Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Muntah


__ADS_3

Arka: Ucapan adalah do'a. Sering-sering mengucap berarti sering berdo'a. Dan kalau berdo'a nya sering, berarti akan cepat di kabulkan. @Arka. BosNgaco2021


Arka mengecup kening Sekar cukup lama. Memperhatikan setiap inci kecantikan wanita ini. Yang dimana kini sedang terlelap tidur di sampingnya. Dengan menggunakan sebelah tangan sebagai bantalan. Matanya tertutup rapat. Menciptakan kedamaian bagi yang melihat.


Bibir Arka terangkat membentuk sebuah senyuman. Tangannya merangkak merapihkan rambut Sekar yang sedikit menutupi wajahnya. "Pasti capek ya. Tidur nya nyenyak begini."


Perempuan itu tidur setelah tadi melaksanakan shalat shubuh bersama Arka. Katanya masih ngantuk berat. Kepalanya pusing di tambah selangkangannya yang masih nyeri.


Arka membisikan sesuatu di telinga Sekar. Pelan dan halus. Menciptakan kehangatan sehingga membuat Sekar menggeliat, "Ukhty nya Arka mau sarapan gak?"


Namun Sekar tak kunjung buka mata. Ia malah membalikan badannya. Membelakangi Arka. Arka menarik pinggang ramping Sekar. Memeluknya. Membiarkan perempuan itu tidur sebentar lagi. "Jangan lama-lama tidurnya. Arka rindu," ucap Arka sembari mengecup pucuk kepala Sekar.


****


Arnold benar-benar tak ada gairah hidup. Setelah Viona keluar dari rumah sakit, Arnold tidak masuk ke rumah sakit lagi. Dan ia tak memberikan alasan yang jelas mengapa dirinya bolos bekerja.


Kesehariannya hanya melamun di balkon kamar atau di teras depan. Di temani angin dan rokok. Lusi sudah menegurnya berkali-kali. Namun tak berarti apa-apa bagi Arnold.


Jiwa, raga dan dunianya sedang hancur di satu waktu. Dada nya benar-benar sesak saat mengetahui Arka dan Sekar pergi ke Bandung. Lintas kenangan selalu muncul. Saat bagaimana dirinya berbahagia dengan Sekar dulu.


"Harusnya aku bunuh saja Arka hari itu," gumamnya lirih.


Harapan hidup nya putus. Beban terberat yang pernah ia tanggung. Katanya, tidak mudah melepaskan. Sekalipun untuk sahabat sendiri.


"Mau sampai kapan ngelamun gitu?" Suara bariton tidak di kenal itu membuyarkan lamunan Arnold yang sedang menyesap rokoknya. Lantas ia membalikan badan. Melihat siapa yang datang. Arnold mengerutkan keningnya.


"Siapa kamu?" Arnold berdiri. Ia pasang kuda-kuda. Karena pria yang saat ini masuk ke kamarnya adalah pria yang tidak Arnold kenal.


"Aku Lucas," pria bertubuh tinggi kekar dengan kulit putih dan rambut sedikit pirang itu mengulurkan tangannya.


Arnold tidak langsung menyambutnya. Ia mundur. Menatapnya dengan tatapan penuh curiga.


"Lupa yah padaku? Baiklah." Pria itu mengeluarkan sebuah Id card dari saku bagian dalam jas nya.


"Lucas Orlando. Teman Kemal," sontak Arnold membulatkan matanya lebar-lebar.


******


Sekar membulatkan matanya sempurna ketika merasakan ada sesuatu yang hendak keluar dari dalam perutnya. Ia berlari ngacir ke kamar mandi. Membekap mulutnya agar tidak keluar di salah tempat.


Arka yang saat itu sedang menonton film di laptopnya terheran melihat Sekar yang bangun secara tiba-tiba lalu berlari ke kamar mandi. Bergegas ia mengejar Sekar.


Terdengar suara orang muntah di dalam sana. Namun belum terpikir ada apa gerangan. Hanya satu yang menimpa Arka, kekhawatiran.


"Sekar, kamu gakpapa?" Tanyanya panik. Berusaha membuka pintu namun dikunci dari dalam.


"Sekar? Tolong buka pintunya. Kamu kenapa?"


Sekar tak kunjung menjawab. Ia masih sibuk mengeluarkan isi perutnya.


Ya Allah.. masa? Pikiran Arka tiba-tiba bablas begitu saja. Mengingat kejadian indah semalam.


