
Sekar: Jika bisaku hanya merepotkan, untuk apa aku dilahirkan?
.....
"Memangnya ada ya, Kak?" Tanya gadis itu dengan alis yang mengerut.
"Ada? Ada apa?" Ucap Arnold pura-pura dongo.
"Ih. Kan tadi aku sedang membicarakan soal pekerjaan. Ada tidak pekerjaan untuk ku?" Tanyanya lagi. Dengan nada yang sedikit ketus.
Sebenarnya dari tadi juga Arnold sudah mengerti kemana arah pembicaraan Sekar. Ia hanya berpura-pura saja. Melenceng. Berharap Sekar lupa dan berhenti menanyakan soal pekerjaan.
Ia memutar otaknya. Bingung mau menjawab apa, "Memangnya kamu yakin mau bekerja?"
Sekar mendengus sebal. Ia bersidekap dada. Merapatkan punggungnya pada jok mobil, "Sudah 5 kali Kak Arnold bertanya begitu," sesaat setelah itu ia sedikit manyun. Melihatnya tentu membuat Arnold terkekeh kecil karenanya.
"Nanti aku carikan. Mau pekerjaan seperti apa memangnya?"
Sebuah senyuman kembali mengembang di bibir Sekar setelah tadi manyun untuk beberapa saat. Matanya berbinar. Ia membenahi duduk nya, "Apa saja. Yang penting halal. Kalau bisa jadi OG di kantoran gitu."
"O-OG? Kok mau jadi OG? Kamu kan istri direktur ut--"
"Mantan istri. Aku gak punya keahlian apa selain masak, beres-beres. Selain itu aku juga senang melayani orang. Seperti membuatkan kopi atau yang lainnya. Keahlian Sekar," ucapnya unjuk gigi. Ia tak malu ataupun canggung saat mengucapkan itu. Seolah-olah bangga pada keahliannya yang minim itu. Membuat Arnold tersenyum. Dimana lagi ada wanita seperti Sekar?
Memang. Sekar tidak memiliki bakat apapun selain beres-beres sekalipun ia mantan istri seorang pengusaha besar. Mengingat dirinya yang hanya lulusan SMA memang tidak perlu merasa aneh mengapa Sekar menginginkan pekerjaan seperti itu. Singkatnya, ia sadar diri.
"Kalau bekerja di rumah sakit saja bagaimana? Nanti biar aku yang jemput. Kalau pulang juga biar aku yang antar. Sekalian biar aku bisa jagain kamu," ucap Arnold. Mengingat bahwa dirinya adalah seorang dokter di salah satu rumah sakit di Jakarta. Dan dengan posisi yang lumayan tinggi di rumah sakit tersebut tentu membuat Arnold dapat dengan mudahnya memasukan Sekar kesana.
Sekar mendengus sebal. Ia merotasikan bola matanya, "Yah sama saja bohong. Aku kerja karena ingin berhenti merepotkan orang lain. Kalau seperti itu caranya sama saja aku merepotkan Kak Arnold," jelas Sekar.
"Nggak kok. Serius. Nanti aku yang akan mengantar-jemputmu. Kakak mana yang merasa di repotkan oleh Adik-Nya?" jelas Arnold.
"Tidak usah Kak. Kalau memang bukan Kak Arnold yang mendapatkannya maka aku akan mencarinya sendiri," ucap Sekar.
Gadis satu ini memang seringkali menolak kebaikan dengan alasan tidak ingin merepotkan. Padahal ia sudah melakukan banyak hal untuk membuat orang-orang di sekitarnya senang.
Arnold hanya menghela nafas panjang. Sekali tidak ya tidak, sekali iya ya iya, "Yasudah. Nanti aku kabari kalau ada."
__ADS_1
Mata Sekar langsung berbinar. Ia memegang kursi yang di duduki Arnold. Kemudian mengacak-ngacak rambut Arnold dari belakang sehingga membuat sang empu meringis, "Sekar nakal." Namun bisa dipastikan bahwa Arnold senang.
*****
"Viona tahu kalau Sekar sama Arka sudah cerai," ucap Viona dengan nada lirih.
