
Sekar: Terimakasih untuk segalanya. Terutama, untuk lukanya.
Arka: Dengan siapapun kamu, ku harap kau baik-baik saja saat aku tidak ada di sampingmu.
Arnold: Maaf, tapi inilah kesempatanku
Hingga pada panggilan kelima barulah Arka mengangkatnya. Waluyo tersenyum sumringah. Namun langsung merunduk dan menyingkirkan senyumannya jauh-jauh saat mengingat bahwa yang akan ia katakan adalah berita buruk mengenai Sekar.
"Maaf Mas sebelumnya saya ganggu. Mas Arka lagi kerja gak?"
"Nggak Pak. Emangnya kenapa?" Jawab Arka dari seberang sana.
Waluyo menghirup nafas dalam. Ingin langsung pada inti nya. Agar tak memakan waktu lama.
"Non Sekar pingsan Pak. Sekarang lagi ada di rumah sakit. Di temani Mas Arnold sendirian karena Bu Tami sama Pak Arman gak bisa di hubungi."
Tak lagi ada lagi sahutan dari Arka. Handphone Arka terjatuh ke lantai. Jayur yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat Arka segera menghampiri nya.
"Ada apa Ka? Kok handphonenya jatuh?"
Arka diam membisu. Hingga pada akhirnya Jayur menyentuh pundak Arka, "Ken---"
"Kita pulang ke Jakarta sekarang!" Tegas pria itu. Menutup laptopnya. Membuka lemari baju. Mengemasinya. Dengan begitu tergesa-gesa.
"Lho? Arka kamu gila? Urusan kita disini belum selesai! Mana bisa kembali ke Jakarta."
Pertanyaan dan pernyataan Jayur tak di gubris Arka. Pria itu dengan gesit melipat baju nya asal-asalan. Memasukannya ke dalam koper.
"Ka. Saya bertanya. Ada apa?!" Jayur menghentikan tingkah Arka dengan menarik paksa koper Arka.
Arka menoleh. Menatap Jayur dengan tatapan tidak dapat di artikan. Ada sedih, marah, cemburu dan kecewa terpancar di raut muka Arka.
"Sekar pingsan. Dan di temani Arnold." Menyentak lengan Jayur lalu kembali memasukan baju nya ke dalam koper.
"Tapi kita gak bisa ceroboh gitu Ka! Kerjaan kita disini masih banyak. Lagian cuman pingsan kan? Nanti juga pasti bisa sembuh kok," Jayur tak tahu dimana letak kesalahannya sehingga pada saat itu juga Arka melayangkan bogem mentah.
"Cuman pingsan? Masalahnya Arnold ada disana! Dan Mamah Papah gak ada. Gimana aku gak khawatir!" Ucap Arka dengan dada naik turun. Kesal pada Jayur dan pada dirinya sendiri yang memang beberapa hari ini tidak mengirimi Sekar kabar. Padahal berjuta-juga kali Sekar mengabari Arka.
Arka bukan tak ingin mengabari Sekar. Hanya saja pria itu di landa kesibukan. Jangankan untuk sekadar mengabari Sekar. Makan dan tidur pun sangat terbatas waktunya.
"Sadar Ka! Arnold itu teman mu. Mana mungkin dia ngapa-ngapain Sekar! Kita sudah beberapa hari disini. Sebentar lagi juga kita akan pulang ke Jakarta. Tapi tolong, selesaikan dulu urusan disini."
"Saya tahu kamu cemburu. Tapi bukan berarti kamu harus bertindak gegabah. Dengan kembali nya kamu ke Jakarta apa yang akan kamu dapat? Percayalah, Sekar bakalan baik-baik aja," ucap Jayur sembari memegangi pelipisnya yang mengeluarkan bercak darah merah. Tersungkur hingga ke pinggiran ranjang. Pukulan orang yang lagi marah emang membabi tuli.
"Teman bisa menjadi musuh kapan saja. Sebaik apapun Arnold dia akan berubah menjadi jahat jika dia mau! Manusia itu bukan malaikat yang bisa selalu baik Pak!" Teriak Arka frustasi.
