan baju kerja Arka.


"Ya Allah? Ah maaf mas, saya lupa."


Dengan berlari secepat kilat, Sekar meninggalkan Arka berlari menuju sebuah ruangan.


"Ini mas." Ujarnya setelah ia kembali sambil menyerahkan sebuah jas casual hitam.


Meski diserahkan dengan cara lembut, Arka tetap saja menarik jas itu dengan kasar.


"Sudah siang begini, jas suami belum disiapkan!"


Sekar tersenyum, padahal dirinya sedang dibentak bukan sedang diberi hadiah. Senyumannya karena hal tertentu tentunya. Imbuhan kata 'suami' seperti hembusan angin segar di pagi hari meniup daun telinga Sekar.


"Maaf." Ia tertunduk. Senyumannya ia sembunyikan agar tidak ketahuan Arka, malu kalau ketahuan.


"Ah, bagaimana sih ini!" Tangan Arka belibet memasangkan dasi panjang nya.


"Ish." Ia berdesis kesal karena dasi tidak kunjung rapih.


Sekar terkekeh, melihat suami nya yang terlihat konyol karena tidak bisa memasangkan dasi.


"Kenapa kamu tertawa? Ngetawain saya?"


Sekar tertangkap basah sedang menertawakan Arka. Tapi mau bagaimana lagi, Arka lucu kalau sedang marah ditambah uring-uringan sendiri karena susah pasang dasi.


"Daripada kamu tertawa, mending bantu saya!"


Dengan tiba-tiba, Arka menarik tangan Sekar dan menyimpannya tepat dibawah lehernya, tepat dimana dasi harus dirapihkan.


Ditariknya tangan Sekar adalah untuk membantu Arka membenahi dasi. Alih-alih membantunya, Sekar malah memandangi Arka beserta jakun nya yang menonjol indah.


Pandangannya tidak berkedip sedikitpun, kapan lagi ia akan memandangi pria tampan yang berstatus sebagai suami nya ini.


Desir darah Sekar mengalir sangat deras, jantungnya dag dig dug 5 kali lebih cepat dari orang normal biasanya.


Memang bukan hal yang harus dipungkiri bahwa setiap gadis pasti akan tergoda oleh pesona seorang Arka Rarendra Gumelar. Pria berusia 35 tahun, tapi seperti anak remaja berusia 20 tahunan. Selain memiliki visual bak dewa, Arka juga memiliki wangi yang khas yang dapat menarik hidung-hidung para wanita untuk mencium nya.


Seperti hal nya Sekar kali ini. Ia mulai memejamkan matanya, masuk kedalam sebuah dimensi yang hanya terdapat ia dan Arka didalamnya, dimensi yang dipenuhi bunga fuji suci disertai harum nya yang menyengat.


"Kamu bisa pasang dasi gak?!"


Sadar karena dirinya malah menikmati ketampanan Arka dan tidak membantu memasang dasi, Sekar langsung mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Euh i-iya mas."


Tangan lihai Sekar mulai gemulai menyusun sebuah dasi yang melingkar melilit leher Arka.


"Sudah."


Perfect, tangan Sekar memang diciptakan khusus untuk merakit suatu hal menjadi selesai dan istimewa. Tidak hanya makanan ataupun hal lainnya, ia juga sangat pintar dalam memasang dasi. Hanya satu hal yang belum tangan lihai nya itu lakukan, yakni membelai Arka disebuah ranjang.


"Sarapan saya mana?"


Sekar tertegun, ia membulatkan matanya. Sarapan? Bukankah ini kamar? Bukannya sarapan ada dibawah, dimeja makan?


"Dibawah mas."


"Yasudah."


Arka pergi meninggalkan Sekar begitu saja setelah pakaiannya rapih. Ia pergi meninggalkan Sekar seolah-olah Sekar ini patung yang tidak perlu dianggap. Tidak ada pula kalimat ucapan 'terima kasih' keluar dari bibir indah Arka.

__ADS_1


Sekar menghela nafas. Ini memang bukan pertama kalinya dirinya diacuhkan oleh Arka. Tapi, semakin hari rasanya semakin sakit. Istri mana pula yang kuat berlama-lama diacuhkan oleh sang suami.


Dalam 5 tahun pernikahan, tidak pernah ada kata mesra ataupun belain lembut dari Arka. Perlakuan dingin, acuh dan bahkan perlakuan kasar lah yang selama ini selalu Sekar terima.


