Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Terlambat


__ADS_3

Tami: Pantaskah aku di anggap seorang Ibu ketika menyebabkan maut teruntuk anaknya?


Tami mengutuk dirinya sendiri. Tidak bisa memaafkan dirinya kalau ada sesuatu yang menimpa Viona.


Saat ini, gadis bernama Viona itu sedang terbaring lemah di ruangan salah satu rumah sakit di kota ini. Ia tidak sadarkan diri. Kata dokter, Viona akan lama menuju titik kesadarannya karena ia telah kehilangan banyak darah.


Dokter masih berada di dalam. Memeriksa keadaan Viona untuk yang kedua kalinya.


"Permisi. Keluarga pasien?" Tanya Dokter perempuan berhijab dan mengenakan kacamata itu. Mengalihkan atensi Tami, Arman, Bibi dan juga Paman Viona.


"Iya saya," Tami maju paling depan. Menunjuk dirinya.


Dokter tersebut menunduk. Berat rasanya mengatakan apa yang tidak ingin keluarga pasien dengar. Namun, bagaimanapun juga ia harus mengatakannya.


"Dengan berat hati saya katakan---"


Tami maju beberapa langkah. Memegangi kedua belah bahu dokter tersebut. Mengguncang-guncangkannya dengan air mata yang membucah, "Viona tidak mungkin meninggal!" Bentak Tami.


Dokter tersebut mengerutkan keningnya tanpa berusaha melepaskan cengkraman tangan Tami, "Memangnya siapa yang meninggal?" Tanya dokter itu.


"Viona tidak meninggal. Hanya saja, ia butuh pendonor. Beliau mengalami pendarahan yang cukup banyak. Darah di keluarkan dari perutnya. Membuat saudara Viona kehabisan banyak darah sehingga untuk bertahan hidup beliau mem---"


"Saya. Saya adalah Ibu nya. Saya pendonor darah untuk Viona," ucap Tami memotong ucapan dokter tersebut yang di balas anggukan oleh dokter itu.


Mereka berdua melenggang pergi ke sebuah ruangan lantas mengambil darah Tami untuk segera di transfer ke Viona.


****


Dua pemuda itu. Setelah semalam bermain catur bersama. Sampai kini belum terbangun juga. Masih asyik terlelap di alam mimpinya masing-masing.


Sekar sudah usel-uselan sendiri. Menendang kerikil-kerikil di jalanan depan rumahnya. Sudah menelefon Arka dan Arnold tapi tidak ada satupun yang mengangkat. Sekar misuh sendiri. Sampai akhirnya ia pergi naik taksi karena tidak ada angkot yang lewat.


"ASTAGFIRALLAH. KA BANGUN KA!" Arnold mengguncang-guncangkan tubuh Arka yang tergeletak di lantai dengan beralaskan sebuah karpet merah nan tipis. Sementara Arnold, pria itu tertidur di kursi di atas Arka. Sinar mentari yang begitu menyengat dapat membuat mata Arnold silau hingga ia terbangun dari tidurnya.


"Berisik! aku masih ingin tidur!" Ucap Arka sembari menggeliat tanpa membuka matanya sedikitpun.


"Arka jam 8!" Teriak Arnold menggema. Mendominasi seluruh isi ruangan.


Sontak Arka membuka matanya. Terduduk dari tidurnya, "SEKAR?!" ujar kedua pria itu bersamaan. Keduanya berlari menuju kamar mandi yang sama dengan saling mendorong satu sama lain.


"Sana mandi di kamar mandi Bi Iyam!" Usir Arka sambil menodorong tubuh Arnold.


"Kau saja! aku sudah telat. Harus menjemput Sekar lalu pergi ke rumah sakit!" Arnold menarik tubuh Arka agar pria itu keluar dari kamar mandi.


Arka menatap Arnold garang sambil menahan pintu kamar mandi agar tidak terbuka dan Arnold tidak bisa masuk ke dalamnya, "Aku yang akan menjemput Sekar!" Ucap Arka ketus.

__ADS_1


"Kau kan Bos besar. Pemilik perusahaannya. Biarkan aku mandi duluan. Aku harus ke rumah sakit!" Paksa Arnold sambil masih terus menarik-narik lengan Arka.


