
Pandangan Arka terhenti di tubuh Arnold. Ia mendekati pria itu. Menarik kerah bajunya. Melayangkan satu bogeman mentah.
"Terakhir Sekar sama lo! Mana dia sekarang? Mana hah? Lo apain Sekar?! Setan?!"
Arka menerjangnya. Menindihnya. Melayangkan beberapa pukulan.
Arnold hanya diam. Benar, ini mutlak kesalahannya. Jika saja ia tidak berkata seperti itu kepada Sekar. Mungkinkah Sekar akan seterluka sekarang sehingga mengambil keputusan paling konyol? Mungkin jawabannya tidak.
Bahkan pukulan dari Arka tidak cukup sebagai balasan kekejaman Arnold.
"Dimana Sekar?!"
Jayur dan Waluyo berusaha sekuat tenaga menghentikan Arka yang begitu asyik memukuli Arnold. Tak perduli pada wajah Arnold yang sudah babak belur. Bibir kiri nya bahkan sobek.
"Arka," suara lirih Tami mampu menghentikan emosi Arka.
Arka menoleh ke arah Tami, "Mah. Sekar sama Mamah kan? Mana dia mah? Arka mau ketemu. Arka rindu nih. Nih Mamah liat ini," Arka membuka ponsel nya. Menunjukan isi pesan yang Sekar kirimkan, "Sekar SMS Arka berkali-kali. Katanya Sekar rindu sama Arka. Nih Arka udah pulang. Terus Sekar nya mana?"
Tami mengusap lembut wajah Arka yang sudah sangat merah. Bibir nya bergetar hebat. Tak tahu harus mengatakan apa. Tangisannya pecah seketika. Tangannya memgepal kuat.
"Ah Mamah lebay pake nangis segala. Sekar mana Mah?"
"Se-Sekar tenggelam," dua kata. Dua kata yang mampu membuat Arka hilang kesadaran. Dua kata yang mampu membuat Arka merutuki dan memukuli dirinya sendiri. Dua kata yang mampu memporak-porandakan hati Arka. Mencincangnya menjadi beberapa bagian.
"Gak lucu!" Teriak Arka menggema. Membentak Tami yang masih terkulai lemah.
"Mah ayo dong Mah. Sekar mana? Arka mau ketemu. Gak usah sok sokan bilang Sekar tenggelam. Kalau Sekar tenggelam beneran gimana?"
Arka belum bisa menyadari dan kembali ke dunia nyatanya. Perkataannnya seolah-olah harapan agar Sekar bisa kembali.
"Arka berdo'a ya," lirih Tami.
****
Arka, Jayur, Arnold dan Waluyo pergi ke tempat kejadian dimana Sekar berusaha mengakhiri hidupnya. Dengan membawa salah seorang saksi. Yakni pedagang buah yang saat itu tak mampu menghentikan aksi Sekar.
"Tadi saya liat dia berdiri di sini. Saya gak naruh curiga apa-apa. Sebelumnya, dia berjalan dari arah sana," ucapnya. Menunjuk arah Sekar berjalan.
"Jalannya lemes banget kayak orang gak makan, terus gak pake sendal. Pas dia berdiri disini, dia ngelepas sesuatu dari jari manisnya. Terus kayak ngomong gitu, entah apa. Dalam sekejap mata, dia terjun dari sini. Pas saya liat, dia udah tenggelam gak ada. Orang nya cantik. Tapi kayak kehabisan semangat hidup gitu."
Cukup membuat semuanya mengerti.
Setelah di sadarkan oleh banyak orang. Setelah memukuli dirinya sendiri, setelah menangis menjadi-jadi akhirnya Arka sadar dan mau di ajak ke tempat kejadian. Dimana kini tempatnya berdiri.
"Apa aku susul Sekar?" Arka memegangi besi pembatas jembatan.
"Arka kamu jangan gila!" Bentak Jayur. Menurunkan tubuh Arka yang sudah naik.
"Sekar disana Pak! Sekar disana! Sekar sendiri! Dia gak bisa berenang. Dia bisa tenggelam. Aku harus bantuin Sekar. Tolongin dia!"
"Liat Arka liat! Arus nya besar! Bukannya Sekar yang selamat, tapi kamu yang celaka!"
"Berhenti Arka. Berhenti mengelabui diri kamu sendiri. Percayakan semuanya sama Allah. Sekar baik-baik aja! dia akan kembali. Sekar baik-baik aja."
Arka mendudukan dirinya di pinggir jalan. Menutup wajah nya menggunakan kedua tangannya. Menangis saat itu juga.
Menyalahkan dirinya yang payah karena tak bisa menjaga Sekar. Menyalahkan dirinya yang ceroboh kepada Sekar. Menyalahkan dirinya atas segala yang telah ia lakukan kepada Sekar.
"Allah jahat!" Ucapan terakhir Arka yang lalu dihadiahi tamparan keras dari Jayur.
****
Anggota keluarga masih berkumpul di ruang tengah. Namun Arka lebih memilih masuk ke dalam kamar setelah tadi pulang dari tempat kejadian.
