
Arka menjatuhkan Sekar dengan sangat kasar keatas ranjang. Dan tidak lama, tubuhnya juga sudah ikut menyusul Sekar yakni berada di atas ranjang.
Sekar tidak mengatakan apa-apa. Ingin menyangkal juga percuma, karena ini sudah bagian dari tugas istri. Ia hanya mengumpulkan kekuatan untuk segera menghadapi milik Arka (milik Arka apa hayo?:v)
Buk!
Dalam satu gerakan saja Arka sudah berhasil menindih Sekar dan mengunci tangannya. Posisi nya sudah berada di atas Sekar.
Kedua tubuh itu kini sudah menyatu.
Entah ada apa dengan Arka saat ini. Mungkin karena stress oleh pekerjaan dan karena stress oleh Viona, dirinya menjadi nafsu dan ia ingin melampiaskannya pada Sekar karena ada perkataan Sekar yang telah berhasil memancingnya, memancing nafsu pria nya.
Arka mulai mendekati wajah Sekar. Perlahan tapi pasti, dirinya tidak ingin langsung melakukan gerakan hebat, ingin ada pembukaan.
Satu... dua.. tiga..
"Argh!" Arka bangkit dan menjauh dari Sekar ketika bibirnya sudah sangat dekat dengan bibir Sekar. Tangannya mengusap wajah dengan gusar, Arka juga mengacak-ngacak rambutnya.
Stress, ya Arka seperti orang stress.
Ketika dirinya sudah berdekatan dengan Sekar, bahkan sangat dekat sekali, bayangan masa lalu nya kembali hadir dan membatalkan niat Arka untuk menikmati Sekar, padahal sudah tinggal secenti.
"Persiapkan dirimu, nanti malam ada acara makan malam!" Ujarnya pada Sekar yang masih terlentang di atas kasur menanti permainan Arka yang ternyata tidak jadi mulai karena bayangan dan kata-kata itu terlintas di benak Arka sehingga membuat ia mengurungkan niatnya untuk membuat Sekar mandi keringat di kasur sore ini.
Arka pergi ke luar kamar, meninggalkan Sekar yang masih terengah-engah di atas kasur.
"Kau dengar tidak?! Siapkan dirimu! Sebentar lagi adzan, kau shalat dan berdandan lah!" Ucap Arka dari luar ketika ia tidak melihat Sekar kunjung keluar.
Sekar mematung, matanya tidak berkedip, saat ini mungkin jiwanya sedang kembali merasuk ke badan setelah tadi terbang untuk beberapa saat ketika tubuh Arka menindihnya.
Namun, setelah mendengar Arka memperingatkannya untuk yang kedua kali, barulah Sekar bangkit. Tangannya memegang dada, tepat nya bagian dimana jantung berdetak.
Jantungnya berdetak sangat kencang saat tadi Arka menindihnya dan hampir menciumnya.
"Degdegan." Gumamnya.
Dengan tubuh yang begitu gemetaran dan keringat dingin sudah mulai keluar membasahi bagian muka, Sekar keluar dengan perlahan dari kamar Arka.
***
Ia kembali menata dirinya di depan cermin. Bayangan saat di kamar tadi terus saja muncul dan enggan untuk hilang.
Bayangan bagaimana Arka membuka baju, berada di atas nya dan yang paling melekat adalah bayangan saat Arka mendekatkan wajahnya seperti hendak mencium.
Namun kenapa, kenapa Arka tidak melakukan itu semua. Jangankan untuk membuka baju Sekar dan hal raup lainnya, Arka bahkan tidak jadi untuk mencium Sekar. Selain itu, ia juga terlihat kesal dengan mengusap wajahnya gusar saat permainnya tak kunjung mulai.
"Sekar? Siap belum?" Tanya Arka dari luar.
Padahal sampai saat ini Sekar belum mengetahui akan pergi kemana mereka berdua. Tapi ia enggan untuk bertanya dan main menuruti perintah Arka begitu saja ketika Arka menyuruhnya untuk berdandan.
