
Sekar: Aku salah terlalu mempercayai seseorang terlalu dalam sehingga aku harus terluka terlalu dalam pula.
Arka: Gak ada penolakan buat istri tercinta.
.....
Tentu Arka memaafkan Sekar. Tak ada kemarahan tertunda di dalam dirinya. Sekar murni tidak salah apa-apa. Sekalipun ia nyaris menghabisi nyawa Arka, Sekar tetap tidak salah.
Di rumah sakit, mereka mendapati Arnold yang sedang duduk termenung di ruangan Sekar. Kemudian bangkit saat melihat kedatangan Arka dan Sekar.
"Sekar ak--"
"Tolong keluar dulu Kak," potong Sekar. Tanpa menoleh ke arah Arnold sedikitpun.
"Sekar aku minta maaf," pinta Arnold dengan wajah memelasnya.
"Tolong Kak. Biarin aku tenang dulu. Kesehatan aku belum pulih. Dengan adanya Kak Arnold hanya akan memperburuk keadaan saja. Tolong Kakak keluar."
Arka memberikan isyarat dengan anggukan kepala kepada Arnold. Meminta agar Arnold keluar. Pada saat itu juga Arnold keluar dengan langkah terhuyung.
"Masih mau makan bakso? Aku beliin ya," tawar Arka. Kemudian melenggang dari sana.
Dengan sekali tangkap, Sekar menahan pergelangan tangan Arka. Membawanya kembali
"Arka. Aku minta maaf,"nada suaranya terdengar sangat lirih. Sekar pasti sudah percaya pada apa yang Arnold katakan. Dan ia kembali percaya pada Arka. Karena Arnold yang membuat nya begini, Arnold juga yang bisa mengembalikannya. Maka kepada Arnold, Sekar kembali percaya.. lagipula, ada banyak hal yang bisa membuktikan bahwa perkataan Arnold tidak ada benarnya.
"Maaf untuk apa?"
Sekar melirik kepala Arka sepintas. Kemudian melirik tangannya, "Untuk ini semua."
"Boleh cium?" Tanya Arka ngaco. Namun batal karena Sekar menatapnya horor.
"Duh kok kepala nya berat ya rasanya. Ini tangannya juga nyut-nyutan. Astagfirallah, badan juga mengigil." Hilih Arka. Bisa aja ngadi-ngadi nya.
"Kenapa?" Tanya Sekar datar.
"Kamu pikir di banting pake Vas bunga gak sakit apa?!" Bentak Arka.
"Ta-tapi aku gak sengaja."
"Yaudah diem kalau gak tau gimana sakitnya," ucap Arka sembari memegangi kepalanya.
"Sesakit itu ya?" Sekar nyengir ngilu. Tak bisa membayangkan bagaimana sakit nya Arka.
"Lebih sakit dari pada yang di bayangkan," ucap Arka mendramatisir.
"Maaf Ka. Gak sengaja."
"Maaf? Semudah itu?" Jujur Sekar menganga mendengar penuturan Arka barusan. Ingin marah namun tak ada hak. Memang seharusnya Arka yang marah.
"Gimana? Mau benturin vas bunga juga?" Sekar menunduk. Memang mengakui kesalahannya.
"Di kanan atau di kiri?" Tanya Arka.
"Hah? Apa?" Sekar mengangkat kepalanya.
Di dapati Arka sedang mendekatkan wajah nya ke wajah Sekar, "Di ciumnya."
"Arka mesum!" Tak segan-segan Sekar mendorong wajah Arka menggunakan kelima jarinya.
"Eh iya iya nggak kok," Arka meringis. Sakit karena kuku Sekar mencakar wajah nya.
"Ya Allah minta di cium aja sampai nyakar," Arka meraba bagian wajah nya yang tak sengaja di cakar Sekar.
__ADS_1
"Hehe. Yaudah, kiri," Sekar memberikan pipi sebelah kirinya. Membiarkan Arka melepaskan ciumannya.
