
Arka: Sakiti aku, jangan sakiti dirimu. Apalagi sakiti dia, anak kita.
........
Sekar tak bermaksud melukai Arka. Ia bermaksud melukai dirinya sendiri. Menghantam perutnya. Kejadiannya begitu cepat. Arka menundukan kepalanya hingga membuat dirinya yang celaka. Terkena hantaman vas bunga dari Sekar.
Sekar yang saat itu emosi nya sedang tinggi, memukulkan vas bunga dengan sangat kencang. Membuat darah berlumuran banyak dari kepala Arka.
Ada penyesalan di diri Sekar. Bagaimanapun tak dapat di pungkiri bahwa ia terluka ketika melihat Arka terluka. Hati nya memang sakit. Tapi ia tak tega jika harus menyakiti Arka. Keinginannya adalah dirinya yang sakit, bukan Arka. Bukan pria yang ia cinta.
"Arka harus ketemu Sekar bu," Arka sudah selesai di obati. Di baluti perban di bagian kepalanya. Saat ini dirinya sedang bersama Anisa. Tidak ada satupun anggota keluarga yang Arka minta datang ke rumah sakit. Karena Sekar menolak mereka mentah-mentah. Arka hanya meminta kepada mereka untuk mendo'akan Sekar dari rumah. Sementara Arka akan berjuang sendiri mendapatkan ampunan dari Sekar.
"Kamu gak liat Sekar lagi kalaf? Ibu minta kamu disini dulu ya. Biarin kepala kamu sembuh dulu. Ibu juga takut Sekar akan macam-macam. Jujur, Ibu gak pernah liat Sekar seperti itu sebelumnya."
"Justru itu. Saya takut Sekar macam-macam sama dirinya atau anak yang ia kandung. Maaf, saya permisi."
Arka tak kenal lelah. Ia harus kembali kepada Sekar. Mendampingi wanita yang sedang sakit itu.
Langkah Arka terhenti kala tak sengaja ia mendengar Sekar berbicara dengan seorang dokter.
"Ambil salah satu ginjal saya untuk biaya pengobatan rumah sakit ini. Bisa? Jangan sampai ada orang lain yang membiayai saya," ucap Sekar. Terdengar jelas di telinga Arka.
"Maaf Bu. Tapi saya tidak bisa. Lagipula pihak keluarga Ibu yang berkata akan menangani biaya Ibu," ucap sang dokter.
"Saya tidak punya keluarga. Saya sendiri, tidak punya harta juga. Lagipula hidup saya tidak akan bertahan lama. Ambil apapun organ tubuh saya yang sekiranya bisa membayar biaya disini."
Tentu dokter itu berat hati untuk setuju atas pinta Sekar.
"Kalau memang harus di bayar menggunakan organ tubuh. Ambil organ tubuh saya," Arka memunculkan dirinya dari luar. Dokter tersebut di buat semakin bingung oleh dua orang yang kini sedang menawarkan organ tubuh nya.
"Tidak usah ikut campur!" Teriak Sekar.
"Dok. Dia istri saya. Saya meminta waktu untuk berbicara dengan dia." Dokter tersebut mengangguk tanda mengerti. Kemudian melenggang dari sana.
"Aku mohon Sekar jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku bisa melakukan apapun agar kau percaya bahwa aku tak pernah main dengan Viona," jelas Arka.
"Iya. Aku percaya," ucap Sekar seraya tersenyum. Arka langsung berbinar mendengarnya. Mengukir senyuman terpanjang yang ia bisa.
"Aku percaya bahwa kau pendusta!" Sambung Sekar.
"Apa perlu nyawa yang membuktikan semuanya?" Tanya Arka. Sekar hanya diam bergeming.
Arka menengok ke kanan dan ke kiri. Mencari sesuatu yang dapat membantunya. Hingga ia menemukannya. Sebuah pisau buah.
"Kalau kau bisa menyakiti dirimu sendiri aku juga bisa menyakiti diriku sendiri. Lihat ini," Arka menyanyatkan pisau itu di tangan bagian atas nya. Tangan sebelah kirinya.
Sekar tak tahan melihat itu. Namun ia tak menahannya. Ia hanya memejamkan mata saat Arka melakukan hal tersebut. Arka pun sama. Memejamkan mata. Menahan perih yang luar biasa.
"Awww," rintihnya ketika darah sudah berkeluaran. Sekali lagi, Sekar masih tetap diam dalam posisi yang sama. Yaitu memejamkan mata.
