
Mati-matian Arka merayu Sekar. Dari mulai rayuan kucing garong sampai rayuan macan. Hanya agar Sekar memaafkan Arnold. Tapi ternyata tidak yang semudah Arka kira.
Sekar pun sama mati-matiannya menolak bujukan Arka.
Sekar nya sudah mulai aktif ya bund.
"Tapi apa yang udah di lakuin Kak Arnold itu terlalu fatal Ka. Hitung berapa banyak orang yang udah hampir merenggang nyawa gara-gara ulahnya. Aku, kamu dan calon anak kita kalau kamu lupa," entah sudah berapa kali Sekar menyentak lengan Arka yang mengajaknya turun dari brankar lalu menemui Arnold di luar.
"Kan namanya juga khilaf sayang. Emangnya mau diapain lagi? Itu artinya Arnold cinta mati sama kamu. Marah boleh, tapi jangan terlalu lama. Harus inget lho dulu siapa yang selalu ada buat kamu saat aku belum ada," Arka tak menyerah. Ia menarik-narik lengan Sekar agar bangkit dari tidurnya.
"Duh Ka. Aku ngantuk. Permisi tidur sebentar. Utun nya juga kayaknya ngantuk. Assalamualaikum," pamit Sekar kemudian menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
Arka tahu bahwa istri nya ini sedang berpura-pura. Sekuat tenaga ia menarik selimut Sekar, "Ayo Sekar sayang. Maafin. Suami nya juga udah maafin Arnold. Yang terpenting gak ada yang terluka di antara kita."
Sekar membuka selimutnya hingga nampak kepalanya. Menatap Arka dengan intens, "Gak ada yang terluka? Lihat kepala kamu, tangan kamu, tubuh aku. Ini kalau bukan luka apa namanya? Kesenian?" Duh Sekar gemes kalau ngegas.
"Bukan gitu sayang. Tapi kan luka bisa sembuh. Coba liat Arnold sekarang. Dia ngebatin. Tadi aja ngelamun sampai hampir ketabrak." Sekar tak menggubrisnya. Ia kembali menutup tubuhnya penuh menggunakan selimut. Menulikan pendengarannya dari Arka.
"Oh yaudah. Karyawan di kantor aku cantik-cantik. Aku selingkuh sama mereka boleh ya?" Goda Arka.
"Sana. Aku izin selingkuh sama Pak Jayur atau sama Kemal ya," timpal Sekar. Membuat darah Arka mendidih saat itu juga. Sekar tahu saja kalau suami nya itu cemburuan berat.
"Sekar cantik, Sekar polos, Sekar manis, Sekar baik. Kata Ibu Anisa Sekar gak boleh gitu sama orang. Nanti Allah marah. Emang Ibu Anisa pernah ngajarin Sekar membenci orang secara berlebihan?" Arka menirukan gaya bicara Anisa dengan suara di buat-buat.
"Arka utun nya ngantuk," alibi Sekar.
"Gini deh. Ini penawaran terakhir. Valid no debat. Maafkan Arnold, atau siap-siap ngeliat kaki dan tangan aku terluka. Ada banyak properti rumah sakit yang bisa aku gunakan untuk melukai diri aku sendiri."
Hening, Arka tersenyum sinis penuh kemenangan. Ia tahu betul bahwa Sekar nya akan luluh. Ia tahu bahwa yang paling Sekar takutkan adalah Arka terl---
"Iya. Aku siap," ucap Sekar singkat, padat dan menohok. Sampai Arka di buat menganga karenanya.
"Nanti yang jagain utun siapa?"
"Banyak. Ada pak Jayur, Zaki, Kemal."
"Sekar lama-lama aku sentil ya ginjal kamu," mendengar nama lelaki lain di sebut darah Arka berdesir hebat. Itulah kelemahannya.
"Kamu mau nya apa? Hotel bintang lima? Semuanya aku jabanin. Asal maafin Arnold. Kamu gak boleh lupa kalau Arnold paman dari anak kita. Gak boleh lupa juga dia temen aku. Jasanya juga banyak," ucap Arka.
