
Warning!!!! cerita ini mengandung unsur 21+
Dan.... Kalau otak kalian ternoda jangan salahin Mimin. Karena Othor udah ngasih warning
To-tolong jangan di baca ya yang bawah umur. Saya sebagai penulis tidak ikut serta menanggung dosa kalian ya:v. Bukan malam pertama, namun penuh nuansa.
Cekidottt.
....
"Kamu mandi duluan gih. Setelah itu aku," Sekar mengusap rambut Arka yang sedang berbaring di pahanya. Akhir-akhir ini Arka senang sekali menjadikan paha Sekar sebagai bantal. Di pikir kepalanya tidak berat apa?! Untung Sekar sayang.
"Nanti aja. Masih capek habis jalan-jalan," Arka mengusap halus pipi Sekar. "Pipi kamu mulus banget sih. Gak pernah jerawatan?" Tanya Arka.
Sekar terlihat berfikir sejenak, "Pernah. Kalau mau datang bulan."
Keduanya terdiam. Tak ada lagi topik yang bisa di bicarakan. Sibuk pada gerakan masing-masing. Sekar sibuk menyugar rambut Arka. Arka sibuk mengelus pipi Sekar. Turun ke dagu. Berhenti di bibir. Mengetuk-ngetuk bibir Sekar menggunakan jarinya.
"Bibir nya kok merah merona gini?" Arka sudah mengigit bibir bawahnya. Kalau sudah di hadapkan dengan bibir Sekar. Arka memang akan lemah.
"Gak tau. Mungkin karena aku jarang pake lipstik gitu," ucap Sekar polos.
"Terlalu tipis bibirnya. Aku tebalin mau?" Arka beranjak dari tidurnya. Melihat wajah Sekar. Menantikan jawaban dari gadis itu.
Sekar mengulum bibirnya. Tak tahu apa lagi yang akan dilakukan Arka kali ini. Ralatnya tak tahu harus menjawab apa. Sialnya, sentuhan bibir sudah menjadi candu tersendiri bagi Sekar.
"Diam artinya iya."
Arka memegangi tengkuk Sekar menggunakan sebelah tangannya. Tangan yang satunya memegang paha Sekar yang masih berbalutkan celana levis karena memang belum berganti pakaian. Sedikit kasar. Mendorong kepala gadis itu hingga posisinya menjadi sedikit tertidur. Cukup lama. Dalam dan menuntut. Tak ada lagi pemberontakan dari Sekar. Ia hanya mengiringi permainan Arka.
Sayangnya Arka tak bermain dengan satu benda. Kali ini turun ke leher jenjangnya. Meraup nya dengan halus. Turun ke perutnya. Menyibakan baju Sekar. Sekar hanya menggeliat. Geli rasanya saat perutnya di jilat. Ini bagian paling pentingnya. Dimana Sekar benar-benar membulatkan matanya sempurna. Dimana dengan lancangnya Arka menerobos dua pegunungan. Merabanya dan mencicipnya.
Sekar tak tahu harus berekspresi apa. Yang jelas ia merasa geli di sekujur tubuhnya. Tapi Arka, pria itu justru semakin ganas. Menyibakan baju Sekar tinggi-tinggi meski belum terlepas sepenuhnya. Sekar mengulum bibirnya merasakan sensasi geli. Kemudian naik kembali ke leher Sekar. Mendarat di bibir. Menatap teduh mata gadis yang sedang terpejam itu. Sekar membungkam mulutnya. Tak ingin mengeluarkan kata yang menggelikan untuk di dengar.
Arka tersenyum. Sekar rupanya masih malu-malu. Sebelah tangan memegang sebelah pegunungan. Sebelah tangannya lagi di gunakan untuk melepaskan tangan Sekar yang sedang membekap mulutnya.
__ADS_1
"Jangan di tahan. Keluarkan apa yang ingin di keluarkan."
"A-Arka," benar. Geli jika di dengar.
(Ah jangan salahin Mimin loh ya😭. Maaf Ya Allah. Ini request dari para pembaca loh. Awas aja kalau dosa nya di bagi-bagi ke Mimin. Tuh kan di atas udah di kasih warning😭)
Sekar buru-buru sadar. Ia sedang tidak ingin memulainya sekarang. Membuat Arka yang sedang menggeliat bagai cacing kepasan terperanjat.
"A-aku mandi dulu." Ia berlari sekencang mungkin.
Arka terkekeh melihatnya. Menyusut sudut bibirnya yang basah.
