Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Degdegan


__ADS_3

"Muach."


Kecupan hangat itu kembali mendarat di kening Arka sebelum ia keluar dari mobil.


Tapi Arka hanya diam saja. Tidak membalas dan juga tidak menolak. Padahal seharusnya ia menghindari hal-hal tersebut mengingat statusnya yang sudah beristri.


"Sampai ketemu besok mas."


Viona turun dengan begitu anggun, meninggalkan Arka yang diam membisu didalam mobil. Setelah Viona turun, Arka kembali melanjutkan mengendarai mobil untuk segera pulang kerumah.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, tapi suara mobil Arka belum juga terdengar di telinga Sekar.


Harusnya di jam sekarang ini Sekar sedang bermain dengan mimpi indahnya. Tapi karena Arka belum pulang, ia rela menyisihkan waktu untuk menunggu kepulangan suami.


Tit tit


Orang yang di tunggu akhirnya tiba. Terlihat Pak Waluyo membukakan pagar.


"Mas Arka!"


Seketika kantuk yang tadi berkerumun langsung hilang, matanya kembali terbuka lebar dan segar. Ia berlari menuju keluar padahal Arka belum turun dari mobil.


"Mas Arka!"


Entah apa yang dipikirkannya. Sepertinya ia senang terus memanggil nama suami meski sedang malam hari.


"Berisik! Kamu pikir ini hutan!"


Sekar langsung tertunduk saat dirinya dibentak.


"Sini saya bawain."


Ia menyerahkan tangannya untuk diisi berkas-berkas yang dibawa Arka. Dengan senang hati Arka menyerahkan berkas-berkas itu.


"Hati-hati!"


Sekar senang, hatinya langsung berbunga saat Arka mengingatkannya untuk berhati--hati.


"Hati-hati barangnya nanti jatuh terus rusak!"


Senyumannya kembali pudar setelah sadar saat bukan dirinya yang disuruh berhati-hati.


Tapi ia masih tetap masuk ke dalam dengan membawakan berkas-berkas Arka dengan senyuman merekah.


***


"Sudah makan mas?"


Meski berkas-berkas sudah disimpan kedalam kamar, namun Sekar masih mengekori Arka.


Tidak ada jawaban atas pertanyaannya itu.


"Mas sudah makan?"


Arka membalikan badannya secara mendadak dan membuat Sekar yang berada dibelakangnya tidak sengaja terbentur dan menabrak punggung Arka.


"Kamu bisa tidak jangan mengikuti saya?" Jengkel Arka.


"Mas sudah makan? Mau saya masakin apa? Saya sudah masak banyak, tapi kalau mas mau makanan yang lain saya bisa membuatkannya sekarang."


Ia tidak menjawab dan kembali berjalan.


Sudah jelas-jelas Arka tidak mau dikuntili, tapi Sekar tetap saja mengekori nya dari belakang saat Arka kembali berjalan.


Alih-alih seperti seorang istri, Sekar justru terlihat seperti seorang pelayan restoran.


"Diam! Kamu ini istri saya, bukan pelayan restoran ataupun bodyguard!"


Bentakan Arka kali ini cukup keras dan berhasil membuat langkah Sekar terhenti.


Bukannya menangis atau sakit hati, Sekar justru tersenyum. Ia senang karena jati dirinya sebagai seorang istri masih diingat Arka.


"Saya mau mandi lalu tidur, kamu tidurlah sana!"

__ADS_1


Pasti setelah ini Sekar akan tidur dengan sangat nyenyak, karena di perintahkan oleh suami sendiri.


"Siap mas." Dengan memberi hormat seperti kepada bendera merah putih, Sekar meninggalkan Arka sambil tersenyum lebar. Ia lalu pergi menuju ke kamar nya untuk nenghilangkan penat dan menyambut hari esok yang segar.


"Dasar anak kecil." Ujar Arka.


