Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Ayah Sekar


__ADS_3

Sekar: Sesuatu paling menyakitkan adalah perpisahan. Apalagi berpisah dengan orang yang di sayang.


Arka: Jangan terlalu dalam mencintai jika tidak ingin terlalu dalam menanggung luka. Karena segala sesuatu ada konsekuensinya.


......


Arka tak melepaskan pegangannya dari tangan Sekar sedikitpun. Memberikan gadis itu kekuatan. Seolah-olah Arka takut kehilangan Sekar.


"Emangnya nyetir nya bisa ya pake tangan sebelah?" Tanya Sekar sambil tersenyum ketir. Arka dari tadi terus nempel.


"Bisa lah. Aku nyetir sambil merem aja bisa. Nih liat," Arka memejamkan matanya. Membuat Sekar menyentak lengan Arka.


"Kalau celaka gimana!" Bentak Sekar.


"Ih dipukul. Kirain bakal di cium," goda Arka.


"Jawaban spesial harus di jawab di tempat spesial. Masih ingat dengan kata itu?" Tanya Arka.


Sekar mengangguk, "Masih."


"Bagaimana kalau nanti kita ke tempat spesial?"


"Tempat apa?"


"Kalau hotel. Menurutmu spesial tidak?" Tanya Arka.


Sekar terlihat berfikir. Dirinya memang baru ke hotel sekali dua kali. Tapi tempat seperti itu bagi Sekar bukanlah tempat yang begitu menyenangkan.


Sekar menggeleng, "Aku suka hotel. Tapi tidak terlalu suka. Tapi terserah Mas Arka sih," ujar Sekar. Kembali memberikan keputusan pada Arka.


"Aku punya tempat spesial. Tapi tidak mewah. Tidak apa-apa?"


Sekar mengangguk, "Segala tempat akan terasa mewah jika ada sesuatu yang berada di sana," gumam Sekar.


*****


Pagi-pagi sekali keduanya sudah di sibukan dengan kegiatan masing-masing. Hari ini adalah weekend. Dimana Sekar dan Arka tidak masuk ke kantor.


Arka berencana akan membawa Sekar ke tempat yang menurut Arka spesial itu.


Mata Sekar di tutup menggunakan kain. Arka membimbing gadis itu berjalan dari belakang. Menyusuri jalan setapak.

__ADS_1


Sebenarnya Sekar tidak setuju dengan ide Arka yang menyuruh Sekar menutup matanya. Namun kata Arka agar romantis. Dari sana Sekar berasumsi bahwa Arka akan membawanya ke tempat romantis. Arka memang pria idaman.


"Aku hitung sampai tiga. Baru kamu buka mata ya," pinta Arka.


"Oke," jawab Sekar tidak sabar.


"Satu..... dua... tiga...," Arka melepaskan kain penutup mata Sekar.


Sekar, gadis itu celingukan. Menengok ke kanan dan ke kiri. Memperhatikan suasana di tempat itu dengan teliti.


Tidak ada banyak orang di sana. Tidak ramai pengunjung. Bahkan bisa dikatakan hanya ada Sekar dan Arka saja.


Tanda tanya memenuhi kepala Sekar. Mengapa Arka membawanya ke tempat seperti ini.


"Lihat itu!" Arka menunjuk sesuatu. "Abraham Wijaya." Sebuah nama yang tertulis di batu nisan.


Bukan hotel bintang lima. Bukan restoran ataupun caffe mahal. Bukan pula danau atau pantai.


Arka. Pria romantis itu membawa Sekar ke kuburan.


"Abraham Wijaya. Papahmu. Dan Papah ku juga."


Sekar melirik sepintas makam dengan batu nisan bernama Abraham Wijaya itu. Ia terduduk. Mengusap lembut tanah yang menggunduk. Bibirnya bergetar hebat. Kaki dan tangannya lemas seketika. Air matanya berlinang. Keluar tanpa izin sedikitpun. Matanya beralih menatap batu nisan dengan ukiran nama seseorang terletak di sana.


Pria yang telah memberikan banyak suka dan duka. Pria yang Sekar cintai selain Arka. Pahlawan Sekar dan Siska. Raja pelindung keluarga.


Air mata Sekar bercucuran. Membasahi tempat peristirahatan terakhir Abraham.


Abraham Wijaya adalah nama yang sering Sekar sebut di dalam do'a nya. Nama yang selalu ingin Sekar dengar dan pertemukan. Nama yang Selalu terukir di hati Sekar.


Arka ikut duduk. Mengusap punggung Sekar halus. Berusaha menguatkan gadis itu. Padahal dirinya juga ikut haru. Ditinggalkan sosok Ayah bukanlah hal yang bisa dikatakan bagaimana sedihnya.


"Maaf aku membawamu kesini."


Sekar menggeleng. Ia memeluk tubuh Arka, "Terimakasih. Terimakasih sudah membawaku ke makam Ayah. Aku sangat merindukan Ayah. Sangat merindukan dirinya."


