
Arka: Memangnya Charm sama sayap itu sama ya?
.......
Sekar menghentikan langkahnya saat merasa ada sesuatu yang basah di belakangnya.
"Arka," ia mencekal tangan Arka yang saat itu hendak masuk ke dalam supermarket.
Arka menoleh ke arah Sekar. Sekar menunduk, "Kenapa?" Tanya Arka.
"Sekarang tanggal berapa?"
Arka mengetuk-ngetuk jarinya. Kemudian melihat tanggal di handphonenya, "Tanggal sep--"
"Arka gawat!" Sekar mencengkram lengan Arka erat. Gadis itu memejamkan matanya. Membuat Arka khawatir seketika.
"Kenapa?"
Sekar mundur. Mencari teman yang aman untuk bersembunyi. Tidak lupa ia memegangi bagian belakangnya, "A-aku datang bulan," ujar Sekar gugup sekaligus menahan malu.
"Terus?" Tanya Arka enteng.
"Ish! Tamu aku datang!" Ujar Sekar kesal.
"Maksudnya? Mau disediain makanan gitu? Boleh aja sih. Emang tamu siapa yang datang?"
Sekar menepuk jidatnya. Ternyata Arka polos juga. Kualat sih selalu ngatain Sekar polos. Alhasil dirinya ketularan polos. Jadinya pasangan polos polos.
"Bukan tamu itu." Sekar mulai geregetan. Karena alirannya semakin deras.
"Aku menstruasi!" Arka membelalakan matanya. Kalau kata itu sih Arka memang tahu. Sering mendengar Tami mengatakan itu.
"Keluar darah. Tolongin....," Sekar menatap Arka penuh harap. Berharap pria itu dapat membantunya.
"Aku tidak bisa. Bagaimana cara menghentikan darahnya?" Dengan lancang Arka menoleh ke bagian belakang Sekar. Membuat gadis itu berdecak kesal lalu memukul kepala Arka pelan.
"Be-belikan aku pembalut. Aku tunggu di mo-mobil," sebenarnya Sekar malu dan ragu mengatakan ini. Namun tak ada pilihan lain.
"Pembalut itu apa?" Tanya Arka dengan alis memicing.
"Pokoknya kamu bilang saja pembalut."
Arka mengangguk, "Beli berapa?" Tanyanya.
"Terserah," ujar Sekar. "Arka!" Arka menoleh. "Sayap!" Ujar Sekar. Tak dapat terdengar jelas oleh Arka.
"Mba?" Langsung saja Arka menuju kasir. Hendak membeli barang yang Sekar perlukan.
"Iya Mas?"
Mendadak isi kepala Arka kosong. Tiba-tiba saja teringat kata-kata Waluyo tadi. Membahas soal anak.
"Mau beli apa Mas?" Tanya kasir tersebut.
"Eh mmm anu anu beli eh apa ya," Arka garuk-garuk kepala. "Beli sayap."
Kasir yang di belakang menertawai Arka. Pria tampan, putih bersih, tinggi kekar, beli sayap di supermarket.
"Sayap? Mas pikir ini museum zaman kuno?!" Tanya kasir sedikit ngegas.
__ADS_1
"Bukan sayap dinosaurus! Sayap wanita kalau haid," ujarnya tanpa merasa malu sedikitpun. Karena sesungguhnya ia tidak tahu.
"Ohhh. Charm?" Tanya kasir itu.
"Bukan! Bukan itu namanya. Istri saya tidak menyebutnya itu! Pokoknya sayap. Tapi bukan charm!" Ujar Arka kesal dengan sedikit membentak. Kesal karena pedagang kasir tak kunjung mengerti.
"Iya itu namanya charm, Mas," ujar Mba-Mba kasir yang di belakang.
"Bukan charm! Tapi sayap. Itu loh yang bisa nampung darah yang keluar dari pantat," mati-matian para kasir tersebut menahan tawa nya agar tak pecah di depan pelanggan.
"Kasih aja charm bersayap," ujar kasir yang di belakang Arka.
"Mau yang ukuran berapa, Mas?" Sebenarnya kasir ini juga sedikit canggung menanyakan hal ini. Tapi daripada salah terus di komplain pelanggan.