"Iya. Saya ngerti. Tapi coba kamu pikir-pikir lagi. Kalau emang kamu kesini buat main-main doang buat apa kemarin kamu pergi terus ninggalin Sekar? Kalau kamu jadi anak buah cemburu kamu gak akan maju Arka! Sekar juga butuh uang, bukan cuman kasih sayang. Kalau gini caranya udah aja kamu di rumah, ngepet sama Waluyo!" Mungkin sedikit kasar. Bahkan sangat kasar. Namun ternyata mampu menghentikan niat Arka untuk kembali ke Jakarta.
Ketibang melanjutkan debat nya dengan Jayur. Arka memilih meraih handphone nya. Menekan tombol, mencari nama Sekar. Menghubungi nya.
*****
"Kak Arnold. Arka mana?" Mata Sekar mulai terbuka meski belum sepenuh nya. Objek pertama yang ia lihat adalah tubuh tegap Arnold yang sedang tersenyum ke arah nya.
"Arka gak ada," harus nya Sekar senang saat melihat senyum tulus Arnold. Tapi sadar tidak ada nya Arka membuat hati nya kembali terluka.
"Udah coba di telefon?"
Arnold mengangguk, "Udah. Tapi gak di angkat." Arnold ngadi-ngadi. Dari tadi dia di samping Sekar. Kapan nelefon Arka?
"Non Sekar. Telefon dari Mas Arka!!" Waluyo menghambur. Berlari ke arah Sekar. Memberikan telefon genggam nya yang sudah terhubung dengan Arka.
Sekar mengembangkan senyumnya. Sementara Arnold melipat senyumnya. Gadis itu begitu ceria, sumringah saat mendapat telefon dari Arka.
"Halo Ka? Kamu apa kabar? Dimana? Kapan pul---"
"Aku kan udah bilang jangan masukin pria ke rumah! Kamu kenapa bisa pingsan? Sekar. Beribu kali aku ngingetin kamu untuk makan. Kamu pasti gak makan 'kan? Terus kenapa gak dari awal ngabarin Mamah sama Papah? kenapa harus Arnold?"
Terpaksa Sekar harus mengulum senyumnya. Mengganti bahagia nya menjadi luka. Pertanyaan beruntun dari Arka membuatnya ingin menangis seketika.
Arka tak bermaksud berkata seperti itu. Ia yang sedang lelah, mendapat kabar buruk soal keadaan Sekar di tambah cemburu mendadak menjadi emosi. Dan kalimat itu yang lolos dari mulut Arka. Sudah tidak bisa lagi di saringnya.
"Jawab Sekar," bukan. Bukan karena marah. Arka hanya rindu pada gadis kecil nya ini.
"U-udah dulu ya Ka. Ada dokter. Nanti aku telefon lagi." Sekar pihak yang mematikan telefon.
Arnold mengerutkan keningnya. Menengok keluar. Tidak ada satupun dokter yang menuju ke ruangan Sekar. Bagaimana bisa gadis itu mengatakan ada dokter yang datang.
Sekar merunduk. Mengembalikan handphone itu kepada Waluyo. Muka nya yang pucat bertambah lesu. Waluyo bisa membaca gelagat muka Sekar yang sepertinya nampak kecewa berat.
"Mas Arka nya kayak nya lagi kecapean Non. Makannya marah-marah. Dia cuman khawatir kok." Waluyo mencoba memberi Sekar pengertian.
"Iya Sekar ngerti Pak. Arka lagi sibuk kan? Makannya Sekar gak mau banyak bicara. Takut ganggu dia." Sekar mengukir sebuah senyuman. Senyuman menahan luka.
Waluyo tak tahu lagi harus mengatakan apa. Jika terus membela Arka juga kasihan Sekar. Ia yang nanti nya akan menderita. Hingga akhir nya Waluyo permisi melenggang dari sana. Memberikan kesempatan untuk Sekar dan Arnold berbicara empat mata.
__ADS_1
Rasa bersalah tiba-tiba menghampiri Arnold. Ia menatap Sekar dengan iba. Tak tahu ternyata perlakuannya tadi membuahkan bencana kontan.
"Kenapa bisa pingsan? Karena gak makan yah?"
