Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Fakta Tersembunyi


__ADS_3

"Tidak untuk pagi ini! Makanlah di meja makan." Kini gantian Sekar yang terperanjat. Ia menatap Arka tak percaya saat tangannya di tahan agar tidak pergi menuju dapur.


Dengan keras, sekali hentakan, Sekar sudah duduk di kursi meja makan dan terdapat Arka di didepannya.


"Makanlah!"


Dengan rakus, percis seperti orang 3 hari tidak makan, begitulah Arka raup membuka bungkusan makannya lalu memakannya dengan lahap.


Namun sungguh berbeda dengan Sekar. Ia diam bergeming, makanan yang tadi di bawanya masih di genggam erat, matanya tak lepas dari Arka.


"Apa piyama ini membawa pengaruh sebesar itu pada Mas Arka?" Batinnya.


"Kenapa bengong? Mau kubukakan? Sini!"


Saat Arka hendak meraih makanan yang sedang dipegang Sekar, Sekar menolaknya lalu menepis tangan Arka.


"Maaf, aku tidak biasa makan disini." Kursi makan ia dorong menggunakan tubuhnya. Dalam sekali hentakan, Sekar sudah berhasil keluar dari area meja makan, ia berlari ke dapur lalu mengunci pintu dari dalam.


Arka mengikutinya, tapi ia berhenti saat mendengar suara pintu di kunci. Percuma juga mau nemaksa jika Sekar nya tidak mau, malah tega rasanya. Mungkin itu pikirnya.


Ia kembali ke meja makan, melanjutkan sarapan dengan dada sesak. Nasi lembut yang ia makan terasa seperti kerikil-kerikil kasar, tersendat di tenggorokan.


Dipandanginya pintu dapur yang sudah tertutup rapat dimana ada Sekar di dalamnya. Sesaat kemudian ia menunduk, meratapi apa yang sebenarnya terjadi. Tidak! Meratapi apa yang sebenarnya telah ia perbuat selama ini.


Makanan belum habis, selera makan sudah hilang, Arka lebih memilih naik ke dalam kamar dan merebahkan diri disana. Ia bangun terlalu pagi hari ini, masih ngantuk rasanya.


***


Sudah hampir satu jam Arka di dalam kamar untuk merebahkan diri dan menghilangkan penat, namun matanya sedang tidak bisa diajak berkompromi.


Tubuhnya terbaring namun mata dan pikirannya masih terjaga. Bayangan saat Sekar mengatakan bahwa ia akan makan di dapur benar-benar membuat hati Arka terenyuh dan kepikiran hingga sampai saat ini.


Perlahan, ia keluar dari kamar, menuju dapur melihat ada siapa disana. Ya, istri setianya itu sedang berada disana, sepertinya ia akan memasak karena sudah banyak bahan makanan di area dapur.


"Sekar?" Panggil Arka.


Sekar terperanjat saat Arka memanggilnya dengan begitu tiba-tiba.


"Iya?" Tanya Sekar yang kemudian melanjutkan aktivitas memotong bawang merahnya.


"Sedang apa?" Tanya Arka.


"Sedang memasak. Mas mau saya masakin apa?"


Sekar berbalik menghadap ke arah Arka, betapa terkejutnya Arka kala melihat mata Sekar yang berair dan merah, pasti itu karena mengupas bawang.


"Tidak usah, masak saja apa yang mau kau masak." Ujar Arka tanpa berlalu dari situ, ia ingin melihat bagaimana Sekar memasak.


"Hari ini aku akan memasak sayur lodeh, orek tempe dan juga udang cabai." Ia terlihat sangat antusias saat menyebutkan menu makanan yang akan ia masak. Mengapa tidak, itu adalah menu makanan yang Arka suka.


Meski dirinya seorang CEO, tampan dan kaya, namun seorang Arka adalah penggemar makanan rumahan. Menurutnya makanan rumahan sangat enak dan higienis.

__ADS_1


"Paket!"


Sekar menghentikan aktivitas memotong bawangnya saat mendengar ada suara orang mengantar paket dari luar.


"Biar aku liat dulu." Ujarnya sambil berlalu.


Saat Sekar pergi, di saat yang bertepatan datanglah Waluyo sambil membawa keset-keset mobil. Dengan tidak sengaja, ia melihat kehadiran Arka.


"Eh pak bos." Sapanya, namun Arka tidak menjawab.


"Pak bos tahu gak? Itu bu Sekar masak cuman buat pak bos doang loh." Saat Waluyo berkata begitu, barulah Arka mulai serius memperhatikan.


"Maksudnya?"


Waluyo kembali berkata dengan tangan yang masih sibuk menata keset mobil tanpa mengalihkan sedikit pandangan pun pada Arka.


"Bu Sekar itu alergi udang, tidak suka tempe dan tidak suka sayuran." Jelasnya.


"Itu artinya dia tidak memakan semua ini?" Tanya Arka, ia sedikit terkejut.


Waluyo mengangguk "Tidak, hanya saya dan pak Bos saja yang makan makanan itu."


"Lalu apa makanan Sekar?" Mimik wajah Arka semakin serius memperhatikan.


"Kalau gak mie yaa telor." Ujar Waluyo datar.


"Kenapa? Bukannya dia bisa memasak yang lain?"


"Pak Bos sendiri yang mengatakan kepada bu Sekar untuk jangan memasak banyak menu makanan dan hanya boleh memasak 3 macam lauk saja. Maka dari itu, jika beliau memasak 3 jenis makanan yang bapak suka dan ia tidak suka maka dirinya akan mengalah dengan hanya makan Indomie rebus kalau tidak ia akan masak telur."


