Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Saatnya Bertindak


__ADS_3

"Api mana yang akan menyala tanpa pemantik? Apa menurutmu aku ini wanita murahan karena telah merebut suami orang? Tidak! Justru aku disini adalah wanita baik hati yang membantu mengisi kekosongan hati Arka kala itu. Arka sendiri yang datang kepadaku dan memintaku menjadi kekasih hatinya setelah cinta nya yang dulu meninggal. Lalu mau apa? Mau menyalahkanku? Maaf Sekar, aku tidak bersekolah di sawah. Aku juga memiliki harga diri. Aku tidak akan datang tanpa di undang, dan sekarang aku sudah terlanjur datang, maka aku akan menghadiri undangan ini sampai selesai."


Padahal hanya sedikit kalimat yang keluar dari mulut Sekar, tapi Viona membalasnya dengan sangat panjang seolah-olah ia tidak mau kalah.


Arka mulai memijit keningnya, pening mengurusi dua perempuan yang bahkan tidak ada yang ia cintai satupun. Yang satu dijadikan kekasih karena pelarian, yang satu dijadikan istri karena kasihan dan permintaan. (Yaudah Arka sama saya aja:v dijamin nyaman:v).


Apa yang dikatakan Viona seluruhnya benar, Viona memang tidak sepenuhnya bersalah. Arka lah yang datang sendiri kepada Viona dan meminta ia menjadi kekasih hatinya.


"Lagipula Arka belum pernah menidurimu bukan? Baiklah, anggap saja ia masih lajang dan kita adalah dua wanita yang sedang memperebutkan hatinya. Apalah arti status jika tanpa perasaan."


Sekar berjalan mendekat ke arah mereka, menyimpan gelas kopi milik Arka seraya berkata.


"Maaf, saya tidak akan memperebutkan barang yang tidak saya inginkan." Kemudian ia pergi setelah mengucap permisi dan menundukan badannya.


Dalam sebuah kesabaran, akan ada titik lelah dan lemah yang bisa dengan tiba-tiba menyerang, sepertinya rasa itu mulai melanda Sekar sekarang.


Tidak perduli sesabar apapun ia, hatinya tetap hati seorang perempuan yang tidak mau diinjak-injak oleh perempuan lain, mungkin sudah saatnya Sekar untuk melawan.


"Lihat? Sombong sekali ia. Mungkin dia berpikir bahwa kamu akan menyukainya, cih! Wanita buangan tidak akan disukai pria manapun. Apa tadi katanya? Barang yang tidak diinginkan? Memangnya dia pikir kamu itu barang?!"


Viona uring-uringan sendiri, panas pada sepatah dua patah kata yang dikatakan oleh Sekar.


Sementara Arka, tangannya sudah berhenti beradu dengan keyboard, ia menatap kepergian Sekar dengan nanar.


"Disaat aku baru mulai berjuang, kenapa dia malah mundur?" Batin Arka.


Ya, disaat selama ini Arka acuh padanya, Sekar selalu melakukan kebaikan untuk meluluhkan hati Arka. Tapi sekarang, setelah hati Arka mulai luluh, mengapa dirinya justru menjauh?


Lelah, itulah kata yang singkat namun mampu menggambarkan perasaan Sekar sekarang.


"Ngelamunin apa?" Tanya Viona pada saat Arka melihat kepergian Sekar.


"Nggak, mau ke rumah mamah sekarang?"


Viona tersenyum, lampu hijau sudah kembali menyala, tinggal berangkat.


"Ayo." Jawabnya antusias.


"Tunggu di luar, aku akan berganti baju."


Viona berjalan keluar dengan muka sumringah. Ia senang kala akan menemui Tami dan berdua dengan Arka. Begitupun Tami, ia sangat senang kala Viona menemui dirinya.


Hanya menerlukan waktu beberapa menit saja untuk Arka berganti baju hingga akhirnya ia keluar dengan penampilan rapih dan wangi parfum Cassablanca yang menyengat.


"Di bawah ada pria."


Saat tahu Arka sudah keluar dari kamar, Viona lamgsung berkata begitu sambil fokus melihat siapa gerangan orang yang ada di bawah sana.


"Siapa?" Tanya Arka singkat sambil membenahi lengan bajunya.


"Aku tidak tahu, tapi Sekar menemuinya."


Mendengar hal tersebut, Arka tersentak dan ikut melihat siapa pria yang ditemui Sekar itu.


"Gawat." Ia berlari menuruni tangga, tidak perduli lagi pada lengan bajunya yang belum terlipat dengan rapih.


"Baru kemarin aku memarahimu dan bahkan meninjumu, sudah berani datang lagi kemari?!" Arka langsung menyerbu pria tersebut yang ternyata adalah Arnold.


Arnold tidak sendiri, ada Pasha juga disana.