Pihak keluarga sudah meminta polisi untuk mencari Sekar. Dan saat ini keberadaan Sekar sedang di cari.
Langkah Arka begitu lunglai. Tak ada gairah hidup di wajahnya. Tangannya lemas. Begitupun kaki nya. Diajak melangkah pun rasanya susah. Isi kepalanya kosong.
__ADS_1
Ia duduk di pinggiran ranjang. Memikirkan nasib Sekar. Merutuki kebodohannya sendiri. Hingga pada akhirnya pandangannya tertuju pada selembar kertas di atas meja rias.
*Hallo Arka, ini Sekar.
Gimana kerjanya? pasti capek ya. Jangan lupa istirahay ya. Sibuk banget kayaknya, sampai gak sempat balas pesan, hehe.
Cuman mau bilang, Arka jaga diri baik-baik. Jangan sampai telat makan. Kamu 'kan pecinta hidup sehat. Oyah, besok-besok belajar pasangin dasi sendiri yah. Ke kantor harus tetep rapih meskipun gak ada Sekar*.
*Jangan khawatir, aku gak papa kok Ka. Cuman mau tidur aja. Mau istirahat yang nyenyak. Aku udah kangen-kangenan sama kamu, Mamah Tami, Papah Arman dan juga yang lainnya. Sekarang, aku mau ketemu Papah Abraham dan Kak Siska.
Boleh ya? udah izin kok sama Allah. Tapi Allah diem aja. Dan kata kamu, diam berarti iya. Inget 'kan? haha, aku masih inget aja.
Titip Mamah Lestari ya Ka. Jaga dia baik-baik. Anggap aja sebagai gajih aku yang selama ini kerja di rumah kamu. Maaf beribu maaf aku gak bisa bayar pake uang. Karena aku gak punya uang. Gak papa 'kan*?
Kalau bisa, jangan sampai Mamah Lestari tau apalagi nyusulin aku.
*Aku mau minta maaf Ka. Gara-gara aku, kebahagiaan kamu terhambat. Gara-gara aku, kamu gak bisa bahagia seutuhnya. Setelah ini, semoga kamu bisa bahagia. Jangan tanya soal kebahagiaan aku, karena aku gak pernah bahagia.
Sekonyol itu yah ternyata hidup.
Makasih banyak Arka. Makasih buat janjinya, makasih buat ketawanya, makasih juga buat kenangannya. Maaf ya, gak bisa ngasih Arka Junior*.
Tapi dari sini aku berdo'a semoga kamu bisa cepet dapetin Arka Junior.
*Arka, aku mungkin kekanak-kanakan. Lugu dan juga polos. Tapi percayalah, Sekar si polos ini juga butuh bahagia.
Aku mungkin gak pernah ngeluh soal kamu sama Viona. Tapi satu hal yang harus kamu tahu bahwa sebenarnya aku terluka.
Meski aku sadar bahwa sebenarnya Viona lah perempuan yang kamu suka. Tapi tetap saja sama. Hati istri mana yang rela melihat suaminya bercumbu mesra dengan wanita lain?
Apapun yang terjadi dengan Viona, sayangi dia. Apapun yang Viona berikan nantinya jaga dia. Dia masa depan kamu, Arka dan Viona junior*.
Aku menyanyangimu, selalu.
****
Arka sangat mengerti pada kesedihan Sekar. Namun apa yang ia maksud dengan Viona? Apa semuanya ada keterkaitannya dengan Viona?
****
Arnold terlihat menimang-nimang keputusannya. Melihat bagaimana kacaunya Arka, Arnold berpikir bahwa ia akan mengatakan bahwa dirinya lah penyebab Sekar celaka.
Tak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Tapi mungkin jika sekedar pukulan atau penjara memang wajar untuk sikap Arnold yang kurang ajar.
"Mana Viona? Telefon dia sekarang!"
Arnold menelan niat nya. Mengurungkannya. Mana kala ia melihat Arka menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Tangan penuh luka dan memegang sebuah kertas yang sudah lecet.
"Telefon Viona, Arka bilang!" Bentaknya pada Arman.
"Buat apa?" Tanya Tami.
"Baca ini!" Arka melempar kertas tersebut ke arah Tami dan Arman yang langsung di pungut oleh dua orang itu. Arnold dan yang lainnya ikut serta membaca.
"Apa Viona yang mengatakan hal-hal aneh sama Sekar?!"
Semuanya membulatkan mata. Terlebih Arnold. Ia tak mengira bahwa Sekar akan menuliskan kalimat seperti itu. Menyangkut pautkan Viona.
Sekarang, apa Arnold akan tetap jujur? Arnold menggeleng keras. Ia mengurungkan niatnya. Arnold tak ingin berakhir di penjara. Ia masih ingin melihat Sekar meski tak yakin Sekar bisa terselamatkan.
"Pak, ambilkan ponsel saya di kamar atas. Kita telefon Viona sekarang!" Tak ada yang berkomentar apapun tentang keputusan Arka. Semuanya bungkam. Termasuk Tami. Sekar tak mungkin mengada-ada.
