
Kring kring
Kring kring
Kring kring
"Berisik!" Tangan Arka meraba handphone yang ia letakan di atas meja, samping tempat tidurnya.
Alih-alih bangun saat mendengar alarm berbunyi, Arka justru mematikannya.
Kring kring
Setelah alarm jam weker berhasil ia matikan, kini alarm handphonenya yang berbunyi. Nada nya sangat berisik sehingga membuat Arka terpaksa membuka matanya dengan gerakan lamban binti malas.
"Apa? Jam 4?!" Dia sendiri yang menyetel alarm, dia sendiri juga yang terkejut.
"Untuk apa aku memasang alarm jam segini? Kurang kerjaan!"
Alarm kedua berhasil ia matikan, handphone ia lempar begitu saja entah kemana dan matanya kembali terlelap, rasa kantuk masih menguasai dirinya.
Baru beberapa menit matanya terpejam, ia sudah kembali terbangun dengan keadaan terkejut bahkan matanya melotot, percis seperti orang baru bangun dan mendapati dirinya sedang di neraka.
"Jam 4? Ah benar!"
Disibakkannya selimut yang sedari malam menjadi pelindung tubuhnya dari dinginnya Ac, ia mengucek-ngucek mata agar mendapatkan penglihatan lebih jelas, memakai sendal rumah lalu keluar kamar.
Nyawanya kini sudah kembali terkumpul, jalannya tidak oleng-olengan dan bahkan ia sudah mengelus dagu mulus nya.
"Pagi-pagi begini apa ya yang biasanya Sekar lakukan ya?"
Ingatan akan janjinya pada Arman dan pada dirinya sendiri kembali muncul. Ia ingat bahwa hari ini ia akan menunjukan sisi hebat ke suamiannya dengan membantu menyelesaikan pekerjaan rumah, maka dari itu ia sengaja memasang alarm pukul 4 dini hari agar pekerjaan itu bisa ia lakukan dan selesai sebelum Sekar bangun.
"Sekar biasanya bangun pas adzan shubuh. Baiklah, aku mempunyai waktu satu jam untuk menyelesaikan pekerjaan rumah ini. Cih, gampang!"
Belum apa-apa ia sudah berujar gampang. Sebagai permulaan, Arka melemaskan otot-otot tangannya dengan melakukan sedikit peregangan.
"Bismillahirrahmanirrahim." Ia ingat bahwa Sekar selalu mengucap basmalah sebelum bekerja, maka itu ia lakukan juga.
"Cuci piring, ya aku akan mencuci piring."
Perlahan tapi pasti begitulah bagaimana Arka menuruni tangga untuk menuju dapur dan mencuci piring.
Mencuci piring adalah awal yang bagus untuk pemula seperti Arka. Namun... tidak sampai akhirnya...
Brang!
Sebuah piring kaca meluncur dari tangan Arka ketika sedang ia sabuni sehingga piring tersebut terjatuh ke lantai dan pecah.
"Ah dasar! Itu piring apa ikan, di pegang malah loncat." Gerutu nya pada diri sendiri.
Ia menghentikan aktivitas mencuci piringnya untuk sesaat dan bergegas mengambil sapu untuk menghilangkan pecahan-pecahan piring tersebut.
Brang!
Bukannya membersihkan pecahan kaca, Arka malah menambah pecahan kaca. Gelas yang ia simpan di samping wastafel tidak sengaja tersenggol olehnya sehingga dengan suka rela kembali terjatuh ke lantai dan kembali pecah.
Alih-alih membersihkan perabotan, Arka lebih terlihat seperti merusakan perabotan.
"Ish! Seminggu saja aku mencuci piring, habislah sudah piring di rumahku."
Ia sendiri yang mencuci piring, ia sendiri yang memecahkan piring, ia sendiri yang komplain.
***
Aktivitas menyapu pecahan piringnya sudah selesai, namun tidak dengan mencuci piringnya. Masih ada beberapa gelas yang harus ia cuci.
