Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Shalat Bersama


__ADS_3

Arka: Kegiatan menyenangkan yang sesungguhnya adalah ketika kita menghadap Ilahi bersama-sama. Mengerjakan tugas seorang Muslim dengan hati terbuka.


"Assalamualaikum Warrahmatullah...... Assalamualaikum Warrahmatullah...,"


Arka memalingkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seraya mengucapkan salam. Setelah itu mengusap wajah nya dan membaca lafadz Allah.


Arka membalikan badannya. Mengulurkan tangannya. Di sambut oleh anak-anak panti yang menyalaminya. Ada sekiranya 6 orang anak yang diimami shalat oleh Arka.


Setelah bersalaman mereka keluar satu persatu. Arka menyalami mereka diiringi dengan kelembutan. Arka mengusap pucuk kepala anak-anak itu. Senyum terus terbit di bibir sexy nya. Tak kunjung lepas sedikitpun.


Dengan sarung dan peci. Membuat ketampanan Arka semakin maksimal. Di tambah senyumnya yang terus mengembang. Senyuman yang tak pernah terlihat sekalipun di sepanjang hidup Sekar.


Semua anak sudah selesai bersalaman dengan Arka. Mereka pergi ke ruangan sebelah untuk mengaji bersama ustadzah Anisa. Kini tinggal tersisa Sekar seorang.


Sekar maju. Mengulurkan tangannya untuk mengajak Arka bersalaman. Arka menerima uluran tangan gadis itu.


Sekar tidak menyimpan punggung tangan Arka di dahinya. Tapi di bibirnya. Sekar mencium tangan Arka cukup lama. Membuat Arka termangu. Detak jantungnya terasa berhenti seketika ketika tangannya mendapat kecupan hangat dari bibir Sekar.


Gadis itu menunduk. Mencium punggung tangan Arka dengan penuh ketulusan. Arka memandangi kepala Sekar yang sedang menunduk. Mengusap kepala gadis itu yang masih berbalutkan mukena.


"Terima kasih sudah membimbing kami shalat," ujar Sekar sambil tersenyum. Lalu beralih menatap Arka.


Jarak mereka berdua sangat dekat saat ini. Arka bisa dengan puas memperhatikan wajah cantik Sekar yang berbalutkan mukena.


Sekar hendak beranjak. Namun Arka menahannya.


Sekar membuka matanya lebar-lebar. Ia memegang baju kemeja Arka dengan sangat kencang. Karena Arka, pria itu menempelkan bibir nya di kening Sekar. Cukup lama dan dalam. Bahkan Arka hingga terpejam. Karena Sekar tidak melakukan pemberontakan. Gadis itu diam saja saat di cium Arka. Merelakan keningnya begitu saja.


"Maaf baru kali ini membimbingmu shalat," ucap Arka. Setelah berhasil melepaskan ciumannya, "Kamu cantik kalau memakai mukena. Kenapa aku baru sadar?" Arka meraup kedua belah pipi Sekar. Membuat pipi gadis itu bersemu merah. Tersipu malu. Tak kurun dari itu detak jantung Sekar berdetak sangat kencang dan hebat. Bahkan Arka bisa mendengar detak jantung Sekar.


Susah payah Sekar meneguk air ludahnya. Berusaha menyetabilkan kembali keadaan dirinya, "Tidak apa-apa. Kamu juga tampan mengenakan peci," bolehkah Arka berteriak sekarang juga? Apa barusan? Sekar memujinya? Seseorang tolong berikan Arka nafas buatan. Rasanya Arka hendak melayang. Dengan jarak yang minim begini, gadis muda nan cantik itu memuji Arka begitu terang-terangan.


Sekar bangkit dari duduknya setelah berkata begitu. Ia hendak melepaskan mukenanya. Namun Arka mencekal lengan Sekar. Membuat Sekar membalikan badannya. Melihat Arka dengan sebelah alis terangkat, "Kenapa?" Tanya Sekar.


"Boleh peluk sebentar?" Mata teduh Arka menatap mata teduh Sekar. Ada binar harapan di mata Arka. Berharap Sekar tidak melakukan penolakan.


