
Arka: Sebodoh-bodohnya aku. Tentu tidak akan melukaimu.
.....
"Ka aku gak bisa berenang. Aku gak mau," mati-matian Sekar menolak permintaan Arka yang mengajaknya berenang bersama. Saat ini Arka sudah berada di bawah kolam renang. Ia menarik-narik lengan dan kaki Sekar yang masih berada di atas kolam. Di pinggirannya.
"Ka aku mohon Ka. Aku gak bisa berenang. Aku takut tenggelam," dengan usil nya Arka terus menarik kaki dan betis Sekar. Padahal gadis itu sudah meronta. Bahkan Sekar sudah menangis.
"Kan ada aku. Ayo berenang bersama," maka muncul lah sifat mesum dan ke kanak-kanakan Arka.
"Kak aku gak bisa berenang. Kalau tenggelam bisa repot urusannya."
"Kalau tenggelam terus pingsan kan tinggal di kasih nafas buatan," sifat jahil Arka semakin menjalar.
"Ka jangan Ka. Masih mending kalau pingsannya sementara. Kalau pingsannya sela--"
Byurrr!!
Ucapan Sekar terpotong karena Arka sudah menarik tubuh Sekar ke kolam renang. Sekar memejamkan matanya. Tak melakukan pergerakan. Dirinya tidak bisa berenang. Di pikirnya semakin banyak bergerak maka akan semakin tenggelam.
Lama Sekar menutup matanya. Tapi dirinya masih bisa bernafas. Masih bisa merasakan segarnya udara. Tak ada bagian tubuhnya yang basah.
Sekar membuka matanya secara perlahan. Di dapatinya Arka yang sedang melihat ke arah nya. Sekar tidak di masukan ke kolam renang. Arka menggendongnya--- menggendong nyamping. Kedua lengan Sekar melingkar di leher Arka. Arka tidak menceburkannya ke kolam renang. Hanya di gendong saja.
"Ish! bikin orang jantungan aja!" Desis Sekar kesal.
"Hehe. Gimana aksinya? Keren gak?" Arka menaik turunkan alisnya.
"Nggak. Arka turunin. Aku gak bisa berenang. Takut kolam. Takut tenggelam," ucap Sekar memohon.
"Ada hal baru yang harus kamu dapat ketika sedang bersama kekasih baru."
Arka menatap mata indah milik Sekar. Sementara Sekar hanya mengernyit tak tahu apa maksud Arka.
"Kissing under the water."
Arka memasukan dirinya dan diri Sekar ke dalam kolam secara bersamaan tanpa melepaskan tubuh gadis itu dari pangkuannya.
Sekar berontak. Namun Arka tak melepaskan. Ia semakin erat mencengkram tubuh Sekar. Sekar berusaha menahan nafasnya. Di saat yang bersamaan, serangan datang. Pria itu memasukan sesuatu ke bibir Sekar. Sesuatu yang sudah menjadi candu nya akhir-akhir ini. Bermain di dalam sana. Dengan mata terpejam.
Tadinya Sekar pikir ia akan kesulitan bernafas. Ternyata salah besar. ******* Arka seolah-olah memberinya nafas baru. Sekar mulai mengikuti alur. Mempermainkan milik Arka. Rasanya berbeda jika di lakukan di dalam air. Kenyalnya lebih terasa.
Perlahan Arka mengangkat kepalanya. Tersenyum miring kepada gadis yang saat ini sedang bersusah payah mengatur nafas. Yang nafasnya sedang terengah-engah.
"Gak bisa nafasnya bukan karena air. Tapi karena Arka." Ia menaiki tangga. Merebahkan tubuh Sekar yang sudah basah kuyup di sana.
Sekar mengerucut. Melihat tatapan Arka yang menyeringai dengan senyum khas iblisnya. Tidak kah Arka akan melakukan hal konyol disini?
"Ka. Ja-jangan disini juga."
Arka tak mengindahkannya. Ia mendekatkan bibir nya ke telinga Sekar, "Pura-pura pingsan. Biar ceritanya aku kasih nafas buatan." Bah?! Arka mau drama-dramaan ceritanya?
Sekar terkekeh geli mendengarnya. Mengapa Arka bisa menjadi kekanak-kanakan begini. Tapi ia tetap patuh. Memejamkan matanya. Tak bergerak. Percis seperti orang kehabisan nafas.