Arka kembali melanjutkan aktivitas ibu rumah tangga itu dengan lebih berhati-hati dari sebelumnya.
"Selesai!"
Ia menepuk-nepukan tangannya lalu membusungkan dada tanda bangga mana kala dirinya sudah selesai dengan aktivitas mencuci piringnya.
Hebat! Sangat hebat! Piring yang dicuci hanya 10 biji tapi membutuhkan waktu setengah jam!
Ya, Arka mulai mencuci piring dari jam 4 dan sekarang sudah jam setengah 5 lebih. Bagaimana tidak, gerakannya sangat lamban sekali seperti orang yang sedang kena cacar dan tidak boleh kena air.
__ADS_1
"Mencuci piring sudah, saatnya masak nasi dulu."
Sekar biasanya memang memasak nasi terlebih dahulu menggunakan rice cooker. Karena memasak nasi menggunakan barang tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama dan biasanya Arka akan sarapan pada jam 6 lebih dan nasi harus sudah matang.
"Sekar masak berapa yah biasanya sehari? Ngambil nasinya pakai apa?"
Tidak ada cangkir nasi atau yang biasanya lebih kita kenal dengan sebutan 'Letteran' saat itu. Arka memutar matanya, melihat sekeliling mencari barang apa yang bisa ia gunakan untuk memindahkan beras dari karung ke dalam rice cooker.
"Kalau pakai tangan saja bisa, kenapa harus pakai benda."
Tidak mendapat benda yang dapat membantunya, alhasil Arka menyiuk beras menggunakan tangannya.
Entah berapa kali tangannya itu menyiuk beras, yang jelas besi penanak nasi itu sudah terisi hampir penuh, lebih dari setengahnya. (Kalau saya sih udah dimarahin emak, nanti pas mateng gak kebayang nasinya berhamburan kemana-mana, keluar kandang:v)
"Air nya segimana ya?"
Setelah dibingungkan oleh takaran beras, kini Arka kembali dibingungkan oleh takaran air.
"Aha, Sekar biasanya memasak nasi sangat lembut. Aku memang suami pintar." Rasa bangga akan dirinya sendiri kembali di agungkan.
Lembut memang lembut bahkan sangat lembut, beras yang dimasak Arka akan menghasilkan nasi yang sangat lembut yang hanya bisa dimakan oleh kakek-kakek ompong.
Dikatakan begitu karena ia memasukan air hampir sepenuhnya rice cooker, ia mengira bahwa itulah takaran yang biasanya Sekar berikan.
Cetrek, rice cooker pun sudah ia nyalakan.
"Mantap bos!"
Gelak tawanya terdengar karena ia sangat bangga pada dirinya sendiri yang telah berhasil memasak dan mencuci piring.
Namun, gelak tawanya harus berhenti mana kala adzan shubuh berkumandang.
"Hah? Adzan?" Arka melirik jam dinding yang dimana waktu menunjukan pukul 05 shubuh.
Mantap, sangat mantap. Satu jam ia hanya menyelesaikan dua pekerjaan yang bahkan bisa diselesaikan hanya dalam waktu 10 menit jika Sekar yang melakukannya.
"Terserah! Hari ini aku libur dulu ke kantor."
"Saatnya ngepel lantai."
Akan bisa dimaafkan jika cara mengepelnya benar. Tapi cara mengepel Arka jauh dari kata benar sama sekali.
Ia tidak memeras kain pel lan terlebih dahulu, setelah di masukan ke dalam ember langsung ia pel kan ke lantai sehingga membuat lantai sangat basah seperti baru surut dari banjir bandang.
Tidak ada satupun wangi-wangian yang ia gunakan untuk mengepel, hanya air saja. Meski begitu, dirinya masih merasa paling benar.
"Untuk apa kemarin aku menelefon Zaki jika aku bisa melakukannya sendiri. Seorang Arka bukan hanya hebat di kantor, tetapi juga hebat di rumah. Aku yakin Sekar pasti akan terkejut pada kehebatanku." Ujarnya sambil masih terus mengepel.