"Tau dari mana kamu?" Tami mendonggakan kepala. Menatap Viona dengan mata yang sedikit memelotot. Sungguh, dirinya belum mengatakan apa-apa pada Viona.
"Gak penting. Ada yang lebih penting," Viona merapatkan duduknya dengan Tami. Ia memegang tangan Tami. Sementara Tami diam memperhatikan menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Viona selanjutnya. "Viona cinta sama Arka."
Saat itu juga Tami melepaskan tangannya dari Viona. Ia membalikan badannya membelakangi Viona. Lalu mengusap wajah nya gusar. Berusaha mengatur nafasnya yang menggebu seketika.
Ia berdehem sebentar untuk merenggangkan tenggorokannya. Kemudian kembali berbalik menghadap Viona yang seperti sedang menunggu jawaban Tami dengan kedua alis yang menyatu
"I-iya. Semua skretaris pasti mencintai semua bos nya bukan? Itu hal yang wajar. Tante bisa mengerti hal tersebut. Soalnya Arka jug--"
"Viona mencintai Arka lebih dari seorang skretaris," ia menggantung ucapannya. Menghela nafas sebentar, "Mencintai layaknya suami."
Tami meneguk susah payah saliva nya. Matanya tidak berkedip sama sekali. Ia tidak berhenti memandang Viona yang sekarang ini sedang blakblakan menyatakan perasaan pada putranya- Arka.
"Ekhem. Viona lapar gak?" Tanya Tami mengubah topik pembicaraan, "Bagaimana kalau kita makan? Mau makan masakan Iyam atau mau makan dilu--"
"Viona ingin meminta jawaban. Tidak lapar dan tidak ingin makan," Viona kembali meraih tangan tadi yang tadi sempat terlepas. "Viona mencintai Arka. Apa Tante merestuinya?"
Sungguh bukan hal yang Tami kira sebelumnya-- bahwa Viona akan seleluasa ini. Padahal jika diingat lagi harusnya Arka yang datang dan melamar Viona.
"Pulang," ucap Tami datar. Ia lalu menunduk, "Tante minta kamu pulang."
Viona membelalakan matanya. Ia memegang bahu Tami, "Maksudnya? Tante tidak mengerti ya apa yang aku katakan barusan? Aku mencintai Arka. Sudah lama. Sejak dulu. Sejak cinta pertama Arka yang bernama Siska meninggal. Sudah lama sekali aku menyimpan perasaan ini dan sekarang aku baru berani mengungkapkannya," ucapnya lagi dengan sorot mata sendu--- sedikit kecewa karena Tami menyuruhnya pulang.
"Kamu yang tidak mengerti apa maksud Tante. Tante minta kamu pulang."
"Tan--"
Tanpa menunggu penjelasan berikutnya dari Viona, Tami menarik tubuh Viona agar gadis itu berdiri. Tami mendorong punggung Viona agar ia keluar. Viona sudah mencoba melawan. Namun ia gagal. Ia sendiri bingung mengapa Tami menyeretnya begini.
Setelah sampai di luar Tami langsung masuk ke dalam dan menutup pintunya rapat-rapat-- bahkan ia menguncinya. Sementara di luar sana Viona menggedor-gedor pintunya, ingin masuk.
__ADS_1
Tami menyenderkan punggungnya ke pintu. Perlahan ia mulai merosot. Ia memegang kepalanya. Air mata nya luruh lagi. Ia merutuki semua yang terjadi saat ini.
***
"Bang Jayur?" Pria yang di panggil tersebut menolehkan badannya menghadap Arka-- pria yang memanggilnya. Tinggi badan sekitar 180 CM. Rambut sedikit gondrong namun rapih. Mengenakan setelah celana levis hitam, jaket kulit warna coklat, jam tangan hitam mengitari lengan kirinya. Begitulah penampilan Jayur saat ini-- sedang berada di lobby hotel atas permintaan Arka tadi.