Waluyo memang sengaja mengatakan ini kepada Arka. Ia tahu Arka ingin dan akan berubah, selain itu, ia juga sudah tidak tahan kasihan kepada Sekar yang pola makannya tidak teratur.


"Bisa saja bu Sekar memasak makanan yang ia suka dan membelinya dari luar saat pak Arka tidak ada, tapi itu tidak ia lakukan. Ia tahu bahwa tidak baik melanggar perintah suami, lebih baik makan dengan telur dadar saja."


Waluyo memang terkenal dengan julukan Jawa Kencreung (Orang Jawa lucu), tapi ia bisa serius juga disaat-saat seperti ini.


Arka melamun, dunianya serasa berhenti. Apa benar ia yang melarang Sekar memasak makanan lain?


"Bapak pasti tidak ingat. Bapak mengatakannya pada saat bapak marah, tapi bu Sekar menganggapnya."


Pada Sekar, Waluyo sudah seperti pada adiknya. Ia benar-benar menyanyanginya. Hanya karena pangkat lah mengapa ia memanggil Sekar dengan julukan 'Ibu.'


Aduan Waluyo mengenai Sekar harus disudahi karena Sekar sudah kembali.


"Ini Mas, paketnya buat kamu. Dari kantor." Ujar Sekar ketika beliau datang sambil menyerahkan sebuah paket dengan senyuman yang merekah.


Arka masih melamun, ia masih tidak percaya pada apa yang dikatakan Waluyo barusan.


"Mas Arka?" Panggil Sekar ketika Arka tak kunjung menjawab.


"Mau aku simpankan di atas?"

__ADS_1


"Eh tidak-tidak." Ujarnya gelagapan sambil menerima paket tersebut.


Sekar tersenyum dan kembali pada pekerjaan awalnya. Dari belakang, Arka menatap punggung Sekar dengan tatapan nanar.


"5 tahun sudah aku bersikap kasar padanya, namun mengapa aku baru menyadarinya dan mengapa ia tidak pernah mengeluh?" Batin Arka.


Ya, sebagian wanita mungkin akan marah, mengeluh ataupun menangis kala dirinya di perlakukan oleh seseorang seperti Arka. Tapi bagi Sekar, diberi tempat tinggal, kebutuhan hidupnya terpenuhi, memiliki status, beban hidup kakek nya ditanggung Arka itu semua sudah lebih dari cukup. Tidak ada alasan untuk mengeluh meski ia tidak sepenuhnya mendapatkan hak sebagai seorang istri.


Justru Sekar lah yang merasa bahwa dirinya harus mengabdi pada Arka. Karena dirinya, Siska meninggal dan Arka harus gagal menikah dengan gadis yang ia cintai. Karena dirinya, Arka nenjadi menderita karena menikahi gadis dengan status keluarga tidak jelas. Karena dirinya, Arka tidak bisa menikahi Viona yang Sekar kira adalah cinta sejati Arka, cinta Arka sampai mati.


Untuk segala kesedihan, penderitaan dan segala kesalahan, Sekar akan menyalahkan dirinya. Ia selalu merasa bahwa dirinya tidak pernah diinginkan di dunia ini dan ia selalu merasa bahwa dirinya adalah biang masalah dan pembawa mala petaka. Jadi, masih di beri kesempatan hidup dan tempat tinggal saja Sekar sudah sangat bahagia, itulah mengapa ia tidak pernah menuntut apapun pada Arka.


"Mas kalau ada yang bisa aku bantu panggil aja, tidak perlu menunggu disini. Disini bau bawang."


Kalimat lembut, imbuhan 'Mas' selalu keluar dari bibir mungil Sekar. Tidak! Ia bukan gadis pembawa mala petaka! Ia hanya gadis malang tanpa dosa yang belum menemukan kebahagiaannya!


"Tidak, aku sedang ingin disini."


Perintah dari suami adalah perintah, tidak boleh dibantah. Setelah Arka berkata begitu, Sekar diam dan menyerahkan segalanya kepada Arka.


"Sekar?" Tanya Arka. Dirinya kini sudah duduk di lantai sambil memperhatikan gerakan Sekar dari belakang.


"Tidak bosan makan mie sama telur terus?"


Sekar yang sedang sibuk memotong sayuran spontan menghentikan gerakannya.


"Ma-maksud Mas?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangan pada Arka, kepalanya menunduk.


"Kalau kau ingin makanan lain, kenapa tidak memasak saja? Kalau tidak ada bahan makanan, kenapa tidak bilang saja?"


Entahlah, kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir Arka. Sifat Singa nya mendadak hilang saat ia merasa iba pada Sekar.


"Makanan lain bagaimana Mas?" Tanya Sekar.


"Seperti sekarang, kau tidak suka semua makanan ini kan?"


Kepala Sekar semakin tertunduk, ia menggigit bibir bawahnya, dalam hati ia bergumam "Bagaimana Mas Arka bisa tahu?"


"Ti-tidak kok, aku suka, sangat suka. Tempe dan udang adalah makanan favoritku." Bagaimana pun juga ia harus berbohong, tidak ingin Arka mengetahui segalanya. Padahal telat lah sudah, Arka sudah tahu semuanya dari Waluyo.


"Bohong!" Gertak Arka.


"Be-benar." Jawab Sekar gugup.


"Yakin?" Tanya Arka.


"Yakin!" Jawab Sekar, berusaha memantapkan Arka.


"Baiklah, selesaikan masakanmu secepat mungkin. Setelah itu, kita makan semua udang itu bersama!"


Sekar terperanjat, matanya terbelalak. Setelah memakan udang, siap-siaplah ia untuk menghadapi gatal-gatal yang hebat. Ah, ada-ada saja CEO kucing satu ini!

__ADS_1


__ADS_2