"Tapi aku juga punya banyak pekerjaan. Yasudah begini saja," Arka keluar dari kamar mandi. Tapi tak membiarkan Arnold masuk ke dalamnya, "Bagaimana kalau kita mandi bersama?" Tanya Arka dengan alis yang naik sebelah.


"Haram!" Arnold menendang pantat Arka. Membuat pria itu masuk tersungkur ke dalam kamar mandi.


"Arnold sialan!" Umpat Arka dari dalam.


Arnold mengusap wajahnya gusar. Kesal. Kenapa bisa semalam Arnold bermain catur dengan Arka sampai begadang. Dan lebih parahnya mereka tidak bangun. Padahal seingat Arnold dirinya memasang alarm semalam.


"Ah bencana. Dasar Arka," Arnold meraih handphonenya yang tergeletak di meja kerja Arka.


"Ya Allah. 6 kali panggilan?!" Ucap Arnold terkejut saat melihat 6 missed call yang berasal dari Sekar.


Arnold menghampiri kamar mandi. Mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, "Buruan Ka! Sekar udah telat. Dia udah 6 kali nelefon!"


Arka, pria pecinta kebersihan itu mana bisa mandi dengan cara diburu-buru.


"Masih luluran!" Jawab Arka dari dalam. Membuat Arnold geram dan lebih memilih turun dan mandi di kamar mandi Bi Iyam yang terletak di bawah sana.


****


"Oh. Saya kira Mas Arka sudah sampai. Kemana ya dia?" Tanya Sekar kepada Zaki.


Sekar saat ini sedang berada di ruangan Arka. Hendak membantu Arka. Tiba-tiba Zaki masuk ke dalam. Tadinya mau meminta berkas-berkas kepada Arka. Mereka memang sudah mulai bekerja. Sementara Arka masih belum datang.


"Apa Arka semalam begadang yah?" Tanya Zaki lagi.


Sekar teringat sesuatu. Arka bersama Arnold kemarin malam. Bergadang, minum kopi adalah hal yang lazim yang biasanya pria lakukan ketika sedang bersamanya.


"Bisa jadi," Sekar mulai risau. Masih mending kalau hanya Arka saja yang terlambat--- masih bisa di maklum karyawan karena Arka pemilik perusahaan. Tapi bagaimana kalau sampai Arnold yang terlambat? Dia kan bekerja di rumah sakit. Bagaimana juga kalau ada pasien yang membutuhkannya? Pikiran Sekar jadi kemana-mana. Ia sangat khawatir pada dua remaja itu.


"Arka nebeng!" Arnold terus memohon-mohon kepada Arka agar diberikan tumpangan.


Dengan ogah-ogahan dan misuh-misuh Arka masuk ke dalam mobil tanpa perlu repot-repot memperdulikan Arnold, "Cari taksi saja!"


"Arka aku ikut denganmu atau kulaporkan pada Sekar!" Teriak Arnold. Sukses menghentikan aktivitas Arka dan membuat Arka geram. Pria itu lantas membuka kaca mobilnya. Mempersilahkan Arnold masuk dengan muka kesal.


"Masuk!" Titah Arka. Dibalas cengir kuda oleh Arnold.


"Lucu yah. Padahal dulu kita sering satu mobil bersama. Bersama kemana-mana. Tapi sekarang, rasanya satu mobil denganmu begitu membuatku eneg dan ingin muntah," Arnold membuka pembicaraan saat keduanya sudah berada di dalam mobil dan hendak menuju Kantor serta Rumah sakit.


"Aku juga muak satu mobil denganmu," ucap Arka. "Tapi benar sih. Padahal dulu kita sering bersama," tambah Arka. Bayangan bagaimana dirinya bersama Arnold terlintas di benaknya.


"Arnold?" Tanya Arka.

__ADS_1


"Hm?"


"Kapan kita akan seperti ini terus? Maksudku aku dan kau. Dulu, kita adalah sahabat baik. Kau adalah orang yang selalu bisa kupercaya. Aku selalu bergantung padamu. Memberikan rahasiaku. Menjadikanmu bahu untuk kepalaku menyandar," ucap Arka.


Arnold menoleh ke arah Arka. Menatap wajah Arka namun tidak lagi dengan tatapan kesal. Amarahnya sudah hilang. Ada perasaan sedih di raut wajahnya.


