Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Si polos dan si mesum


__ADS_3

Sekar: Yang terpenting jangan berburuk sangka pada yang Maha Kuasa.


......


Bibir Viona bergetar hebat. Ada kecamuk yang tidak pernah ia rasa sebelumnya. Wanita sebaya yang berada di hadapannya ini tersenyum begitu tulus. Selama ini, Viona tidak memiliki teman karena sifatnya yang terlampau menyebalkan.


"Aku akan menjadi teman sekaligus Kakak yang baik untukmu. Tapi kau akan menjadi guru ku. Kau lebih pintar dariku. Mau yah ajari aku soal perusahaan? Aku tidak mengerti soal itu," Sekar terus mengukir senyuman. Tak perduli jika Viona muak melihatnya. Dalam hati ia terus berdo'a agar Tuhan membukakan hati Viona. Tidak pa-pa kalau bukan sekarang. Mungkin suatu hari nanti.


"Sekar?"


"Iya?"


"Terimakasih," Viona bangkit dari tidurnya. Menarik lengan Sekar. Memeluk gadis itu.


Tangisan Viona kembali luruh. Sekar, ia tidak mengira Sekar sebaik ini sebelumnya. Viona tidak pernah diperhatikan seperti ini sebelumnya. Viona tidak pernah di peluk, di lempari senyuman setulus ini sebelumnya.


Sekar, wanita itu benar-benar membawa perubahan bagi banyak orang. Dengan kata-kata, perilaku, do'a dan kesabaran ia bisa mengubah dunia seseorang.


Mengubah iblis menjadi malaikat. Dan mengubah malaikat menjadi naik pangkat.


"Sama-sama. Mau ya menerima Mamah Tami sebagai Ibumu? Agar setelah ini kita bisa tinggal bersama."


Perlahan Viona melepaskan pelukannya. "Tapi maaf jika aku tidak bisa benar-benar melupakan Arka sepenuhnya," ujar gadis itu sambil terus menunduk.


Sekar menggenggam tangan Viona, "Tidak masalah. Semuanya akan terasa ringan saat dilakukan bersama. Aku akan membantumu. Dan satu hal yang harus kau tahu bahwa kami semua menyanyangimu. Tak akan ada satupun diantara kami yang akan membiarkan dirimu terluka. Jadi, jangan melukai dirimu sendiri ya." Sekar menunjuk perut Viona, "Perutmu terlalu mulus untuk tergores." membuat Viona terkekeh karena merasa geli.


Viona itu bukan orang jahat. Viona itu bukan iblis. Ia hanya wanita yang melihat sesuatu dengan sebelah mata. Terlalu memikirkan keegoisannya. Keinginannya sendiri. Tapi itu dulu. Sepertinya sekarang sudah tidak lagi. Usaha Sekar telah berhasil membukakan sebelah mata Viona.


Batu yang keras ternyata bisa berlubang juga karena tetesan air. Api yang besar bisa padam juga. Emosi yang menggebu bisa redam juga. Badai yang menggelambung bisa berhenti juga. Ombak yang pasang surut bisa berhenti juga.


Itulah hati manusia. Sang Maha Penguasa yang mengaturnya. Tak perduli sekejam apapun sikap sebelumnya. Jika Allah sudah berkehendak untuk mengubahnya. Maka itu akan berubah sekalipun hanya dalam sekejap mata.


Terimakasih Ya Allah. Kau telah membantuku mengubah Viona. Dan dalam waktu secepat ini, batin Sekar.


Allah tidak tidur. Allah mendengarkan. Allah juga tidak akan membiarkan Hambanya berlarut-larut berenang dalam do'a kebaikan. Pasti akan ia kabulkan juga jika memang sudah saatnya.


Yang terpenting adalah jangan berburuk sangka kepada Yang Maha Kuasa. Jika apa yang kau inginkan belum tergapai. Mungkin itu memang belum saatnyan atau mungkin itu memang tidak terlahir untukmu. Allah melihat apa yang tidak kita lihat. Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Nya. Tapi apa yang baik menurut Nya tentu baik untuk kita. Hanya saja, terkadang kita tidak menyadarinya karena terlalu sibuk pada keinginan semata.

__ADS_1


Yang jelas, sesuatu yang baik akan datang kepada orang baik. Jangan pernah berhenti bersikap baik meski terkadang orang-orang memperlakukanmu dengan buruk. Berbuat baiklah untuk Allah. Karena hanya Dia yang tidak akan memperlakukanmu dengan buruk.


******


Malam itu Viona sudah kembali dari rumah sakit. Viona akan tinggal di rumah Tami untuk saat ini. Sementara Sekar. Ia dan Arka akan kembali ke rumah lama mereka berdua setelah tadi berunding dengan Sekar dan Sekar menyetujuinya.