"Selain hal yang tadi Kak Arnold sebutin. Apalagi yang Kakak tau soal Arka?" Tak sedikitpun Sekar menatap Arnold. Ia malah mendudukan dirinya. Menyandarkan punggungnya. Menatap pergelangan tangannya yang terdapat selang infusan disana.
Jelas bahwa Sekar pingsan gara-gara tidak makan sehingga dokter memutuskan untuk menginfus Sekar.
Arnold tercengang. Ia tidak mengira bahwa Sekar akan kemakan omongannya secepat itu.
"A-aku..." mau menggagalkannya? Kenapa? Baru start, harus tancap gas sampai finish.
"Tapi janji jangan drop lagi ya. Hari itu pernah liat Arka ciuman sama Viona."
Sekelebat bayangan bagaimana Arka mengatakan bahwa Sekar lah wanita pertama yang ia cium muncul tiba-tiba. Sekar mencengkram erat selimut yang menutupi setengah badannya kuat-kuat.
"Bukan maksud mau mengadu domba atau apa. Sekar kan tahu sendiri kalau aku menyanyangimu sebagai adik. Kakak mana sih yang rela melihat adik nya terluka?"
"Selain itu apa lagi ulah Arka?"
"A-arka. Dia pernah....," Arnold menggantung ucapannya. Berpikir sebentar sebelum kembali lagi berucap.
"Pernah main sama Viona. A-Arka yang bilang sendiri," Arnold sendiri tidak tahu dan tidak mengerti jalan pikirannya. Mengapa ia bisa sebrutal itu. Melihat ekspresi Sekar yang sepertinya percaya akan perkataan Arnold membuat dirinya semakin menjadi. Berharap bahwa Sekar akan membenci Arka sepenuh hati.
Sekar mencengkram selimut itu semakin kuat, mengunyel nya hingga lecek. Memejamkan matanya. Mengigit bibir nya sekencang mungkin. Berusaha tidak percaya namun tidak bisa.
Sudah lama Sekar hidup bersama Arnold. Bersahabat baik dengannya. Jadi tidak mudah untuk tidak mempercayai Arnold. Lagipula jika di lihat dari kejadian masa lalu apa yang Arnold katakan seperti ada benarnya. Arnold hebat!
Sayatan demi sayatan Sekar rasakan. Dirinya sudah mencintai Arka sangat dalam. Mengapa ia harus tenggelam?
Dirinya sudah menaruh harapan pada Arka. Mengapa harapannya harus putus?
Sekar sudah mengira bahwa kebahagiaan itu ada dan nyata. Namun ternyata, ia salah besar.
Mengapa? Mengapa Tuhan berperilaku tidak adil bagi nya? Lantas kapan kebahagiaan Sekar akan ia dapatkan?
Kini, rasa sakit yang ia rasa lebih menyakitkan dari segalanya. Setelah puas dirinya diterpa badai kehilangan. Mengapa harus ada badai baru berwujud pengkhianatan?
Hebat. Baru kemarin Sekar tertawa bahagia bersama sesosok pria bernama Arka. Kini ia harus kembali ke dunia keterpurukan yang begitu amat sangat dalam, sendirian.
Selucu itukah hidup? Sekonyol itu kah takdir Sekar?
"Kak Arnold bisa tolong keluar sekarang?" Tanya Sekar setelah berhasil membuka kelopak matanya yang sudah basah.
Sekar terlihat berpikir. Tidak, ia tidak boleh seceroboh itu.
"Nggak jadi. Kak Arnold bisa anterin Sekar pulang?"
Arnold menggeleng keras, "Nggak. Kamu masih sakit. Gak boleh pulang dulu."
"Kak Arnold yang anterin atau aku yang pulang sendiri?"
Arnold menghela nafas kasar. Sabar, Sekar sedang sakit. Akhirnya ia mengalah juga dengan mengangguk lemah. Membiarkan Sekar pulang sendiri dalam keadaan sakit begini adalah hal yang paling membahayakan.
"Lho? Non Sekar mau kemana?" Waluyo bangkit dari duduk nya saat mendapati Sekar berdiri dengan di bantu Arnold.
