Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
S3 KOG


__ADS_3

Sekar: Tidak ada langkah yang salah jika itu atas petunjuk Allah.


.....


Sekar ambruk memeluk Anisa yang saat itu menyambutnya di belakang pintu masuk. Sementara Arka, pria itu sudah kembali ke rumahnya. Mungkin akan menyempatkan diri untuk menengok Lestari sebentar di rumah sakit.


"Kamu kenapa?" Tanya Anisa dengan raut muka khawatir.


"Sekar bahagia... Sekar bahagia...," ucap Sekar tanpa melepaskan sedikitpun pelukannya dari Anisa. Padahal nampaknya Anisa mulai tercekik.


"Ohok. Ohok... bisa tidak lepaskan pelukannya? Kita bicara di kursi saja."


Sekar mengangguk. Dengan penuh antusias gadis itu menarik lengan Anisa untuk duduk di kursi ruang tamu.


"Bahagia kenapa? Coba ceritakan."


Sekar menarik nafas panjang. Ia tertawa sebelum akhirnya mulai bercerita, "Sekar bukan Adik Arka. Dan... Arka tidak jadi menceraikan Sekar." Sedikit kata. Namun binar mata Sekar mampu mengungkapkan betapa bahagianya dia.


"Alhamdulilah," Anisa mengusap wajahnya. Bersyukur kepada Allah, "Terus bagaimana?" Tanya Anisa.


Senyuman itu tiba-tiba saja pudar. Kini Sekar merunduk. Begitu tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah, "Sekar tidak tahu," imbuhnya lirih.


Kening Anisa membentuk lipatan-lipatan kecil. Tak mengerti pada apa yang menimpa Sekar, "Kok tidak tahu sih?" Tanyanya.


"Kabar membahagiakannnya sih hanya Sekar bukanlah Adik Arka. Kata Mamah Tami, Viona lah Adik Arka. Sudah itu saja," Sekar memandang pemandangan luar dari jendela. Jari-jemarinya bertautan. Mengeluarkan suara perpaduan antar kuku.


"Yakin hanya itu saja?" Tanya Anisa penuh selidik dengan tatapan memicing.


"Iya."


"Ibu rasa bukan itu saja," Anisa menarik kursinya. Membuat jarak yang lebih dekat dengan Sekar. Mengambil tangan gadis itu. Mengelus punggung tangan gadis itu. Sekar memperhatikan semua gerakan tangan Anisa.


"Kamu pasti bahagia karena akan kembali bersama Arka, bukan?" Tanya Anisa.


Sial, Sekar tertangkap basah. Tapi mau dipungkiri pun susah. Anisa sudah seperti Ibu kandungnya. Pintar sekali menebak apa yang sedang terjadi.


"Arka memang mengatakan tidak akan menceraikan Sekar. Arka juga mengatakan bahwa dia akan membahagiakan Sekar. Menurut Ibu, apa yang harus Sekar lakukan? Haruskah Sekar kembali pada Arka?" Tanyanya.


Anisa menunjuk dada Sekar, "Tanyakan pada hatimu sendiri."


Sekar menggeleng. Melepaskan telunjuk tangan Anisa, "Hati Sekar tidak tahu."


"Kalau hatimu tidak tahu. Mengapa kau tidak bertanya pada yang di atas?" Anisa menatap langit. Menunjukan kepada Sekar siapa yang dimaksudnya.


"Benar. Sekar harus bertanya kepada Allah apa yang sebaiknya Sekar lakukan. Sekar tidak ingin salah langkah, tidak ingin salah mengambil keputusan. Dan tidak ada langkah serta keputusan yang salah jika itu atas kehendak Allah. Sekar yakin itu. Sekar akan bertanya. Sekar akan memantapkan hati Sekar atas petunjuknya."

__ADS_1


Anisa mengusap pucuk kepala Sekar. Mencoba memberikan gadis itu pengertian, "Sangat benar. Dia sang Maha pemilik hati. Tanyakan padanya, apa yang harus hati Sekar lakukan saat ini. Ibu hanya bisa membantu do'a. Tapi yang jelas, Ibu berharap kau akan mendapatkan yang terbaik nantinya." Anisa mencium pucuk kepala Sekar. Mengucapkan do'a teruntuk gadis itu.


