Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
I'm sorry don't leave me


__ADS_3

Arka: Sekar itu jarang bicara. Sekalinya bicara bikin hati terluka.


....


"Sekali. Kalau aku menyakitimu lagi, maka silahkan kau pergi kemanapun kau mau."


"Yang mencintai tidak akan memaksa."


"Aku mengerti bahkan sangat mengerti. Tapi aku masih suamimu, dan yang kukatakan barusan adalah perintah."


"Tidak untuk sekarang dan ke depannya. Sekar yang lemah sudah hilang, saatnya aku bangkit dan menemukan kebahagiaanku sendiri."


Ia pergi, meninggalkan Arka yang masih mematung. Arka tidak langsung mengejar Sekar. Dirinya masih berusaha mengelola keadaan dan pernyataan Sekar barusan.


Masih tidak habis pikir pada perlakuan Sekar yang seperti terdapat jin baru di dalamnya.


***


"Ayolah Mah. Papah bisa jelaskan kenapa Papah, Arka sama Sekar ngerahasiain ini dari Mamah," Arman mengetuk-ngetuk pintu kamar yang di dalamnya terdapat Tami sedang menangis sesegukan. Tami mengunci pintu kamar karena tidak ingin Arman masuk ke dalam. Ia masih sakit hati karena dibohongi dan butuh waktu untuk sendiri.


"Terserah," teriak Tami dari dalam. Ia tidak berniat membukakan pintu kamar untuk Arman.


"Mah, Papah mau masuk dong. Ada berkas yang harus Papah ambil," alibi Arman.


"Terserah."


"Kan pintunya di kunci Mamah dari dalam," ucap Arman.


"Terserah."


"Bukain dong Mah."


"Terserah."


Arman tersenyum. Ia memiliki ide gila, "Mah Papah ke rumah janda depan ya."


"Terse--, sekali Papah melangkahkan kaki, si Jaguar Mamah bikin gulai!" Teriak Tami tak asa.


"Eh iya iya. Papah duduk manis nih depan kamar."


Arman mengalah. Jaguar adalah kelinci kesayangannya yang sudah berusia 2 tahun. Mana mungkin ia rela melihat Jaguar berakhir di wajan. Diam dan menunggu Tami mendapatkan hidayah itulah jalan terbaik bagi suami setia seperti Arman.


***


Cukup lama Arka berdiri mematung. Isi kepalanya seperti kosong saat itu. Ia tidak bisa berpikir apa-apa. sampai ia sadar bahwa Sekar sudah lama enyah dari hadapannya.


"Sekar?!" Teriak Arka saat jiwanya sudah kembali ke dalam raga dan tidak mendapati Sekar di hadapannya.


Ia berlari keluar, menyusul Sekar yang sudah lama pergi.


Di luar pagar? Tidak ada.


Ia mencari Sekar disekitar. Matanya berkeliling kesana kemari. Namun Sekar tidak ditemukan sehingga Arka baru sadar bahwa Sekar pasti menaiki sebuah kendaraan sehingga membuatnya cepat menghilang dari pandangan.


"Sia*," umpatnya sebelum mengambil kunci mobil dari dalam rumah dan kemudian pergi.


Arka banting setir, mengacak-ngacak rambutnya, mengusap wajahnya kesal, berdesis dan juga mengumpat.


"Stupid bos! Stupid husband!"


Ia duduk dengan gelisah. Tangannya terus saja mengepal dan sesekali memukul stir. Bagaimana tidak, krystal yang sudah 5 tahun berada di rumahnya kini menghilang.


"Ah. Dimana dia sekarang?!"


Matanya tidak fokus ke depan. Ia melihat ke kanan dan ke kiri untuk sekadar mencari Sekar. Siapa tahu Sekar ada dipinggir jalan.


"Itu dia."


Arka turun dengan tergesa-gesa saat melihat wanita dengan rambut panjang sedang berjalan di pinggiran. Mobilnya tidak terparkir dengan benar dan bahkan mesinnya masih menyala.