"Mau pulang Pak. Ini," Sekar memberikan sesuatu kepada Waluyo. Sebuah kalung emas, "Bapak bisa tolong jualin ini buat bayar biaya rumah sakit?"
Kening Waluyo mengerut. Tidak lama kemudian ia menggelengkan kepalanya, "Mas Arka udah ngasih saya uang buat bayarin segala keperluan Non Sekar."
Waluyo memang dipercaya Arka memegang keuangan. Karena kalau Sekar yang memegangnya hanya akan jadi santapan celengan monyet di rumah nya. Sekar mana mau menggunakan banyak-banyak uang Arka.
"Sekar mohon. Jual kalung ini, kalau gak cukup pinjem uang Pak Waluyo dulu ya nanti Sekar ganti. Pokoknya jangan pake uang Arka."
Arnold mencegahnya. Mengambil paksa kalung Sekar. Memasukan kalung itu ke saku baju Sekar.
"Aku yang akan bayar. Pak Waluyo pulang duluan ya. Sekar biar saya yang antar pulang."
Waluyo merasa aneh dengan tingkah keduanya. Apalagi saat Sekar melarang dirinya untuk menggunakan uang Arka.
"Karena Mas Arka sibuk apa sampai segitu nya Non Sekar marah?"
****
Sekar merebahkan diri di ranjang di kamarnya. Arnold sudah pergi beberapa menit yang lalu. Itu pun Sekar yang memaksanya.
Sudah pingsan, sudah masuk rumah sakit, sudah di infus namun tak ada sedikitpun keinginan Sekar untuk makan.
Ia hanya menatap langit-langit kamar. Mengingat kata-kata manis Arka yang mampu membuatnya terbang tinggi melambung. Namun ternyata setelah terbang tinggi di jatuhkan dengan begitu kasar. Di hempas oleh kenyataan.
Pikirannya bercabang. Antara harus percaya pada Arnold atau Arka. Sayangnya apa yang Arnold katakan lebih mendekati kebenaran.
*Bertahun-tahun bersama Viona, memangnya tidak tergoda?
Kenapa coba Viona bisa tiba-tiba pergi ke Australia?
__ADS_1
Arka tidak menghubungimu 'kan?
Arka memaksa Siska untuk menyukainya. Padahal Siska menyukaiku*.
Sekar menyumpal telinganya. Menutup nya rapat-rapat. Berusaha menulikan pendengaran dari apa yang Arnold katakan tadi. Ketenangan jiwa nya bisa terusik kalau terus begini.
Saat ini Sekar tidak memiliki pelarian. Mamah Tami dan Papah Arman? Ide buruk. Iyam? Apalagi. Waluyo? Ada di pihak Arka. Anisa? Paling hanya menyuruh Sekar sabar dan kembali pada Arka.
Selain perpisahan, hal yang Sekar benci adalah pengkhianatan. Dirinya benar-benar tidak suka di khianati. Mungkin dulu tidak masalah. Tapi masalah nya sekarang tubuh Sekar sudah milik Arka. Hingga wanita itu frustasi sendiri.
Sekar sibuk memikirkan bagaimana ke depannya. Masalahnya apa Arka benar-benar mencintainya? Dan yang paling parah Sekar berfikir suatu hari nanti Viona akan kembali dan membawa buah hati Arka.
"Janji tinggal janji. Untuk apa bertahan dengan orang munafik? Sekar, sudah banyak penderitaan yang kau alami. Mengapa pula masih tinggal diam?" Sekar menyeka air mata sialan itu. Bangkit. Mengambil secarcik kertas dan tinta hitam. Menuliskan sesuatu di sana.
****
Waluyo mengatakan segala kejadian yang menimpa Sekar siang tadi. Arka tentu marah besar. Arka sudah menghubungi Sekar. Namun gadis itu tak mengangkatnya. Bahkan beberapa saat yang lalu nomor Sekar tidak bisa di hubungi. Membuat Arka stress.
"Pak. Kapan kita pulang? Aku ingin segera pulang. Sekar sedang tidak baik-baik saja," ucap Arka pada Jayur yang sedang sibuk menikmati minuman dinginnya.