Andai saja Siska tidak memaksanya untuk menikah dengan Arka, andai saja Arka bukan pemasok perekonomian dirinya dan keluarga. Maka tak sudi untuk seorang Sekar menghadapi dinginnya Arka yang melebihi kutub es itu.


Tapi bagaimana pula, sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur, tinggal makan saja buburnya. Kalau sudah begini, bisanya hanya tinggal berangan-angan.


Tapi Sekar masih memegang teguh keyakinannya. Bahwa suatu hari nanti, hari yang entah kapan datangnya, akan ada anugerah cinta untuk Arka yang membuatnya jatuh hati pada Sekar.


Sekar percaya akan hal itu, bahkan sangat percaya. Arka hanya dingin diluar, tapi pasti sangat hangat didalam. Hanya saja, Sekar masih belum memiliki aksen untuk menerobos masuk kedalam bagian tubuh Arka.


Arka juga tidak sejahat yang selama ini Sekar lihat. Jika ia memang jahat, mana mungkin Arka tidak menceraikan Sekar? Dan sekarang, keduanya sudah berstatus sebagai suami istri selama 5 tahun.


Jika Arka memang jahat dan kejam, harusnya ia lelah satu rumah dengan wanita yang tidak ia cintai. Tapi nyatanya? Arka masih bertahan hingga sekarang, meski ia terus memperlakukan Sekar tidak lebih bak pembantu.


***


"Kamu gak mau cerai sama Sekar?" Viona sudah duduk manja diatas paha Arka, padahal Arka sedang sibuk bekerja.


"Aku tidak bisa menceraikan dia." Ujarnya tanpa melihat ke arah Viona sedikitpun, matanya terus tertuju pada layar monitor laptop.


Tidak pada Sekar, tidak pada Viona, Arka masih sama dinginnya. Mungkin memang itulah watak asli Arka, watak yang susah diubah.


"Kenapa? Bukannya kamu tidak mencintainya? Untuk apa masih tinggal satu atap dengannya?"


Viona bangkit dari duduknya lalu berdiri setelah mendengar jawaban tidak mengenakan dari Arka.


Mata Arka menerawang jauh kedepan, jarinya mulai berhenti beradu dengan keyboard. Ada sebuah arti dari sorot matanya, arti yang tidak dapat ia jelaskan saat itu juga.


"Sudahlah mas, kau ini sudah berumur! Berhentilah bersikap seperti anak remaja labil! Ceraikan dia sekarang, nikahi aku!"


Alih-alih menjawab dengan kata 'iya', Arka justru menatap Viona tajam. Ia seperti orang yang sedang marah, tangannya juga mulai mengepal. Tidak mungkin kan Arka akan memukul Viona? Gadis pujaannya.


"Bisa tidak jangan ganggu aku bekerja?"


"Ish." Karena tidak ingin berdebat diruang kerja, takut ketahuan, akhirnya Viona mengalah dan meninggalkan Arka. Tak lupa ia berdesis kesar dan membanting pintu.


"Kalau suaminya tidak mau menceraikan, akan kubuat istrinya yang menceraikan." Gumam Viona dengan mata mulai merah menyala.


***


"Paket."


Dengan berbalutkan mukena, Sekar berlari kedepan untuk menerima paketan yang baru saja datang.


"Paket untuk siapa mas?" Tanya Sekar sambil masih belum melepaskan balutan mukenanya.


"Untuk ibu Sekar."


Sekar mengangguk


"Oh benar, saya sendiri. Dari siapa ya mas?"


"Dari Arnold Prayoga Nagaswara."


Nama Arnold disebut selengkap-lengkapnya, membuat Sekar melukiskan senyuman.


"Terima kasih." Disambar nya langsung paket yang masih tertutup rapat itu.


Arnold, cinta pertama Sekar itu masih saja mengiriminya hal-hal yang menyenangkan hati.


Meski sudah 5 tahun ia ditinggal nikah oleh Sekar, tapi selama 5 tahun itu cintanya tidak pernah luntur.


Cinta dan juga perhatiannya. Seringkali Arnold mengirimkan sebuah barang berharga untuk Sekar yang dikirimkan lewat paket.


Dan meski dirinya sudah dinikahi pria pilihan sang kakak, namun masih ada sisa remah-remah cinta untuk sang pria yang masih mencintainya, Arnold.

__ADS_1


Bukan susah untuk seorang Arnold mendapatkan kekasih yang mungkin lebih dari Sekar. Yang lebih cantik, bohay dan lebih pintar. Tapi itu semua bukanlah kriteria yang Arnold inginkan.