"Kalau yang tengah, itu loh yang kenyal. Boleh gak?" Arka menaik turunkan alis nya sembari menatap bibir Sekar.
"Yang kiri atau nggak sama sekali?!"
"Muahh. Ihhh gemess!!" setelah di cium, Arka mencubit pipi Sekar gemas.
"Maaf ya Ka. Bener sih, aku itu emang bodoh. Bisa-bisa nya percaya sama orang lain selain sama suami sendiri." Sekar berusaha kembali fokus dan serius. Kepalanya hanya menunduk. Tak berani menatap Arka sedikitpun selagi Arka belum memaafkannya.
Arka meraih lengan Sekar. Berdehem sebentar sebelum memulai kalimat syahdu nya, "Gak ada kata penolakan buat istri tercinta. Udah aku bilang, ini cuman kesalah pahaman. Apa nya sih yang mau di salahin dari kesalah pahaman? Gak ada 'kan? Mending kita saling maaf-maafan. Biar hidup kita damai."
Sebuah keberuntungan besar bagi Sekar memiliki suami sesabar Arka, sebaik Arka. Emas yang harus di pertahankan. Sifatnya berbeda jauh dengan yang dulu. Mungkin... dulu Sekar belum terlalu mengenal Arka hingga ia berasumsi bahwa Arka memang jahat dan kasar. Tapi pada kenyataannya Sekar salah besar.
"Jadi? Udah dimaafin?"
Arka mengangguk semangat, "Tentu. Kalau gak maaf-maafan gimana mau ngecek si utun?" Arka tersenyum menyeringai.
"Ah Arka!"
Arka menyibakan baju rumah sakit Sekar. Hingga perut wanita itu kelihatan. Arka memasukan tangannya ke dalam sana. Mengusap nya lembut.
"Kita jaga utun sama-sama. Jangan ada pikiran buat menghilang lagi ya. Apalagi ninggalin utun. Jangan sampai apa yang terjadi di antara kita kembali terjadi sama utun suatu hari nanti. Dia, harus jadi anak paling bahagia."
Sekar mengangguk lemah. Menahan butiran air mata yang sebentar lagi akan keluar. Sikap Arka benar-benar membuat nya terharu. Ingin menangis sejadi-jadi nya.
Wanita mana yang rela meninggalkan pria seperti Arka. Pantas saja Siska memilihkannya untuk Sekar.
"Tapi soal Kak Arnold... jujur aku belum bisa memaafkan dia Ka. Bukan soal aku sendiri. Tapi gara-gara dia, aku juga jadi nyelakain kamu, nyelakain Mamah Tami, dan yang lainnya. Terlebih," Sekar menunduk. Mengelus perutnya. "Nyelakain utun."
"Aku gak maksa buat kamu maafin siapapun kapan pun. Semuanya juga butuh proses. Asalkan, jangan terlalu benci apalagi dendam. Di ingat ya, Arnold orang yang dulu nolong kamu. Bahkan sebelum aku."
Arka menarik tubuhnya sedikit menjauh dari Sekar. Menatap ke depan dengan tatapan gamang, "Terkadang aku merasa bersalah. Dia yang nolongin kamu, jaga kamu, ada di saat kamu benar-benar membutuhkan. Tapi aku yang mendapatkan kamu. Egois ya? Haha," Arka tertawa. Tawa nya tentu tawa menahan luka. Mengingat masa lalu memang hal yang paling menyebalkan sekaligus menyedihkan.
Arka mengatakan semuanya. Di rangkum. Mengambil bagian inti yang terpentingnya. Berusaha merangkai dengan kata-kata yang menurut nya paling tepat. Agar dapat di mengerti oleh Sekar dengan baik.
