Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Ha-Hamil?!


__ADS_3

Arka: *Aku malu telah berprasangka buruk pada-Nya. Harusnya aku tahu, bahwa Dia mengetahui apa yang tidak ku ketahui.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...


Kalau saja tidak aja Jayur yang membekap mulutnya. Pasti Arka akan berteriak sekenanya.


"Awww ARKA! TANGAN SAYA KAMU GIGIT!" teriak pria yang berdiri di samping Arka. Niat membatalkan teriakan Arka, malah dia yang berteriak.


"Heh sidrom anjing herder kamu?!" Teriak Jayur tak asa sembari mengibas-ngibaskan tangannya.


"Do-dokter tadi bicara apa?" Beo Arka.


"Tuli! Udah suka gigit, tuli pula!" Begitulah marah nya seseorang yang di gigit.


Ketika dokter Sri hendak pergi. Arka mencekalnya. Mencengkram kuat bahu dokter itu, "Aw sakit Pak!"


"Barusan dokter ngomong apa?"


"Astaga. Ternyata kurang jelas ya? Ibu Sekar dan bayi nya selamat. Mungkin hanya perlu waktu beberapa hari untuk bisa sembuh total. Tapi harus di pastikan beliau makan teratur. Terus istirahatnya jug---"


"SEKAR!!!!" pria itu berlari. Menghambur ke arah Sekar yang sedang sibuk memejamkan matanya.


Arka Memeluk perutnya. Menempelkan kepalanya di sana.


Kemarin, kesulitan menggambarkan betapa sedih nya. Sekarang, betapa sulit nya menggambarkan kebahagiaannya.


Kalau setiap mendapatkan kesedihan tapi seusai nya mendapat kebahagiaan begini. Mungkin Arka rela terus menangis lalu tersenyum.


Bahkan apa yang di dapatkan lebih dari cukup. Lebih dari perkiraan. Mau kecewa lagi ke Alllah, malu. Nyatanya Dia yang lebih banyak kecewa.


Tapi kecewa nya Dia ternyata tidak lama. Lihatlah bagaimana sang Maha Kuasa memberikan umat nya kebahagiaan setelah penderitaan. Lihat lah bagaimana yang Maha Kuasa memberikan obat penenang setelah duri di cabut.


Tak dapat di pungkiri. Semuanya melenceng dari pemikiran. Namun ternyata begitu indah realitanya. Boleh ya menyimpang sebentar? Hayo sini orang-orang yang selalu mengatakan bahwa realita tak seindah ekspetasi. Hilih. Kaliannya saja yang kurang berdo'a dan berusaha. Malu loh mau bilang makasih pas ekspetasi itu jadi kenyataan.


"Kamu tau apa yang dikatakan dokter barusan?" Memunculkan kepalanya dari perut Sekar. Di sorot matanya ada banyak berlian. Bersinar secara bersamaan. Kebahagiaan yang belum pernah Sekar dapatkan.


"Kamu hamil! Ada Arka Junior disini. Ada Kara nya kita. Lihat. Halo sayang, ini Ayah Arka. Nanti mau panggil Ayah atau Papah?" Maaf, ternyata gila nya belum sembuh. Mengelus perut Sekar seperti mengelus kepala. Berbisik di dekat pusarnya. Menempelkan telinganya.


"Mau panggil Papah? Hmm boleh sih. Kalau sama Kakek Arman? Panggil opa ya?"


Kesenangannya hilang saat melihat raut wajah Sekar yang datar. Dingin tanpa ekspresi. Sehingga Arka harus mengulum senyumnya. Mungkin, menyimpannya untuk nanti.


"Kok gitu ekspresi nya? Gak seneng ya punya utun? Itu lho Arka junior. Nanti kamu deh yang ngasih nama. Nanti kita ajak Zaki buat syukuran bersama." begitulah antusias nya. Nyengir kuda. Menampilkan seluruh gigi graham nya.


"Pergi." Satu kata yang mampu membuat Arka membulatkan mata.


"Hah? Pergi kemana?" Beo nya.


"Aku minta pergi," usir Sekar tanpa basa-basi. Percayalah, Arka lebih suka Sekar tidak bisa bicara.


"Pe-pergi kemana?"


"Arka! Aku minta kau pergi!" Ada kekesalan yang mendalam di raut wajah Sekar yang tak dapat Arka artikan. Yang jelas, ia terkejut mendengar teriakan menggema itu. Tak ingin Sekar kenapa-napa, Arka mengalah. Meninggalkannya dengan perasaan bingung tak karuan.


"Arka," panggil Sekar ketika Arka sudah berada di ambang pintu.


Arka menoleh dengan semangat. Di suruh kembali? Ya, keinginannya. "Iya?"


"Jangan berharap banyak soal anak ini." Mematung lama sebelum akhirnya di usir lagi dan ditarik Jayur dari luar.


