
"Allahu Rabbi?" Arka terkejut dengan membungkam mulutnya rapat-rapat.
Dengan berhati-hati, Sekar menuruni tangga untuk ikut serta mengecek dapur dan melihat benda apa yang meledak tadi.
"Itu suara apa Mas?" Tanya Sekar ketika dirinya sudah berada di dekat dapur.
Sadar bahwa Sekar sudah di dekatnya, dengan buru-buru Arka menutupi rice cooker itu menggunakan badannya. Tidak ingin lagi jika ia harus malu untuk yang kesekian kalinya.
"Kenapa Mas? Tadi yang meledak apa?"
"Karbit." Ujarnya ngasal, badannya sudah setengah gemetar takut ketahuan.
"Itu rice cooker yah? Kenapa meledak?"
Sehebat apapun Arka menutupi hal itu ternyata bisa ketahuan oleh Sekar, secara Sekar sudah tahu dimana tata letak benda itu.
"Oh i-iya. Gerimis terus kena colokannya makannya basah terus meledak." Ujarnya gelagapan tanpa bergerak sedikitpun agar rice cooker tidak bisa di lihat oleh Sekar.
"Oh yasudah biar aku bereskan." Jawab Sekar sambil beralih ke dapur. Sebelum Sekar tiba di dapur dan melewati area terlarang tempat bom rice cooker meledak, Arka menahannya.
"Tidak usah. Biar aku saja yang membereskan."
Sekar tersenyum "Mas siap-siap aja ke kantor." Jawabnya lembut, namun Arka menggeleng pelan
"Aku tidak ke kantor hari ini." Jawab Arka.
"Yasudah, biar aku ke dapur dulu." Ujar Sekar sambil mengikat rambutnya.
"Mau apa?" Arka terkejut mana kala Sekar menyebut kata dapur.
"Mau masak buat sarapan kita." Sahut Sekar.
"Tidak usah. Pagi ini kita beli saja sarapan di luar." Semakin Arka melarangnya maka Sekar semakin merasa ada yang aneh dan tidak beres.
"Aku mau cuci piring."
"Sudah aku cucikan."
"Aku mau menyapu."
"Nanti kita suruh Waluyo saja. Ehem, Sekar? Bukannya biasanya suami-istri masih tidur terlelap di jam segini sambil berpelukan dan menonton sebuah acara televisi? Kita tidak pernah melakukan itu sebelumnya kan? Ayo kita lakukan sekarang."
Itu hanya akal-akalan Arka saja agar Sekar tidak kunjung pergi dan melihat keadaan dapur. Ia menggoda Sekar dan juga melepaskan ikat rambut Sekar lalu mengajaknya ke ruang tengah.
"Maaf sebelumnya tapi aku harus ke dapur." Meski sudah di goda, Sekar masih enggan menerima permintaan Arka karena dirinya masih penasaran apa yang sedang terjadi di dapur saat ini.
"Kau ini istri CEO bisa tidak bersikap seperti ratu dan kuasai rumah ini?" Titah Arka dengan sedikit kasar, ia kesal kalau sudah di tolak Sekar.
Jika istri lainnya ingin diperlakukan bak ratu dan ingin menguasai rumah, maka Sekar enggan untuk melakukannya sekalipun bujuk rayu dari suami sudah keluar.
"Apa yang sebenarnya terjadi di dapur?" Kali ini Sekar menatap Arka dengan begitu serius.
"A-anu, lahir kucing yang ke 11."
Teringat pada Waluyo yang mengatakan bahwa ada 10 kucing di rumah, dengan segera Arka menambahnya 1 agar terkesan kucing itu yang membuat keributan.
Gagal, usaha Arka melindungi dapur gagar, kini Sekar sudah masuk ke dapur.
"Iyaa. Saya ke kantor Sekarr!!!" Dirinya berlari secepat kilat, tidak siap mendengar apa yang akan di katakan Sekar.
