Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Ini Hotel atau Rink?


__ADS_3

Arnold: Seharusnya aku mengalungkan tasbih di leherku ketika bersamamu. Soalnya bawaannya khilaf melulu.


Jayur menganga saat masuk ke kamar Arka. Ia memutar-mutar badannya sambil melihat keadaan sekelilingnya dengan begitu teliti. Apa pula yang dilakukan Arka ini? Padahal dia baru sampai kemarin malam dan sekarang kamar Arka sudah seperti kamar pecah di pagi hari. Jayur tidak yakin kalau Arka hanya tidur di kamar ini.


"Apa yang kamu lakukan di kamar ini? Tidur atau bermain tinju?" Tanya Jayur. Matanya menatap ke bawah saat tidak sengaja ia menginjak sesuatu, "handphone? Astaga Arka. Handphone saja tergeletak di lantai," ucapnya sambil mengambil handphone tersebut dan menyimpannya di meja samping tempat tidur Arka. "Se stress itu ya kamu ditinggal Sekar sampai begini?" Tanyanya sambil mengambil sebuah selimut lalu di simpan di atas tempat tidur tanpa dilipat terlebih dahulu.


Jayur geleng-geleng kepala saat melihat baju kotor tergeletak di atas ranjang, "Mentang-mentang baju kamu banyak itu baju di simpan sembarangan. Wajar saja Sekar minta cerai. Ia pasti lel--" ucapan Jayur terpotong saat lagi-lagi Arka menatapnya dengan tatapan tajam yang menghunus. Membuat Jayur nyengir kuda.


"Kalau rapih nanti tugas pembersih hotel apa?" Tanya Arka santai lalu duduk di salah satu kursi yang tersimpan di dekat mejanya. Ia kemudian membuka laptop nya yang memang sengaja ia bawa.


"Tapi tidak begini juga Arka. Memangnya kamu nyaman tidur dengan keadaan kamar berantakan begini?" Biar kata Jayur dulunya mantan preman tapi kalau soal kerapihan boleh di adu. Ia bahkan lebih rapih daripada CEO muda di depannya ini.


"Stress Pak di cerain Sekar," aku Arka. Membuat gelak tawa Jayur pecah seketika. Ia tertawa sampai perutnya kesakitan.


"Akhirnya ngaku juga," ucap pria berkumis itu.


"Pak Jayur mau sarapan dulu atau mau langsung ketemu Mamah Lestari?" Tanya Arka sambil mengetik sesuatu di laptopnya. Mungkin urusan bisnis nya. Arka tidak lupa bahwa ia masih memiliki urusan di kantornya.


"Apa saja. Yang terpenting kamu mandi dulu," ucap Jayur sambil menutup hidungnya seolah-olah bau. Lalu mendorong Arka agar pria itu mandi.


"Tidak mandi saja aku tetap tampan," ujar Arka dengan PD nya sambil menyugar rambutnya ke belakang, "Makannya Sekar bertahan 5 tahun denganku," tambahnya lalu bangkit bergegas ke kamar mandi.


"Patut di pertanyakan kenapa wanita seperti Sekar mau berumah tangga dengan Boss berandal seperti Arka padahal Sekar bisa mendapatkan yang lebih baik. Saya contohnya," ucap Jayur ketika Arka sudah berada di kamar mandi. Ia menarik selimut tadi lalu melipatnya.


"Saya bisa mendengar Anda!" Jawab Arka dari dalam kamar mandi. Membuat Jayur langsung gelagapan. Setelah keluar kamar nanti pasti Jayur akan dilempari handuk oleh Arka.


****


"Titip salam yah buat Ibu sama Pasha," ucap Sekar kepada Arnold lewat jendela mobil yang kacanya sedikit terbuka. Arnold tidak turun. Katanya sudah sore-- harus segera pulang setelah mengantarkan Sekar.


"Iya. Jaga diri baik-baik ya. Jangan sampai kelelahan. Nanti Kakak nya khawatir." Arnold menatap teduh mata gadis yang berada di depannya ini. Ia mengulurkan tangannya keluar lalu mengelus pucuk kepala Sekar dengan lembut.


Jantung Sekar dibuat berdegup kencang karenanya. Masalahnya aliran kehangatan yang diberikan oleh Arnold saat ini sedikit berbeda dari biasanya. Sekar bahkan mencengkram erat tali tas selempangnya.

__ADS_1


"Kakak sayang kamu," Arnold memejamkan matanya. Tangan sebelahnya yang berada di dalam mobil mengepal kuat-kuat. Arnold akhirnya kalah akan hasratnya. Ia keluar dari mobil. Menarik tangan Sekar lalu memeluknya erat-erat. Menenggelamkan kepala Sekar di dadanya. Membuat Sekar melotot akan hal tersebut, "Jaga diri baik-baik ya, Dik." Dik adalah imbuhan kata yang paling Arnold benci seumur hidupnya.


Sekar tak asa. Ia mengira kebaikan Arnold ini memanglah semata-mata karena hubungan Adik-Kakak. Ia melebarkan tangannya kemudian memeluk Arnold. Tangannya mengitari perut Arnold. Lalu tersenyum dan ikut memejamkan mata. Merasakan kehangatan yang Arnold berikan.


Sementara Arnold? Entahlah. Jika saja itu bukan di tempat terbuka sudah pastilah ia khilaf. Ada hasrat yang selama ini belum tersalurkan teruntuk Sekar.


"Hati-hati juga Kak. Sekar sayang Arnold," ucap gadis itu anpa perasaan canggung sedikitpun. Memang, adik mana yang canggung memeluk Kakak nya disaat ia benar-benar membutuhkannya?