*****
Sekar membasuh mukanya berkali-kali yang terasa panas. Tangannya gemetar hebat. Nafasnya menggebu. Berubah menjadi satu-satu.
"Aku keluar ngambil minuman dulu!" Teriak Arka dari luar.
Selesai mandi buru-buru Sekar melilitkan handuknya. Handuk tipis yang panjangnya di atas lutut. Bahkan bagian paha atas nya terlihat sangat jelas setengah.
Arka yang sedang menyedot minuman Americano Coffe nya terperanjat melihat Sekar keluar dari kamar mandi dengan keadaan seperti itu. Pria itu meneguk ludahnya kasar.
"Ih handuk nya kecil banget," jengkel Sekar.
Arka terdiam. Sepertinya Sekar tak menyadari kehadiran Arka. Sekar memutar tubuhnya. Membelakangi Arka.
"Ya Allah. Mulus," batin Arka dalam hati. Dengan mata membulat sempurna.
"Se-Sekar?"
Sekar terlonjat kaget. Lantas ia membalikan tubuhnya. Dimana ia mendapati Arka sedang melihat ke arahnya.
"A-Arka se-sejak kapan disini?"
Pikiran Sekar buntu. Tak tahu harus berbuat apa. Mau berlari ke kamar mandi tapi tak bisa. Seolah-olah ada yang mencekalnya. Mungkin janji yang mengikatnya.
__ADS_1
Wajar bukan jika Arka maju mendekati Sekar? Ya. Arka maju setelah menyimpan minumannya. Dada nya berdebar kencang. Tak tahu pikirannya ke mana. Tapi langkah kaki nya menuntut untuk berjalan mendekati Sekar.
"A-aku gak tau ka-kamu disini," Sekar memperkuat lilitan handuknya. Agar tidak jatuh ke lantai.
"Memangnya kenapa kalau gak tau? Sah-sah aja kan kamu keluar dengan penampilan seperti ini?"
Arka memojokan Sekar. Mengunci pergerakan tubuh Sekar. Dengan menyimpan sebelah tangannya ke tembok. Ia menatap mata Sekar.
"Ma-mau mandi?" Sekar semakin gelagapan.
"Mau. Tapi mau di temenin," ucap Arka datar. Mengundang rasa takut bagi Sekar.
"A-aku pake baju dulu ya. Ka-kamu mandi dulu gih," Sekar mencoba keluar dari kukungan Arka. Namun gagal. Arka menahannya.
"Kenapa harus pake baju? Aku suka kamu gak pake baju."
Sekar meneguk ludah nya kasar. Kalimat itu terdengar begitu mengerikan.
Tangan Arka benar-benar lancang. Pikiran Arka kalut. Atau. Ah entah bagaimana menjelaskannya. Ia melepaskan tangan Sekar yang tadi sedang memegang ujung handuk. Dengan sekali tebas. Ia membuka handuk tersebut. Memperlihatkan benda yang terbungkus tadi. Sekar memejamkan matanya dalam-dalam saat sekujur tubuhnya terekspos dengan jelas di depan Arka tanpa sehelai benang pun yang menutupinya.
Arka mencekal handuk tersebut sekuat tenaga. Keringat dingin bercucuran. Matanya tak berkedip. Nafasnya terhenti. Pemandangan di depannya ini bisa membuat jiwa nya gila hanya dalam satu detik. Pemandangan yang belum pernah Arka lihat sebelumnya. Pemandangan yang lebih indah dari pegunungan.
Arka tak tahu harus bagaimana. Isi kepalanya benar-benar kosong. Tidak sampai Sekar memeluknya. Menghentikan pandangan Arka pada tubuh naked gadis itu.
"A-aku kedinginan." sontak Arka memeluk Sekar. Memeluk tubuh gadis itu yang kedinginan. Di dalam pelukan Arka, Sekar menangis. Entah kenapa. Mungkin karena ini kali pertamanya seseorang melihat bagian dalam tubuh nya.
"Ma-maaf." Arka melilitkan kembali handuknya pada tubuh Sekar.
"Aku mandi dulu. Ka-kamu pake baju dulu ya."
Sekar mengangguk. Tanpa melihat ke arah Arka sedikitpun.
Saat Sekar hendak pergi. Arka mencekal langannya. Meraup sebelah pipi gadis itu. Menempelkan bibirnya pada bibir Sekar. ********** kencang. Arka benar-benar sudah tidak tahan.
"Nanti. Setelah ini," ucap Sekar dengan nada sendu.
__ADS_1