
Sekar pulang dengan senyum yang merekah, hatinya sangat senang setelah bertemu dengan Arnold dan keluarga. Berbeda dengan Waluyo, sang supir.
Waluyo memasang muka yang teramat sangat risau dan panik. Ia tahu bahwa bos muda satunya lagi akan segera pergi ke rumah Arnold karena tadi Waluyo menceritakan kepergian Sekar.
"Non?" Tanya Waluyo gelagapan, tangan dan kaki nya mulai gemetar.
"Bapak kalau gak tahan cari toilet dulu aja." Ujar Sekar masih dengan senyuman yang sangat tulus.
"M-maaf." Kata Waluyo lirih.
"Iya, gakpapa kok. Lagian kan kita enggak buru-buru."
Sekar salah kira, ia berpikir bahwa penyebab gemetarnya tubuh Waluyo adalah karena dirinya ingin buang air kecil, padahal tidak.
"Bu-bukan bu." Bantah Waluyo.
Ia tidak sanggup untuk mengatakan nya. Bukan apa-apa, jika Waluyo jujur pasti Sekar akan langsung khawatir dan takut, takut akan amukan Arka. Padahal Sekar baru bersenang ria dan Waluyo tidak ingin menghancurkan senyuman senang Sekar.
"Kenapa Pak?" Tanya Sekar dengan kening yang mulai mengerut. Ia khawatir dan penasaran pada apa yang akan Waluyo katakan.
"Eh enggak non, hehe." Elak Waluyo. Ia tidak jadi memberitahukan Sekar yang sebenarnya. Dirinya dikuasai rasa takut serta kasihan. Takut kalau Sekar akan marah padanya karena Waluyo yang membocorkan informasi kepegian Sekar, dan kasihan karena baru saja Sekar mendapatkan kebahagiaan masa mau bersedih lagi.
"Terserahlah. Biar tuan bos yang memberitahu nya, kasihan." Batin Waluyo.
***
Mobil Alphard abu-abu sudah terparkir di salah satu perumahan di Jl. Teluk Tomini.
Supir yang merupakan tuan muda itu turun dengan tangan yang mengepal, mata merah menyala. Percis seperti Banteng hendak menyeruduk benda merah yang ada di depannya.
"Arnold?!"
Ia tahu nama pemilik rumah, dengan tidak sungkan ia memanggilnya dengan lantang tanpa memperdulikan apapun.
Selang beberapa menit kemudian, Arnold keluar dengan membawa sebuah baki besi.
Arka mengambil baki itu dan...
Bruk
Ia memukulkannya tepat di kepala Arnold.
"Berani kau menyuruh istri ku datang kemari?!"
Bruk
Ia bertanya, tapi tidak memberikan kesempatan Arnold untuk menjawab, pukulan kedua menyusul setelah baki besi mendarat di kepala Arnold.
"Bedeb*h! Kau tidak laku rupanya ya? Sampai kau embat istri orang!"
Bruk
Pukulan ketiga kembali melayang menghampiri wajah Arnold. Kini ia jatuh tersungkur dengan terdapat luka di sudut bibirnya.
Arnold bisa menahan pukulan Arka dan mungkin bisa juga membalasnya. Tapi itu tidak ia lakukan karena jika itu terjadi maka Sekar yang akan menjadi sasaran kemarahan Arka berikutnya.
"Sia-"
Arka belum selesai dengan kata-kata nya. Seseorang sudah berlari dari dalam dan menghampiri mereka.
"Kak Arnold!"
Itu Pasha. Ia berlari menghampiri Arnold dan berusaha membantunya bangkit.
"Kenapa Anda memukuli kakak saya?" Tanya Pasha dengan tangan yang menopang Arnold.
"Beritahukan Kakak mu ini, sudahi kepribadian buruknya! Berhenti menganggu istri orang!" Ucap Arka dengan lantang tanpa sadar bahwa kini dirinya sedang berpijak di rumah orang.
Setelah Arnold berhasil berdiri, Pasha melepaskan tangannya. Ia maju beberapa langkah dan menghampiri Arka dengan membusungkan dada.
"Anda yang harusnya menyudahi kepribadian buruk Anda! Jika Anda perduli pada istri Anda, jaga dia! Perhatikan dia! Sehingga ketika dirinya bepergian, pasti akan meminta izin dari Anda dan jika Anda tidak mengijinkannya, maka ia tidak akan pergi!" Ucap Pasha.
Sebagian orang yang mendengar kalimat tersebut mungkin tidak percaya bahwa itu diucapkan oleh anak berusia 13 tahun. Ditambah, Pasha menggunakan kata ganti 'Anda' sehingga membuat nya terlihat semakin dewasa.