Bukannya naik ke kamar, Arka justru malah pergi menuju arah dapur. Dirinya berhenti didepan meja makan. Dibukanya tudung saji berukuran normal size berwarna biru tua itu.


Ada orek tempe, ayam goreng dan sambal matah.


Bagaimana Sekar bisa mengatakan bahwa dirinya akan memasakan makanan lain sementara yang sudah terhidang dimeja makan ini adalah makanan favorit Arka semua?


Arka memegang paha ayam krispy itu, masih panas. Terlintas pertanyaan di benaknya.


"Kapan Sekar memasak ini semua? Mengapa masih hangat?" Ujar nya.


Niat mau mandi batal, ia malah duduk manis di meja makan.


Dua centong nasi sudah tersedia di atas piring dengan lauk orek tempe, dua potong ayam dan sesendok penuh sambal matah.


Daripada terlihat seperti makan malam, porsi Arka makan ini lebih terlihat seperti orang yang sedang mukbang.


**


"Alhamdulilah."


Ia memegang perutnya yang sudah buncit karena kekenyangan.


"Sepertinya mandi besok saja. Susah mandi kalau kekenyangan begini."


Ia keluar dari kursi dengan bersusah payah karena kebanyakan makan.


Ia tidak sempat makan malam karena sibuk oleh pekerjaan. Dan Viona tidak membelikannya makanan apapun sehingga ia harus pulang dengan perut kosong. Syukurlah ada olahan tangan Sekar yang dapat memanjakan perut Arka.


Diatas sana, gadis manis itu, Sekar sedang tersenyum melihat suaminya yang kekenyangan.


"Aku senang melihat mas Arka lahap memakan makanan buatanku."


Setelah Arka enyah dari tempat duduknya, Sekar pun buru-buru masuk kedalam kamar takut ketahuan Arka.


***


"Mas Arka?"


"Mas Arka?"


Masih sama.


"Mas Arka? Sudah mau jam 8, Mas mau berangkat kerja gak?"


Sudah hampir dua jam Sekar berdiri di depan kamar Arka dan mengetuk-ngetuk pintunya. Biasanya jam 6 pagi Arka sudah bangun dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


Sudah hampir telat dua jam. Sekar tahu bahwa Arka adalah pimpinan perusahaan besar itu, tapi ia tahu bahwa Arka adalah orang yang disiplin dan memang suka tepat waktu.


Maka dari itu, Arka harus berhasil dibangunkan nya untuk segera berangkat ke kantor.


"Mas Arka?"


Ia sudah mulai risau. Takut-takut jadi sasaran empuk saat suaminya bangun dan memarahinya dengan alasan tidak membangunkan.


"Mas Arka? Apa aku masuk saja?"


Kebingungan semakin menjadi. Kalau main masuk saja takut dimarahi, tapi kalau diluar juga pasti dimarahi.


"Ah, Bismillah."


Sebelum masuk, ia menengadahkan kedua tangannya, membaca basmalah lalu masuk.


Kamar Arka memang tidak biasa di kunci karena ia tahu bahwa Sekar tidak akan berani masuk kedalam.


Tapi sepertinya tidak untuk kali ini. Dengan Lahawula, Sekar melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kamar Arka untuk membangunkan kebo tampan satu ini.


Arka sedang terbaring diatas kasur dengan keadaan yang bisa dikatakan.... menyebalkan? Atau mungkin menyenangkan? Entahlah.


Menyebalkan karena dirinya tidak menggunakan selimut, bagaimana kalau masuk angin?

__ADS_1


Menyenangkan karena.... tidak ada sehelai kain apapun menutupi badannya sehingga bulu-bulu halus di dadanya dapat terlihat.


"Pasti karena semalam perutnya buncit jadi gak kuat pakai baju. " Sekar terkekeh, dengan langkah pelan sekali ia berjalan menghampiri Arka.


"Mas Arka?"


