Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Sekar, jangan baper!


__ADS_3

Sekar: Lama-lama aku mati karena jantungan.


Sekar sadar bahwa Arka akan menciumnya. Buru-buru gadis itu mendorong dada Arka dengan sangat kencang. Membuat Arka terpental ke belakang. Arka mengerjap-ngerjapkan matanya saat mendapat dorongan dari Sekar.


"A-aku permisi ke kamar mandi dulu," Sekar bergegas pergi. Memegangi dadanya yang sesak. Jantungnya berdebar sangat kencang. Ia tidak bisa menahannya.


"Mau aku antar tidak?" Teriak Arka. Namun Sekar tak menghiraukannya. Ia berlari menuju ke kamar mandi.


Berulang kali Sekar membasuh mukanya yang terasa panas saat tadi Arka hendak menciumnya. Ia menatap dirinya di kaca. Sekar memegangi dadanya yang masih saja berdegup kencang. Seperti sedang marathon rasanya.


"Ayolah Sekar. Tidak usah terbawa perasaan seperti ini," Sekar memejamkan matanya dalam-dalam. Ia berusaha menyetabilkan keadaan. Dirinya sedang susah di kontrol saat ini.


"Mba Sekar?" Seorang wanita yang tampaknya lebih tua dengan mengenakan pakaian yang sama seperti Sekar yakni seorang cleaning service memanggil Sekar dari ambang pintu toilet.


Sekar menolehkan wajah nya, "Iya?"


"Di cari Pak Arka di luar," ucap wanita itu.


Sekar meneguk ludah nya kasar. Ngapain sih pria itu. Mau membuat Sekar baper lagi?! Jangan. Bernafas saja Sekar masih kesusahan.


Tolong siapapun pinjamkan inhaler untuk Sekar. Gadis itu terserang penyakit asma tiba-tiba.


Saat Sekar hendak keluar tangannya di cengkal oleh wanita tersebut, "Hati-hati. Pak Arka nampaknya marah." Ujarnya sedikit berbisik.


Sekar semakin degdegan. Kemarahan Arka adalah hal yang paling Sekar takutkan. Tapi apa yang membuat Arka marah? Apa karena tadi Sekar sudah mendorongnya terlalu kencang? Salah sendiri main nyosor.


Sekar mendapati Arka sedang berada di luar kamar mandi wanita. Pria itu tampak sangat marah. Ia menyenderkan badannya pada tembok kamar mandi. Melipat tangannya di dada lalu menatap tajam ke arah Sekar.


Sekar mengusap-usap tengkuknya. Sekar tarik nafas lalu menghembuskan nafas berulang kali. Bibirnya tak berhenti komat-kamit mengucapkan lafadz Allah. Takut-takut Arka menerkamnya.


"Masuk lagi," Arka mendorong tubuh Sekar untuk kembali ke toilet wanita. Sekar tak bisa menolak karena tenaganya kalah besar dengan tenaga Arka. Tanpa rasa malu Arka main masuk saja ke toilet wanita. Membuat sebagian wanita menjerit melihat kehadirannya.


Arka mendirikan Sekar di depan cermin dengan posisi Arka di belakang Sekar, "Lihat dirimu," titah Arka dengan menegakan badan Sekar. Agar gadis itu bisa dengan jelas melihat bayangannya di cermin.


Sekar menaikan sebelah alisnya. Ia tak mengerti maksud Arka.


Arka berdecak sebal. Ia juga berdesis, "Sudah kuberi tahu tadi jangan sampai ada orang yang melihat rambutmu diikat begini." Dengan sekali gerakan Arka melepas ikat rambut Sekar. Membuat rambut Sekar kembali terurai. Menutupi leher dan tengkuknya. "Nah kalau begini baru bagus. Kalau perlu begini juga," Arka mengacak-ngacak rambut Sekar.


Sekar menepis lengan Arka yang sedang sibuk mengacak-ngacak rambut nya, "Aku seperti gembel!" Tegas wanita itu dengan muka masam.


Arka terkekeh. Ia membalikan badan Sekar agar menghadap dirinya, "Di depan orang lain jangan tampil seksi ya. Jangan cantik-cantik juga."


Sekar memelotot. Tangannya meremas kuat jas Arka. Jantungnya hampir copot saat benda kenyal dan hangat milik Arka mendarat di kening Sekar. Arks mencium kening Sekar cukup lama dan dalam hingga dirinya memejamkan mata. Tak perduli dengan orang-orang yang saat itu berada di dalam toilet.


"Kalau lelah pulang ya," ucap Arka setelah berhasil melepaskan ciumannya. Kemudian melenggang pergi meninggalkan Sekar.


"Oyah. Lain kali remas jas nya jangan kuat-kuat," ujar pria itu dengan mengedipkan sebelah matanya. Genit.