Entah atas dorongan apa gadis bernama Sekar itu mengangguk. Sekar duduk lalu menghambur ke pelukan Arka. Membiarkan tubuhnya menyatu dengan tubuh Arka.


Arka mengelus kepala Sekar yang masih berbalutkan mukena. Ada suatu kehangatan yang Arka berikan dan Sekar terima. Keduanya saling terlelap dalam pelukan masing-masing. Sekar memejamkan matanya.


Kali ini ia benar-benar memeluk Arka. Membiarkan tangannya mengitari perut Arka. Begitupun Arka. Dengan mata terpejam dan penuh kelembutan pria itu mengusap halus kepala Sekar.


"Sudah ya? Nanti ada yang liat. Ayo kita keluar," ajak Sekar seraya memunculkan kepalanya. Menatap Arka dengan jarak yang lebih dekat dari tadi.


"Oke," Arka mencolek pelan hidung Sekar. Membuat gadis itu terkekeh pelan.


****


"Terus terus gimana?" Tanya anak yang bernama Zino. Zino sedang duduk di pangkuan Arka. Tidak hanya Zino. Tapi beberapa anak panti lainnya juga sedang mengerumuni Arka. Ada yang duduk di paha Arka. Ada yang duduk di kaki Arka. Bahkan seorang balita ada yang duduk di pundak Arka. Arka memegangi kedua lengan anak itu agar tidak jatuh.


"Terus Om tembak. Terus dia mati," ucap Arka. Membuat semua anak bertepuk tangan meriah untuknya.


"Om tembak nya pake apa?" Tanya anak kecil berbalutkan hijab. Panggil saja namanya Farah.


"Pake ketapel," jawab Arka ngasal. Mengundang gelak tawa anak-anak.


"Masa nembak Spiderman pake ketapel sih om?" Tanya Farah dengan kening mengerut. Farah tidak cukup dewasa untuk mengerti guyonan Arka.


"Kan Spiderman loncat-loncat di gedung. Kalau Om hajar pake pisau dapur gak kena," lagi-lagi apa yang dikatakan Arka mengundang gelak tawa anak-anak. Termasuk Sekar. Gadis yang saat ini sedang berada di depan Arka.


Sekar memperhatikan segalanya. Dari mulai Arka berbicara, bercanda, tertawa bahkan ketika Arka mengelus kepala anak-anak yang sedang berada di sekitarnya.


Sekar tidak pernah mengira Arka akan senang di kerumuni anak-anak seperti ini. Padahal dulu katanya ia benci dengan anak-anak.


Tuhan, apapun yang telah kau lakukan pada Arka aku sangat menyukainya. Bolehkah Sekar egois? Jangan ubah Arka lagi ya, batin Sekar ssmbil tersenyum.


"Kalian makan dulu gih. Sudah malem. Terus tidur. Besok 'kan harus sekolah," ujar Arka kepada anak-anak. Anak-anak langsung tunduk saat itu juga. Mereka turun dari pangkuan Arka lalu bergegas hendak pergi menuju meja makan.


"Sekar?" Tanya Arka yang melihat Sekar melamun.


"Setampan itu ya aku sampai melamun begitu?" Tanya Arka sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sekar. Membuat Sekar mengerjapkan matanya.


"Eh? Eh iya eh tidak. Eh tidak makan maksudnya?" Sekar gelagapan. Ia menggaruk kening nya yang tidak gatal.


"Aku tidak lapar. Di luar hujan. Aku mau keluar yah, menikmati hujan," ucap Arka. Arka mendorong kursinya lalu pergi ke luar.


Langkahnya terhenti kala ia sadar ada seseorang yang juga berjalan di belakangnya. Arka membalikan badannya. Ia melihat Sekar sedang mengikutinya.

__ADS_1


"Kenapa mengikutiku? Tidak makan?" Tanya Arka.


Sekar terkekeh kemudian menggeleng, "Tidak lapar. Hehe."


