Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Lunch


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, Arnold tidak berhenti memikirkan tentang Sekar. Bayangan masa lalu Sekar saat masih bersamanya terus saja muncul mengitari benaknya.


"Saat dia susah, aku yang bersamanya. Membahagiakannya, membangkitkan semangatnya, membuat hidupnya kembali normal. Saat ia sudah baik-baik saja, sudah bahagia, mengapa harus bersama Arka?" Batinnya dalam hati. Tangannya memegang kemudi dengan begitu erat.


"Kakak kenapa?" Tanya Pasha yang menyadari perubahan di raut muka Arnold dan cengkraman eratnya pada setir mobil.


"Oh? Nggak." Jawabnya singkat.


***


Viona masih belum habis pikir pada ulah Sekar tadi, dirinya kini sudah berada di dalam taksi hendak menuju ke rumah Tami dan tanpa Arka.


Arka sendiri saat ini sedang melakukan pemijatan pada keningnya yang pening saat mengurusi Sekar dan Viona.


"Dalam hidupku, aku tidak suka mendapatkan perlawanan dari musuh!" Ujar Viona sambil mengepalkan tangannya.


Ya, hidupnya seperti ratu. Ia bak penguasa dunia ini dimana tidak boleh ada satupun wanita yang menggertak dan menentangnya. Apalagi wanita seperti Sekar, pasti amarah Viona semakin menumpuk.


***


Rencananya sudah berhasil. Arka tidak jadi pergi dengan Viona, namun mengapa Sekar justru gelisah? Di dalam kamar, ia mondar mandir seperti setrikaan.


Sesekali, ia menggigit kuku tangannya. Bimbang, ya itulah yang ia rasa saat ini.


"Sekar?" Terdengar Arka memanggilnya dari luar dan membuat Sekar terpaksa menyudahi bimbangnya.


"Iya mas?" Tanyanya ketika sudah turun dari atas dan kini menghadap Arka.


"Bersiap-siaplah!"


Sekar mengernyitkan dahi. Apa jangan-jangan ketakutan dan kebimbangannya akan terbukti?


Ya, hal yang membuat Sekar bimbang hingga mondar-mandir adalah ia takut Viona datang ke rumahnya bersama mertuanya Tami lalu memarahi Sekar yang melarang Arka mengantar Viona. Tidak hanya itu, Sekar juga takut Arka marah kepadanya karena sudah menahan kepergiannya.


Sekar menunduk "Maaf kan aku Mas, aku tidak bermaksud berbuat begitu." Ujarnya lirih.


Kini gantian Arka yang mengernyitkan dahi "Maksudmu?" Tanyanya.


"Ma-maaf. Mas menyuruhku untuk bersiap-siap akan segera di marahi Viona dan Mamah Tami bukan? A-aku sudah siap."


Arka yang sedang minum langsung tersendak saat mendengar apa yang dikatakan Sekar dengan nada lesu nya itu.


"Bukan Sekar, bukan itu maksudku." Ujarnya setelah berhasil menyetabilkan tenggorokan yang tadi sempat tersedak.


"Lalu?" Tanya Sekar polos.


"Bersiap-siaplah untuk pergi keluar."


Sekar tambah terkejut, ia tidak menyangka apa yang dilakukannya tadi bahaya nya bisa sebesar ini. Bukan hanya marah, Arka ternyata menyuruhnya pergi.


Dengan seketika, Sekar terduduk dan membungkukan badan. Diusir dan tidak memiliki tempat tinggal adalah hal yang Sekar takutkan.


"Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, aku berjanji. Tadi itu hanya iseng saja, maaf. Aku janji benar-benar janji." Ujarnya sambil bersujud di bawah Arka.


Alis Arka terangkat sebelah, namun ia tertawa setelahnya.


"Bangun, aku ini bukan raja jadi jangan bersujud kepadaku." Titahnya sambil membangunkan Sekar.


"Aku mau kita pergi ke luar dan makan siang di luar, bukan mengusirmu untuk pergi ke luar dari rumah ini."


Sekar menatap Arka sangat dalam. Manik mata dan binar sinarnya membuat Arka menelan ludah, Sekar sangat cantik jika dilihat dari jarak yang dekat apalagi saat ini sedang memasang ekspresi memelas. Euh, ingin sekali Arka mengunyah mata indah bola pingpong Sekar.


"Makan di luar? Untuk apa? Tadi pagi kan aku masak." Jawab Sekar, masih dengan muka polosnya.


"Masak apa? Masak udang? Kau kan tidak suka udang." Cercah Arka.


"Kan aku bisa masak tel-"


"Kau mau menjadi ayam? Berurusannya dengan telur melulu." Ucap Arka memotong perkataan Sekar.

__ADS_1


"Aku tidak mau tahu, bersiaplah dalam 5 menit." Seenaknya ia menyuruh Sekar bersiap-siap hanya dalam 5 menit saja, ia sendiri pergi ke garasi untuk mengecek mobil dan mengecek Waluyo apakah ia tidur atau tidak.