"Allah, Ya Gustiii." Baru saja kakinya melangkah memasuki dapur, ia sudah berteriak dengan histeris.
"11 kucingnya muntah yah? Kok banyak bubur dimana-mana?!" Rupanya ia belum tahu bahwa itu merupakan ulah Arka.
Kakinya melangkah untuk yang kedua kalinya.
"Kucingnya naik ke wastafel yah? Sampe pecahin piring segala?!" Ujarnya kala melihat pecahan piring di atas serokan, pecahan piring yang tadi belum Arka buang.
"Ya Allah Mas, kamu apain rice cooker kita?!" Barulah ia menyebut nama Arka sebagai pelaku.
"Rice cooker nya di atas wastafel, besi nya di kamar mandi, colokannya di kolong wastafel." Ia berteriak sejadi-jadinya melihat keadaan dapur yang berantakannya lebih daripada kapal pecah. Tidak, bahkan tidak ada bubur di dalam kapal pecah.
Arka masih bisa mendengar teriakan Sekar dengan jelas, bahkan sangat jelas. Namun ia enggan untuk menghampiri Sekar, malu berat pastinya.
"Astagfirallah." Sekar terduduk. Setelah rice cooker yang pecah kini rasanya kepalanya yang akan pecah.
Bukannya mengurangi beban istri, malah menambahi beban istri, begitulah Arka.
Sekar bingung, lelah, pagi-pagi sudah disuguhi kerjaan bejibun. Dengan ulah Arka, pekerjaannya menjadi double.
"Apa begini cara bekerja seorang CEO?" Gumamnya lirih sambil mengambil colokan rice cooker yang berada di kolong wastafel.
Aman karena Sekar tidak lagi berteriak, Arka mulai melihat ke arah dapur dengan sedikit mengendap-endap. Ia mencari posisi yang aman untuk mengintip apa yang Sekar lakukan..
__ADS_1
"Jangan-jangan bunuh diri?!" batinnya.
Ia berhasil menemukan posisi yang dimana dirinya bisa melihat apa yang Sekar lakukan. Gadis itu, gadis manis itu kini sedang mengepel, mengepel dengan berjalan mundur tentunya.
Mengepel bubur yang sudah tumpah memenuhi seisi ruangan dapur. Arka melihat gadis itu dengan seksama, meski tadi sempat berteriak, ternyata Sekar telah kembali melukiskan senyuman di bibirnya. Ia mengepel seraya tersenyum.
Hal itu membuat Arka merasa bersalah sekaligus tidak tega. Semuanya ini adalah ulahnya.
"Tidak, janjiku adalah untuk membantunya! bukan membuatnya susah."
Ia kemudian mengumpulkan tenaga untuk menghadap Sekar dan berniat membantunya.
"Sekar?" Tanya Arka dengan nada lirih.
Sekar sangat terkejut melihat kedatangan Arka. Tidak, bukan karena dirinya sedang melamun. Ia hanya takut Arka akan membantunya. Dan bukannya membantu, Arka malah mengacau.
"Tidak papa Mas, kalau mau bekerja pergi saja. Maaf aku tidak bisa membuatkanmu sarapan."
Arka menatap Sekar tak percaya, ia lebih tak percaya pada apa yang dikatakannya barusan. Setelah semua perbuatan nakal Arka, Sekar masih berujar maaf karena tidak sempat membuatkan sarapan.
"Hari ini tidak bekerja, aku ingin membantu membersihkan rumah."
Kepalanya menunduk, jari-jarinya ia mainkan di pangkuan. Arka yang garang terlihat seperti Arka yang malang saat ini.
Spontan Sekar menghentikan aktivitasnya.
"Ti-tidak usah. Bagaimana kalau Mas beli sarapan saja? Saya lapar."
Itu hanya alasan saja karena sebenarnya Sekar tidak ingin Arka menyentuh barang-barang di dapur dan merusakannya kembali.