Sepertinya hal itu juga berlaku bagi Arka. Ia mematung setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Pasha barusan. Ditambah lagi, mungkin terpikir oleh nya bahwa apa yang dikatakan Pasha ada benar nya juga.
Dengan bersusah payah, Pasha membantu Arnold untuk kembali kedalam dan meninggalkan Arka begitu saja.
__ADS_1
Untung nya, keluarga dan kerabat Arnold yang lain sedang pergi mengantarkan makanan ke tetangga sehingga mereka tidak melihat kegaduhan yang disebabkan oleh Arka ini.
"Curut!" Umpat Arka sambil berlalu.
***
Tujuan nya bukan lagi kantor. Tidak perduli sebanyak apa pekerjaan yang harus diselesai kan, tidak perduli sekhawatir apa Viona saat ini yang penting masalah ini harus segera diakhiri.
Kepergian Sekar tadi menjadi masalah bagi Arka. Dan kini dirinya hendak pulang ke rumah untuk menemui Sekar.
***
"Sekar?!" Mentang-mentang rumah sendiri, Arka berteriak sesuka hati.
"Sekar?!"
Pada panggilan kedua Sekar muncul dari dapur dengan menggunakan celemek memasak dan tangan yang berbalutkan tepung.
"Iya Mas?" Tanya nya santai, tidak tahu bahwa amarah Arka sudah mengepul.
"Sini!"
Dengan kasar, Arka menarik Sekar pindah ke ruang tamu dan mendudukan nya di sofa. Saat ini juga, ia ingin mengintrogasi Sekar atas apa yang dilakukannya tadi di rumah Arnold.
"Apa yang kau lakukan di rumah Arnold tadi?!"
Tidak perlu waktu lama untuk Sekar bisa menangkap maksud Arka. Setelah mengerti, ia langsung menjawabnya.
"Aku menghadiri acara syukuran nya, Mas."
Meski sudah di dudukan dengan kasar, Sekar masih saja berkata dengan lembut. Sulit untuk menjelaskan betapa lembut nya hati gadis satu ini.
"Bagus. Syukuran tidak meminta izin pada suami ya?!"
Sekar berusaha bangkit dari duduknya, ada yang ingin ia jelaskan.
"Bukan beg-"
Tap
"Jelaskan!"
Jangankan untuk menjelaskan, mengucapkan sepatah kata pun Sekar kesusahan.
Arka memang tidak menindihnya terlalu kuat sehingga tidak membuat Sekar sesak. Pemandangan wajah Arka lah yang membuat Sekar tidak mampu berbicara dan merasakan sesak dada.
"Katakan!"
Sayangnya ia masih bergeming, degup jantung nya mengencang. Kehangatan dari deru nafas Arka terasa jelas oleh Sekar.
"S-saya sesak, Mas." Ujar Sekar gelagapan sambil berusaha memalingkan muka.
Saat itu juga Arka menjadi salah tingkah. Ia berdiri dan membiarkan Sekar berdiri juga.
"S-sekarang jelas nya!" Ujar nya gelagapan.
"Maksud saya baik. Tadi keluarga Kak Arnold mengadakan syukuran atas kelulusan Kak Arnold. Saya diundang, jadi saya datang."
Arka memandang Sekar dengan penuh marah. Matanya merah menyala, tangannya mulai mengepal.
"Kalau maksud mu baik kenapa tidak meminta izin dulu hah?!"
Jika saja yang dihadapannya ini bukan seorang wanita, pasti sudah menjadi sasaran empuk tangan kekar Arka untuk mengacak-ngacaknya.
"Maaf." Senjata Sekar kembali keluar. Ia menunduk, dan mungkin sebentar lagi akan menangis.
"Kau meminta maaf tapi mengulanginya lagi!"
Tidak hanya mata merah menyala, kini Arka juga berkacak pinggang.
Sekar tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia menunduk seraya memainkan kuku-kuku jari nya.
"Argh!" Geram Arka.
Akhirnya, tangannya hanya memukul udara saja.ia membuka jaket, lalu melemparkannya ke sembarang tempat.
Sekar menjadi semakin gemetar saat mendengar geraman Arka. Sejauh ini, Arka memang belum pernah menyakiti fisik Sekar. Tapi tetap saja, kemarahannya selalu membuat Sekar ketakutan.
__ADS_1
"Lain kali, minta ijin!"
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan ataupun dikatakan, Arka pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
Waktu masih sore, jam dinding menunjukan pukul 17:00 kurang, seharusnya Arka masih dikantor saat ini. Bergulat dengan kertas dan laptop.
Tapi, perset*an dengan pekerjaan jika masih ada istri yang harus di urusi!