__ADS_1


"Sekar yang memintaku kemari." Tukas Arnold dengan begitu tenang.


Pandangan Arka beralih menatap Sekar, ia ingin meminta penjelasan lebih mengapa Sekar meminta Arnold datang ke rumahnya dengan cara menarik tangan Sekar dan berbicara di belakang. Sayangnya, Sekar menghempaskan tarikan tangan Arka.


"Aku mau pergi menemui Ibu Arnold." Ujar Sekar dingin tapi masih dengan tatapan polosnya.


"Berani kau pergi tanpa meminta iz-"


"Aku baru saja meminta izin dari mas Arka." Sekar memotong ucapan Arka yang hendak memarahinya karena tidak meminta izin terlebih dahulu jika dirinya akan pergi bersama Arnold.


"Kau sudah bersuami! Kenapa pergi dengan pria lain?!" Bentak Arka dengan mata merah menyala.


Sekar tersenyum, senyumnya sedikit menyeringai. Inilah saat-saat yang ia tunggu.


"Mas juga sudah beristri, kenapa pergi dengan wanita lain?" Tanyanya namun masih dengan nada lembut, ia berkata sambil melirik ke arah Viona yang sedang sibuk memperhatikan.


Mendengar perlawanan dari Sekar, Arnold dan Pasha tertawa sehingga membuat Arka malu.


"Baiklah! Aku tidak mengizinkanmu pergi bersama pria ini!" Ujarnya sambil menunjuk batang hidung Arnold.


"Kalau begitu boleh saya tidak mengizinkan Mas Arka pergi dengan wanita itu?" Balas Sekar sambil melihat ke arah Viona.


Viona terkejut, sontak ia memegang tangan Arka.


"Tante Tami sudah menunggu kita di rumah, ayo kita pergi sekarang." Ujar Viona yang sudah mulai khawatir akan tidak jadi berangkat.


"Kak Sekar, Ibu sudah menunggu kita di rumah, ayo kita berangkat." Pasha maju beberapa langkah dan menggaet tangan Sekar.


"Aku belum memberimu ijin Sekar!" Cergap Arka ketika melihat tangan Sekar di tarik oleh Pasha.


Sekar lalu menghentikan aksi Pasha dan mengatakan "Saya juga belum berangkat, kan."


Akhirnya ia jadi serba salah. Kalau pergi dengan Viona, maka harus rela Sekar pergi dengan Arnold. Kalau diam di rumah bersama Sekar, Viona yang akan uring-uringan.


Arka melirik ke arah Viona dan Sekar secara bergantian seolah-olah wangsit berbisik padanya 'Istri atau pacar.... istri atau pacar... istri atau pacar..."


Sesekali ia melirik ke arah Arnold, dilihatnya Arnold yang berpakaian sangat rapih, ia juga sangat tampan, pasti Sekar akan terlena dengan ketampanan Arnold nantinya.


Ia kembali melirik Viona yang sudah memegang erat tangannya karena minta diantar ke rumah Ibu nya.


"Aku mau pergi sebentar mengantar Viona ke rumah Mamah, kau tunggu dulu di rumah." Akhirnya Arka memberikan sebuah keputusan.


Sayangnya, keputusan tersebut adalah keputusan yang disetujui oleh sebelah pihak, yakni dirinya sendiri, dan Sekar tidak setuju.


"Kalau begitu aku juga permisi mengantar Pasha pulang." Balasnya dengan bersenjatakan Pasha.


"Tapi aku kan hanya mengantarnya saja, pas pulang nanti aku sendiri!" Bentak Arka.


"Aku juga hanya akan mengantarnya saja, pulang nanti aku akan naik ojek." Balas Sekar.


Arka sudah mulai stress. Kolestrol, gula darah, darah tinggi nya mulai naik.


"Kalau begitu kamu ikut saja denganku mengantar Viona ke rumah Mamah." Barulah Sekar setuju kalau ia pergi bersama Arka, Sekar tersenyum.


Saat Sekar tersenyum, Viona yang manyun.


"Aku tidak mau pergi dengannya!" Bentak Viona tepat di telinga Arka sehingga membuat Arka semakin naik darah.


"Kalau begitu kamu pergi sendiri saja!" Bentak Arka pada Viona.

__ADS_1


Viona kesal dan menghentakan kakinya.


"Bagaimana kalau Tante Tami menanyakan kemana dirimu? Masa aku harus bilang kamu lebih memilih berduaan dengan Sekar?"


Sekar tertawa pada apa yang dikatakan Viona barusan. Tidak sadarkah ia pada apa yang dikatakannya itu? Mengapa ia berkata seolah-olah Sekar adalah wanita simpanan? Jelas disini dirinya yang merupakan wanita simpanan.


Muka Viona memerah saat sadar bahwa dirinya telah berkata salah.