"Sekar?" Ia membalikan badan Sekar dan langsung memeluknya


"Aku kan sudah bilang maaf. Selain maaf harus apa lagi yang aku lakukan."


"Lepas."


"Tidak. Tidak untuk sekarang. Ayo pulang ke rumah. Pasti Waluyo sudah menunggu."


"Lepas."


"Tidak untuk sek--"


"Anda apakan istri saya?!"


Mata Arka langsung membulat. Ia melepaskan pelukannya dari Sekar.


Seorang pria dari seberang sana mendekat ke arah Arka dengan hidung yang kelihatannya kembang kempis menahan amarah.


Pandangan Arka menurun, ia melihat tangan pria tersebut mengepal. Sesaat setelah itu dia melihat gadis yang tadi dipeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Gawat," gumam Arka.


"Ma-maaf saya kira Anda istri saya. Sekali lagi saya minta maaf," ujar Arka sambil membungkukan badannya.


Ia langsung pergi kembali menuju mobil dengan setengah berlari, meninggalkan gadis yang ia kira Sekar.


"Si*l," sekali lagi ia mengumpat sambil memukul setir.


Ia telah salah orang. Orang tadi bukan lah Sekar. Entah siapa dia. Dirinya terlalu parno sampai-sampai mengira orang lain adalah Sekar hanya dilihat dari belakang.


***


"Sekar?"


Ia sudah sampai rumah. Sepanjang jalan tidak menemukan Sekar jadi dirinya mengira Sekar sudah pulang.


"Sekar?!" Ia mencarinya ke dapur, ruang tengah, bahkan sampai kamar Waluyo pun dimasukinya.


"Kenapa pak?" Tanya Waluyo yang sedang sibuk membaca koran.


"Sekar mana?" Ucapnya tanpa basa-basi.


"Non Sekar? Tadi saya liat masuk ke kamarnya pak."


Arka tidak berkata apa-apa lagi. Ia berlari tergesa-gesa menaiki tangga untuk menuju kamar Sekar. Sesuai dengan yang dikatakan Waluyo tadi.


"Welah. Berantem lagi ini mah pasti," gumam Waluyo lalu kembali membaca koran.


"Sekar?"


Inilah kali pertama Arka masuk ke kamar Sekar tanpa permisi dalam 5 tahun ke belakang. Dirinya mendapati Sekar sedang mengemas baju dan dimasukan ke dalam koper. Dengan terburu-buru dan sudah tidak menangis.


"Kamu mau kemana?" Arka berusaha menghentikan aktivitas Sekar yang sedang memasukan baju. Tapi Sekar terus saja menepis tangan Arka tanpa melihatnya. Ia juga masih terus fokus memasukan baju ke dalam koper. Asal-asalan tanpa dilipat sedikitpun. Sekar seperti orang yang hendak minggat yang baru bertengkar hebat dengan suaminya.


"Sekar?! Kalau aku bicara, jawab!" Bentak Arka.


"Sekar?! Jawab. Mau kemana? Kenapa memasukan baju?!"


Sekar masih tidak menjawab. Aktivitas itu masih terus terjadi.


"Aku bilang jawab Sekar!"


"Sekar? Mau kemana? Mau dikemanakan semua baju ini?! Sekar jawab!"


Kesal karena tak kunjung mendapat jawaban dari Sekar maka Arka menarik tangan Sekar dengan kasar. Ia menutup koper dan membantingnya ke lantai. Hal tersebut sontak membuat Sekar terkejut dan menatap Arka tidak percaya.


"Katakan. Mau kemana?!"


"Panti Asuhan," jawab Sekar singkat. Ia kembali mengambil koper mininya dan memasukan bajunya kembali.


"Mau apa?"


"Bukan urusan mas Arka."


"Dengar ya Sekar. Selagi aku belum menceraikanmu, kau tidak boleh pergi kemana-mana!" bentak Arka sambil memegangi tangan Sekar.