"Mas Arka?"
Sebelum Arka benar-benar menghilang, Sekar memanggil nya. Kali ini tidak ada air mata yang membasahi pipi. Ia justru menatap Arka dengan tajam.
"Apa?" Jawab Arka ketus.
"Kenapa saya harus meminta izin dari mas?"
Emosi Arka yang belum kunjung surut justru bertambah parah. Tangannya mencengkram erat pegangan tangga. Sekar ternyata cukup sulit untuk dihadapi dan dimengerti.
"Karena saya adalah suami kamu!" Ujarnya tanpa turun untuk menghampiri Sekar sedikitpun.
"Kalau Mas adalah suami saya, kenapa Mas selalu memarahi saya dan tidak pernah meniduri saya?"
Pikiran Arka langsung kalut. Pertanyaan Sekar tidak dapat dicernanya dengan baik. Otak nya mulai travelling kemana-mana saat mendengar Sekar menyebut kata 'meniduri'.
Entah ada apa pula dengan Sekar. Disaat suaminya sedang bertarung dengan emosi, bisa-bisanya ia mengatakan hal tersebut. Kebablasan sepertinya karena dirinya berkata dengan keadaan badan gemetar.
Arka menatap Sekar cukup lama. Cengkraman kuatnya pada bagian pegangan tangga sudah lepas, tangannya sudah beralih memegang benda lain.
Kancing kain kemeja yang membaluti tubuh Arka dibukanya dengan paksa satu persatu bahkan ada satu kancing yang terjatuh ke lantai, tapi itu tidak masalah. Masih ada banyak kancing kemeja! Ia menuruni tangga dengan langkah yang tergesa-gesa.
Sekar memelotot saat melihat Arka turun dan membuka baju nya, getaran tubuhnya bertambah parah. Ia juga sempat mundur beberapa langkah.
"Apa yang aku katakan tadi salah? Apa amarah mas Arka akan menjadi nafsu se**ual?" Batin Sekar sendiei.
Tap.
Arka sudah sampai di depan Sekar, kancing bajunya sudah terbuka semua. Hanya dalam sekali tarikan, baju Arka dapat terbang kemana saja.
"M-mas?"
Sekar gagal mengelak apalagi menghindar. Kini Arka sudah berada di hadapannya dengan bertelanjang dada.
"Mau tahu arti suami-istri sesungguhnya?"
Arka menggendong tubuh Sekar, dengan kekuatan minim Sekar memukul-mukul dada bidang Arka padahal itu tidak berarti apa-apa bagi Arka.
"Mas, turunkan saya!" Ujar Sekar.
Ia meronta-ronta meminta untuk turun dan mencoba turun sendiri. Sayangnya, tenaga nya sebagai perempuan kalah besar.
"Mas, turunkan saya!"
Ya, mungkin ini adalah suatu hal yang pernah Sekar inginkan kala nafsu nya sebagai kaum Hawa keluar. Tapi tidak dengan cara seperti ini, paksaan? Tidak. Sekar ingin menikmati dimana ia melepaskan keperawananya dengan diliputi kebahagiaan dan didasari dengan keinginan sendiri. Jelasnya, Sekar sedang tidak ingin saat ini!
Setelah 5 tahun menikah tanpa pernah melakukan hubungan badan sekalipun, akankah Arka melakukan nya sekarang?
Mengapa? Apa ia sudah tidak kuat?
Bruk
Sekar jatuh di atas kasur. Tidak, lebih jelas nya di jatuhkan.
"M-mas mau ngapain?" Tanyanya gelagapan, kaki tangan nya gemetar tak karuan, keringat dingin mulai bercucuran.
"Diam!" Bentak Arka.
Swing
Kain kemeja yang kancingnya sudah terbuka dari tadi kini terbang entah kemana.
Sekarang, Arka sudah benar-benar full naked. Tidak ada sehelai apapun kain yang menutupi tubuh atasnya. Sinar sore dari luar yang masuk ke dalam kamar mengenai bagian tubuh Arka sehingga menambah kesan Aetestic tubuh kekar itu.
Sekar mencengkram kuat bagian sprei. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu. Selain gemetar, Sekar juga cukup sulit untuk menelan ludah nya.
Sore ini, pukul 5 sore, akan menjadi suatu hal yang besar bagi Sekar. Dirinya yang 5 tahun hidup bernotabe sebagai seorang istri tanpa sentuhan suami akan hilang.
Sore ini, ia akan merasakan sesuatu yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Tidak tahu apakah akan langsung menjadi Ibu atau tidak, tapi yang jelas ia akan merasakan getaran suami-istri yang sesungguhnya. Getaran di atas ranjang.
__ADS_1