"Kalau semuanya lancar. Mungkin besok kita baru pulang."
Jayur geleng-geleng melihat Arka yang sedang cemas itu, "Dihitung gak baru berapa lama kita pergi? baru 4 hari lho. Kok udah kayak orang kesetanan gini? Mentang-mentang pengantin baru."
"Bukan gitu Pak masalah nya. Kalau Sekar baik-baik saja sih seminggu kita disini juga gak masalah. Masalah nya Sekar lagi gak baik-baik aja. Sama Arnold dan sekarang nomor Sekar susah di hubungi," jelas Arka. Tak lupa dengan raut wajah khawatirnya.
"Jadi ceritanya khawatir nih, hm?" Tanya Jayur.
"Gak usah di tanya," tukas Arka ketus.
"Berdo'a aja Ka. Sekar pasti baik-baik aja kok." Tak tahu lagi apa yang harus di katakan, hanya itulah kalimat yang keluar dari mulut Jayur.
****
"Lho? Kok bisa pingsan? Terus Sekar dimana sekarang? Udah sembuh?" Sepulangnya Tami dan Arman, Iyam menceritakan pasal Sekar yang pingsan tadi siang. Lengkap tanpa di bumbui apapun. Di balas keterkejutan yang hebat oleh mereka berdua.
"Sekarang di rumah Pak, Bu kata Waluyo. Katanya Non Sekar minta pulang. Gak mau di rawat di rumah sakit."
Tami mengisyaratkan kepada Arman untuk segera ke rumah Sekar dengan menarik baju pria itu.
"Bi Iyam titip rumah dulu ya." Ucapnya lalu melenggang pergi di susul Arman di belakangnya.
Berulang kali mereka menelefon Sekar. Namun tak ada satupun panggilan yang di jawab. Tentu ketakutan semakin melanda keduanya.
***
"Non? Mau kemana?" Waluyo bangkit dari duduk nya saat melihat Sekar keluar dari rumah dengan mengenakan pakaian rapih.
"Mau jalan-jalan Pak. Titip rumah sebentar yah," pinta Sekar. Diiringi senyuman manis nya.
"Emangnya udah baikan Non? Saya anter yuk. Rumah di kunci aja."
Sekar menggeleng, "Sekar pengen jalan-jalan nya sendiri Pak."
Waluyo tak kuasa menahan. Ia tahu Sekar sedang patah hati. Dan mungkin kesendirian sedikit bagus untuk mengembalikan mood Sekar.
Ketika hampir tiba di pagar luar. Sekar membalikan badannya. Menatap Waluyo dengan nanar. Lalu tersenyum hambar, "Makasih banyak buat semua kebaikan Bapak," ucap gadis itu lalu melenggang pergi.
Waluyo tak tahu apa maksudnya. Yang jelas, ada ketakutan tersirat di hati nya. Apa yang dikatakan Sekar barusan seperti orang yang akan pergi lama dan tidak akan kembali.
Waluyo menepis jauh-jauh pikiran buruk nya. Mencoba kembali berfikir positif dengan mengabaikan Sekar. Tak lupa ia menghubungi Arka dengan mengirimi Arka pesan.
Arka membulatkan matanya saat melihat Waluyo mengirimnya pesan demikian. Yang dimana menyatakan Sekar pergi. Padahal ini malam hari.
"Bisa gak kita pulang nya sekarang? Sekar semakin gawat. Dia pergi malam-malam. Terus bilang sesuatu yang aneh sama Waluyo."
Jayur mengelus dada sabar. Sebelum Waluyo mengirimi pesan, Arka terus saja merengek minta pulang. Padahal Jayur sedang sibuk bekerja. Sementara Arka dari tadi terus berusaha menghubungi nomor Sekar.
"Cuman beberapa jam lagi kok. Sabar dulu aja."
Aku merindukanmu, sangat. Membutuhkanmu lebih dari apapun.
Kau yang kembali. Atau aku yang pergi?
Arka. Janjiku adalah membahagiakanmu. Janjimu harusnya bahagia bersamaku.
Aku merindukannya, sangat
__ADS_1