"Mau aku?" Sekar menyibakan selimutnya, "Mau aku kamu diem Ka. Aku masih butuh waktu untuk memaafkan Kak Arnold. Itu dia, karena dia orang terdekat aku bahkan sampai belum bisa nyangka. Apalagi nerima. Aku mohon pengertiannya. Seiring berjalannya waktu, aku pasti bisa kok maafin dia. Tapi nggak sekarang."
Arka duduk di atas brankar. Tepatnya di samping Sekar. Memegangi jari-jemari gadis mungil itu.
"Yasudah. Tapi jangan lama-lama ya," ucapnya. Di balas anggukan oleh Sekar, "Jangan selingkuh juga." Arka memasang muka terzolimi.
__ADS_1
Bibir Sekar manyun mengerucut. Matanya menatap ke atas. Seolah-olah mempertimbangkan titah Arka barusan, "Gimana ya. Tapi Zaki sama Kemal ganteng Ka," ucapnya tanpa dosa.
"Ya Allah Sekar. Untung lagi sakit. Kalau nggak aku udah lempar ke sungai Ciliwung," Arka mengusap wajah nya kasar. Ia paling tidak bisa di begitukan oleh Sekar.
"Emang kamu berani lempar aku ke sana?" Goda Sekar dengan memasang wajah sedikit memelas namun juga tersenyum senang.
"Berani. Dar---"
"Entar biar Kemal yang nolongin. Gitu ya?"
Arka geram sekaligus gemas. Jari jemari Sekar yang tadi sedang di usap halus, ia masukan ke dalam mulutnya. Awal nya hanya di ulum, hingga akhirnya di gigit.
"ARKA SAKIT!" Sekar mengeluarkan jarinya dari mulut Arka. Melihatnya, meniupnya. Ada jejak gigi Arka disana. Namun Arka tak merasa bersalah. Ia justru terkekeh.
"Masih mau godain?" Tanya Arka menaik turunkan alisnya.
"Aww sakit," kini Sekar yang memulai drama. Menekan kuat jari telunjuknya. Meringis. Tapi tentu saja pura-pura. Hanya ingin melihat reaksi Arka.
"Bohong. Sekar kan sekarang sudah pandai berbohong," tebak Arka. Di kata begitu, Sekar semakin meringis. Bahkan hendak menangis. Membuat Arka khawatir seketika.
"Eh? Sesakit itu ya?" Arka menarik jari telunjuk Sekar. Mengelus juga meniupinya.
"Nah kan gak bisa berhenti khawatir," goda Sekar di akhiri kekehan kecil di bibirnya.
"Awas aja Sekar kalau kita udah pulang. Gak ada sedikitpun akses buat kamu bisa keluar. Siap-siap aja ya," ancam Arka dengan menatap Sekar sinis.
"Sayangnya Ayah mau makan apa?" Arka turun dari atas brankar. Berjongkok. Memegangi perut Sekar. Mengusapnya halus. Berbicara dengan mahluk kecil yang berada di dalam sana.
"Sekarang makannya makanan restoran yah. Beef? Steak? Friend chicken, kentang krispy? Boba? Apapun itu. Asal jangan bakso atau yang lainnya. Aku setelah ini keluar dulu ya. Beli makanan sekalian nemuin Arnold," ucap Arka.
"Aku belum lapar Ka."
Lagi-lagi Arka harus mengusap wajah nya gusar. Menghadapi Sekar ternyata tidak semudah yang ia kira, "Ayo dong yang, honey, sweety makannn. Sedikit juga gak papa. Asalkan ada asupan gizi untuk utun. Tuh dia udah meronta-ronta minta makan."
Sekar tertawa renyah melihat ekspresi Arka yang seolah-olah bayi di dalam perutnya itu beneran minta makan. Sekar mengangguk, mengiyakan apa yang suaminya itu katakan.
"Sip. Yang dibeli berarti harus dimakan. Bye, aku pergi dulu. Hati-hati ya. Kalau ada apa-apa langsung kabari. Sekali saja kau kabari Pak Jayur. Akan ku pastikan bibir mu bengkak malam ini," Arka memberi peringatan setelah mengecup kening Sekar lama. Kemudian melenggang keluar.