Tapi 5 menit adalah waktu yang cukup bagi seorang Sekar bahkan sangat cukup. Ia hanya perlu mengganti baju, mengenakan bedak bubuk, menyemprotkan parfum lalu memakai sepatu.


Urusan rambut? Bisa ia rapihkan di jalan dengan menggunakan tangan. Lipstick? Tidak perlu, bibir Sekar sudah merah alami. Itulah yang selalu ada di dalam benak Sekar saat ia tidak ingin berdandan.


"Yo?" Tanya Arka, ia sedang mencari Waluyo.


"Njeh pak?" Jawab Waluyo sambil keluar dari garasi.


"Kamu siap-siap dan juga siapkan mobil, saya dan Sekar mau makan di luar." Titah Arka singkat.


"Se se se, tunggu pak. Makan di luar? Sama bu Sekar?"


Arka mengangguk sebagai ganti jawaban 'iya'


"Berarti harusnya berdua aja pak, gak usah ajak-ajak saya." Jawab Waluyo tanpa ragu.


"Terus kamu kerjanya apa?" Tanya Arka.


"Sare (tidur), hehe." Ujarnya cengengesan.


"Wong edan!" Bentak Arka.


Sesekali, jika moodnya sedang baik Arka sering mengucapkan kalimat bahasa Jawa atau bahkan Sunda. Itu disebabkan karena tertular dari Waluyo, tapi terdengar lucu jika Arka yang mengucapkannya.


"Iya lah pak. Bapak menyetir di depan, bu Sekar duduk di samping bapak sambil pegangin tangan bapak. Terus main liat-liatan di jalan, tapi awas nabrak trotoar!"


Arka terkenal dengan sikap dingin dan kejamnya, tapi itu justru membuat Waluyo tertantang untuk terus mengusilinya. Seperti saat ini, Arka hanya menyuruhnya bersiap-siap juga menyiapkan mobil dan mengantarnya pergi makan di luar karena itu memang sudah tugasnya, tapi ia malah membicarakan yang lain-lain.


Dan anehnya Arka, ia tidak akan marah besar pada Waluyo dan tingkah konyolnya itu. Hal itu disebabkan karena selama ini Waluyo yang selalu menemani Sekar saat Sekar sendirian dan butuh teman.


"Yasudah, bantu buka pintu pagar saja." Akhirnya Arka mengikuti apa kata Waluyo untuk pergi berdua bersama Sekar, tapi tidak mengikuti titahnya yang mengatakan main liat-liatan!


"Siap bosku." Ujarnya dengan hormat dan semangat 45.


***


"Lho? Kamu kenapa?" Tami terkejut melihat Viona yang datang dengan keadaan menangis.


"Sini, sini. Duduk dulu. Bi Iyam? Ambilkan segelas air putih." Titah Tami pada pembantunya.


Viona masih melanjutkan isak tangisnya sambil bersender pada pundak Tami.


Dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, Tami mengelus kepala Viona, "Kamu kenapa sayang? Ayo cerita sama Tante."


"Vi-Viona dimarahin Sekar tante." Adunya. Ia berkata seperti anak kecil yang merengek meminta dibelikan balon mainan.


"Hah?" Tami terperanjat, ia bahkan bangkit dari duduknya.


"Marah karena apa?" Selidiknya.


"Tadi aku meminta Arka mengantarku kesini dan dia melarangnya setelah itu memarahiku." Ujar Viona dengan memasang wajah memelas sememelas mungkin.


"Setelah itu Viona di dorong dan disuruh pergi sendiri." Isak tangisnya semakin kencang.


Tapi Tami bukanlah wanita bodoh atau seperti mertua di dalam sinetron-sinetron. Ia tahu betul bagaimana Sekar. Sekar bukanlah seseorang yang kasar dan mudah marah. Sekalipun ia marah, pasti karena sesuatu yang sulit untuk dimaafkan. Tami juga tahu bagaimana Viona dan sikapnya.


Tapi agar Viona tidak sakit hati, Tami berpura-pura percaya dan bertingkah seolah-olah Tami berada di pihak Viona dan ikut kecewa pada apa yang dilakukan Sekar.


"Kenapa dia bisa sekasar itu? Tante tidak menyangka." Ujar Tami. Padahal ia tidak menyangka pada sikap Viona yang lidahnya berbisa dan tukang mengadu.


"Aku tidak tahu padahal aku hanya meminta diantar kesini, bukannya Tante sendiri yang meminta ku kesini?" Rengek Viona sambil menggenggam tangan Tami.


Meski tangannya di genggam, rambutnya di elus dan bahkan ginjalnya di tiup, Tami tidak akan percaya pada Viona. Hanya karena suatu hal lah mengapa ia berpura-pura percaya pada gadis pengadu ini.


"Kamu jangan menangis, sudah ya. Mungkin Sekar sedang sensi."