"Ukuran apa? Kok pake ukuran segala sih? Saya minta sayap. Cepetan. Sebelum istri saya kehabisan darah!" Ini Arka polos apa dongo sih? Ya Allah. Banyak-banyakin buka Google coba Ka.
"Iya tapi kan ada ukurannya Mas. Istri Mas ukuran berapa?"
Seketika pikiran Arka membucah kemana-mana, "Saya gak tau. Belum pernah melihatnya," ujar Arka sambil menunduk.
Gagal lah sudah usaha para kasir menahan tawa. Mereka tertawa terbahak-bahak. Tak perduli pada wajah Arka yang sudah merah padam.
"Yasudah. Mau yang siang atau malam?" Tanya kasir itu.
"Yang sore!" Teriak Arka kesal.
Sekar sedang berusaha sekuat tenaga menahan dirinya di dalam mobil. Tak henti-henti dirinya membaca do'a agar tidak tembus ke jok mobil.
Sesaat kemudian Arka kembali dengan membawa sebungkus pembalut, "Ini," ujarnya sambil masuk ke dalam mobil.
"Kamu keluar dulu. Aku mau pake disini," ujar Sekar dengan malu-malu.
"Aku liatin boleh ya? Biar aku tau ukuran kamu. Tadi kas---" Arka kicep. Sekar sedang memelotot ke arahnya. "I-iya tunggu di luar."
"Masak besar ya Non?" Tanya Waluyo sambil membantu menurunkan barang dari mobil.
"Iya hehe. Soalnya udah lama gak masak," ucap Sekar.
"Saya seneng banget lho Non Sekar balik lagi. Dan lebih seneng karena Non Sekar sama Mas Arka akur. Kalian berdua cocok banget. Damai banget ngeliatnya." Waluyo menarik nafas panjang, "Rencana Allah emang gak ada yang tau yah. Dulu aja Mas Arka kasar banget sama non Sekar. Terus Non Sekar gak tahan sama Mas Arka sampai minta cerai. Dan sekarang, keduanya udah kembali lagi bersatu."
Terbit sebuah senyuman bahagia di bibir Sekar, "Iya. Semoga Mas Arka adalah kebahagiaan saya."
"Amiin. Mungkin ini jawaban dari do'a-do'a kita semua selama ini. Non Sekar," Sekar menoleh. "Meski Mas Arka sudah mencintai Non Sekar. Tetap jadi Non Sekar yang saya kenal yah. Yang tidak sombong. Tidak banyak tingkah, polos, lembut dan penuh kasih sayang."
"Pak Waluyo juga jangan berubah yah. Tetap menjadi Pak Waluyo yang Sekar kenal. Pak Waluyo yang lucu dan membahagiakan."
Sekar bisa merasakan sosok Ayah dari Waluyo. Pria yang selalu mendukungnya. Pria yang selalu siap mendengarkan keluh kesahnya. Waluyo tidak seperti seorang supir di mata Sekar. Sekar lebih suka menyebut Waluyo sebagai Ayah nya.
Ikatan keduanya memang begitu kuat. Keduanya memiliki hati yang tulus dan suci.
Arka memperhatikan keduanya dengan senyum yang terus mengembang. 'Betapa bodohnya aku bisa menelantarkan wanita seperti Sekar,' batin Arka. Mungkin, inilah mengapa Arman dan Tami mati-matian tidak ingin Arka bercerai dengan Sekar. Karena pada kenyataannya. Arka lah yang beruntung memiliki Sekar. Gadis sederhana dengan berjuta keistimewaan.
'Dia sederhana. Dan aku suka.'
Sekar tidak berperilaku seperti seorang ratu meski suaminya merupakan Bos besar. Kepada siapapun, gadis itu selalu baik hati dan berprasangka baik. Ia gadis tersabar yang pernah Arka kenal.
****
Arka melingkarkan tangannya di perut Sekar saat gadis itu sedang sibuk memasak.
__ADS_1
"Kenapa Mas?" Tanya Sekar sambil terus fokus memotong wortel untuk masak sop.
"Kok pinter masak sih? Belajar darimana?" Tanya Arka. Arka menyimpan dagu nya di bahu Sekar.
"Pinter? Nggak tuh. Mungkin karena sering masak aja," ujar Sekar tanpa memperdulikan Arka yang sedang menempel di tubuhnya.