Arka tersenyum saat melihat bagaimana Sekar ketakutan dengan memejamkan matanya. Tak ingin buang-buang waktu dan buang-buang kesempatan. Saat itu juga Arka menyambarnya. Menyambar bibir yang saat ini berwarna keputihan.
"Arka sialan!" Teriak Sekar saat sadar bibir nya di sentuh.
"Tanganku sakit," ringis Arka manja.
"Terus?" Tanya Sekar ketus.
"Seperti waktu itu. Sembuh jika hanya di cium," ucap Arka. Mencoba memodusi Sekar. Setahunya, Sekar akan luluh jika di rayu.
__ADS_1
"Luka tonjok hari itu kau terlihat begitu khawatir. Masa luka separah ini biasa-biasa saja?" Tanya Arka. Menunjuk perban di kepala dan darah di tangannya.
"Baiklah. Tidak perlu di cium. Cukup senyum saja," pinta Arka. Tak sedikitpun Sekar menggerakan bibirnya untuk mengulas sebuah senyuman.
"Kalau aku yang mati bagaimana?"
Jujur Sekar terkejut mendengar kata itu dari Arka. Matanya membulat sempurna. Benar, Sekar takut kehilangan Arka. Sekar tak ingin Arka menderita. Sekar tak rela Arka terluka. Buktinya, Sekar lebih memilih melukai dirinya sendiri. Lebih memilih menghilang dari muka ini. Lebih memilih terluka daripada melukai.
Mau sedalam apapun Sekar menyembunyikannya tetap saja kelihatan jelas bahwa ia menyayangi Arka. Mau sepintar apapun mengelak, tetap tak bisa.
Karena pria itu, Arka adalah cinta pertamanya. Pria yang mampu memberikannya kebahagiaan meski dikata hanya sesaat. Pria yang mampu membuatnya merasakan apa itu cinta.
"Kenapa diam? Tidak rela ya kalau aku yang mati," Arka membungkuk. Kemudian mengambil sebuah kursi. Duduk si samping Sekar. Meraih tangan kiri Sekar. Diam-diam memasang kembali cincin pernikahannya. Tentu tanpa sepengetahuan Sekar. Karena gadis itu masih sibuk dengan keterkejutannya.
Arka tersenyum penuh kemenangan. Lagi-lagi dirinya berhasil memasang benda berharga itu. Padahal sudah beberapa kali Sekar membuangnya.
"Begini saja. Kau hidup bahagia, dengan semua harta dan semua benda yang kau inginkan. Sebagai gantinya, aku yang tidak ada. Boleh ya?"
Percuma hidup dengan harta berlimpah tapi kehilangan orang yang di sayang. Begitulah kira-kira pemikiran Sekar.
Arka bisa membaca raut muka Sekar. Ia menemukan sesuatu yang baru disana. Dimana sepertinya Sekar tak rela jika Arka mengatakan dirinya akan tiada. Dimana Sekar terdiam saat melihat darah Arka bercucuran.
Karena memang sulit di elakan. Sekar mencintai Arka sepenuhnya. Tak rela kehilangan Arka. Tak rela kehilangan cinta pertama.
"Biasanya yang lebih dibutuhkan seorang anak adalah seorang Ibu daripada seorang Ayah. Aku pamit ya. Terimakasih sudah mau merawat Arka junior. Kalau suatu hari nanti dia bertanya dimana Ayah nya. Bilang saja Ayah nya pergi bekerja," tentu saja Arka bercanda. Menggoda Sekar adalah kebiaaaan baru untuk Arka. Kebiasaan baru yang menyenangkan.
Sekar tak bisa berkata apa-apa. Arka ini memang hebat melakukan suatu hal yang bisa menguyel hati Sekar.
"Mau dengan cara apa? Jangan dengan cara menceburkan diri ke sungai. Aku saja gagal. Lebih bagus pakai pisau atau pakai truk."
Arka menganga mendengar penuturan Sekar. Bisa-bisanya ia malah memberikan penawaran metode bunuh diri kepada Arka. Padahal kan Arka hanya bercanda.
"Mau bunuh diri? Silahkan. Asal jangan di depanku," ucap Sekar kelewat santai. Masa iya Arka harus benar-benar bunuh diri?
"Memangnya kau mau jadi janda?" Tanya Arka.
"Siapa yang akan jadi janda? Masih ada pak Jayur," ucap Sekar santai.
"Heh! Sekalian aja sama duda tetangga sebelah," ucap Arka kesal.