"Halo Viona? Katakatan! Apa yang kau katakan pada Sekar?" Langsung saja Arka menyerang adik tiri nya itu tanpa ba bi bu terlebih dahulu.
Terdengar Viona menyahuti dari sana, "Maksudnya kak?"
"Jangan pura-pura dongo Viona! Katakan apa yang kau katakan pada Sekar!" Bentak Arka.
__ADS_1
"Sekar? bahkan aku tidak menelefon dengannya selama beberapa hari ini. Oyah, apa kabar dia sekarang? bagaimana? keponakanku sudah ada?"
"Viona sialan! Jangan menutupi kesalahanmu setan!" Begitulah kira-kira kemarahan Arka yang tak dapat tertahankan.
Mendengar Arka semarah itu tentu Viona sadar bahwa sedang ada sesuatu yang tidak beres.
"Sini. Biar Papah yang bicara," Arman merebut ponsel Arka. Dengan emosi Arka yang menggebu tentu akan membuat Viona kebingungan.
Arman menloudspeaker nya. Agar seisi rumah bisa tahu, "Papah minta Viona jujur ya sayang. Gini, ini agak ribet. Jadi Sekar pergi dari rumah. Dia....," Arman kesusahan meneguk ludah nya. "Dia bunuh diri. Terus tadi Arka nemuin surat di kamarnya. Disitu Sekar bawa-bawa nama kamu. Papah cuman mau nanya, apa yang Viona katakan sama Sekar?"
Viona sendiri terlonjak kaget mendengar itu. Apalagi saat Arman mengatakan bahwa Sekar bunuh diri.
"Bu-bunuh diri? terus Sekar dimana sekarang?"
"Sekar masih di cari. Papah mau nanya sama kamu. Apa yang udah Viona katakan sama Sekar?"
"Jawab Viona!" Bentak Arka geram.
"Terserah kalian semua percaya atau tidak. Tapi sumpah Viona gak bilang apa-apa sama Sekar. Bahkan ketika Viona udah sampai di Australia, Viona sama sekali gak telefonan sama Sekar. Viona gak kabar-kabaran sama Sekar. Viona sen---"
"Pembohong!" Bentak Arka.
"Ka, diam dulu!"
Viona menghela nafas dalam kemudian melanjutkan perkataannya, "Apa isi surat itu?"
"Singkatnya, Sekar ngira ada benih Arka di diri kamu."
"Apa?! Aku mana mungkin kayak gitu Pah! Saat kemarin aku tahu Arka Kakak aku, aku yang coba bunuh diri aku sendiri. Lagian mana mungkin aku mengada-ada sampai sejauh itu?"
"Viona sialan! Murahan! Pembohong! Jujur Viona. Apa yang kau katakan pada Sekar?!" Umpatan demi umpatan tak tertahankan. Semakin Viona mengelak, semakin Arka menjadi.
"Sumpah kak, Mah, Pah. Aku tidak mengatakan apa-apa."
Waluyo melirik ke arah Arnold sekilas. Dimana ia mendapati jakun Arnold yang terus naik turun. Kesulitan bernafas di sertai getaran hebat di tangannya.
Waluyo masih ingat betul bahwa sebelum semua ini terjadi, Arnold lah yang terakhir berinteraksi dengan Sekar. Sehingga kecurigaan timbul pada Arnold yang saat ini sedang gemetaran.
Waluyo memberanikan diri maju ke tengah-tengah. Menarik lengan Arka dengan paksa. Membisikan sesuatu di telinganya, "Ada yang mau saya bicarakan. Penting."
Semuanya tak menghalau Waluyo. Mereka masih sibuk mengintrogasi Viona. Mengharapkan pengakuan dari gadis itu meski mati-matian Viona menyangkalnya.
"Kenapa?" Tanya Arka begitu sinis.
"Saya bukan suudzon. Cuman kayaknya emang bener bukan Non Viona yang bicara sama Non Sekar."
Waluyo menoleh ke dalam. Melirik Arnold. Memastikan apakah pria itu sedang melihatnya atau tidak.
Setelah di rasa aman barulah Waluyo mengatakannya, berharap Arka akan mempercayainya.
"Terakhir, Non Sekar sama Mas Arnold. Pas dia pingsan, Mas Arnold ada di sampingnya. Ngobrol berdua sama Non Sekar. Terus Non Sekar tiba-tiba keluar, ngasih saya kalung, nyuruh di jual katanya buat biaya rumah sakit. Terus Non Sekar juga bilang jangan pake lagi uang Mas Arka. Terus Non Sekar sama Mas Arnold pergi berdua. Pas malem, Non Sekar tiba-tiba keluar. Abis itu semuanya kejadian."
Tangan Arka mengepal kuat. Gigi nya menggertak. Emosi nya sudah ada di ubun-ubun.
"Tapi jangan emosi dulu Mas. Di tahan dulu. Setidaknya sampai Non Sekar di temukan."
Kesalahan terbesarku adalah ketika tidak bisa menjagamu
kalau takut tenggelam, lalu kenapa kau berenang?
Viona sialan!
__ADS_1