"Iya. Kasihan ya Arka punya istri judes kayak Sekar." Mendengar penuturan Viona begitu, Tami hanya menahan tawa. Viona pikir dirinya tahu segalanya melebihi Tami, padahal tidak sama sekali.

__ADS_1


"Tante ada apa memanggilku kemari?" Tanya Viona ketika ia sudah usai dengan air mata buayanya.


"Oh iya. Tante ingin bertemu dengan Ibu mu, kapan dia ada waktu?" Tanya Tami.


"Mamah? Oh aku tidak tahu, dia selalu sibuk. Akan Viona kabari jika Mamah ada waktu luang." Jawab Viona sambil tersenyum.


"Nah gitu dong, senyum. Jadinya kan manis." Ujar Tami sambil mengelus lembut kepala Viona sehingga membuat Viona merem melek dibuatnya.


***


"Kan aku sudah bilang kita mau makan, kenapa penampilan mu seperti mau bercocok tanam?" Arka memperhatikan Sekar dari ujung rambut hingga ujung kaki kemudian mencelanya.


Sekar mengerutkan kening. "Tidak biasanya Mas Arka mengkomplain pakaianku." Batinnya.


Ya, tidak biasanya atau bahkan hampir tidak pernah Arka mengomentari pasal pakaian yang Sekar pakai sebelumnya. Jangankan untuk mengomentari, melirik saja Arka tidak pernah.


Tapi mengapa hari ini ia begitu perhatian. Semuanya berawal dari ketika Arka membersihkan rumah sampai saat Arka tahu bahwa Sekar terbiasa makan dengan Indomie dan telur. Dari situ ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa akan menjadi suami yang lebih baik.


"A-aku." Sekar gelagapan.


"Yasudah! Nanti kita ke salon saja (Ingin tahu bagaimana cantiknya Sekar ketika menggunakan make up? Kalian bisa melihatnya di NT, Di bagian akhir cerita Bab ini."


Arka menarik paksa lengan Sekar seolah-olah itu adalah lengan boneka.


"Kau ini gadis reinkarnasi yah?" Tanya Arka ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Hah?" Ia membulatkan matanya.


"Kau ini gadis reinkarnasi yah, Sekar?"


Bukannya menjawab, gadis yang dipanggil Sekar itu malah mengukir senyum. Ia senang saat Arka menyebut namanya.


"Ma-maksud?" Tetap saja meski namanya sudah disebut, ia masih gelagapan.


"Dingin, pendiam, tidak berbaur, jarang bicara, jarang bersosialita, apa adanya. Aku curiga kau ini putri duyung yang dikirim ke dunia ini untuk menemukan sesuatu?"


Sekar tertawa pelan. Arka mengalihkan pandangannya dan tanpa sadar tersenyum saat melihat Sekar tertawa.


"Istri CEO, mau makan ke luar tapi tampilannya seperti hendak mengambil sembako." Katanya sambil geleng-geleng kepala dan terus fokus mengemudi.


Sekar hanya tertunduk, senyuman yang tadi mengembang ia lipat dalam-dalam. Tidak tahu apakah Arka sedang marah atau justru sedang memujinya.


KEDAS'S BEAUTY


Sebuah salon ternama di kota itu. Salon yang kini akan dimasuki oleh Arka dan Sekar lalu mengubah Sekar menjadi seorang bidadari, atau mungkin lebih dari itu.


"Welcome to the Kedas's Beauty Mr, Mr.s" sapa salah seorang pelayan dengan membungkukan badan. Percis seperti yang biasa Sekar lakukan kepada Arka jika permisi.


Sekar tersenyum dan ikut serta membungkukan badan. Beda dengan Arka, ia main nyelonong begitu saja sehingga membuat Sekar tersenyum kecut menahan malu karena tingkah suaminya yang tidak sopan.


"Aku ingin kalian mendandani dia." Titahnya pada seorang pelayan sambil menunjuk Sekar yang sedang menunduk.


"Memenuhi keinginan pelanggan adalah tugas kami. Boleh saya liat wajah dasarnya?" Perlahan Sekar mengangkat kepalanya.


"Wah, sepertinya pelanggan kali ini akan membuat kami bingung." Ucap pria berkemeja itu.


Kening Arka mengkerut "Kenapa?"


"Bahkan hasil polesan kami kalah jauh dengan kecantikan alaminya." Ujar pria itu berdecak kagum.


"Terserah. Yang penting dandani dia secantik mungkin." Arka berlalu hendak pergi ke ruang tunggu.


"Satu lagi. Saya suaminya dan saya perintahkan yang melayani dia harus seorang perempuan." Tangannya ia masukan ke dalam saku celana kemudian berjalan dengan santai.


"Siap untuk tampilan baru gadis manis?" Tanya pria itu.


Sekar mengangguk.


"Yasudah, mari. Ngomong-ngomong suami Anda titisan macan yah? Galak sekali kelihatannya." Sekar hanya tersenyum dan menunduk.

__ADS_1


Sekar with make up



__ADS_2