Aneh. Padahal Sekar suka pemandangan dada bidang itu. Tapi saat membangunkan Arka ia justru membelakangi Arka seolah-olah tidak ingin matanya ternodai oleh badan six pack suami.


"Mas Arka?"


Arka seperti orang yang meminum obat tidur, tidak bangun-bangun. Atau mungkin Sekar yang membangunkannya terlalu pelan.


"Bismillah."


Ia membalikan badannya menghadap Arka, tapi matanya tertutup sempurna.


"Mas Arka? Bangun Mas."


Tangan Sekar mulai menggoyang-goyangkan sesuatu. Bukan perut atau kaki Arka yang digoyangkan, melainkan ranjang.


Bagaimana bisa Arka bangun dengan cara begitu?


"Mas Ar-"


Tap


Jantung Sekar kembali berdetak dengan cepat saat tangan Arka memegang tangan nya, tapi mata Arka masih tertutup rapat.


Tidak sampai disitu, ia juga menariknya dan membuat Sekar jatuh ke pelukannya.


Pluk


Seperti halnya sebuah guling, begitulah saat ini Sekar dipeluk.


"M-Mas?"


Dada dingin Arka begitu terasa di pipi Sekar, tangan Sekar melingkar mengitari perut Arka.


"M-Mas?"


Ia sudah berusaha menghindar, tapi pelukan Arka sangat kencang, bahkan membuat Sekar sedikit kesulitan untuk bernafas.


"Bismilah. MAS ARKA?!"


"Allahu Rabbi."


Arka membuka mata nya dan langsung meloncat sampai ia berdiri di luar ranjang.


Sekar kembali ke posisi pertama nya yakni menghadap membelakangi Arka.


"Sedang apa kamu disini?!" Bentak Arka sambil meraih selimut dan menutup seluruh badan nya, seolah-olah ia korban pelecehan sek****.


"S-saya bangunin Mas." Ujar Sekar gelagapan.


Bentakan Arka telah berhasil membuat dada nya sesak dan kaki nya lemas.


"Bangun saya? Jam berap-... **** , jam 8? Kenapa tidak membangunkan saya dari tadi?"


Suara Arka semakin meninggi begitupu Sekar, ia semakin gemetar.


"Saya sudah membangunkan Mas dari tadi, tapi... diluar." Ujar Sekar dengan menambahi sebuah jeda.


"Membangunkan saya dari luar? Pasti suara mu pelan kan? Lain kali kalau saya susah bangun, kamu masuk aja kedalam, bangunin saya dengan cara mengguncang-guncangkan badan saya! Kamu ini sudah saya halal kan, tangan mu tidak haram dengan hanya menyentuh badan saya!"


Sekar tersenyum di sela-sela gertakan gigi nya yang gemetar. Dipikirnya bahwa Arka belum mengumpulkan nyawa nya secara keseluruhan dan tidak sadar telah menguntai kata-kata indah itu.


"Maaf." Ujar Sekar lirih, maaf nya tidak tulus. Ia lebih senang mengucapkan kalimat 'Terima Kasih' . Terima Kasih karena sepagi ini hati Sekar sudah dibuat berbunga-bunga.


"Keluar kamu, saya mau mandi!"


Sekar keluar tanpa melihat ke arah Arka sedikitpun. Senyumnya masih mengembang, pipi nya masih merah. Ia takut kalau Arka melihat nya.


Sekar dan Arka ini aneh.


Sekar, ia sangat menikmati untaian kata manis dari mulut Arka, sangat menyukai pemandangan indah dada bidang Arka. Tapi, saat diberi kesempatan seperti tadi.. malah dibuang, tidak digunakan sebaik mungkin. Kenapa? Apa karena belum terbiasa.

__ADS_1


Arka juga aneh. Sering mengatakan bahwa Sekar adalah istrinya, sering mengatakan bahwa Sekar sudah di halalkan oleh nya. Masa mau mandi saja Sekar disuruh keluar? Memangnya gak enak mandi ditemani istri?


__ADS_2