****


Jayur menghampiri Arka yang saat ini sedang berada di balkon kamarnya. Pria itu, Arka setelah tadi mengantar Sekar pulang senyumnya terus terpancar. Bahkan ketika dirinya sedang sendiri.


Kalau kata Jayur sih S3 (Senyum-Senyum Sendiri) tambah KOG (Kayak Orang Gila)


"Kayak yang baru menang undian aja. Senyum-senyum gitu," tanpa permisi, Jayur duduk di samping Arka. Mereka berdua lantas memperhatikan indahnya bintang-bintang yang bertaburan di langit malam.


"Lihat itu," Arka menunjuk langit. Tepatnya menunjuk salah satu bintang, "Itu Sekar. Dia sedang tersenyum padaku. Makannya aku tersenyum balik padanya."


Sudut bibir Jayur terangkat, "Bucin dasar."


"Bagaimana? Terbukti bukan kalau Sekar itu memang jodohku?" Tanya Arka sambil menaikan sebelah alisnya.


"Belum tentu," ucap Jayur datar tanpa melihat ke arah Arka sedikitpun.


"Maksudnya?"


"Memangnya kalau dia bukan Adikmu. Yakin dia akan menjadi istrimu?" Tanya Jayur mematikan lawan bicaranya.


"Kau mau merebut Sekar dariku?" Tuduh Arka.


Jayur terkekeh, "Aku tidak akan merebutnya. Tapi bagaimana kalau Allah yang merebutnya?"


Perkataan Jayur barusan mampu menarik perhatiannya, "Maksudnya?"


"Sekar itu sesuatu. Sesuatu yang special. Mutiara di antara ribuan pasir. Banyak orang yang berebutan ingin mengambilnya."


"Salah satunya kau," potong Arka. Membuat Jayur geram dan hampir melemparnya menggunakan asbak.


"Dengarkan dulu atau kunikahi Sekar!" Bentak Jayur.


"Aku tidak yakin apakah Sekar masih bisa menerimamu sebagai kekasih hatinya setelah apa yang kau lakukan selama ini kepadanya. Apalagi jika mengingat ada Arnold yang menyayanginya. Maksudku. Sekar tidak buta, tidak bodoh. Pasti ia ingat betul siapa yang menolongnya di saat dirinya kesusahan," ucap Jayur.


"Itu benar. Aku pun pernah berfikir begitu. Sebuah keberuntungan jika Sekar bisa menerimaku begitu saja. Namun, setelah sikap buruk ku padanya. Akankah ia begitu mudah menerimaku kembali?" Tanya Arka.


"Aku tidak tahu. Lalu, apa yang akan kau lakukan ke depannya? Apa mau menyerah saja?" Tanya Jayur.


"Tidak! Kau sendiri yang mengatakan bahwa Sekar adalah sesuatu. Sesuatu yang special yang tentunya harus ku perjuangkan. Aku akan memperjuangkannya. Aku akan menyayanginya, memberikan ia kebahagiaan yang sebelumnya belum pernah dia rasakan. Tapi aku tidak akan berjuang sendiri. Aku bersama Dia," Arka menunjuk ke atas.


"Dia sang pencipta. Sang Maha pembolak -balik hati dan perasaan manusia. Aku akan meminta izin nya untuk meminang salah satu umat nya. Aku akan merayu nya. Aku akan membujuknya. Aku ak--"


"Jika kau tidak berhasil?" Potong Jayur.

__ADS_1


"Aku akan meminta kepada-Nya agar hatiku di kuatkan untuk melepaskan Sekar," ucap Arka dengan begitu matang.


"Aku tidak menyangka keponakan ku ini ternyata begitu dewasa. Melihat sikapmu yang seperti ini, pasti hati Sekar akan luluh. Aku setuju denganmu Arka. Kau boleh optimis, berharap tapi jangan terlalu tinggi agar ketika kau jatuh itu tidak terlalu sakit. Karena sesungguhnha segala yang di muka bumi hanyalah milik Allah semata. Jika Beliau tidak mengizinkan, maka tidak akan menjadi milikmu tak perduli seberapa besar perjuanganmu. Maka dari itu, perjuangkan penciptanya," Jayur menepuk-nepuk pundak Arka.