Akan bisa dimaklum jika Arka hanya mengepel dengan sangat basah. Tapi yang dilakukannya ini benar-benar di luar nalar.
Jika biasanya orang-orang mengepel dengan berjalan mundur, maka Arka mengepel dengan berjalan maju sehingga membuat lantai kotor bekas sendalnya sendiri. Tapi dirinya masih terus fokus mengepel ke depan sampai tidak sadar bahwa lantai di belakangnya masih kotor bekas sandal.
"Astagfirallah, Mas Arka?!"
Seperti yang di prediksikan Arka, Sekar sudah bangun saat shubuh menjelang. Dan seperti apa yang dikatakan Arka tadi, Sekar terkejut saat melihat aktivitas yang kini sedang dilakukan Arka.
"Tenanglah, tidak usah terkejut. Selain memegang map, mengepel adalah keahlianku." Tukas Arka tanpa berhenti mengepel.
"Air nya sudah habis, akan kuambil lagi." Ujar Arka.
Karena kain pellan tidak ia peras, bahkan air yang berisi setengah ember sudah habis ia tumpahkan ke lantai.
"Haa?"
Mulutnya menganga, matanya terbelalak sangat dan bahkan sangat lebar. Ia terkejut saat membalikan badannya melihat kondisi lantai yang sudah ia pel ternyata masih kotor dengan bekas sandal.
"Bekas sandal siapa ini? Siapa yang masuk kesini? Sudah tahu aku sedang mengepel?! Pasti Waluyo." Gerutunya sambil mengepalkan tangan, Waluyo yang sedang shalat pun kena ambas.
Sekar lebih menganga daripada Arka. Ia mungkin berpikir bahwa Arka ini gi*a dan bahkan lebih dari gil*. Orang gil* saja masih bisa mengepel dengan cara mundur, bagaimana Arka yang waras, tampan, pintar, kaya, keren bisa mengepel dengan cara maju?!
"M-mas kamu nga-ngapain?" Sekar mendadak menjadi gagap. Ia sangat terkejut melihat keadaan lantai yang becipruk basah seperti tersiram ombak laut Kidul, ditambah banyak jejak sandal searah dengan berdirinya Arka saat ini.
"Aku sedang mengepel! Tapi Waluyo main masuk saja sampai meninggalkan bekas sandal! Kemana dia sekarang?"
Waluyo yang berada di kamarnya, di bawah, langsung menghadap Arka saat mendengar namanya di panggil.
__ADS_1
"Njeh pak?" Tanyanya sambil membungkuk.
"Kamu ngapain pake lewat kesini segala? Kan saya sedang ngepel!" Bentaknya.
Waluyo sendiri menganga saat melihat kondisi lantai.
"Banjir ya pak? Atau air kran bocor? Kok lantai nya basah gini." Ujarnya polos, ia tidak tahu bahwa itu ulah sengaja Arka.
"Jangan mengalihkan pembicaraan kamu! Ngapain kamu lewat sampai meninggalkan jejak sandal!' Ujar Arka sambil menunjuk jejak sandal yang panjang.
Sejauh ini, Arka belum sadar bahwa tingkahnya itu salah. Entah belum sadar atau entah berpura-pura tidak sadar karena di tangga sana ada Sekar yang sedang memperhatikan. Yang jelas, Arka yang keren terlihat sangat konyol sekarang.
"Nun sewu Pak, tapi saya gak lewat kesini." Waluyo berusaha membela dirinya karena memang bukan ia.
"Terus ini jejak siapa? Tuyul? Masa tuyul punya kaki kayak ukuran kaki kamu!" Bentak Arka lagi, ia masih tetap tidak mau kalah.
"Nun sewu pak, tapi itu ukuran kaki bapak."
Waluyo tertunduk karena ia sedang tertawa saat ini dan tidak mau tawanya kelihatan Arka.
Diberitahu begitu, Arka langsung menunduk dan mencopot sandal rumah yang ia bawa dari hotel.
Basah, ya itulah kondisi sendal bagian bawah Arka saat ini.