***


Sekar tidak bisa menghilangkan bayangan Arka dari benak nya begitu saja. Ini sudah sore hari. Tepatnya pukul 5. Sekar memang akan pulang jam 5 sore setiap hari. Kecuali ada kerja tambahan atau singkatnya lembur.


Sekarang Sekar sedang berada di lobby utama. Menengok ke kanan dan ke kiri. Tadi Arnold sempat mengirimnya SMS bahwa Arnold akan menjemput Sekar jadi Sekar harus menunggunya.


Sebuah mobil Jazz putih yang tidak di kenal berhenti tepat di depan Sekar. Sekar memicingkan alisnya. Kaca mobil perlahan terbuka. Menunjukan siapa yang berada di dalamnya.


"Ayo pulang," Sekar membulatkan matanya saat tahu siapa yang berada di dalam sana. Pria yang tadi berusaha menggodanya namun malah ia yang tergoda. Arka. Sang Direktur utama.


"Sekar? Hey! Ayo pulang," ajak Arka setelah Sekar tak menghiraukannya.


Sekar menggeleng, "Aku ada yang jemput." Ujarnya setengah berteriak karena Arka berada di beberapa bawah tangga.


Arka berdesis pelan. Ia memakai kacamata hitamnya. Tanpa mematikan mesin mobil pria itu turun dan menghampiri Sekar.


"Sebentar lagi mau hujan. Sudah menjelang maghrib juga. Memangnya siapa yang akan menjemputmu? Ayo," ajak Arka seraya meraih pergelangan tangan Sekar.


"Kak Arnold yang akan menjemputku," ucap gadis itu dengan kepala menunduk. Takut mengundang kemarahan Arka.


Arka menunduk. Menyeimbangkan tinggi nya dengan tinggi Sekar. Ia memegangi kedua lutut nya. Arka menatap teduh mata Sekar yang menatap ke bawah entah melihat apa.


Arka menyentil dahi Sekar hingga gadis itu meringis, "Kan sama saja mau pulang denganku atau dengan Arnold. Nantinya sama-sama sampai di rumah. Ayo pulang. Sudah sore." Ajak Arka.


"Nanti Kak Arnold mencariku," Sekar menahan pergerakan Arka.


"Tidak masalah. Nanti biar aku yang menelefon Arnold di mobil. Ayo," Arka kembali menarik tangan Sekar.

__ADS_1


Sekar tak melakukan lagi penolakan. Arka membukakan pintu untuk Sekar lalu membiarkan Sekar duduk di sampingnya.


"Mau aku yang telefon Arnold atau kau saja?" Tanya Arka.


"Aku SMS saja," ucap Sekar seraya mengotak-atik handphonenya.


"Mau pulang ke rumah atau ke panti asuhan?" Tawar Arka.


"Ke pa-panti."


Arka terkekeh. Setelah kemarin marah-marah di telefon dan tadi membentak Arka kini gadis bernama Sekar itu kembali gugup saat harus di hadapkan dengan Arka. Ini adalah pertemuan kedua setelah Sekar memutuskan untuk berpisah dengan Arka saat itu. Ternyata yang kemarin hanyalah Sekar palsu. Aslinya Sekar tidak berubah sama sekali. Masih gadis lugu yang Arka kenal selama 5 tahun lalu.


"Kalau aku belokan mobil nya ke rumah. Mau berbuat apa?" Arka memulai aksinya. Entahlah. Mengapa pria ini senang sekali menggoda Sekar saat ini.


"A-aku teriak," ucap Sekar gugup. Sesekali ia meremas baju nya. Takut Arka membawanya ke suatu tempat atau yang lebih parah membuangnya di tengah jalan. 'Ah Sekar. Kenapa pula mau pulang bersama Arka' batin Sekar merutuki dirinya sendiri.


"Kalau misalkan mulutmu aku bungkam?" Tanya Arka dengan alis yang naik sebelah. Senyuman menyungging dan sesekali mengalihkan pandangan ke arah Sekar


"A-aku loncat," ucap Sekar sambil memegangi pegangan pintu mobil.


"Kalau aku pegang tangan mu begini?" Arka memegang sebelah tangan Sekar. Mencengkramnya namun tidak terlalu kencang.


Dengan kasar Sekar menepis tangan Arka. Membuat pria berjakun itu terkekeh.


"Bercanda. Lapar tidak? Makan dulu yuk."


Arka bertanya. Tapi belum juga mendapatkan jawaban dari Sekar ia sudah menepikan mobilnya di pinggiran jalan. Di mana terdapat seorang penjual pecel lele disana.


Sekar termangu. Benarkah yang berada di hadapannya ini Arka? Sebelumnya mana pernah Arka mengajak Sekar makan bersama seperti ini apalagi di pinggiran jalan. Yang jelas Arka benar-benar berubah.