"Sekar?"
"Iya?"
"Jangan berubah ya." Arka membalikan tubuh Sekar. Menghadap Arka. Memegang kedua belah lengan Sekar.
"Tetap jadi Sekar yang aku kenal bertahun-tahun lamanya. Maaf aku selalu jahat. Tapi aku berjanji aku tidak akan mengulanginya lagi. Maaf ak---"
"Daripada kamu sibuk menggoda aku dan memohon kepadaku. Mintalah kepada yang di atas. Karena dia yang bisa membolak balikan hati aku. Tak perduli seberapa keras nya aku. Jika dia berkehendak. Semuanya akan terjadi."
"Sayang Sekar," Arka menarik tubuh Sekar. Memeluk tubuh gadis itu.
"Sayang Arka juga," ucap Sekar. Ya Allah, Arka baper.
*****
Malam itu, keluarga kecil itu sedang berkumpul di meja makan yang terdapat banyak makanan. Ada Sekar, Arka dan juga Waluyo disana.
"Yakin nih Non saya boleh makan disini?" Tanya Waluyo.
"Yakin. Sekar ambilin lauknya ya," Sekar meraih beberapa lauk lalu di tuangkan di piring Waluyo.
"Jadi inget dulu. Dulu kalau makan biasanya Mas Arka aja sendiri di sini. Saya di depan terus Non Sekar di belakang. Makan telur atau nggak Indomie," ucap Waluyo.
Apa yang dikatakan Waluyo barusan berhasil mengiris hati Arka. Lidah pria itu mendadak kelu. Dadanya sesak. Nafsu makannya hilang. Arka menoleh. Menatap Sekar yang terus saja tersenyum sambil menuangkan makanan.
Benar. Dulu Arka adalah orang yang sangat kejam. Bagaimana bisa ia makan di meja mewah sementara istrinya---- orang yang masak justru makan di dapur sendirian dengan makanan yang seadanya begitu?
Arka menggeser kursinya. Berdiri lalu duduk di samping Sekar. Sebelumnya Arka duduk bersebrangan dengan Sekar.
"Mas Arka mau apa? Mau sop atau mau ay--"
"Mau ini." Arka meraih kepala Sekar. Menempelkannya ke dadanya.
"Mas Arka kenapa, hm?" Sekar berusaha mengeluarkan kepalanya yang mendusel di dada Arka.
"Mau minta maaf," ucap Arka.
"Maaf untuk?"
"Maaf karena dulu aku selalu jahat. Selalu mengacuhkanmu. Tega. Tidak perduli padamu. Membiarkanmu kedinginan. Mem---"
"Stttt" sekar menempelkan jari telunjuknya di bibir Arka. Membuat Arka membungkam. "Yang sudah biarkan sudah. Kalau Mas Arka minta maaf maka dengan senang hati aku memaafkan. Mari kita hidup untuk hari ini dan hari nanti. Bahagia untuk sekarang dan untuk esok hari tanpa membawa masa lalu jika itu menyakitkan dan tidak enak di dengar."
"Kamu titisan peri mana sih? Kok baik banget gitu?" Arka mencolek hidung Sekar pelan. Membuat Waluyo berdehem.
"Istri saya di rumah Mas. Gak bisa di ajak uwu uwuan. Boleh gak kalian uwu uwuannya nanti aja?" Sekar dan Arka terkekeh karenanya.
****
Sekar masuk ke kamar nya terlebih dahulu. Ia ingat saat Anisa mengatakan, "Arka itu bukan tidak minta maaf. Tapi belum." Lalu Sekar ingat saat tadi di meja makan Arka mengatakan maaf kepada Sekar.
Apa itu artinya Arka memang sudah berubah? Apa itu artinya Arka sudah menyesal atas kesalahan di masa lalunya? Apa itu artinya Arka sudah mencintai Sekar? Apa itu artinya Sekar harus membuka hati untuk Arka?
__ADS_1
Sekar terlihat berpikir. Mengingat kejadian-kejadian beberapa hari lalu. Yang dimana Arka terlihat begitu perduli padanya.
"Serahkan saja semuanya pada Allah. Tanyakan padanya," gumam Sekar.