"Pantas saja kamu kurus. Makannya sedikit." Sekar menunduk. Porsi makannya memang sedikit. Tapi apa boleh buat. Ia juga tidak bisa memaksakan perutnya untuk makan banyak.


"Maaf. Tapi ak--"


"Yasudah ayo temani aku di luar." Arka mengambil tangan Sekar. Mengajak gadis itu duduk dan menikmati hujan di luar.


"Wah hujannya lumayan lebat. Aku suka hujan," sifat ke kanak-kanakan Sekar datang. Ia menengadahkan tangannya. Membiarkan air hujan menetes di telapak tangannya. Sesekali ia membuka mulutnya dan mendonggakan kepala. Agar tetesan air hujan masuk ke mulutnya.


"Sekar? Daripada seperti itu mending duduk sini. Temani aku berbicara. Bahaya minum air hujan," ucap Arka yang tampak jengah melihat tingkah laku Sekar yang dengan entengnya meminum air hujan.


Sekar terkekeh. Gadis itu kemudian menyudahi aktivitasnya. Ia lantas duduk di samping Arka. Di kursi rotan.


"Emang air hujan enak yah? Sampai di minum segala," tanya Arka ketus ketika Sekar sudah duduk di sampingnya. Arka memang sangat menyukai kebersihan. Pria itu mengutamakan kesehatannya.


Sekar cengengesan, "Iya hehe. Dulu waktu kerja sama bang Tigor sering hujan-hujanan sampai air hujannya ke minum. Jadi sudah terbiasa."


Tunggu, apakah Sekar sadar bahwa saat ini ia sedang berbicara dengan Arka? Mengapa Sekar berbicara seolah-olah pada Arnold dan orang terdekatnya? Padahal tadi siang jelas-jelas ia sangat ketus dan juga cuek terhadap Arka.


"Sama seperti Siska," ucap Arka tanpa melihat ke arah Sekar sedikitpun.


"Ah iya. Kak Siska juga menyukai hujan. Dulu saat kecil kami sering main hujan-hujanan bersama," tukas Sekar. Senyumnya terus mengembang. Apalagi saat menyebut nama Siska. Seolah-olah gadis itu ada di dekatnya.


"Tidak hanya kalian. Aku juga suka hujan," ucap Arka.


"Oyah? Tapi aku tidak pernah melihat Mas Arka main hujan-hujanan," ujar Sekar polos. Kedua alisnya menyatu.


Arka terkekeh, "Aku bisa encok kalau main hujan-hujanan." Ucap Arka sambil geleng-geleng kepala.


"Hehe iya," Sekar tersenyum hingga mata gadis itu menyipit.


"Sekar?" Panggil Arka.


"Hmm?" Jawab Sekar tanpa memalingkan wajahnya ke arah Arka.


"Bagaimana kalau kamu berhenti menjadi cleaning service di kantorku?"


"Maaf. Aku memang akan berhenti menjadi cleaning service mulai besok. Terimakasih untuk hari ini," Sekar sempat berfikir bahwa kedatangan Arka kemari hanya untuk meminta Sekar berhenti bekerja dengan cara halus.


"Terus mau bekerja dimana setelah ini?" Tanya Arka.


Sekar mengukir sebuah senyuman. Entah apa artinya. Mungkin senyuman menahan luka.


"Entahlah. Nanti aku akan minta bantuan Kak Arn--"


"Arnold lagi, Arnold terus, Arnold mulu. Arka nya kapan?" Tanya Arka. Ia memalingkan mukanya menatap Sekar. Gadis itu kicep. Takut sekaligus terkejut karena Arka sedikit membentaknya barusan.


"Kemarin aku mendapatkan pekerjaan dari dia. Jadi aku rasa aku bisa mendapatkannya lagi dari dia," Sekar mencoba memberikan pengertian.


"Kalau aku ada lowongan pekerjaan, kamu mau?" Tanya Arka.


Mata Sekar berbinar. Kata pekerjaan benar-benar dapat menarik hati Sekar saat ini.