"I-iya mas, saya keluar sekarang!"
Ia keluar dengan kepala menunduk, malu akan kejadian yang menimpanya tadi.
Mungkin tidak akan terlalu malu jika mereka berhasil melakukannya, justru karena gagal lah mengapa Sekar menjadi malu.
"Apa aku kurang menggoda?" Batin Sekar.
Tidak ada riasan tebal yang menghiasi wajahnya, hanya sekedar gaun panjang dengan lengan panjang.
"Sudah?" Tanya Arka.
"Sudah." Jawab Sekar lirih.
Penampilan mereka berdua sangat jauh berbeda. Arka, ia mengenakan setelan kemeja dengan celana levis dipadukan dengan sepatu mewah yang pastinya mahal, tidak lupa ada jam tangan Adidas yang dibeli dari Singapore mengitari lengannya.
Sementara Sekar, ia hanya mengenakan gaun biasa, lipstik merah muda, bedak. Tidak ada hiasan apapun mengitari kepala dan bagian tubuhnya yang lain.
Tapi Arka hanya diam saja, ia mana perduli pada penampilan Sekar. Sesekali saja dirinya memarahi Sekar jika Sekar terlalu kumel.
***
"Kamu gak usah liat ke bawah mulu! Liat pemandangan depan sama samping!" Ujarnya pada Sekar saat ia melihat Sekar hanya menunduk saja di dalam mobil.
Perlahan, Sekar mengangkat mukanya dan melihat pemandangan luar dari jendela mobil. Begitu indahnya pemandangan luar di jam malam.
__ADS_1
"Kamu tidak mau bertanya kita akan kemana?" Tanya Arka.
"Akan kemana Mas?" Jawab Sekar tanpa melihat ke arah Arka sedikitpun.
"Ah sudahlah!" Akhirnya Arka kesal sendiri karena merasa Sekar mengacuhkannya.
Padahal bukan itu maksud Sekar. Ia hanya takut menganggu kefokusan Arka saat mengemudi, itulah mengapa dirinya tidak bertanya. Lagipula, diam memanglah bagian hidup Sekar.
***
D' Caffe
Ya, disinilah mobil Arka terparkir.
Ia turun terlebih dahulu tanpa memperdulikan Sekar. Tapi Sekar sudah terbiasa akan sikap suaminya itu, ia hanya mengekori Arka dari belakang.
"Disana." Tunjuk Arka pada sebuah meja.
"Assalamualaikum." Sapa Sekar pada kedua mertuanya.
Di Caffe ini, Sekar dan Arka tidak hanya makan berdua, melainkan juga bersama Tumi dan Arman yang merupakan mertua Sekar atau Ayah kandung Arka.
"Wah, menantu Mamah makin cantik yah makin hari." Tukas Tumi pada Sekar sambil menyalami dan mencium pipi kanan, kiri Sekar.
Sekar hanya tersipu malu lalu duduk disamping Arka.
"Pesan sekarang ya Mah." Ujar Arman.
Saat Arman sedang memanggil pelayan, Tumi menghentikannya.
"Masih ada seseorang yang harus kita tunggu." Ujarnya tanpa melepaskan senyuman sedikitpun.
"Siapa Mah?" Tanya Arka.
"Viona." Jawab Tumi singkat.
Singkat namun mematikan dan menyakitkan, itulah yang dirasa Sekar. Harusnya ini menjadi acara perkumpulan keluarga yang dimana tidak boleh ada Viona di dalamnya.
Arman sadar bahwa apa yang dilakukan istrinya itu salah, dengan segera ia meraih tangan Tumi dan membawa nya menjauh dari meja.
Sekar tertunduk, ia tidak kuasa untuk membantah pernyataan Tumi yang juga mengajak Viona untuk ikut serta.