"Begitu ya? Baiklah." Ia pergi dengan lesu, bergegas untuk membeli sarapan.
Di luar, terdapat Waluyo yang sedang mencuci mobil.
"Hehe, gimana pak kucingnya? Ketangkap ora?" Tanyanya polos, polos tapi sebenarnya sedang mengerjai.
"Ora!" Jawab Arka ketus sambil memakai sepatu.
"Tadi ada yang meledak, itu suara apa pak?" Rupanya Waluyo juga mendengar kegaduhan rice cooker itu.
"Suara kucing lagi nangkep tikus." Jawabnya ngasal.
"Oh tak kirain suara kucing di banting ember sama pak Arka." Ia menyindir apa yang dilakukan Arka tadi padanya.
"Beli sarapan." Ujarnya singkat.
"Lho? Bu Sekar gak masak yah? Mueheh lupa saya, pasti bu Sekar lagi ngurusin rumah yang udah kayak kapal pecah. Mas Arka, Mas Arka, rumah gedongan di buat kayak selokan, basah tenan!"
Seolah pada sahabat karibnya, begitulah Waluyo berbicara pada Arka seakan-akan ia tidak tahu sisi kejam Arka.
Prang!
Kelewat kesal, Arka membanting sepatu sports yang sedang ia pakai dan tepat mengenai muka Waluyo.
"Welah, kena!" Ujar Waluyo sambil memijit-mijit hidungnya, sakit kena sepatu.
"Ambilkan sepatu itu!" Titah Arka.
Waluyo mengernyitkan dahi "Dilempar terus di ambil lagi? Latihan main tenis pak?" Ujarnya.
"Diam kamu!" Setelah di bentak Arka, barulah Waluyo terdiam dan menghidupkan mobil untuk menemani Arka mencari sarapan.
Di dalam sana, Sekar masih sibuk dengan kain pel lan, mengepel bubur nasi yang lengketnya tidak kunjung hilang, kalimat istigfhar tidak kunjung luput dari bibirnya.
***
"Kok tumben sih pak pake acara ngepel segala?" Tanya Waluyo saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Awal mulanya Arka sempat gengsi untuk mengatakan bahwa dirinya ingin membantu Sekar, namun itu ia singkirkan dan lebih memilih menceritakannya pada Waluyo lalu berharap Waluyo dapat membantunya.
"Ingin membantu Sekar." Jawab Arka.
Waluyo mangut-mangut, kini ia mengerti ternyata niat Arka adalah baik yakni untuk membantu Sekar. Sayangnya, ia gagal dan malah lebih menyusahkan Sekar.
"Mau buat hati bu Sekar senang yah?" Tanya Waluyo sambil sesekali melirik kaca spion, memperhatikan raut muka Arka.
"Iya." Jawab Arka singkat.
"Oh, mudah saja toh pak itumah."
Wajah Arka berseri kala kata 'mudah' terucap di bibir Waluyo.
"Gimana?"
__ADS_1
"Bu Sekar tuh orangnya lemah lembut dan dia tuh nda suka dikasari. Coba pak Arka jangan marah-marah melulu, jangan galak melulu, jangan ngebentak melulu. Terus lebih sering perhatiin non Sekar, ajak dia ngobrol, ajak dia makan di luar, ajak dia nonton, ajak dia beli baju baru dan yang jangan lupa ini nih...."
"Apa?"
"Jangan lupa ajak saya. Leres?"
Plak*
Kini tangan Arka sendiri yang mendarat mendoyarkan kepala Waluyo.
"Tapi itu bener toh pak. Istri saya juga orang nya kayak bu Sekar. Pendiem, lugu, lunguh. Nah untungnya dia punya suami kayak saya yakni siap siaga, humoris, setia dan selalu perhatian sama dia akhirnya dia hidup bahagia."
Waluyo berkata tanpa batasan, ia khilaf bahwa yang sedang berbicara dengannya saat ini adalah bos nya sendiri.