"Apa bedanya dengan aku ada atau tidak ada disini? Sama saja bukan? Tidak dianggap," ucap Sekar dengan penuh penekanan. Ia menatap Arka untuk sesaat lalu kembali memasukan bajunya.


Arka terdiam. Ia benar-benar dipaku oleh perkataan Sekar. Ia tidak percaya bahwa gadis yang berada dihadapannya ini adalah gadis yang ia nikahi 5 tahun lalu. Yang biasanya hanya diam dan menunduk saja tanpa banyak bicara dan mematuhi segala perintahnya.


"Itu 5 tahun yang lalu. Sekarang aku akan menganggapmu, aku janji," Arka memasang muka memelas dengan manik mata yang berbinar.


"Dulu juga kau janji di depan penghulu dan saksi bahwa kau akan menjagaku. Itu 5 tahun yang lalu loh," Sekar tersenyum menahan luka sambil kembali membayangkan bagaimana janji suci Arka di depan penghulu 5 tahun yang lalu.


"Tapi...,"


"Tapi sekarang aku sudah berubah dan tidak membutuhkan perhatianmu lagi. Bukan, maksudku sudah tidak membutuhkan uang dan rumahmu lagi. Akan lebih nyaman tinggal di kolong jembatan asalkan dengan hati senang. Daripada tinggal di rumah mewah karena paksaan dan penghuni di dalamnya bak macan,"


Urusan mengemasi barang sudah selesai. Kopernya sangat penuh, bahkan sampai sedikit kesusahan untuk diresleting. Tapi itu bukan masalah. Sekar menarik kopernya perlahan dan keluar dari kamar.


Ia menatap Arka lalu menarik nafas berat. Dan pergi dari hadapan Arka.


"Oyah. Cari pembantu yang lebih baik dariku, dan jangan lupa gajih dia." Ujar Sekar ketika sudah berada diambang pintu lalu menghilang keluar. Pada saat berbicara ia tidak membalikan badannya. Tidak perlu repot-repot untuk itu.


Sudah tidak ada harapan bagi Arka untuk bisa mengejar Sekar. Meski secara tidak langsung mengatakannya, tapi jelas sudah bahwa Sekar tidak ingin lagi tinggal di rumah ini. Ia juga tidak ingin memaksa Sekar. Keinginannya saat ini adalah Sekar bahagia dan Sekar mana mungkin bahagia jika dipaksa.


Diluar terlihat Waluyo yang sedang mengelap mobil. Ia melihat Sekar dengan mata sebam dan menyeret sebuah koper.


"Lho? Non Sekar mau kemana?" Tanya Waluyo panik. Kanebo yang ia gunakan untuk mengelap mobil langsung terjatuh. Ia sadar sedang ada sebuah masalah besar.


"Eh pak. Sekar pamit ya," Sekar menyimpan dulu kopernya. Ia bersalaman dengan Waluyo.


"Lho? Pamit kemana?" Tanya Waluyo. Dirinya semakin panik mendengar kata pamit.


"Sekar udah pisah sama mas Arka," Sekar tersenyum dengan kepala menunduk.


"Astagfirallah?!" Waluyo meletakan tangannya di dada. Ia terkejut bukan main.


"Non Sekar jangan bercanda," ujar Waluyo.

__ADS_1


"Kapan pak saya bercanda soal perpisahan? Apalagi sampai bawa koper,"


Waluyo melirik koper penuh yang Sekar bawa. Benar, mana pernah Sekar bercanda dengan cara seperti ini.


"Tapi kenapa Non?"


"Saya sudah lelah. Lagian kasihan juga mas Arka kalau terus berumah tangga bersama saya. Bapak tahu sendiri kan kalau mas Arka tidak mencintai saya? Sudah saatnya dia mencari perempuan yang mencintai dan dicintainya. Saya sendiri juga lelah, cinta saya cinta sepihak."