"Terserah! Mau pergi kemana, dengan siapa, naik apa, makan apa, semalam berbuat apa! Aku lebih baik kerja lembur 7 hari 7 malam daripada mengurusi dua wanita!"


Arka pergi, membuka kancing baju kemejanya yang tadi sudah rapih. Ia pergi menaiki tangga dan bergegas kembali ke kamar. Asap sudah mengepul keluar dari kepalanya. Stress, sangat stress.


Jika Sekar sedang menahan tawa, maka Viona sedang uring-uringan dengan cara menghentakan kaki ke lantai.


"Wanita tidak tahu diri!" Ujarnya pada Sekar sambil berlalu meninggalkan Sekar.


Gelak tawa Sekar pecah, ia sangat senang karena dirinya menang dan bahkan berhasil membuat Arka tidak jadi pergi dengan Viona.


Saat Sekar sedang berenang dalam gelak tawa, Arnold memperhatikannya sambil tersenyum.


Sangat jarang ada pemandangan seperti sekarang ini. Ketika tertawa, Sekar seperti bunga yang baru mekar yang sudah beribu tahun lamanya tidak mekar. Indah dan sangat menyegarkan untuk dipandang.


Senang, berbunga-bunga, bahagia, bangga, itulah perasaan Arnold saat melihat Sekar tertawa. "Kebahagiaan itu ada dan nyata, aku harap gadis ini akan segera merasakannya." Batin Arnold.


"Terimakasih ya kak Arnold sudah mau membantu." Ujar Sekar saat tawanya sudah berhasil dihentikan.


Ya, ini semua memang rencana Sekar dan juga Arnold. Tidak hanya mereka, Waluyo serta Pasha pun ikut serta. Rencana mereka untuk menghentikan kepergian Arka dan Viona.


"Aku senang kalau kamu senang." Ujar Arnold sambil terus memperhatikan Sekar dengan senyuman.


Bayangan masa lalu kembali menghampirinya. Dulu, jika Sekar menangis Arnold akan datang lalu memeluknya, menenggelamkan kepala Sekar di dadanya hingga Sekar berhenti menangis.


Dulu, jika Sekar kelaparan ia akan memberinya makan dengan cara menyuapinya.


Sekarang itu semua sudah tidak dapat ia lakukan. Sekar sudah menjadi milik orang.


"Aku dan Pasha pulang dulu ya." Merasa tugasnya untuk membantu Sekar sudah usai, Pasha dan Arnold pun berpamitan. Mereka berdua tidak seperti Viona yang betah berlama-lama di rumah orang.


"Aku antar sampai luar." Usul Sekar, namun Arnold menolak dengan mengatakan.


"Tidak usah, takut Arka melihat dan ia marah." Padahal dalam hati Arnold sangat ingin sekali Sekar mengantarnya keluar lalu melambai-lambaikan tangan padanya sebagai ucapan perpisahan.


Ya Allah, mengapa sakit sekali, mengapa sangat sesak, aku belum bisa melupakannya, aku sangat mencintainya dan masih ada keinginan untuk memilikinya, batin Arnold mana kala melihat manik indah mata Sekar.


Bisa Arnold saat ini hanyalah mendo'akan Sekar dan membuatnya senang dari kejauhan. Ia bahagia jika Sekar bahagia. Tapi apabila Sekar bahagia saat bersama Arka, akankah ia bahagia juga atau justru terluka?


"Yasudah, hati-hati ya di jalan. Babay." Sekar melambaikan tangannya dengan senyuman yang terus mengembang. Setelah itu barulah Arnold pergi.


Di luar sana, sudah terdapat Waluyo menunggu kedatangan Arnold.


"Matur suwun Mas. Rencana kita buat gagalin kepergian Pak Arka sama ndoro Viona berhasil toh. Yo mas kita harus semangat satuin pak Arka sama bu Sekar." Ujar Waluyo sambil menepuk bahu Arnold.


Semangat? Menyatukan Sekar? Entahlah, hati Arnold sangat tersiksa saat melakukan pekerjaan ini. Ia yang ingin disatukan, bukan menyatukan.


Pasha melihat semraut kesedihan yang tertera di wajah Arnold dan dengan penuh antusias ia berkata


"Semangat, kebahagiaan Kak Sekar adalah kebahagiaan kita juga, tidak perduli jika pada akhirnya ia bahagia dengan siapa. Hey kau, pujangga Indonesia tidak boleh berduka! Perempuan ada banyak dimana-mana."


Alih-alih terlihat seperti seorang puitisme, Pasha lebih terlihat seperti seorang anak kecil mabuk saat berkata begitu sehingga membuat Arnold tertawa renyah.

__ADS_1


"Nah gitu dong Kak. Aku yakin Kak Sekar juga sedih kalau liat Kak Arnold sedih."


__ADS_2