"Jadi maksud kamu saya harus memperhatikan dia?" Kata-kata Waluyo cukup menyelinap ke dalam hati Arka sehingga membuat Arka sedikit tertarik mengikuti saran Waluyo.
"Sumuhun." Ujar Waluyo.
"Baiklah, akan saya lakukan. Terima kasih." Ia menyenderkan punggungnya ke jok belakang lalu memikirkan cara bagaimana memperhatikan Sekar.
"100 rebu bae pak sarannya."
Plak*
Satu pukulan kembali mendarat sebelum uang yang melayang.
***
Tidak perlu waktu lama untuk Arka bisa kembali dari membeli sarapan pagi. Ada berbagai macam jenis makanan yang ia beli.. dari mulai nasi goreng, sate, rendang. Daripada terlihat seperti menu sarapan, justru ini terlihat seperti menu makan siang dan malam.
Saat sudah sampai rumah, rumah sudah kembali bersih dan juga wangi. Tidak ada lagi becek-becek seperti tadi pagi.
Arka berdecak kagum mana kala melihat rumah mewah dan megahnya kembali bersinar. Ia baru sadar akan suatu hal
"Ternyata benar, mengurusi pekerjaan rumah tidak lah mudah. Dan Sekar bisa melakukannya sendiri dengan cepat, rapih dan juga telaten."
Ia pergi ke dapur, dapur pun sudah bersih dan tidak ada bubur berserakan di lantai namun tidak ada Sekar juga disana.
"Sekar?" Panggilnya
Sekali panggilan, tidak ada yang menyahut.
"Sekar?"
Masih sama, tidak ada yang menyahut, Arka memutuskan untuk menaiki tangga dan menyusul Sekar di dalam kamarnya.
Tapi ketika kakinya sampai pada anak tangga yang pertama, Sekar sudah keluar dari kamar.
"Iya Mas?"
Dirinya jauh berbeda dari kata lusuh, dan kumuh. Ia cantik dan.... sexy..
"Pi-piyama?" Arka menganga melihat Sekar yang keluar dari dalam kamar dengan menggunakan pakaian yang tipis yang membuatnya menjadi terlihat sangat sexy.
"Sa-sarapan." Satu menit lagi mulut Arka tidak terbungkam, seluruh air liur nya akan segera keluar semua.
Dengan langkah yang begitu anggun, begitulah Sekar menuruni tangga dan menghampiri Arka. Ia masih belum sadar bahwa Arka terbuai dan terlena melihat penampilannya.
"Sudah mandi?" Tanya Arka. Entahlah, pertanyaan itu yang pertama kali terlintas di benaknya setelah puas melamun melihat penampilan Sekar.
"Sudah." Jawab Sekar. Meski ia sudah tampil begitu menggoda, kepalanya masih saja terus menunduk, tak berani menatap Arka sedikitpun.
"Sarapan lah, aku sudah membelikan makanan yang banyak." Tanpa perlu dikatakan lagi Sekar sudah dapat melihat betapa banyaknya Arka membeli makanan.
"Baiklah."
Ia menarik satu kantong lalu membawanya pergi.
"Mau kemana?" Tanya Arka ketika melihat kepergian Sekar.
"Sarapan." Jawab Sekar polos.
"Kenapa pergi ke sana? Mau sarapan dimana?"
"Lho? Kan biasanya aku sarapan di dapur dan Mas Arka sarapan di meja makan."
Arka tersentak, ia terkejut, perkataan Sekar barusan seperti ember yang menimpa jantungnya, sesak rasanya.
Benarkah itu? Benarkah selama ini Sekar sarapan di dapur? Mengapa Arka tidak pernah sadar akan hal itu?
"Aku permisi mas." Sekar pergi meninggalkan Arka dengan satu kantong yang entah apa isinya.
Arka mematung, ia terasa seperti di setrum kala sadar bahwa selama ini Sekar memang sarapan di dapur, sendiri, hanya ditemani kucing saja.
__ADS_1