Waluyo menatap Sekar dengan tatapan nanar. Ia tidak mengerti lagi pada dunia ini. Sangat tidak adil bagi Sekar. Semua orang mengira dengan menikahnya Sekar dan Arka akan mendatangkan sebuah kebahagiaan baru bagi Sekar, tapi ternyata tidak sama sekali. Tidak sedikitpun. Yang ada hanya menambah luka.


Lalu bagaimana akhirnya? Apa Sekar tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaannya hingga akhir kisah nanti? Jika begitu, lalu untuk apa dirinya dilahirkan ke dunia ini? Apa hanya untuk sebatas permainan?


"Saya gak bisa berbicara apa-apa. Hanya Non Sekar sendiri yang mengetahui derita ini. Jadi biarlah Non Sekar juga yang memutuskan mau bagaimana. Maaf ya Non saya tidak bisa membantu Non," Waluyo juga ikut sedih atas kepergian Sekar. Selama ini ia selalu menjalani hari-hari bersama Sekar. Waluyo merasa Sekar lebih dari sekedar majikan. Ia menganggap Sekar adalah adiknya. Kebaikan Sekar sungguh sulit dilupakan dan tidak mudah melepaskannya begitu saja.


"Lalu Non Sekar mau kemana sekarang?"


"Ke panti asuhan saya dan kak Siska dulu."


"Kalau begitu saya antar mau?"


"Gak usah pak," tolak Sekar.


"Gakpapa. Anggap saja ini pengabdian terakhir Bapak. Boleh ya?"


Sekar mengangguk, "Yaudah."


Pergilah Sekar dari rumah Arka dengan diantar Waluyo. Dari atas, dari kamar Sekar. Pada saat Arka sedang melamun tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh suara mesin mobil yang sepertinya dari luar, ia melihatnya lewat jendela. Ia melihat Sekar masuk ke dalam mobil lalu pergi.


Arka berlari secepat kilat menuruni tangga menuju ke luar. Ia berusaha mengejar Sekar. Saat Arka sampai, saat itulah Sekar pergi.


"Argh!"


"Anji*ng!" Arka memukul tembok. Bukan sekali, tapi berkali-kali.


Hingga bercak darah mulai keluar dari kelima jarinya. Tapi ia tidak perduli. Ia terus melakukan aktivitas itu setidaknya sampai emosinya mulai reda.


"Argh! Sial*n! Kenapa aku bodoh?! Kenapa?! Kenapa aku baru sadar bahwa aku mencintai gadis pungut itu?! Aku menyanyanginya, aku mencintainya, aku ingin memeluknya, aku ingin selalu berada disampingnya," ucap Arka. Ia kemudian memegang kepalanya dan meremas rambutnya. Tangisannya pecah seketika.


Namun apalah daya. Kepergian adalah kepergian. Sekar sudah pergi dan tidak mungkin bisa dibawa kembali.


Ada yang pergi untuk sementara lalu pulang. Tapi ada juga yang pergi untuk selamanya dan meninggalkan luka.


Bagaimana dengan Sekar? Apa ia akan pergi selamanya dan meninggalkan Arka dengan lukanya yang Sekar kira Arka bahagia dengan kepergiannya?


"Halo, Pah?" Arka menelefon Arman. Nada suaranya terdengar sangat berat khas orang menangis.


Ia sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dunianya sangat hancur. Pikirannya tidak bisa jernih. Otaknya tidak bisa berputar. Menelefon Arman mungkin salah satu hal baik yang bisa dilakukan untuk sekedar menghilangkan stress.


Mendapat telefon dari Arka, Arman langsung menjauh dari depan kamar yang di dalamnya terdapat Tami.


"Kenapa, Ka?" Tanya Arman.


"Oyah gimana Sekar? Dia baikan kan? Jadi gini Papah punya ide kalau kamu ke luar kota besok suruh aja ya Iyam kesana dan nginep disana. Di rumah ini biar Papah aja yang beres-beres. Nanti Iyam bakalan Papah suruh bawa sayuran, buah-buahan. Biarin deh Sekar party-party sama Waluyo sama bi Iy--"


"Sekar pergi."


