
Sekar: Karena suami adalah panutan.
Arka: Aku tahu Sekar polos. Tapi tolong ya istriku tercinta. Ajaran salah ku jangan di anut juga.
Arka: Karena bahagiamu adalah bahagiaku. Membahagiakanmu termasuk salah satu misi dalam tugas di hidupku.
.....
Darah Sekar berdesir hebat. Ia nyengir ngilu saat meihat tatapan tajam Arka pada pemuda di depannya ini.
"Hay Kak. Nama gue Haikal. Ini adek lo? Cantik haha. Kenalan boleh dong. Tuh temen-temen gue disana juga bilang dia cantik," Pria tersebut menunjuk teman-temannya yang rupanya sedang memperhatikan interaksi pria bernama Haikal ini.
Haikal mengulurkan tangannya kepada Arka. Mengajak berjabat tangan.
Sekar memejamkan mata. Ia takut Arka akan menghantam pria ini. Masalahnya ini di depan umum. Takut-takut kalau di bawa ke jalur hukum.
"Nama saya Arka. Senang bertemu dengan Anda, Haikal," ujar Arka.
Sekar membulatkan matanya lebar-lebar saat dengan ramah nya Arka mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Haikal. Ia menatap Arka dengan penuh tanda tanya.
"Gak usah kaku gitu Kak. Oyah, kalau nama lo siapa?" Kini Haikal bergantian menjulurkan tangannya pada Sekar.
Sekar menatap jeli tangan Haikal yang terjulur untuk nya. Ia menoleh ke arah Arka sekilas. Tidak ada ekspresi apapun yang Arka berikan, dingin singkatnya.
"Maaf. Saya sudah punya suami," hingga akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Sekar. Haikal tertawa di tempat saat itu juga.
"Oyah? Terus dimana dia sekarang? Gak masalah dong. Tuh Kakak lo aja diem lo gue gangguin," ucap Haikal kurang ajar. Namun Arka masih bergeming, diam di tempat. Hanya memperhatikan gerak-gerik Haikal. Tak sedikitpun beranjak. Raut wajah datar ia tunjukan.
"Maaf. Sekali lagi saya katakan saya sudah punya suami!" Tegas Sekar. Menyentak tangan Haikal.
"Suami? Hahaha. Coba tunjukin. Mana dia hah?"
Tepat, itulah pertanyaan yang Sekar inginkan.
Sekar mendorong kursi nya. Bangkit dari sana. Mendekati wajah Arka. Menarik dagu pria itu. Mencium bibir Arka, bahkan cukup lama.
Haikal, Arka dan teman-teman Haikal yang lainnya membelalakan mata. Memperhatikan adegan ciuman itu di depan mata.
"Dia suami saya, Arka. Tadi sudah berkenalan bukan?" Sekar tersenyum penuh kemenangan.
Haikal langsung kikuk. Dan saat ini, kaki tangannya bergetar hebat saat Arka menatapnya dengan tatapan horor di ikuti seringai.
"Masih belum percaya? Mau saya cium lagi dia?" Sebelum Sekar melakukan itu, Haikal ngiprit berlari bersama teman-temannya. Meninggalkan restoran tersebut.
Sekar kembali duduk, "Makan Ka. Mereka kan udah gak ada."
__ADS_1
Tampar Arka sekarang juga. Tahan sayapnya, karena sebentar lagi ia akan terbang.
Bagaimana bisa Sekar melakukan itu semua? Arka bahkan curiga jangan-jangan yang di depannya ini bukanlah Sekar.
"Sepatu bot kemarin tidak membawa pengaruh buruk bukan?" Arka menyelidiknya. Menatap mistis mata Sekar.
"Maksudnya?"
Ah untunglah. Sekar masih polos ternyata.
"Bagaimana bisa tadi kamu melakukan itu?" Arka mulai memotong steak nya. Karena sudah tidak ada lagi yang bisa ia waspadai. Dan ia pun memulai sarapannya.
"Kan kita suami istri. Sah-sah saja bukan?"
Nah loh. Itu adalah ajaran Arka. Arka yang sering mengatakan itu. Maka jangan salahkan Sekar jika ternyata itu menular ke Sekar.