Kan baru 7 jam doang. Masa udah jadi? Kening Arka mengerut. Kedua alisnya menyatu. Kembali menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Sek-- kamu gak apa-apa?" Sekar sudah keluar. Dengan wajah pucat pasi. Sebelah tangan memegangi perut. Sebelahnya lagi mengelap sudut bibirnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Muntah?" Tanya Arka panik. Sekar mengangguk lemah.


"Alhamdulilahi rabbil alamin Ya Allah. 7 jam keturunan Arka udah jadi," Arka sujud syukur. Menciumi lantai beberapa kali. Sekar yang lemas hanya memperhatikan dengan penuh kebingungan.


"Ya Allah makasih banyak," Arka bangkit dari duduk nya. Mengecup kening Sekar. "Gimana? Udah ada yang nendang-nendang gak di dalam sana?" Bener kata Arnold: Arka, Bos tapi bodo. Ngadi-ngadi nih Arka.


Kening Sekar mengerut. Badannya yang lemah otak nya pun ikut lemah. Tak dapat menangkap maksud Arka.


"Maksud?"


"Aduuh Sekar masa gak paham sih? Sini sini," Arka meraih pundak Sekar. Mengajak wanita itu duduk di pinggiran ranjang. "Kamu bawa itu tes yang suka ada dua garis kalau hamil?"


Barulah Sekar paham apa yang di maksud Arka. Sekar bangkit. Menyentak tangan Arka, "Siapa yang hamil!" Sekar terlonjak kaget.


"Iya. Kamu hamil 'kan? Itu muntah-muntah."


Sabar ya Sekar. Arka memang agak polos.


"Arka. Gak setiap muntah-muntah itu hamil. Bisa aja aku masuk angin. Kemarin kan pulang malem. Jalan-jalan di luar. Terus aku pake baju pendek lagi. Inget 'kan?"


Raut muka Arka berubah menjadi lesu. Ia yang tadinya berdiri lantas duduk di ranjang, "Ohh," gumamnya lirih dengan nada sendu dan muka memelas.


Sekar sadar ada raut kekecawaan di muka Arka. Gadis itu menangkup pipi Arka. "Kamu gak sabar yah pengen punya anak?" Arka mengangguk dengan gemas.


"Berdo'a aja. Semoga cepet-cepet punya anak. Lagian baru semalam kita melakukannya. Masa udah jadi aja."


"Ya kan siapa tau. Aku itu orang yang menyukai kebersihan. Jadi aku pasti sehat bugar. Bukan tidak mungkin tokcer terus bisa bikin Arka junior dalam satu malam," ucap Arka busung dada.


Sekar geleng-geleng. Tak mengerti jalan pikiran Arka, "Tapi kayaknya enggak deh. Soal--"


"Kalau belum ada. Kita harus semangat bikinnya. Sehari 3 kali misalnya," Arka menaik turunkan alisnya. Namun Sekar hanya memutar bola matanya, malas membahas soal itu.


*****


Siang hari nya dua orang yang baru saja memandu kasih itu pergi ke rumah sakit. Tentu atas paksaan Arka. Padahal Sekar sudah bersih keras bahwa dirinya tidak hamil. Arka nya saja yang ngadi-ngadi.


"Tapi saya mau nya dokter perempuan!" Arka marah-marah di rumah sakit. Tepatnya di ruangan rogsen. Dimana Sekar akan mengecek apakah ada Arka junior di perutnya. Masalahnya, dokter yang akan memeriksa Sekar ini berjenis kelamin laki-laki. Padahal ia sudah tua. Tapi yah bukan Arka kalau sifat cemburu nya tidak tinggi.


"Tidak masalah Mas. Hanya di cek di bagian perut saja. Lagian saya sudah tua," pembelaan dokter tersebut.


Dokter itu sudah ubanan. Apa nya yang mau di cemburukan dari dia? Arka ini possesifnya setengah mati.


"Ya tetap saja pegang-pegang perut istri saya!" Gertak Arka geram. Mata nya merah menyala. Sekar sudah berusaha menenangkan Arka. Mengelus halus bahu pria itu.


"Tapi dokter perempuan lainnya sedang sibuk. Mas tahu sendiri kan ini bukan rumah sakit di kota yang mewah-mewah," tegas sang dokter.