"Arka udah? Sekarang giliran Mamah ya yang nemuin Sekar. Babay. Bismillah. Semoga anak dan cucu ku baik-baik saja." Ucap nya mengusap wajah setelah menengadahkan tangan.


"Sekar!!!" Tak ada balasan sambutan. Bahkan yang di sambut tersenyum pun tidak. Lain hal nya dengan yang datang. Tersenyum begitu lebar.


"Sekar Ya Allah. Kamu kenapa kok bisa gini sih sayang?" Tangisan haru nya mengudara. Melepas rindu lewat pelukan dan air mata.


Tapi lagi-lagi ekspresi Sekar hanya datar. Tak tahu harus berbuat apa. Ia benar-benar muak pada segalanya. Ingin mati pun bahkan tidak bisa. Bagaimana tidak kesal?


"Sekar?" Tami keheranan lantaran putri nya itu tak menyahuti sama sekali.


"Sekar?" Keheranan semakin menjadi saat tak sedikitpun Sekar memalingkan muka menatap wajah Tami.


"Ka-kamu kenapa? Kok diem? Sekar ada yang sakit yah? Mamah panggilin dokter ya," tangannya meraba tubuh Sekar. Dengan kekuatan seadanya, Sekar menyentaknya.

__ADS_1


"Pergi." Kata yang mampu memporak-porandakan hati Tami. Kerinduannya belum selesai. Mau pergi bagaimana?


"Lho? Sekar kok gitu? Ini Mamah loh sayang. Sekar gak am-- nggak kok. Kata dokter Sekar gakpapa. Alhamdulilah banget ya. Sekar tenggelam kata nya cukup lama. Untung sungai nya gak terlalu dalam. Abis itu ada banyak orang yang do'ain Sekar makannya Sekar sel---"


"Aku bilang pergi!" Teriakannya begitu menggema. Terdengar sampai keluar. Dan yang di dalam mematung bagai terserang listrik tegangan besar. Teriakannya mampu menerobos ke hati paling dalam.


Satu detik, menatap Sekar dengan tatapan tak dapat di artikan.


Dua detik, bibir nya bergetar.


Tiga detik, matanya bergelimang.


Empat detik, tangisannya pecah.


Detik kelima berlari keluar. Di sambut Arka dan Arman.


Detik keenam Arnold datang lengkap dengan seragam dokter nya.


"Lho? Mamah kenapa Mah?" Arman yang paling khawatir.


"Pah," Tami menyembunyikan kepalanya di dada Arman.


"Iya ini. Mamah kenapa? Sekar baik-baik aja kan? Tadi kata dokter kita punya cucu. Bener? Papah mau masuk dong. Mau ngobrol sama Sekar."


"Sekar Pah...." menangis sesegukan, "Sekar ngusir Mamah."


Semuanya membungkam mulutnya. Kecuali Arka. Ia adalah salah satu korban pengusiran.


"Mamah kalau ngomong jangan ngaco deh. Mana mungkin Sekar ngusir Mamah."


"Saya permisi bicara sama Sekar," ucap Arnold. Arka menahannya. Menarik tangan pria itu. Mengajaknya berbicara di luar.


"Apa yang Anda bicarakan dengan Sekar?" Bahasa baku Arka telah kembali. Ia menyeret Arnold ke tempat parkiran.


"Bicara apa? Gak ada," tersirat jelas kebohongan di matanya.


"Ngaku sebelum Sekar yang ngaku," teriak Arka. Lengan baju nya sudah di gulung. Agar bisa memudahkan memukul Arnold.


Bugh!


Tanpa ragu lagi. Sudah pasti Arnold akan mengelak. Makannya di hujani pukulan.


"Baik. Tidak usah mengaku. Aku akan bertanya pada Sekar setelah ini. Kalau saja ada apa-apa. Maaf, sepertinya nyawa yang harus membayarnya. Baik itu nyawaku. Atau mungkin... nyawamu." Kemudian beranjak. Meninggalkan Arnold yang masih tersungkur. Tujuannya adalah ruangan Sekar.


"Mau apa lagi kesini?" Tanya gadis yang meringkuk lemah itu.


"Mau ada yang di bicarakan. Ini soal Arnold. Yang dia katakan itu semua tidak benar. Arnold bicara apa saja? Dia mengada-ada."


"Penjahat mana yang mau mengakui kesalahannya," potong Sekar.


"Bukan begitu Sekar. Tapi apa yang Arnold katakan tidak bisa di percaya," ucap Arka.


"Iya. Tadinya aku tidak mau percaya. Tapi tidak bisa."


"Percaya mana. Aku suamimu atau Arnold yang hanya teman mu?"


Sekar tersenyum menyungging, "Cih. Jangan berlindung di topeng suami," ucap nya ketus. Membuat keyakinan Arka ragu bahwa yang ada di hadapannya ini adalah Sekar.