"Dalam hitungan ketiga ya... satu... dua... tiga..."
Byurrr!!!
"Arka aku gak bisa renang!!" Arka itu tega atau bagaimana sih? Berpuluh-puluh kali Sekar mengeluh mengatakan bahwa dirinya tidak bisa berenang. Sekarang malah menceburkan Sekar ke kolam.
Arka tertawa sembari berkacak pinggang. Menyaksikan istrinya yang uring-uringan.
__ADS_1
"Seimbangkan berdirimu. Lihat seberapa dalam nya kolam ini."
Dengan nafas terpenggal Sekar berusaha bangkit. Menegakan tubuh nya. Dan...
"Selutut doang tingginya?!"
*****
Meski tinggi kolam renang hanya selutut orang dewasa tetap saja Sekar masih kesal pada tingkah usil Arka.
"Marah ya?" Arka berdiri di belakang Sekar yang sedang sibuk mengeringkan rambutnya. Sekar tak mengatakan apa-apa. Arka melingkarkan lengannya mengitari perut Sekar. Mencium rambut gadis itu yang katanya wangi nya seperti bedak bayi. Kemudian berpindah ke tengkuk Sekar. Membuat Sekar menggeliat geli. Tapi mulutnya masih saja bungkam.
"Wangi," ucap Arka sambil terus menghirup aroma rambut Sekar.
Tangan Arka yang melingkar di perut Sekar kembali berontak. Mengelus perut rata Sekar dari belakang.
"Sekar?"
"Hmm?"
"Kok kamu kurus banget sih? Ini perutnya kempleng banget." Kata lainnya: modus! Itu tangan Arka menyibakan baju bagian perut Sekar. Mengelusnya. Seolah-olah minta.
"Kamu gak suka perempuan kurus ya?" Tanya Sekar.
"Suka. Kalo itu kamu."
"Lepasin dulu Ka. Aku ngeringin rambut aku dulu," disuruh begitu Arka malah mempererat pelukannya. Bahkan sampai Sekar kesulitan bernafas. Dan merasa nyeri di bagian perutnya akibat tekanan tangan Arka. Tapi Arka merasa tak bersalah sama sekali. Ia memejamkan mata. Menghujani leher bagian belakang dengan ciuman. Menciumi aroma wangi rambut Sekar.
"A-Arka sesek!" Barulah Arka melepaskan pelukannya. Cengir-cengir senyum bagai kuda.
"Jangan ganti baju ya. Udah bagus baju nya ini. Tapi kalau lagi di dalam kamar hotel doang. Kalau keluar baru ganti."
Dimana saat ini Sekar sedang menggunakan sebuah pants berwarna hitam yang begitu pendek. Dan kaos t-shirt putih yang sama pendek nya juga.
"Outfit nya mancing-mancing," Arka hendak nyosor Sekar. Namun langkah nya terhenti mana kala Sekar menatap horor ke arah nya.
"Masih capek," pungkas Sekar kemudian duduk di pinggiran ranjang.
Tanpa izin dulu, pria itu merebahkan dirinya di ranjang dengan berbantalkan paha Sekar. Posisinya telentang. Mendonggakan kepalanya sehingga bisa melihat wajah Sekar yang begitu cantik jelita.
"Bisa-bisa nya ya kamu cantik gini?" Arka mencolek hidung Sekar pelan. Menarik rambut nya yang panjang kemudian menciuminya.
"Kamu juga tampan," Sekar yang sudah selesai dengan aktivitas mengeringkan rambut nya kini beralih mencolek-colek jakun Arka dengan pelan.
"Jangan di cubit ya jakun nya. Sakit," ucap Arka. Di balas anggukan lembut oleh Sekar.
Sifat jahil Arka muncul lagi. Ia membuka baju Sekar. Memasukan kepalanya ke sana.
"Arka?! Kamu gak pengap apa?" Tanya Sekar. Terkejut karena kepala suaminya itu masuk ke dalam baju.
"Nggak. Cuman disini gelap aja," ucap Arka. Tanpa mengeluarkan kepalanya sedikitpun.
"Disini ada dua gunung kembar. Indah banget," apa yang dikatakan Arka barusan di hadiahi cubitan di tangannya. Yang diakibatkan oleh Sekar.