Arka mendelik tajam, "Tapi pas periksa mata Anda harus merem!" Tegas Arka. Mendekatkan wajahnya ke wajah dokter itu.


Sekar hanya tepuk jidat. Arka sekalinya polos kebablasan.


"Mas pikir saya Roy Kiyowo yang punya mata batin!" Tegas sang dokter. Sama keras nya dengan Arka. Pasien seperti Arka ini memang menyebalkan.


"Bisa kok. Nanti saya yang bimbing pergerakan tangan Anda. Tapi mata Anda harus merem," Arka masih saja tak mau kalah.


Dokter tersebut sudah geram. Masalahnya masih banyak pasien lain yang menunggu di luar sana. Ia malah menghabiskan waktunya untuk berdebat dengan Arka.

__ADS_1


"Terserah Anda. Tapi bayar saya 5 kali lipat," ucap dokter tersebut bercanda.


"10 kali lipat juga bisa."


"Tidak ada apa-apa di perut istri Anda. Lihat, kosong melompong," ujar sang dokter setelah memeriksa perut Sekar. Nadanya sedikit mengejek. Mungkin masih kesal karena perdebatan tadi dengan Arka.


"Tapi tadi istri saya muntah-muntah," jawab Arka tak terima.


"Kalau Anda yang muntah apa itu berarti Anda juga hamil?" Apa ini kesialan bagi Arka? Mengapa ia bisa dipertemukan dengan seorang dokter menyebalkan?


"Apa mungkin karena saya masuk angin dok? Soalnya saya kemarin jalan-jalan di luar sampai malam," Sekar menengahi.


"Nah bisa jadi. Masuk angin dan sepertinya makan makanan pedas," imbuh sang dokter.


"Kalau begitu bagaimana caranya agar ada anak di dalam sana?" Duh Arka. Gemesin deh pertanyaannya. Jadi pengen lempar Arka ke sungai Ciliwung.


"Mau saya praktekin?!" Tanya dokter tersebut dengan nada tinggi dan menyentak.


"Haram!" Ujar Arka lalu menarik lengan Sekar dan melenggang dari sana.


****


Di perjalanan menuju hotel Arka tak banyak bicara. Ia lebih banyak bungkam. Tak bertanya kepada Sekar apalagi menggodanya. Menciptakan tanda tanya yang hebat bagi Sekar.


Karena biasanya pada setiap kesempatan Arka akan menggoda Sekar.


Sekar tahu apa yang mengganjal di hati Arka. Mungkinkah anak?


"Maaf ya. Tapi kita jangan berhenti berdo'a. Mungkin setelah ini akan hadir Arka junior," Sekar mengelus perutnya yang masih rata.


Bibir Arka tersungging. "Gak papa. Lagian aku juga yang ngaco. Masa baru satu malem udah jadi."


Keheningan kembali melanda keduanya. Tak ada yang berkata-kata. Sedikit canggung mungkin karena kejadian semalam.


"Aku khawatir sama Arnold," Arka lantas kembali buka suara. Raut wajahnya berubah menjadi semakin serius.


"Khawatir kenapa?"


"Aku khawatir kalau dia tiba-tiba ngambil kamu," Arka melirik Sekar sepintas sebelum akhirnya kembali mengemudi. Ia menghela nafas. Menghembuskannya dengan kasar. Arka memang sangat lemah kalau dalam urusan seperti ini. Rasa cemburunya melambung begitu tinggi.


"Ngambil gimana? Memangnya siapa sih yang mau ngambil Sekar nya Arka, hm?" Sekar mencoba merayu Arka. Berusaha mengembalikan mood baik pria itu. Dengan berkata manis dan menempelkan kepalanya di lengan atas Arka.


"Ya takut aja. Arnold kan suk---" Arka menghentikan ucapan nya sendiri. Menggeleng tegas. Sebelum akhirnya mencari dan membicarakan topik lain.


"Kamu belum sarapan 'kan? Habis ini sarapan dulu ya. Makan yang banyak. Biar utun nya sehat," ucap Arka melirik sekilas perut rata Sekar.


"Arka ngaco," jawab Sekar datar kemudian menarik kembali kepalanya. Duduk dengan tegak.


"Hehe. Ucapan adalah do'a. Sering-sering mengucap berarti sering-sering berdo'a. Dan sering berdo'a akan cepat di kabulkan."


Iya terserah Arka aja asalkan Arka bahagia.


Ekhem


__ADS_1


__ADS_2