"Kau juga. Aku sangat berterima kasih pada dirimu dan keluargamu. Aku bisa menjadi dokter karena keluargamu. Kau juga sangat baik pada Pasha dan Ibu ku," ucap Arnold dengan nada sendu.


"Oh iya. Sudah lama tidak bertemu Ibu dan Pasha. Bagaimana kabar mereka?" Tanya Arka.


"Alhamdulilah mereka baik-baik saja. Kapan mau mampir ke rumahku?" Tanya Arnold dengan senyum merekah.


"Kapan-kapan," ucap Arka. "Apa jawaban atas pertanyaanku tadi?" Tanya Arka lagi.


Arnold memicingkan alisnya. Menatap Arka dengan penuh tanya, "Pertanyaan yang mana?"


"Yang tadi. Soal... kapan kita akan baikan?"


Arnold memalingkan wajah nya. Menatap pemandangan di depannya.


Arnold menghela nafasnya kasar, "Nanti. Setelah aku bisa merelakan Sekar," ucapnya dengan mata menerawang.


"Sadar juga kau kalau Sekar akan jadi milikku," ucap Arka. Di sambut toyoran kencang di kepalanya.


"Belum tentu! Aku masih berjuang ya!" Ucap Arnold yakin dengan semangat yang menggebu.


A little bit story about them


(Sedikit cerita tentang mereka)


Arka. Arka itu adalah orang yang sangat baik, pengertian, perhatian, lembut dan penuh kasih sayang. Penyuka tanaman dan juga penyuka kebersihan. Arka sudah berteman baik dan lama dengan Arnold. Menurut Arka, Arnold itu orang yang hebat. Arnold pintar, setia kawan, penyanyang, pecinta kebersihan juga dan humoris yang selalu bisa membuat Arka tertawa.


Sifat kasar Arka dia dapat ketika hadirnya Siska. Ketika Siska hadir dan resmi menjadi milik Arka. Arnold memusuhi Arka. Mengujar kebencian dan menyebarkan amarah kepada Arka. Memperlakukan Arka berbalik dari sebelumnya. Arnold kasar kepada Arka. Karena itu Arka juga balik kasar kepadanya.


Selain itu juga karena Viona. Viona dengan tegas mengatkan bahwa penyebab kematian Siska adalah Sekar dengan tujuan agar Arka tak bisa menyatu dengan Sekar dan Viona bisa memiliknya. Viona mencuci otak Arka. Mengelabuinya. Membuat Arka menjadi singa yang garang. Iman Arka yang sedang lemah kala itu pun dapat dengan mudah terasuki hasutan setan.


Arnold. Dia adalah pria sederhana dengan hati dewa. Ayah Arnold meninggal sudah sejak lama. Sejak Pasha masih kecil. Perekonomian Arnold saat itu mengalami masa kritis. Namun dengan suka rela Arka dan keluarganya memberikan pekerjaan untuk Ibu Arnold dengan gajih dua kali lipat dari gajih karyawan biasanya. Itu berlangsung hingga Arnold lulus kuliah lalu menjadi dokter.


Sayang beribu sayang persahabatan keduanya hancur tatkala Siska datang. Gadis cantik itu berhasil merebut perhatian dua pria tampan itu. Tapi hanya satu yang menang. Sehingga yang satunya lagi---- yang kalah mengumpat dan mengujar kebencian.


Hingga akhirnya persahabatan Arnold dan Arka bubar begitu saja. Seolah-olah manusia yang saling tidak mengenal satu sama lain. Arnold melupakan kebaikan Arka begitupun sebaliknya. Hanya karena gadis yang di cinta.


Persahabatan bisa hancur dengan mudah. Namun tidak dengan permusuhan. Itu terjadi kepada Arka. Karena pada kenyataannya dua pria itu masih saling membenci satu sama lain.


Tapi percayalah. Di hati mereka yang terdalam masih ada cinta dan kasih sayang sesama manusia---- sesama sahabat. Ketika yang satu membutuhkan mungkin yang satunya ada dan siap memberikan bantuan. Semoga saja.

__ADS_1


Kasihan gak sama Viona yang mencoba bunuh diri? Mimin sih kasihann. Hmm gak nemu foto yang pas. Ini aja yaa.



__ADS_2