Sekar diam-diam memperhatikan gerak-gerik Arka. Ia sudah memasang kuda-kuda kalau tiba-tiba Arka menyerangnya.


Arka melepas seatbell nya lalu turun. Sekar mengurungkan niatnya untuk menyerang Arka saat tak terjadi apa-apa dengan Arka. Pria itu keluar dari mobil lalu terlihat melambai-lambaikan tangannya pada Sekar yang masih berada di dalam mobil.


Sekar menghela nafas dalam. Akan ia turuti kemauan Arka daripada dirinya ditinggal di tengah jalan. Tak lupa Sekar juga berdo'a. Padahal sebelumnya Sekar tak pernah menaruh curiga pada seseorang sejauh ini. Tapi sungguh, sifat Arka ini menjadi pertanyaan yang besar bagi Sekar.


"Mau makan apa?" Tanya Arka setelah mereka berdua duduk di kursi plastik milik pedagang di sana.


"Aku tidak makan. Tidak lapar," ucap Sekar ketus tanpa melihat ke arah Arka sedikitpun.


"Bohong. Kata Zaki tadi makan siangmu sedikit. Masa tidak lapar? Makan yah, makan yah?" Arka berusaha membujuk Sekar dengan memasang mata berbinar nya. Ia juga mendekatkan wajahnya ke wajah Sekar


"Yang banyak yah. Pak dua porsi yaa," teriak Arka pada tukang pecel lele tersebut.


Sekar memberanikan diri mengangkat kepalanya. Ia ingin segera menghentikan rasa penasarannya.


"Ini gantungan apa? Lucu," Arka menarik sebuah gantungan boneka Doraemon tas Sekar yang diletakan di atas meja---- di samping lengan Sekar. Lalu memain-mainkannya, "Suka Doraemon yah? Kalau Siska sukanya Pikachu."


"Arka?" Tanya Sekar.


"Hmm?" Arka masih fokus memainkan gantungan tas Sekar.


"Kenapa mengajak ku kesini? Apa maksudnya?" Sekar mulai menyerbu Arka.


"Lapar," jawab Arka dingin tapi berhasil membuat Sekar naik darah.


"Tidak biasanya kau mengajaku makan apalagi di tempat seperti ini. Katakan, pasti kau ada maunya bukan?" Sekar menyentak tangan Arka. Mengambil gantungan tas nya dengan kasar. Kemudian menurunkan tas nya dan di simpan di pangkuannya.


Arka menghela nafas sabar. Ia beralih menatap Sekar. Gadis ini susah juga ya diberikan sifat lembut.


"Iya. Ada maunya," Arka mengangguk. Mendekatkan wajahnya ke wajah Sekar, "Mau makan sama Non Sekar."


Dengan jarak sedekat ini membuat Sekar dapat merasakan deru nafas Arka. Ia menatap lekat mata pria yang berada di depannya ini. Begitu sempurna. Indah sekali. Jantung Sekar berdegup kencang. Rasanya ia ingin menghilang saat ini.


Arka menatap mata Sekar dalam-dalam. Selain lugu, putih, Sekar juga sangat manis. Apalagi jika dilihat dari jarak dekat.


"Ini Pak, Bu makanannya," ucap pedagang tersebut. Beliau terlihat sedikit canggung saat memberikanya. Mungkin karena saat itu Arka dan Sekar sedang main tatap-tatapan.


"Ekhem. Ayo makan," ajak Arka.


"Di hotel kemarin makanannya enak-enak," Arka memulai topik pembicaraan setelah tadi keduanya cukup lama terdiam. Arka terus mengunyah makanannya, "Tapi tidak ada yang seenak masakan Sekar," ucap pria itu.


Sekar tersedak. Ia terbatuk. Spontan Arka memberikan es teh miliknya. Tanpa berbicara secara langsung Sekar meminumnya. Setelah meminumnya Sekar memelototkan matanya saat sadar bahwa yang ia minum adalah milik Arka. Mereka sudah minum dengan sedotan yang sama.


"Dalam 5 tahun pernikahan kita baru ciuman dua kali. Yang pertama saat di depan penghulu dulu. Yang kedua saat di kamar mandi tadi. Yang ketiga kapan?" Arka menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Hampir saja Sekar membanting Arka dengan lele yang ia punya. Namun Sekar tahan. Takut Arka marah besar. Gadis itu hanya berdecak sebal.


"Sekar?"


"Hmm?"


"Kalau aku goda. Kamu suka tidak?" Tanya Arka. Mengapa Arka begitu blak-blakan? Tak tahu kah ia bahwa Sekar sekarang sedang bertarung dengan nafasnya yang terpenggal. Terpisah menjadi satu-satu.