"Oh. Menuntut ilmu dariku ternyata," gumam Arka mangut-mangut.
"Iya. Suami kan panutan," ucap Sekar. Tentu Sekar tidak salah dong.
Baiklah, kali ini Arka kalah.
****
Hingga kini, di sebuah pasar. Arka mencari sebuah gelas unik bermotif Doraemon yang tentunya untuk Sekar.
"Arka kamu mau apa? Biar aku cariin," Sekar berusaha melepaskan pegangan tangan Arka. Maksudnya hendak berpencar dengan Arka. Lingkungan pasar cukup ramai dan tempatnya juga besar. Jadi agar mempercepat tujuan, mereka harus berpencar.
"Mau kamu tetap bersamaku," Arka menarik kembali lengan Sekar yang tadi hampir lepas.
"Disana!" Arka menunjuk sebuah titik tempat. Ia menarik Sekar ke sana. Menerobos keramaian. Menabrak orang-orang.
Sebenarnya bisa saja mereka membeli nya di Mall, toko-toko besar ataupun pesen online. Tapi tahu Sekar 'kan? Sekar lebih suka yang murah meriah. Dan kali ini Arka tidak melarangnya asalkan Sekar perginya bersama Arka.
"Hah? Mug Doraemon!" Sekar memekik. Lantas mengambil mug tersebut. Di cium-cium nya saat itu juga.
"Ada banyak. Mau beli berapa? 10 atau 15?" Tanya Arka. Sembari mengumpulkan mug-mug tersebut.
"Boleh memangnya?" Tanya Sekar polos.
"Sekar gemes. Jadi pengen jilat ginjal nya," sudah tahu Arka susah payah ke pasar hanya untuk dirinya. Hal seperti itu masih saja Sekar tanyakan.
"Hehe. Terimakasih Arka. Aku mau satu," ucapnya.
Arka di buat menganga oleh pinta Sekar, "Satu? Kalau mau 100 juga aku bisa belikan."
__ADS_1
"Tidak usah. Satu saja cukup."
Arka bergumam, "Yasudah. Kayaknya kita harus cari tutorial bagaimana cara menghabiskan uang. Kalau begini caranya, uang ku mana habis." Ucap nya seraya mengeluarkan black-card.
Penjual tersebut tentu kebingungan melihat kartu yang di keluarkan Arka. Keningnya membentuk lipatan-lipatan kecil.
"Maaf Mas. Saya gak ngerti cara pake nya," ayolah Arka. Itu pasar kang, bukan Mall.
Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merogoh saku celanaya. Untunglah, ada uang sisa parkir "Ini uangnya. Kalau ada kembaliannya ambil aja ya," ucap Arka. Dan setelah dihitung kembaliannya hanya 500 perak. Rezeki tukang dagang.
"Mau belanja apa lagi?" Ditanya seperti itu Sekar menggelengkan kepalanya. Sambil terus menciumi mug Doraemon itu.
Arka menghela nafas sabar, "Lain kali belajar boros yah. Bantu aku menghabiskan uang," ucap nya seraya mencolek hidung Sekar.
****
"Arka," Arka menghentikan langkah nya yang saat itu hendak menuju kamar mandi karena Sekar memanggilnya.
"Iya? Kenapa? Kamu lapar? Atau mau mandi duluan?" Sekar menggeleng halus.
"Terus? Mau sesuatu? Katakan, biar aku belikan," tawar Arka.
"Iya. Mau sesuatu," ucap Sekar.
"Boleh. Sekar mau apa?" Tanya Arka.
"Mau ini," cup! Satu kecupan hangat mendarat di bibir Arka. "Terima kasih sudah mengajak ku jalan-jalan dan membelikan barang yang kuiinginkan."
"Tahan Arka tahan. Tahan dulu. Baru pulang dari pasar, harus mandi dulu. Jangan langsung di serang," batin Arka dalam hatinya.
"Iya sama-sama. Jangan sungkan ya meminta apapun yang kau inginkan. Karena....," Arka mengecup kening Sekar. "Aku mencintaimu. Dan bahagiamu adalah misi dalam hidupku."
Outfit breakfast
Memikirkan cara menggoda Sekar selanjutnya
Jangan ganggu aku ya Ka
J
__ADS_1