Arnold melepaskan pelukan tersebut. Ia mendorong bahu Sekar pelan. Harus ia sudahi sebelum dirinya bertindak lebih jauh lagi. Ia tak ingin Sekar membencinya.


Arnold memegang kedua belah pipi Sekar yang mulai berkeringat-- pasti karena kelelahan, "Pulang ya. Besok kita ketemu lagi." Ucapnya.


Tidak. Arnold tidak dapat menahannya. Ia meraih kepala Sekar. Mendekatkan wajah Sekar ke wajahnya. Dalam hitungan detik saat itu juga Arnold mencium kening Sekar. Lama dan sangat dalam.


"Iya. Makasih, Kak." Ucap Sekar sambil ikut memejamkan matanya. Tak tahu bahwa sebenarnya ada yang berbeda di diri Arnold saat ini.


Tubuh Arnold panas seketika saat benda kenyal miliknya mendarat di kening mulus Sekar sementara gadis itu diam tidak memberontak.


"A-aku pulang ya. Jaga diri baik-baik. Be-besok mau dibelikan apa?" Ah nafsu pria memang sangat besar sepertinya. Lihatlah. Ia langsung gelagapan setelah berhasil mendaratkan ciuman di kening Sekar padahal Sekar nampak biasa-biasa saja.


Semangat? Oo tentu. Pulang kerja otw panti asuhan. Nangkring sama Sekar.


"Iya. Babay," Sekar menarik tangan Arnold. Mencium punggung tangan pria itu. Membuat Arnold mengelus rambut Sekar, "Kayak sama suami aja," ucapnya.


"Hah?" Sekar melongo.


"H-hah? Eh tidak. Aku pulang. Titip salam untuk semua yang berada di panti asuhan." Ia menaiki mobil Avanza putih nya. Melambai-lambaikan tangannya pada Sekar yang dibalas juga oleh Sekar. Kemudian mobil nya menghilang dari pandangan Sekar.


Sekar hendak masuk. Namun atensi nya teralihkan ketika seseorang dari seberang sana datang ke arah Sekar dengan bertepuk tangan.


"Ganteng semua ya cowok yang kamu dekatin, Sekar," ucap wanita itu sambil mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum smirk.


Sumpah demi apapun Sekar sedang tidak ingin melihat wanita satu ini. Bisa dikatakan dia salah satunya penyebab iman Sekar goyah hingga memutuskan untuk bercerai dengan Arka.

__ADS_1


Sekar hendak masuk. Namun Viona menahannya, "Sudah berhasil melupakan Arka? Semudah itu kah? Sekar-Sekar. Apasih arti pernikahan 5 tahun bagimu? Hanya numpang makan dan minum saja? Pantas Arka memperlakukanmu bak pembantu."


Sabar Sekar. Ingat, dia ini iblis. Ditampar pun tidak akan mempan.


Sekar menghempas tangan Viona dengan kasar, "Apa urusan Anda?" Tanyanya ketus.


Viona semakin menjadi. Ia tertawa lalu kembali bertepuk tangan, "Berani berkata ketus begitu? Harusnya kau sadar Sekar. Arka sedang tidak ada di pihakmu. Kenapa kau jadi sangat berani, hm?" Viona menoyor kepala Sekar.


"Berani. Mengapa tidak? Siapa Anda?"


Mungkin Sekar akan diam saja jika yang ia ganggu hanyalah Arka dan ketika Sekar masih memiliki hubungan dengan Arka. Karena Arka memang jeratan bahaya.


Tapi sekarang? Tidak ingin rasanya Sekar diam saja. Ia sudah bebas dari Arka dan harus bebas juga dari Viona.


"Aku? Orang yang dicintai Arka," ucap Viona.


"Orang yang dicintai apa orang yang mencintai?" Tanya Sekar. Membuat Viona panas di tempat seketika.


"Sudahlah Sekar. Kau sudah kalah. Sekarang tinggal giliranku untuk mendapatkan Arka. Kenapa? Tidak suka?"


Sekar menyipitkan matanya. Ia tersenyum. Kemudian maju beberapa langkah mendekati Viona hingga Viona mundur. Jarak mereka sangat dekat saat ini.


"Boleh saya jujur? Baiklah. Akan saya katakan berhubung Anda calon istri Arka. Arka itu adalah SAMPAH," ucap Sekar penuh penekanan.


"Dan saya sudah tidak ingin memungutnya. Mungkin pemulung lain ingin memungutnya. Seperti Anda?" Alis Sekar terangkat sebelah.


Viona semakin panas. Kepalanya sudah mengepul. Tangannya mengepal. Siap menerjang Sekar, "Kenapa? Marah?" Tanya Sekar melihat raut wajah Viona.


Sekar mundur beberapa langkah. Ia memperhatikan Viona dari atas sampai bawah.


"Sayang sekali. Padahal Anda cantik. Tapi yasudahlah. Ada kok pemulung seperti Anda di belahan dunia ini," ia menjeda perkataannya. Mengambil ancang-ancang pergi, "Selamat mendaur ulang sampah itu dan membuatnya menjadi lebih berguna."


Sumpah demi apapun rasanya Viona ingin mencabik-cabik wajah Sekar lalu memberikannya untuk dijadikam makan malam kambing peliharaannya. Sayangnya ini adalah kandang Sekar--- panti asuhan. Bisa-bisa dia yang dijadikan santapan malam anak panti.

__ADS_1


"Terserah. Yang penting aku akan mendapatkan Arka," gumam Viona lalu melemggang pergi.


__ADS_2