"Mau. Pekerjaan apa?" Aneh. Biasanya orang bertanya dulu pekerjaannya apa baru bilang mau. Tapi Sekar justru sebaliknya.


"Jadi asisten pribadi."


"A-asisten?" Beo Sekar. Arka mengangguk. "A-aku tidak bisa bekerja sebagai seorang asisten. Aku bisanya hanya masak dan beres-beres. Lagipula ijazah ku hanya tamatan SMA saja. Bahkan ijazah nya pun aku tidak tahu dimana," jelas Sekar.


"Tidak perlu pakai ijazah. Tidak perlu pakai KTP. Cukup kemauan setulus hati saja. Asisten pribadi Arka namanya," jelas Arka.


"Mau ya? Tadi sudah mengatakan mau. Ku kunci jawaban pertamamu. Besok mulai bekerja." Ucap Arka finish. Arka bangkit dari duduk nya. Ia merapihkan bajunya, "Pakai baju yang bagus. Dan ingat, jangan ikat rambutmu!. Aku pamit ya. Hujannya sudah reda. Babay Sekar," Arka melewati Sekar lalu masuk ke dalam untuk mengambil kunci motor dan jaketnya. Ia menyempatkan diri untuk mengacak-ngacak rambut Sekar saat berjalan melewati gadis itu. Membuat gadis itu mendengus sebal.


"Tidak mau menginap saja? Ini sudah malam?" Tanya Sekar saat Arka sudah kembali. Arka sedang memakai jaketnya.


Arka tersenyum menyeringai, "Boleh. Asal kita sekamar." Ujarnya dengan senyum iblis nya itu.


Sekar menggeleng keras. Ia mengantupkan bibirnya.


"Nah kan. Lain kali saja aku menginap. Kalau kau sudah siap kita sekamar. Iya gak?" Tanya Arka dengan menaik turunkan alis nya.


Sekar hanya terkekeh. Kali ini ia sadar bahwa Arka sedang menggodanya.


"Aku pulang ya. Assalamualaikum," ucap Arka setelah Sekar mencium tangannya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Hati-hati ya."


"Yang di rumah yang hati-hati. Kalau yang diluar bisa jaga diri," ujar Arka seraya mengelus pucuk kepala Sekar.


"Sekar? Boleh minta satu hal?" Tanya Arka.


"Boleh. Apa?" Balas Sekar.


"Ini," Arka menunjuk pipi sebelah kanannya. Sekar mengerutkan keningnya. Tak mengerti maksud Arka, "Cium."


Bukannya mencium, Sekar justru merapatkan bibir nya dan menjauh dari Arka. Membuat Arka meringis, "Sudahlah. Lupakan." Lalu Arka melenggang dari sana. Gagal mendapatkan kecupan singkat dari Sekar.


"Arka?" Sekar berlari. Mengambil pundak Arka. Menurunkan kepala Arka lalu mengecup pipi kanan Arka. Singkat namun berhasil membuat degup jantung Arka berdetak sangat kencang dan hebat, "Selamat Malam, Arka." Ucap Sekar tepat di telinga Arka. Membuat suhu tubuh Arka mendadak panas. Padahal di luar dingin.


****


"Katanya sore mau jemput mertuamu di rumah sakit. Kami menunggu mu sampai sakit pinggang?!" Bentak Tami.


"Katanya suruh kami menunggu. Setelah di tunggu tidak datang-datang," serbu Arman.


"Katanya mau bawain Bu Lestari makanan. Tadi terpaksa harus kami yang keluar unruk membelikannya makanan. Kamu kemana?!" Tanya Jayur.


"Katanya Bi Iyam gak usah masak. Eh pas gak masak ternyata Mas Arka gak pulang dan gak ada makanan," jelas Tami.


Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Seluruh keluarganya sedang mensidang Arka di ruang tamu saat ini.


Ingat saat Arka mengatakan bahwa dirinya akan menjenguk Lestari yang berada di rumah sakit sore hari? Kenyataannya Arka tidak datang. Ia malah melencir ke rumah Sekar. Lupa waktu lupa dunia. Alhasil seluruh keluarganya mendemonya saat ini. Pasalnya Arka banyak janji. Bilang mau bawa makanan lah, ini lah, itu lah. Tapi tidak ada satupun yang di tepati hingga membuat semua anggota keluarganya kesal.