Sekar mangut-mangut lalu bergumam oh. "Ribet juga ya Ka. Kasihan Kak Arnold. Tapi nau gimana lagi, hati manusia juga gal bisa di paksa. Sayangnya, aku juga gak bisa cinta sama Kak Arnold lebih dari cinta kepada seorang Kakak. Karena mungkin aku memang tidak terlahir untuk nya," pangkas Sekar.
"Tapii.... gak ada niatan mendua 'kan?" Tanya Arka.
"Ada," ucap Sekar kelewat santai. Muka Arka langsung berubah masam. Hal yang paling ia benci adalah ketika Sekar mendua. Jangankan untuk mendua. Berbicara sopan pada pria lain saja Arka sudah cemburu.
"Tapi sama utun menduanya."
****
Karena merasa semuanya sudah kembali normal. Arka menghubungi keluarganya untuk menjenguk Sekar. Dengan senang hati, saat itu juga mereka datang ke rumah sakit. Dan kehadirannya di sambut hangat oleh Sekar dan Arka.
"Ya Allah Sekar. Mamah kangen banget loh sama kamu," Tami memeluk Sekar setelah menyimpan rantang makanan yang ia bawa. "Nih. Mamah masakin Sekar makanan. Enakkk banget rasanya."
"Makasih Mah."
Kini gantian Arman yang mengelus pucuk kepala menantunya itu, "Cepet sehat ya. Biar cepet pulang. Dan jangan main cebur-ceburan lagi," di balas kekehan oleh Sekar.
"Sekar kalau kesusahan berjalan kasih tau saya ya. Biar saya gendong," Jayur sengaja menggoda Sekar. Ia paling senang saat melihat Arka marah.
"Heh!" Benar saja. Arka langsung menyikut Jayur yabg berada di sampingnya, "Tidak ingat? Kau pegang Sekar. Ku jual ginjalmu!" Semua anggota keluarga tertawa karenanya.
Dunia selucu itu ternyata. Beberapa hari lalu bahagia, kemudian di terpa dan di hancurkan oleh kesedihan. Saat semuanya sudah retak hampir hancur, dibawa utuh kembali oleh keadaan.
Tapi apapun itu, Sekar tentu bahagia. Ada banyak pelajaran yang dapat ia ambil dari semua ini. Salah satunya..... bahwa orang paling dekat yang di anggap baik sekalipun ternyata bisa menyakiti.
Ingin komentar apa lagi? Pada kenyataannya memang benar. Karena manusia tak pernah bisa luput dari kesalahan.
__ADS_1
****
Arnold lebih dari stress. Dunianya hancur. Meremas rambut, memukul kepala sampai pening hebat menyerang pun tak dapat menghentikan desir perih di hatinya.
Semuanya kacau balau. Skenario yang ia jalankan beda jalur dengan skenario yang sudah Allah tentukan. Ingin menangis namun tak ada guna.
Arnold menelungkupkan wajah nya di kedua telapak tangannya. Duduk termenung di halaman depan rumah sakit. Ada beberapa luka di bagian wajah dan tangannya. Luka yang di sengaja.
Arnold mendongak saat merasa ada sesuatu yang bergerak di belakangnya. Menepuk halus pundaknya.
Orang itu adalah Arka. Tanpa permisi ia duduk di samping Arnold.
"Kepikiran ya?" Arka memposisikan duduk nya. Menatap gamang pepohonan di depan. Tanpa menoleh ke arah Arnold sedikitpun.
"Aku gak bisa kayak gini Ka. Sekar setelah ini pasti benci. Benci yang gak ada obat nya. Bisa-bisa nya sih aku kepikiran sampai sini. Tanpa mikir akibatnya terlebih dahulu. Sialan!" Arnold mengepalkan tangannya kuat-kuat. Memukul kaki kursi. Begitu kencang sehingga jari-jemari nya terluka.
"Mau bagaimana lagi. Nasi sudah jadi bubur. Tapi sebisa mungkin aku akan membujuk Sekar. Agar wanita itu tidak terlalu marah padamu. Setidaknya, ia masih bisa berteman baik denganmu. Dan kau bisa menemuinya lagi," ucap Arka.