Perkataan Arman yang sangat panjang lebar dan belum selesai langsung terhenti.


"Pergi kemana?" Tanya Arman.


"Arka tidak tahu. Katanya ke panti asuhan."


Tangan Arman langsung gemetar. Handphone yang ia pegang nyaris jatuh ke lantai.


"Kapan?" Selidik Arman.


"Baru saja," ucap Arka dalam.


"Arka? Kamu sudah gagal. Kamu gagal menjadi suami yang baik untuk istrimu, kamu gagal menjadi anak yang baik bagi Papah," emosi Arman langsung tersulut saat tahu Arka tidak berhasil menghentikan Sekar. Ia berkata dengan setengah berteriak.


"Sudah Papah bilang jangan biarkan dia pergi! Papah tahu kamu tidak mencintainya. Tapi tolong berusahalah demi Papah, Mamah mu dan juga kakaknya, Siska!" Arman mengusap wajahnya gusar.


"Baiklah. Ini salah Papah, ini salah Papah, semuanya salah Papah! Harusnya Papah tidak memintamu menikahi Sekar kala itu. Harusnya Papah tahu bahwa hatimu ini batu! Harusnya Papah sadar bahwa kau pria yang tidak baik bagi gadis itu. Bukan kau yang tidak berguna, tapi Papah!"


Arman menangis. Arka yang mendengar teriakan dan bentakan Arman keheranan. Belum pernah ia melihat Arman seperti ini sebelumnya.


"Kamu tahu kenapa Papah semarah ini padamu? Akan Papah beritahu! Mamahmu dulu adalah wanita malang seperti Sekar! Papah menemukannya di jalanan, sendirian! Awalnya Papah mengira Papah tidak akan mencintainya dan dia bukan wanita baik-baik. Awalnya Papah menikahi Mamahmu hanya sekedar kasihan. Tapi lihatlah sekarang. Bukan Papah yang membahagiakan dia, tapi dia yang membahagiakan Papah! Bukan dia yang beruntung memiliki Papah, tapi Papah yang beruntung memilikinya," Arka tertegun.


"Dia adalah wanita yang sabar, wanita yang tangguh. Dia bisa melahirkanmu dan membesarkanmu. Dia juga yang menemani Papah sampai Papah sesukses ini. Kesalahannya hanya satu, yaitu khilaf pada malam itu. Tapi Papah bisa memaafkannya. Kesalahan Papah lebih banyak darinya. Papah pernah mencampakannya, Papah pernah hampir meninggalkannya, Papah juga pernah berbuat kasar kepadanya dengan memperlakukan dia seperti seorang pembantu. Tapi dia bertahan. Dan disaat dia mulai lelah, Papah baru sadar bahwa Papah mencintainya. Dan disaat dia akan pergi karena lelah dengan sikap Papah, dengan sigap Papah menghentikannya dan membawanya kembali ke pelukan Papah."


Apa yang dikatakan Arman seperti sebuah bara api yang berhasil membakar hati Arka. Semangatnya langsung mengepul saat itu juga. Bentakan Arman justru seperti masukan besar bagi Arka


"Dan lihatlah kami saat ini. Suami-istri yang harmonis. Maka Papah pikir semuanya akan terjadi lagi kepadamu. Sekar adalah duplikat Mamahmu. Dan kau tahu bagaimana Papah mencintai Mamahmu? Bahkan luasnya lautan pun tidak cukup untuk menggambarkannya. Pecayalah Arka, kalau sudah tiada baru terasa."


Entah Arman sudah selesai berbicara atau belum. Arka mematikan telefonnya dan memasukan handphonenya ke dalam saku celana. Ia masuk ke dalam dan mengambil kunci motor yang terdapat di sebuah laci.


Ia membuka garasi dan langsung mengambil motor ninja yang terdapat di dalamnya.


Arka menghidupkan mesin motor tersebut dan langsung berjalan ke luar.

__ADS_1


Mengejar Sekar, itulah tujuannya.


__ADS_2