"Hati-hati Arka," teriak Sekar. Arka mengacungkan Ibu jarinya
*****
Selesai membeli makanan, Arka menemui Arnold yang kala itu sedang berada di caffe depan rumah sakit. Pria itu sedang duduk termenung di temani satu cup Americano Dolce Latte coffe. Tergambar jelas kekecewaan di wajah nya.
Melihat Arka datang, Arnold memasang wajah sumringah. Berharap temannya itu membawa kabar membahagiakan tentang Sekar.
__ADS_1
"Gimana Ka?"
Arka menyimpan makanan yang ia beli untuk Sekar di meja. Kemudian duduk bersebrangan dengan Arnold. Menatap pria itu selama beberapa detik sebelum akhirnya menarik nafas dalam.
Arka menggeleng tanpa mengatakan apa-apa. Namun dari cara menggeleng dan reaksi wajah Arka, Arnold sudah tahu jelas apa maksudnya. Sehingga pria itu menunduk. Mengarungi nasib menyedihkannya.
"Untuk sekarang memang belum bisa. Tapi nanti pasti bisa. Saran ku, tetap berdo'a. Jangan terlalu memaksakan diri daripada Sekar semakin benci. Tapi Sekar bukan wanita pendendam. Hanya saja dia butuh ruang dan waktu."
Arnold tersenyum sekilas sebelum akhirnya mengangkat kepala dan menatap Arka. Memasang senyuman paling menyakitkan.
"Makasih banyak Ka. Setelah ini, aku janji akan menjadi pribadi yang lebih baik dan berhenti menggoda Sekar. Titip Sekar ya, aku permisi. Sampaikan salam ku padanya."
Arnold meraih jaket denim nya. Meninggalkan uang untuk membayar minumannya padahal minumannya masih tersisa begitu banyak.
Dengan setia Arka menatap kepergian sahabatnya itu dengan tatapan nanar. Arka pun tahu bagaimana sedih nya kehilangan ataupun di benci oleh orang yang di cinta. Lagipula, jangan salahkan Arnold mengapa dirinya mencintai Sekar. Maka dari itu Arka tidak begitu marah dan menyalahkan Arnold.
Tapi berbeda teruntuk Sekar. Apa yang dilakukan Arnold kali ini benar-benar kurang ajar. Pasalnya, di saat Sekar lemah semangat lah yang ia butuhkan. Bukan kata-kata hoax semata. Tapi Arnold datang dan membawa kebohongan.
Sementara Arnold. Di saat dirinya sedang di landa emosi, hasutan dari Lucas tentu berpengaruh besar bagi dirinya. Tak sempat berfikir dua kali karena takut kehilangan kesempatan. Maka Arnold pun melancarkan aksinya.
Yang diinginkan Arnold adalah Sekar bercerai dengan Arka. Jika misi nya berhasil mungkin memang benar bahwa gadis itu akan bercerai dengan Arka namun ada beribu luka yang akan ia bawa ke kehidupan berikutnya.
Tapi apakah Arnold berpikir bahwa sepandai-pandainya kita menyembunyikan bangkai sesuatu pasti akan tercium juga bau nya? Sepertinya tidak.
Dan itu terjadi jauh dari praduga Arnold. Nyatanya, dia tidak bisa melihat Sekar terluka. Tidak bisa melihat bagaimana kacaunya Arka. Yang ia lukai bukan hanya satu orang. Sehingga Arnold mengalah pada ego nya sendiri. Mengakhiri dan menyatakan kesalahannya.
Hingga akhirnya berujung mengenaskan. Namun inilah konsekuensi dari kekerasan dan niat buruk seseorang. Padahal di benci Sekar adalah sebuah kutukan yang harus Arnold hindari.
Dan terima kasih nya begitu besar kepada Arka. Pria itu masih saja menganggap Arnold sahabatnya, berbuat baik padanya, bahkan membantunya. Tentu kebaikan Arka berhasil merubah hati dan niat jahat Arnold. Bagaimana mungkin Arnold bisa memisahkan Sekar dengan pria seperti Arka.
Arnold mencengkram kuat jaket denimnya. Melangkah tergesa-gesa. Diiringi air mata.
Sekar nya Arka udah mulai aktif
Huft, susah juga bujuk bumil
Ingin mendapatkan maaf dari Sekar
__ADS_1