"Monggo coba di akurin pak, ukuran sendal bapak sama ukuran sendal yang ada di lantai ukurannya sama."
Barulah rasa malu dan kikuk menyerang Arka. Tapi harga diri, meski sudah terbukti salah, ia masih tetap jaim dan memasang tampang menyebalkan.
"Bagus! Tadi saya hanya mengetes kamu saja." Jawab Arka angkuh padahal sebenarnya ia sedang menahan malu.
"Mengetes opo pak?" Tanya Waluyo.
"I-iya mengetes apa kamu akan marah pas saya tuduh atau ti-tidak, dan ternyata kamu tidak marah, bagus!" Ujarnya. Mukanya mulai memerah, ia sangat malu tapi masih berusaha mempertahankan jati diri.
"Oh begitu toh. Kalau penyebab lantai nya basah den?" Karena tidak tahu, Waluyo malah bertanya seperti itu tentunya hal tersebut membuat Arka semakin malu.
"Lantai basah? Oh iya! Saya sedang mengerjai kucing! Tadi ada kucing masuk makannya lantainya saya pel sebasah mungkin agar kucing itu terpeleset, jatuh lalu mati!" Pikiran Arka buntu saat ia sedang berusaha menahan malu.
"Kucingnya 10 pak? Kok lantainya sampai di pel semua? Kerajinan yah?" Semakin aneh akan jawaban Arka maka Waluyo semakin bertanya.
Waluyo menyelidiki sendiri kejadian yang sebenarnya hingga akhirnya ia baru sadar.
"Bapak ngepel nya maju ya?" Ujarnya tanpa ragu.
"Memangnya kenapa?" Tanya Arka, rupanya ia belum sadar bahwa apa yang dilakukannya itu salah.
"Lho? Kalau bapak ngepelnya maju lantai yang udah bapak pel di belakang jadi kotor lagi karena bapak injek sendiri."
Dari Waluyo lah Arka tahu bahwa caranya mengepel salah. Sudah terlanjur, kini saatnya menahan malu yang teramat besar.
"Kok embernya kosong? Bapak ngepel pake angin?" Waluyo tidak segan untuk menanyakan pertanyaan yang mengganjal kepalanya. Ia bingung saat melihat ember yang dipegang Arka kosong.
"Airnya sudah habis." Jawab Arka singkat.
Seketika gelak tawa Waluyo pecah, ia tertawa hingga perutnya kesakitan. Namun di hadapannya Arka masih berusaha menahan malu dengan masih busung dada.
"Hahaha bapak ngepel pake aer seember? Itu ngepel apa madamin kebakaran?"
Brak!
Ember yang sudah berisi angin pun melayang ke arah Waluyo dengan begitu cepat.
"Sana kamu, cuci mobil!" Setelah kesal dan takut Waluyo lebih membuatnya malu, barulah Waluyo di usir Arka dengan cara di lempar oleh ember kosong.
"Haha siap pak bos. Besok saya mau bilang sama istri saya harus ngepel pake ember se aer, siapa tau bisa jadi kaya kayak bapak!" Ia berlari setelah secara tidak langsung menghina Arka. Padahal apa yang dikatakan Waluyo itu salah. Ia mengatakan (ember se aer) bukannya (aer seember) dirinya sudah tidak bisa menahan rasa lucu akibat ulah Arka.
Selain Waluyo, di atas sana juga ada Sekar yang sedang tertawa.
Arka sedang bingung saat ini, benar-benar bingung. Apa lagi yang harus ia lakukan, lanjut mengepel? Air sudah habis, ke dapur? Lantai basah bisa menyebabkan jatuh, ke kamar? Ada Sekar di atas, diam di tempat? Malu di tertawakan Sekar.
Namun kebingungannya musnah saat terdengar suatu ledakan dari dapur.
Duar!
Bisa dipastikan itu adalah nasi yang tadi di masak Arka. Ia tidak perduli lagi akan lantai yang basah, dirinya berlari menyerbu dapur untuk melihat apa yang baru saja meledak.
__ADS_1