"Iya. Duda lebih menggoda," jawab Sekar. Berusaha menahan tawa. Ia senang ketika melihat Arka cemburu.
"Sekali kau mampir ke rumah duda itu. Kupastikan kau kesakitan sepanjang malam!" Teriak Arka. Berusaha mengancam Sekar yang katanya mau mampir ke rumah duda.
"Aku akan menginap di rumah duda itu," ucap Sekar.
"Oh? Yakin ha? Sebelum itu terjadi aku akan mengurungmu di kamar! Akan membuatmu tidak bisa berjalan kemana-mana," teriak Arka.
"Aku sudah biasa. Jadi aku bisa berjalan," ucap Sekar begitu santai namun masih berusaha menahan senyumnya. Muka Arka sudah merah padam. Menahan cemburu yang menggebu.
"Aku akan melakukannya lebih bringas daripada sebelumnya! Bahkan akan membuatmu benar-benar merasa nyeri!" ancam Arka.
"Oyah? Apa kau bisa hah?" Tanya Sekar. Gagal. Ia sudah tertawa. Tapi tidak dengan Arka. Ia terlihat marah.
"Apa sih yang tidak Arka bisa? Membuat Arka junior saja bisa secepat itu," ucap Arka menaik turunkan alisnya.
Kening Sekar mengerut. Sebenarnya kemana sih arah pembicaraan Arka? Sekar berpikir dirinya di ikat oleh Arka. Kenapa Arka justru berpikir... ah Arka kan memang mesum.
"Arka mesum!" Teriak Sekar.
__ADS_1
"Sekar polos!" Teriak Arka. Kemudian keduanya tertawa. Menertawakan lelucon yang entah dimana lucu nya.
"Kita ngetawain apa sih?" Tanya Arka setelah berhasil menghentikan tawanya.
Sekar menggeleng, "Ngetawain duda kali."
Apapun itu. Arka bahagia. Bahagia melihat Sekar tertawa meski tahu Sekar belum sepenuhnya memaafkannya. Dan pada kenyataannya, Sekar tidak bisa marah berlama-lama kepada Arka. Meski hatinya masih sakit. Ia tetap tidak tega jika Arka harus terluka.
"Itu tangannya obati dulu Ka," ucap Sekar sembari menunjuk luka di tangan Arka menggunakan dagu nya.
"Lebih enak terluka seperti ini," ucap Arka mengidikan bahu nya.
"Mana ada luka enak! Aku bilang obati Arka!" Teriak Sekar.
"Aku bilang tidak mau!" Ucap Arka memalingkan mukanya. Bibir nya menggerutu. Membuat ekspresi yang mampu membuat Sekar geram sekaligus gemas secara bersamaan.
"Kau nakal ya!" Teriak Sekar.
"Iya. Memangnya kenapa?" Tanya Arka.
"Aku bilang obati ya obati!" Teriak Sekar.
"Mana obat nya? Siapa yang mengobatinya?"
Sekar celingukan. Menengok ke kanan dan ke kiri mencari obat yang bisa di gunakan untuk Arka, "Sekar memang polos," batin Arka seraya mengulum senyum.
"Coba tanya dokter. Disini tidak ada obatnya," ucap Sekar halus.
"Ada," jawab Arka.
"Mana?"
"Ini," satu kecupan penuh arti mendarat di bibir mungil gadis itu. Awal nya ia berontak, namun lama-lama diam juga. Dusta jika Sekar tidak merindukan ciuman ini. Ia sangat merindukannya. Teramat sangat.
"Sudah sembuh."
Dan rasanya masih sama. Seperti kali pertama. Penuh kelembutan, keharmonisan. Ada kehangatan dan kasih sayang yang di salurkan. Mampu membuat kinerja otak Sekar terhenti seketika.
Menatap Arka dengan tatapan tak percaya. Ingin marah namun tak bisa. Karena pada kenyataannya ia merindukan Arka.
"Ingin marah? Silahkan. Mau menampar? Nih tampar," Arka meraih tangan kiri Sekar. Menampar-namparkannya di pipinya.
"Tapi kau perlu tahu bahwa aku menyanyangimu. Menyanyangi anak kita. Dan aku tidak pernah bermain gila dengan Viona. Sumpah demi apapun itu. Kalau tidak percaya, bagaimana kalau kita suruh Viona balik lagi ke Indonesia. Periksa segalanya. Kita pastikan bahwa apa yang kau dengar itu salah."
Hmm. Sekar melting sama Ark
Gimana Arka gak mesum kalau deket Sekar coba?!
__ADS_1