Begitupun Arka. Pasti jauh di lubuk hatinya ia lebih menginginkan kehadiran Viona dibanding kehadiran Sekar. Maka dari itu ia hanya diam saja saat tahu bahwa Viona juga diajak oleh Ibu nya.
Sementara di luar sana..
"Kan handphone Papah ada di Mamah bukan di mobil!" Sergap Tumi menghentikan tarikan tangan Arman.
"Mamah tuh harusnya mikir dong! Ini kan acara keluarga, ngapain ngajak Viona?"
Tumi memutar bola mata, ia baru sadar apa maksud Arman mengajaknya keluar.
"Emangnya kenapa? Kan Viona udah kita anggap keluarga." Jawab Tumi tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Ya kita bisa memperlakukan Viona seperti keluarga disaat kondisi lain, tidak disaat perkumpulan keluarga seperti ini!. Sekarang sudah terlanjur! Viona sudah kamu undang bukan? Biarkan dia kemari. Tapi lain kali, jangan kau undang wanita itu. Pikirkan perasaan Sekar, bagaimanapun mereka berdua adalah wanita yang berada dari luar! Bukan bagian rumah kita."
Arman pergi begitu saja, tidak ingin mendengar lagi penjelasan Tumi.
Tumi yang memang mudah menangis matanya mulai bergelimang ketika dibentak Arman. Tidak hanya itu, ia juga bergumam pelan.
"Viona adalah wanita bagian dalam, wanita dari rumah kita." Ujarnya sambil kembali masuk ke dalam.
***
Semuanya sudah hadir. Tidak hanya keluarga Arman, tapi juga ada Viona disana. Penampilannya selayaknya seorang skertaris, yakni nyentrit dengan bibir merah merona. Bisa dikatakan, itulah ciri khas seorang Viona Abigail Malarendra.
"Steak nya enak ya, Om." Tukas Viona sambil memakan steak dengan begitu sexy.
Dibawah meja, ada dua kaki yang sedang bergulat mengelus satu sama lain. Ya, itu adalah kaki Arka dan Viona. Viona sengaja menggunakan kesempatan ini untuk menyentuh Arka, ada hasrat yang tidak tercapai di dalam diri Viona sehingga ia meluapkannya sekarang meski sedang banyak orang.
"Sekar, kamu suka steak?" Tanya Viona dengan begitu manis, seolah-olah ia sahabat karib Sekar.
Padahal dirinya sengaja bertanya seperti itu hanya untuk mengalihkan perhatian Sekar dan lainnya agar mereka tidak sadar akan permainan bingal kaki Viona dan Arka di bawah meja.
"Iya." Keluguan dan kelunguhan gadis itu belum juga hilang meski sedang bersama mertua. Sekar menjawab sambil menundukan kepala.
__ADS_1
Pluk
Garpu yang digunakan Sekar jatuh kebawah hingga ia terpaksa harus berjongkok dan mengambilnya.
Ini seperti sebuah kejadian yang disengaja oleh Allah agar Sekar tahu kelakuan Arka dibawah meja.
Dengan jatuhnya garpu, Sekar bisa melihat adegan yang tidak mengenakan mata yang dilakukan oleh Viona dan juga Arka.
Seperti orang kegatelan, begitulah Arka dan Viona saling menggosokan kaki mereka satu sama lain.
"Pekerjaan kamu gimana Viona?" Tanya Tumi.
"Oh? Ekhem berjalan dengan lancar tante, bahkan sangat lancar" Ia sedikit terkejut saat dipanggil oleh Tumi karena saat itu dirinya sedang sibuk di dunianya dan Arka.
"Sesudah makan, gimana kalau kalian bertiga belanja ke toko sebelah? Liat-liat gitu." Usul Arman, beliau menyuruh ketiga perempuan ini untuk enyah dari Caffe dan berbelanja ke toko sebelah.
"Wah ide bagus tuh. Mamah mau beliin kamu daster baru loh Sekar, kata Arka kamu suka pake daster kan kalau di rumah?"