"Nanti biar Mamah minta Pak Waluyo yang membawakan barang-barang kamu," ucap Tami pada Viona. Perempuan paruh baya itu tak ada henti-hentinya merangkul dan memeluk Viona. Karena sakit, Viona jadi tidak bisa menyingkirkan tangan usil Tami yang terus mengelusnya.


Viona memang masih sakit. Tapi ia akan menjalani perawatan jalan di rumahnya. Itulah keinginannya.


"Jadi 'kan buat anak nya malam ini?" Tanya Arka kepada Sekar yang sedang di rangkulnya.


Sekar menyikut perut Arka, "Anak mulu!" Arka meringis. Sementara Arnold------- yang berada di sampingnya hanya memperhatikan dengan tatapan jenuh.


"Mah. Sekar sama Arka langsung pulang yah. Kalian hati-hati yah," ucap Arka. Ia menyamali semua anggota keluarganya. Termasuk Viona.


"Kalian hati-hati yah," ucap Tami yang dibalas anggukan oleh Sekar dan juga Arka.


"Awas bablas sampai pagi Ka. Nanti Sekar gak bisa jalan sampai seminggu!" Teriak Jayur. Arka mengacungkan jari tengahnya. Membuat semuanya terkekeh. Hanya Arnold yang tidak tertawa. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan di lakukan Sekar dan Arka malam ini.


*****


"Non Sekarrrrrrrrr!!!!!!!!" Waluyo menyemburkan kopinya yang sudah ada di dalam mulutnya.


"Non Sekarr!!" Teriaknya sekali lagi sambil ambruk memeluk Sekar.


"Non Sekar apa kabar?" Tanya Waluyo dengan muka bahagia, antusias nan semangat 45 nya.


"Alhamdulilah. Pak Waluyo sendiri apa kabar?" Tanya Sekar sambil melukiskan sebuah senyuman.


"Alhamdulilah kabar baik. Wah saya kangen banget sama Non Sekar. Tau gak Non. Setelah Non Sekar pergi ke panti asuhan, Pak Arka kabur ke---"


Arka membekap mulut Waluyo, "Bantuin bawa barang ya Pak," ucap Arka.


"Hehe. Siap Boss. Tak bawain barangnya," ucap Waluyo sambil hormat lalu menarik barang bawaan Sekar.


"Untung kamar Non Sekar sudah rapih and bersih," ujar Waluyo unjuk gigi.

__ADS_1


"Lho? Itu mau dikemanain Pak barangnya?" Tanya Arka ketika melihat Waluyo melincir ke kamar Sekar.


"Ke kamar Non Sekar 'kan?" Tanya Waluyo dengan kening mengerut.


"Bukan! Simpan barangnya di kamar saya. Malam ini Sekar tidur bersama saya."


Waluyo mematung. Koper yang ia pegang tiba-tiba saja jatuh ke lantai. Mulutnya menganga.


"Pak Arka mau siksa Non Sekar di kamar Pak Arka? Jangan pak kasihan," astaga Waluyo. Tak bisakah ia mengerti dan tidak usah bertanya?!


"Mau buat anak!" Teriak Arka kesal. Sekar langsung mencubit lengan atas Arka.


"Oalah bikin orok. Hah? Bikin a-anak?!" Waluyo terkejut.


Arka mengangguk, "Pak Waluyo mau request gak anak nya berapa?" Tanya Arka misuh.


"Yeeh ya terserah kemampuan Bapak," Sekar memelotot ke arah Waluyo. Waluyo kikuk, "Ma-maksudnya terserah kemampuan Bapak ngurus Anak nya nanti." Ujar Waluyo gelagapan.


"Ka. Ada bahan masakan 'kan?" Tanya Sekar.


Arka terlihat berfikir. Mengetuk-ngetuk bibirnya menggunakan Ibu jarinya. Tidak lama kemudian ia menggeleng, "Gak ada."


"Yasudah. Kita belanja yuk? Aku mau masak."


"Siappp saya antarr!!! Sudah lama tidak makan masakan Non Sekar!" Ucap Waluyo antusias.


"Yee Bapak disini aja! Hias kamar pengantin. Biar saya sama Sekar yang pergi!" Ujar Arka lalu menarik tubuh Sekar. Menggendong tubuh wanita itu.


"Arka?! Teriak Sekar.


"Awas Pak encok!" teriak Waluyo.


"Pak siapkan obat kuat!" Teriak Arka. Langsung mendapat pukulan di dadanya karena Sekar.


"Arka mesum!"


"Sekar polos!"

__ADS_1


__ADS_2