Sukaa. Sekar sangat suka saat Arka menggodanya. Tapi tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Lagipula Sekar tidak memiliki keberanian yang cukup untuk mengatakan itu.


"Diam berarti iya. Aku goda ya. Sekar cantik, Sekar manis."


Arka ini bodoh atau dongo atau bagaimana sih? Lihatlah Sekar sekarang. Pipinya yang putih mulus tiba-tiba seolah-olah di olesi blush on dengan ketebalan esktra. Begitu merah. Kaki tangannya bergetar hebat. Seumur-umur, kapan Sekar pernah di goda dengan cara begitu?


"Mukamu merah. Berarti tersipu malu," ayolah Arka. Tidak usah dikatakan juga!


"Aku sudah kenyang. Mau pulang," Sekar bsngkit. Ia meraih tas nya lalu beranjak dari sana. Padahal makananya masih banyak.


"Lho? Mba kok suaminya di tinggal?" Goda Arka setengah berteriak.


Sekar merutuki Arka. Dalam hatinya ia mengumpat kepada Arka habis-babisan. Bisa-bisanya Arka membuat Sekar malu sekaligus senang dalam satu waktu.


"Belikan sesuatu yuk untuk anak panti," tukas Arka ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Tudak usah. Nanti aku akan masak untuk makan malam," tolak Sekar.


"Sekali saja. Kita beli sesuatu untuk kalian makan malam. Jadi setelah ini kau bisa tidur. Dan bisa beristirahat," pinta Arka.


"Terserah," jawab Sekar ketus. Ia sedang tidak ingin berdebat dengan Arka.


****


"Kak Sekar pulang!!" Anak-anak panti berteriak dengan begitu kencang saat melihat kehadiran Sekar. Mereka berantusias menyambut kehadiran Sekar.


"Tuh kan. Untung tadi kita beli makanan," Arka menyenggol lengan Sekar.


"Kak Sekarr bawa apaa?" Tanya anak-anak dengan begitu antusias.


Sekar berjongkok. Mengusap salah satu pucuk kepala anak kecil, "Ini makan malam untuk kalian," jelas nya. Begitu lembut diiringi senyuman yang tulus.


"Terimakasih." Anak-anak panti memeluk Sekar.


"Bukan Kakak yang membelikan. Tapi Om ini," Sekar menunjuk Arka. Anak-anak panti langsung menyerbu Arka saat itu juga. Memeluknya.


Sekar hendak melarang mereka karena pasalnya Arka tidak suka di peluk anak panti. Namun Sekar tidak jadi ketika Arka menyambut pelukan anak-anak panti dengan hangat. Arka juga mengelus pucuk kepala mereka.


"Om ganteng pacar nya Kak Sekar yah?" Tanya salah satu anak.


Arka mengangguk. Mencolek hidung anak itu, "Benar sekali. Cocok 'kan?"


"COCOOKK," jawab anak-anak serempak.


"Yasudah. Kalian masuk yah. Makan dulu. Om nya mau pulang," ucap Sekar.


"Dadah Om. Kak Sekar nya jangan di bikin nangis ya," ucap salah satu anak sambil melambai-lambaikan tangannya pada Arka lalu masuk ke dalam.


"Siap," ucap Arka sambil hormat.


"Arka terimakasih ya. Kamu boleh pul----"


Gluduk!!


Sekar menolehkan kepalanya. Langit sudah berubah warna menjadi hitam. Ada kilatan petir di sana. Setelah itu di susul suara adzan maghrib berkumandang. Air dari langit turun dengan deras secara tiba-tiba. Suara gemuruh mulai terdengar.


Arka menolehkan kepalanya. Menatap ke arah luar. "Hujan hehe. Boleh masuk?" Pinta Arka dengan manik mata berbinar dan penuh harap.


"Mending tunggu red--"


"Terimakasih Sekar."


Arka modus! Saat melewati Sekar lalu masuk ke dalam ia menyempatkan diri mencium pipi kanan Sekar. Membuat gadis itu mematung di tempat. Rasanya Sekar seperti tersambar petir.


****


"Makannya nanti dulu yuk. Kita shalat dulu," ajak Sekar pada anak-anak yang saat itu sedang berkerumun hendak menikmati pizza yang tadi di belikan oleh Arka.

__ADS_1


"Om Arka yang menjadi imam nya," Arka tiba-tiba saja muncul dari belakang. Kemeja lengan panjangnya di lipat. Muka dan rambut nya basah. Pasti dia habis wudhu. Namun air yang ada di mukanya menambah kesan muka Arka semakin tampan sehingga membuat Sekar tidak berkedip.


"Jangan bengong. Ayo shalat bersama," Arka mencipratkan air ke muka Sekar. Membuat gadis itu mengedip-ngedipkan matanya.


__ADS_2