Sekar mengangkat muka, ia menatap Arka dengan tatapan tidak percaya. Ternyata selama ini Arka menceritakan bagaimana penampilan Sekar saat ia dirumah.
Dan saat sadar bahwa Sekar menatapnya, Arka langsung menunduk menyembunyikan wajah karena malu.
Lain halnya dengan Viona. Sudah jelas bahwa Tumi adalah mertua Sekar, wajar jika ia memperlakukan Sekar seperti anaknya, ia justru marah dan kesal saat Tumi mengatakan akan membelikan Sekar baju.
"Terima kasih Mah." Ujar Sekar sambil terus menunduk.
"Mamah sama Papah juga sedang menyiapkan baju couple untuk kalian berdua. Saat pernikahan tante Tunik nanti, di pakai ya jangan lupa."
"Ah, andai saja kalian sudah punya anak, pasti couple nya jadi couple tiga." Nada suara Tumi berubah menjadi lesu saat mengatakan kalimat 'Anak'
Bagimana tidak, anak atau cucu merupakan hal yang sangat Tumi nanti-nanti dari anak semata wayangnya ini. Sudah 5 tahun menikah, tapi mereka berdua belum dikaruniai anak dan itu membuat Tumi sedikit khawatir.
Sejauh ini, Tumi tidak mengetahui perihal yang menimpa rumah tangga Arka dan Sekar. Yang ia tahu hanyalah Sekar dan Arka saling mencintai satu sama lain.
"Kalian harus lebih sering kali ngelakuinnya!" Tukas Tumi tiba-tiba. Hal tersebut membuat Arka, Viona dan juga Sekar membulatkan mata sempurna.
"Dulu kita tokcer ya pah, semalam Arka langsung jadi! Masa sekarang, 5 tahun gak jadi-jadi?" Tanya Tumi dengan begitu antusias, antusias saat mengakatakan kalimat 'tokcer'
"Apa kalian melakukannya di sembarang tempat? Atau masih ada kain yang menutupi? Atau mau bulan madu lagi?"
Brang
Viona membanting garpu nya ke atas piring.
"Makan Viona sudah selesai tante. Ayo, katanya mau belanja."
Viona sudah tidak kuat mendengar kalimat Tumi yang berunsur ranjang. Ia menyudahinya dengan mengajak mereka belanja.
"Yaudah, yuk. Nanti Sekar pilih semua baju yang kamu suka ya, biar Mamah yang bayar. Kalau Viona udah gak usah disuruh lagi, dia pasti ngambil sendiri!"
Tumi pergi dengan menggandeng kedua gadis itu.
Arman dan Arka memperhatikan mereka hingga mereka benar-benar hilang dari pandangan.
Dan sekarang lah saatnya Arman mengatakan apa yang sedari tadi mengganjal pikirannya.
Buk
Sebelum memulai berbicara, Arman memukul kepala Arka dengan menggunakan sebuah sendok sehingga Arka meringis kesakitan.
"Papah kenapa sih pah?!" Tanya Arka sambil memegangi kepalanya, sakit bekas dipukul sendok.
"Kamu yang kenapa!" Serang Arman dengan muka yang cukup garang.
Kini Arka menggaruk kepala nya tidak gatal, ia tidak bisa menangkap maksud Arman.
"Maksudnya?" Tanya Arka.
"Udah 35 tahun tapi masih kaya bocah SD kelas 5!"
Kening Arka semakin mengerut tanda kebingungan. Setelah dipukul menggunakan sendok, dibentak, kini dirinya dikatai seperti anak kelas 5 SD, ia sangat tidak tahu apa maksudnya.
Arman menatap Arka dengan tatapan yang begitu garang, matanya sudah merah menyala dan genggaman tangan pada sendoknya semakin mengerat.
Kenapa Arman ini? Apa dirinya kerasukan steak? Mungkin itu lah yang dipikirkan Arka.
__ADS_1