"Arka lupa, hehe."


"Lupa?! Mentang-mentang Bos besar, sama mertua sendiri lupa!" Bentak Tami.


"Ngapain jauh-jauh ke Yogyakarta terus dibawa ke Jakarta kalau hanya untuk dilupakan?" Tanya Jayur.


"Papah tahu kamu tidak mencintai Sekar. Tapi kan kam---"


"Tadi Arka nganter Sekar pulang," penjelasan Arka mampu membuat semuanya menutup mulut nya.


"Pulang? Memangnya Sekar darimana?" Tanya Arman.


"Yang benar kamu bawa Sekar pulang?" Balas Arman.


Arka tersenyum lebar. Ia tidak menyangka ternyata nama Sekar mampu menyelamatkannya dari amarah keluarganya ini.


"Terus Non Sekar nya mana?" Tanya Tami.


"Kalau tadi kamu jalan sama Sekar kenapa Sekar nya tidak dibawa kesini? Aduh Arka?!" Tami geram. Ia menjewer kuping putranya itu. "Kamu kan tahu kalau Mamah merindukan Sekar?!"


Sekilas info. Setelah pulang dari Yogyakarta kemarin, Arka memutuskan untuk tinggal di rumah Tami untuk beberapa hari dengan alasan tidak ada yang masak di rumah Arka. Padahal alasannya sebenarnya kalau Arka di rumah sana bayangan Sekar selalu saja muncul. Di dapur, di ruang tengah, di kamar Arka pun ada. Membuat Arka hampir stress karenanya. Maka dari itu ia memutuskan untuk tinggal di rumah Tami. Sementara Lestari--- ibu Sekar sedang di rawat di rumah sakit saat ini. Ia sedang sakit.


"I-iya Mah. Ta-tadi hujan. Mana mungkin Arka membawa Sekar kesini," ucap Arka dengan terbata-bata karena Tami menjewer telinganya dengan begitu kencang.


"Memangnya kamu kesini naik sepeda? Kan pake mobil! Mana mungkin kehujanan. Ngadi-ngadi kamu yah!" Bentak Tami semakin menjadi.


"Bu-bukan begitu Mah maksudnya. Kalau hujan lain ceritanya," ujar Arka seraya berusaha melepaskan jeweran Tami.


"Apa bedanya hah? Ceritakan!" Tami menghempaskan telinga Arka yang sudah merah itu.


"Arka takut khilaf tengah jalan," ucap Arka polos. Gelak tawa Iyam pecah seketika.


"Badan besar tapi iman secuil," celetuk Iyam. Membuat Arka memelotot ke arah Iyam.


"Sekar itu cantik yah!" Bentak Arka kepada Iyam karena Iyam menertawainya.


"Ah alasan. Terus kamu beliin Sekar apa?" Tanya Tami.


Arka mengetuk-ngetuk bibirnya menggunakan telunjuknya. Ia menatap ke atas. Seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak Arka belikan apa-apa."


"ASTAGFIRALLAH ARKA!! KATA MAMAH KALAU KETEMU SEKAR BELIIN DIA SESUATU! KASIH DIA SESUATU! KAMU JANGAN ENAK NYA AJA YA NEMUIN DIA TAPI GAK NGASIH DIA APA-APA. KATANYA BOS BESAR! Papah gimana sih didik Arka. Gak ada romantis-romantisnya." Tami berteriak setengah mati. Kemudian disusul mencubit lengan Arman.


Bibir kanan Arka sedikir terangkat, "Arka romantis kok," ucapnya.


"Apa hah? Nganterin pulang doang kamu bilang romantis? Pak Jayur juga bisa kalau itu!" Teriak Tami masih kesal.


"Tadi Arka shalat bersama Sekar. Terus mencium kening Sekar."

__ADS_1


__ADS_2