Arnold menoleh ke arah pria di sampingnya itu. Menatap nya dengan tatapan miris nan tak dapat di artikan, "Kenapa tidak marah? Kenapa tidak memukulku? Kenapa tidak menghabisiku? Aku nyaris membuat nyawa Sekar melayang. Kenapa masih mau membujuk Sekar untuk memaafkanku? Jangan buat aku berharap sejauh itu."
Arka tersenyum simpul. Memaksakan diri menoleh ke arah Arnold. Menepuk paha pria itu sekali, "Karena kita teman. Aku juga masih ingat siapa yang pertama kali orang yang menolong Sekar. Anggap saja ini sebagai balas budi."
"Maaf Nold. Harusnya aku tidak mengambil Sekar kala itu. Apalagi aku menikahi Sekar karena paksaan dari Mamah sama Papah kala itu. Tapi ternyata paksaan itu berbuah cinta sekaligus berbuah luka. Teruntuk sahabat masa kecilku, Arnold Prayoga."
Arnold tak perduli dengan sekitar. Persetan dengan yang menertawakannya. Arnold ambruk memeluk Arka saat itu juga. Memeluknya erat. Menangis sejadi-jadinya.
"Maaf Ka, maaf. Seharusnya dari dulu aku sadar bahwa cinta memang tidak bisa di paksakan. Aku hanya belum rela Sekar di milikimu. Aku kira kau tetap Arka yang jahat yang belum bisa menerima kematian Siska. Aku buta Ka. Aku tidak melihat bahwa sahabatku ini orang yang baik."
"Seharusnya aku sadar bahwa Sekar lebih membutuhkanmu di banding diriku. Seharusnya aku sadar bahwa tugas ku hanya sebagai seorang Kakak untuknya. Tidak lebih."
Dengan senang hati Arka membalas pelukan Arnold. Membiarkan tubuhnya dijadikan lahan menangis, "Tidak masalah. Dan tidak ada kata terlambat. Aku bersyukur kau sudah menyadarinya. Dan aku minta maaf. Tapi kau harus tahu bahwa sejatinya Sekar memang diciptakan untuk ku. Tak perduli seberapa besar usahamu untuk memisahkan kami, jika bukan atas kehendak Allah, maka semuanya tidak akan berjalan lancar."
Arnold memgangguk hebat. Ia sangat mengerti, "Aku mengerti Ka. Maaf. Tolong bujuk Sekar. Biarkan dia menganggapku sebagai Kakak nya. Sungguh, aku tidak bisa melihat Sekar membenci ku. Hal yang paling aku takutkan adalah Sekar membenciku."
"Tentu. Aku akan membujuk Sekar sebisa mungkin. Tapi tolong berjanjilah, jangan coba-coba rebut dia lagi. Jika itu terjadi, bukan hanya Sekar yang akan membencimu. Tapi satu dunia akan ku buat membencimu. Kau harus buka matamu bahwa Sekar memang tidak terlahir untuk mu."
"Aku mengerti. Aku hanya ingin maafnya Sekar. Setelah itu aku berjanji tidak akan berusaha merebutnya lagi apalagi jika itu ternyata menyakiti dirinya dan janinya. Maafkan aku hampir menyakiti anak mu," ucap Arnold dengan senyuman tulusnya.
"Anak ku pasti senang memiliki paman sepertimu. Aku memaafkanmu. Kita ini teman. Dan aku paham betul perasaan mu. Cinta memang sulit di artikan. Bisa membuat kita gila rasanya."
Sekar, maaf
Nold lu udah gue maafin. Jangan coba-coba rebut Sekar lagi ya bambang
Aku salah karena telah mempercayai seseorang terlalu dalam sehingga aku harus terluka terlalu dalam pula
Mari kita rawat utun sama-sama
__ADS_1