Arnold menginginkan wanita yang percis seperti Sekar. Sederhana, teratur, apik, jujur, murah senyum, lemah lembut dan penuh akan perhatian serta kasih sayang.


Meski Sekar bukan cinta pertamanya, tapi Sekar merupakan cinta terakhirnya.


Beliau tahu bahwa pernikahan Sekar hanyalah pernikahan bertanda tangan diatas materai, hanya pernikahan sah menurut saksi dan agama. Arnold tahu bahwa hati Sekar belum sah untuk Arka, maka dari itu ia masih menaruh harap pada gadis sederhana ini meski janur kuning sudah melengkung dan bahkan sudah layu.


***


"Daster? Aaaa makasih kak Arnold."


Sekar tertawa ria saat ia mendapati bahwa paket yang diberikan oleh Arnold adalah sebuah daster kencana ungu.


Menjadi seorang gadis rumah tangga yang mengerjakan pekerjaan rumah haruslah berpakaian simpel dan singkat agar tidak memperumit pekerjaan.


Maka dari itu, meski Sekar masih muda dan merupakan seorang istri Direktur Utama di perusahaan Artisan Karya, daster adalah pakaian favoritnya apabila dirumah.


Sebenarnya Arka tidak pernah suka jika Sekar memakai daster begitu. Terlihat lusuh dan kumuh katanya, istri rasa pembantu.


Tapi persetan dengan itu semua. Toh Arka juga tidak pernah membelikan baju yang bagusan atau mahalan dikit untuk Sekar.


Arnold tahu segala kebutuhan dan bahkan keinginan Sekar karena mereka memang masih sering berkomunikasi. Tentunya tanpa sepengetahuan Arka.


Baik Arka tahu ataupun tidak itu bukanlah masalah, Arka tidak pernah perduli. Lagipula, ia tidak pernah memeriksa handphone Sekar sama sekali.


Jangankan untuk memeriksa handphone Sekar, mereka sekamar pun tidak.


Bukan maksud Sekar untuk mengkhianati suaminya. Namun apalah daya, Sekar hanya wanita lemah yang memang membutuhkan seseorang yang siap mendengarkan segala curahan hatinya. Dan itu tidak lain tidak bukan adalah Arnold, teman masa kecil serta cinta pertama Sekar. Namun, cinta mereka kandas tengah jalan karena sebuah takdir yang tidak pernah keduanya sangka.


***


"Makan siang diluar yuk mas." Viona sudah kembali bermanja gemulai disamping Arka sambil mempermainkan rambut lurus nan hitam pekat Arka saat istirahat siang sudah tiba.


"Kamu gak lihat saya sedang apa?"


Arka menunjukan sebuah berkas serta laptop yang berisi penuh oleh data yang harus ia selesaikan saat itu juga.


"Ish, ini sudah waktunya makan siang mas. Kamu kan direktur nya, tunda saja pekerjaan mu ini, atau serahkan pada bawahan mu!"


Vione kembali memanyunkan bibir merah meronanya. Ia merajuk karena Arka menolak ajakannya untuk makan siang diluar.


"Viona, justru karena aku ini adalah pemimpin, maka aku yang harus bertanggung jawab."


Meski sudah ditolak, namun memang sikap Viona adalah seorang pemaksa.


"Menyebalkan kamu mas, udahlah ayo!"


Tidak hanya mulut yang berbicara, kini tangan Viona juga ikut bekerja. Dengan cukup kasar dan keras, ia menarik-narik tangan Arka.


Brak


"Kamu ini tuli apa bagaimana?"


Hardikan mulai keluar dari mulut Arka setelah ia menggebrak meja dengan kasar. Kesabarannya terus saja diuji oleh gadis yang sedang ada dihadapannya ini.


"Bangs*t."


Viona pun pergi setelah harga dirinya terombang-ambing karena ditolak pria itu.


Dasar Viona sendiri, sudah tahu Arka sibuk bekerja, masih saja memaksakan kehendak mengajaknya makan diluar. Dan ketika Arka sudah tidak mau, dirinya masih terus memaksa, bisa dikatakan wajar jika Arka habis kesabaran dan marah padanya.


Sudah sibuk dan cape oleh pekerjaan, dibuat makin lelah oleh paksaan Viona.


"Sana pergi, nenek lampir." Umpat Arka.


Mungkin terdengar sedikit kasar, namun Viona tetaplah pilihan hati Arka. Wanita yang sudah berhasil menutup hati Arka, bahkan untuk istri yang sudah setia bersamanya selama 5 tahun.

__ADS_1


__ADS_2