"Maksudnya? Arnold bicara apa saja sih? Apa d--"


"Apa yang kau inginkan Arka? Anak? Kebahagiaan? Bagian enak nya? Sudah cukup kan sekarang? Masih belum puas melihat ku terluka? Masih butuh keturunan? Baik. Setelah dia lahir," Sekar menunjuk perutnya. "Akan kuserahkan padamu dengan suka rela. Aku akan menjaga nya selama dalam perut ku. Kemudian memberikan nya padamu. Membiarkan dirimu membesarkannya."


Sekar benar-benar mengecoh Arka. Mencoba menghabisi kesabaran Arka.


"Sekar! Jangan ngawur kamu kalau bicara."


"Ini," Sekar menunjuk cincin kawinnya. Melepasnya dengan paksa, "Tidak usah di pasang lagi disini!" Melemparnya ke depan Arka.


Arka menatap cincin yang masih menggelinding di lantai. Membungkuk lalu memungutinya, "Sampai kapanpun tak akan ku biarkan cincin ini lepas dari tanganmu."


"Bodoh! Kenapa pula aku mau memakai cincin itu!" Teriakan Sekar mendominasi. Di susul isak tangis. Yang menurut Sekar air mata sialan. Mengapa pula harus menangisi Arka.


Arka tak kuasa. Masa bodo dengan penolakan. Ia mendekati brankar. Memeluk tubuh Sekar.

__ADS_1


Apa yang dilakukan Sekar di luar praduga. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh Arka.


"Jangan pernah peluk atau sentuh aku lagi! Siapkan surat cerai! Jangan pura-pura perduli soal aku lagi! Keluar sekarang atau ku bunuh anak ini?!" Tangannya mengepal. Siap melayangkan tinju di perut.


Ini kah marah nya orang sabar? Selama ini Sekar selalu bungkam. Menyembunyikan rasa sakit nya sendiri. Tak pernah semarah ini. Apalagi sampai pikirannya mendadak konyol.


Semarah itukah ia? Sekesal itukah ia? Sampai rela menyebut akan membunuh anak yang bahkan belum tumbuh dan melihat indah nya dunia.


"Apapun yang terjadi. Aku tidak akan menceraikanmu," ucap Arka lalu mundur pergi.


"Persetan dengan segalanya! Setelah anak ini lahir aku akan pergi! Meninggalkan segala perih ini. Masa bodo dengan anak tanpa Ibu!"


Sadarkah Sekar pada apa yang ia ucapkan barusan?


"Satu yang perlu kau tahu. Bahwa yang Arnold katakan tidak lah benar. Percaya atau tidak terserah. Tak perduli semarah apapun dirimu. Aku tetap tidak akan menceraikanmu."


Arnold memperhatikan segalanya. Apa ia senang? Apa ia puas? Tidak. Semuanya melenceng jauh dari praduga. Keluar dari alur skenario nya.


Kelakuannya nyaris menghabisi nyawa Sekar dan benih yang ia bawa. Setelah selamat, kini keadaan Sekar buruk. Enggan menerima orang-orang. Dan apa tadi katanya? Mau pergi? Sekar mau pergi kemana memangnya.


Tadinya yang Arnold kira adalah hal simple. Sekar pisah dan Arka lalu bersama dirinya. Mungkin memang benar Sekar akan berpisah dengan Arka. Tapi setelah itu, bagaimana nasib anak yang di kandung Sekar? Tega kah Arnold melihat anak berdosa itu di tinggalkan oleh Ibu nya?


Arka keluar dengan beberapa tetes air mata. Menyenderkan tubuh nya di tembok rumah sakit. Mengucap nama Allah berkali-kali. Memohon ampunan atas segala dosanya.


"Argh," rintihnya.


"Ka sebenarnya Sekar kenapa?" Jayur menimpali. Menyingkirkan rasa penasaran yang tak kunjung terjawab.


"Sekar marah sama saya."


"Iya. Tapi kenapa? Kok bisa?"


"Ka-karena saya hari itu tidak mengabarinya." Arnold membulatkan mata. Dirinya tadi sudah bersiap-siap kena hantam Jayur dan Arman. Tapi ternyata tak sedikitpun Arka menyangkut pautkan Arnold.


"Bohong. Ada hal lain bukan? Mana mungkin Sekar se setress itu hanya karena tidak dikabari olehmu."


"Biarkan Sekar istirahat dulu. Aku mau shalat. Kalau ada apa-apa dengan Sekar kabari aku. Jangan kabari orang lain."


Rasa bersalah di diri Arnold semakin menjadi. Arka sama sekali tak menyebut-nyebut dirinya. Justru menyalahkan dirinya sendiri. Sekarang, mana tega lagi Arnold rasanya untuk terus berupaya merebut Sekar. Melihat ke kacauan Arka, Arnold tahu betapa besarnya cinta Arka pada Sekar.


AAAAAAAA SEKAR HAMILLL!!!!!!!



Makasih Ya Allah





Aaaaaa Sekar hamilll😭





Arka lebay




Sedang mandi pun memikirkan Sekar, Arnold



Stalking IG Sekar


__ADS_1


__ADS_2