Air mata itu tak kunjung berhenti. Mengalir deras bagai sungai. Dengan suka rela Arka memberikan dada nya untuk dijadikan sandaran dan tempat menangis gadis itu.


"Menangislah jika kau memang ingin menangis."


Iya. Sekar memang ingin menangis. Sekelebat bayangan Ayah nya muncul. Membawa gadis itu pada masa lalunya.

__ADS_1


Tak kuasa membayang. Hilang melayang. Nadi kehidupan usang. Kering keruntan.


Sekar berusaha menguatkan dirinya. Mencekal lengan dan dada. Mengucapkan lafadz basmallah. Meminta di kuatkan kepada yang Maha Kuasa. Memejamkan matanya rapat-rapat. Mencoba menerima apa yang telah terjadi. Segala sesuatu yang berasal dari Allah. Akan kembali kepada Allah.


Sudah banyak penderitaan yang Sekar rasakan. Namun di tinggalkan sosok Ayah nya dan Siska adalah jenis penderitaan paling menyakitkan.


"Ayah. Sekar sudah besar. Andai saja Ayah masih ada disini," Sekar menempelkan kepalanha di batu nisan Abraham.


"Ayah. Ayah sudah bertemu ya dengan Kak Siska di alam sana? Titip salam ya buat Kak Siska. Bilang kalau Sekar baik-baik saja disini." Air mata masuk ke dalam Sekar. Asin seasin mungkin. Air matanya adalah air mata kesedihan paling terdalam.


"Bilang makasih ke Kak Siska karena udah ngasih pria kayak Arka ke Sekar. Bilang maaf juga ke Kak Siska gara-gara Sekar Kak Siska jadi gak bisa nerusin hidup bareng Arka."


Arka mengelus punggung Sekar. Menyusut air mata di ekor matanya. Berusaha menahan haru. Menahan tangisan. Memperhatikan Sekar dengan perasaan pilu.


"Oyah. Mamah Lestari udah ketemu, Yah. Tapi dia sakit. Do'ain yah semoga Mamah Lestari bisa cepet sembuh terus bisa bahagia bareng Sekar dan Arka."


"Ayah bahagia gak sama Kak Siska disana? Semoga bahagia ya. Soalnya Sekar disini udah bahagia. Sama Arka. Ini dia," Sekar menunjuk Arka.


Arka maju beberapa langkah. Mendekatkan dirinya ke batu nisan Abraham.


"Ayah. Ini aku, Arka. Suami dari anak bungsu Ayah, Sekar. Terimakasih karena Ayah sudah melahirkan, menjaga dan merawat dua putri cantik dan baik seperti Siska dan Sekar. Mereka berdua adalah perempuan terhebat di dunia."


"Arka minta maaf karena Arka gagal menjaga Siska. Selain itu.." Arka melirik ke arah Sekar. Mengecup kening gadis itu. "Arka juga minta maaf karena pernah berperilaku buruk pada Sekar. Kalau Ayah memaafkan. Arka minta izin untuk memiliki Sekar sepenuhnya."


"Ingin tahu jawaban atas pertanyaanmu waktu itu?" Tanya Arka. Di balas anggukan oleh Sekar.


"Karena kau adalah duniaku. Karena aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu. Aku melihat Tuhan di dalam dirimu. Dan aku tidak bisa hidup tanpa Tuhan, aku tidak bisa meninggalkannya. Kau adalah cahaya. Pemancar kebahagiaanku. Penerang dalam gelapku. Kau adalah wanita-ku. Bahagiaku, duniaku, pengalihanku, dan segalanya bagiku." Arka mengecup kening Sekar kembali. Sebelah tangannya mengelus batu nisan Abraham.


"Kau mau tahu jawabanku waktu itu?" Tanya Sekar gantian. Arka mengangguk.


Sekar melukiskan sebuah senyuman. Mendekatkan dirinya ke batu nisan Abraham, "Ayah. Aku sudah siap memberikanmu cucu."


Arka terlonjak kaget. Mulutnya menganga. Spontan ia memeluk tubuh Sekar erat. Keduanya saling tertawa.


"Ayah dengar tidak? Sekar katanya sudah siap punya anak. Itu artinya--- itu artinyaa---" hampir Arka berteriak kalau saja Sekar tidak menutup mulutnya.


"Ini makam. Bukan pasar," gumam Sekar.


"Sekar. Aku sangat senang. Terimakasih. Terimakasih Ayah. Terimakasih sudah membisikan kepada-Nya untuk membukakan hati Sekar. Aku sangat senang."


"Aku berjanji akan menjaga Sekar dan keturunanku nanti dengan segenap tenaga. Aku tidak akan membiarkan Sekar kenapa-napa. Siska, siap-siap ya melihat keponakanmu," Arka ngadi-ngadi. Bikin anak aja belum.

__ADS_1


"Arka sayang Ayah, sayang Siska. Dan yang terakhir. Yang sayangnya paling besar adalah... sayang Sekar," kecupan singkat di bibir Sekar di depan makam Abraham sebagai pembuktian bagaimana seriusnya diri Arka menyanyangi Sekar segenap jiwa.


__ADS_2