"Amin. Semoga Allah mengizinkan Sekar untuk menjadi milik ku. Tapi untuk sekarang ini, tentu boleh dong aku menyentuhnya?" Tanya Arka menaik turunkan alisnya.


"Terserahlah! Mau bikin anak juga terserah. Asal jangan di depanku saja!" Timpal Jayur.


"Yang jelas Arka. Tingkatkan ibadahmu. Kau memiliki saingan. Bersainglah dengan sehat. Jadikanlah Allah ada di pihakmu. Sesungguhnya, tak perduli seberapa kuat sainganmu dan seberapa hebat badai yang menyerang. Jika Allah bersamamu, kau akan menang," ucap Jayur dengan mata berkaca-kaca.


"Dekati Allah, jangan dekati Sekar. Karena jika kau terlalu mendekati Sekar, bisa saja Allah menjauh darimu. Tapi ketika kau mendekati Allah, Sekar akan mendekat kepadamu. Apa yang kau bisikan pada Allah. Akan Allah bisikan pada Sekar."


"Hadist riwayat Jayur."


***


Malam ini juga, Tami dan Arman pergi ke rumah Viona. Untuk memberikan penjelasan kepada gadis itu. Mati-matian Tami mempersiapkan dirinya akan hardikan dari Viona. Tarik nafas-hembus nafas. Tami benar-benar bergetar setengah mati. Masih mending jika Viona hanya menghardiknya. Bagaimana kalau ia sampai tidak mau mengakui Tami sebagai Ibu nya?


Sekilas info. Viona tidak tinggal bersama sosok Ayah dan Ibu nya. Melainkan bersama Paman dan Bibi nya. Sementara Paman dan Bibi Viona sendiri tidak tahu apakah Viona sepupu kandung mereka atau bukan karena Alm. Ibu Viona tidak pernah menceritakannya. Tapi paman dan bibi Viona itu sering di panggil Viona 'Ayah dan Ibu'


Ibu Viona sudah meninggal sejak Viona kecil. Sementara Ayah Viona, ia pergi meninggalkan Viona. Katanya ke luar negeri. Tapi tidak ada yang pernah tahu.


Arman mengelus lengan bagian atas Tami, "Tenang. Semuanya akan baik-baik saja."


Arman adalah sosok suami yang patut di kagumi dan di contoh Bapak-Bapak di seluruh dunia. Ia memaafkan kesalahan istrinya. Tidak kasar pada istrinya. Tidak banyak menuntut, menerima Tami apa adanya. Dan satu lagi, siap sedia menemani Tami dalam setiap keadaan.


"Tapi aku tidak yakin Viona siap mendengarnya," ujar wanita itu lesu.


"Serahkan saja semuanya pada Allah. Tapi aku yakin Viona dapat menerimamu sebagai Ibu nya. Anak mana sih yang tidak mau memiliki Ibu seperti dirimu?" Ujar Arman seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Iya. Semoga saja," Tami menggosok-gosokan tangannya yang tiba-tiba saja terasa dingin. Padahal angin malan tidak seberapa. Suhu Ac mobil juga tidak terlalu tinggi. Namun rasanya tubuh Tami sangat dingin. Hampir beku. Ditambah lagi jantung


nya yang dagdigdug kencang.


"Jangan lupa ucap Basmallah," ucap Arman.


"Bismillahirrahmanirrahim."


*****


"Assalamualaikum," suara bariton itu mengalihkan atensi Viona yang sedang menemani Gilsha belajar.


"Siapa?" Tanya Paman Viona yang sedang membaca koran di ruang tengah.


"Suara Tante Tami," Viona bangkit dari duduknya. Menghambur ke pintu luar.

__ADS_1


"Tantee!!" Viona memeluk wanita tua yang sudah luruh air matanya itu. Dengan segenap jiwa, Tami membalas pelukan Viona.


__ADS_2