Jayur adalah orang kepercayaan Arman. Ia selalu mengikuti perintah Arman. Ia melakukannya dengan baik dan juga pintar menjaga rahasia. Namun Jayur tidak seperti mata-nata atau kaki kanan lainnya. Dengan Arman dan Arka mereka sudah seperti keluarga Jayur. Akan terlihat bagaimana baiknya Jayur nanti.
"Udah nunggu lama, Pak?" Tanya Arka sambil menjabat tangan Jayur. Arka sendiri sampai jam 8 pagi-- saat ini belum mandi. Ia bahkan masih mengenakan pakaian tidur putih polos plus sendal kamar hotel.
"Nggak dong. Beuh tuan direktur belum mandi jam segini?" Tanya Jayur sambul nyengir. Ia ingat biasanya Arka bangun pagi. Dan jam 8? Biasanya pemuda itu sudah rapih. Sudah berkutat dengan laptop di kantor. Mengurusi pekerjaan perusahaan.
"Iya. Terlalu nyenyak tidurnya sampai bangun kesiangan," ucap Arka sambil mulai berjalan. Diikuti Jayur di belakangnya, "Ayo kita bicara di kamar saya."
Jayur hanya cengengesan. Kesiangan? Bukan Arka sekali. "Iya. Kadang bagi sebagian orang tidur adalah cara yang tepat untuk menghindari masalah. Dengan tidur kira lupa akan masalah. Dan Bapak rasa itu Anda," ucapnya sambil merangkul pundak Arka yang lebih pendek 5 CM darinya.
"Wah kok Pak Jayur tau aja? Papah cerita ya?" Tanya Arka sambil membalas rangkulan Jayur. Ia menekan tombol lift. Lantai 24, letak kamarnya.
"Gak nyangka ternyata seorang Arka bisa patah hati juga. Gimana rasanya? Sakit atau enak? Kalau saya jadi kamu mana mungkin saya tinggalin istri kamu. Dia cantik, pinter, penyabar, jago mas--"
Perkataan Jayur terhenti ketika ia melihat Arka dan Arka sedang melemparkan tatapan tajam kepadanya. Seolah tak ingin ia memuji Sekar, "Bercanda." Ucap Jayur kikuk.
"Gimana kabarnya dia, Pak?" Tanya Arka. Kembali fokus pada tujuan utamanya. Ia sedang tak ingin membahas Sekar. Apalagi Jayur kelihatannya menyukai Sekar. Meskipun Jayur memang jauh lebih tua darinya.
"Sekarang sedang ada di rumah teman saya. Keadaannya belum membaik. Bahkan bisa dikatakan lebih buruk. Dia sangat susah di ajak bicara. Bahkan menolak makan. Kenapa kamu kesini sendiri? Tidak sama Sek--" ucapan Jayur tergantung karena Arka lagi-lagi menatapnya dengan tajam, "Bu-bukan gitu maksud saya. Maksudnya kan kalau Sekar ikut siapa tahu bisa membuatnya lebih baik. Secara Sekar itu adalah anaknya," ucap Jayur setelah dengan susah payah meneguk pahit salivanya-- ngeri melihat ekspresi Arka yang seperti hendak menerkam.
"Saya sama Sekar sudah cerai."
Jayur mengantupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tahu kalau Arka memang tidak menyukai Sekar. Tapi kalau sampai bercerai? Ya siapa juga yang tidak terkejut selain Viona.
Jayur sudah menganggap Arka sebagai anak nya sendiri. Dan ia suka kepada Sekar. Kepada perilaku nya. Jayur sangat setuju apabila Arka dengan Sekar.
"Kok bisa?" Tanya Jayur dengan mata yang sedikit melotot. Tak menyangka Arka akan melepaskan Sekar.
"Dia yang maksa. Saya juga tidak ingin menceraikan dia tadinya. Tapi yasudah. Biar semuanya terungkap dulu," ucap Arka gamang. Ia menatap lurus tombol lift yang berada di depannya. Dengan tatapan kosong.
Setelah itu pintu lift terbuka. Membawa kedua insan itu menuju lantai 24 kamar no 105. Lalu mereka masuk ke kamar Arka. Untuk membicarakan hal berikutnya.
__ADS_1