Ternyata tu cowok masuk ke perut Sekar cuman buat ngintip. Ih jadi pengen ceburin Arka ke kolam gurita!
"Arka keluar. Geli," dengan usil nya Arka mengusel-ngusel kepalanya di perut Sekar.
"Ka geli Ka," Sekar mulai tertawa saat Arka menjilat-jilat perut Sekar.
"ARKA SAKIT!" Sekar berjengit. Kemudian berdiri dengan terkejut saat Arka tak sengaja mengigit perutnya.
__ADS_1
Sekar membuka baju nya. Di dapati deretan gigi Arka disana. Tapi pria itu hanya terkekeh tanpa merasa bersalah.
"Sakit ya? Hehe maaf. Gak sengaja. Kayak ayam goreng abisnya."
Sekar mendelik tajam ke arah suaminya itu. Bisa-bisanya ia menggigit perut rata Sekar dan di samakan dengan ayam goreng?! bagaimana ceritanya ayam goreng rata gitu?!
Sekar tak menjawab apa-apa. Ia kesal benar pada tingkah laku Arka seharian ini.
"Marah ya, hm?" Arka duduk di samping Sekar yang masih fokus mengelus halus perutnya. Sementara Arks sibuk mengelus pucuk kepala Sekar.
"Lain kali gak di gigit lagi deh. Sakit banget? Maaf ya," Arka kembali menidurkan dirinya di paha Sekar. Memilin baju gadis itu.
"Selama 5 tahun nikah kok aku baru sadar ya ternyata kamu secantik ini?" Heyoo. Arka si raja gombal.
Sekar tak menggubrisnya. Ia masih kesal pada Arka, "Kalau marah gimana mau bikin utun, hm?" Arka menarik kedua sudut bibir Sekar. Di bentuk sebuah senyuman.
"Sakit Ka bibirnya," ucap Sekar sedikit menye-menye karena Arka menarik bibirnya.
"Hehe lucu kalau gini. Kayak bebek."
Sekar menyentak tangan kurang ajar Arka. Di pikir bibir Sekar permen Marshmellow apa?!
"Hehe. Nih mainin lagi jakun nya. Tapi pelan-pelan. Di usap halus," Arka menaruh lengan Sekar di jakun nya. Membiarkan gadis itu mengelus nya halus.
Ya iyalah Sekar mah main nya halus, emang nya Arka?!
Dengan begitu lembut dan telaten Sekar mengusap-usap rahang Arka. Sesekali menyugar rambut nya. Bahkan menciumi kening Arka dan juga pipi nya. Sampai bayi gede nya itu tidur di pangkuan Sekar.
Sekar menerbitkan sebuah senyuman. Melihat Arka tertidur, hatinya begitu tenang dan damai. Bawaannya ingin tersenyum melulu.
"Terimakasih untuk semuanya Arka. Aku menyanyangimu." Sebagai akhir, Sekar mendaratkan ciuman singkat di bibir Arka. Lalu membawa tubuh pria itu ke tengah kasur. Menidurkannya disana. Susah payah Sekar melakukannya karena tubuh Arka begitu berat.
Saat Sekar beranjak pergi, Arka meraih pergelangan tangan gadis itu. Menarik nya. Mendekapnya. Memeluknya. Arka melakukan itu tanpa membuka matanya sedikitpun.
"Mau kemana? Ayo kita tidur sekarang. Sudah lelah kan?"
Sekar mematuhi nya. Tidur di dekapan Arka dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan degup jantung pria itu dapat terdengar jelas oleh Sekar. Sementara Arka, sambil memeluk Sekar tidurnya sangat nyenyak.
"Tidur yang nyenyak ya Arka. Sayang nya Sekar," ia memberikan kecupan lagi di bibir Arka yang memang berjarak sangat dekat dengan dirinya.
Arka sadar akan hal itu. Ia melukiskan sebuah senyuman. Menarik selimut dengan sekali hentakan. Membuat seluruh tubuhnya dan tubuh Sekar tertutupi. Kemudian melakukannya lagi. Biasa, bikin utun.
Cuss berenang bareng Arka. Entar Arka ceburin ke kolam tinggi selutut.
Kesel sama Arka si mesum!
Mau ikut berenang gak?
Outfit penggoda Arka
Kuy siram-siraman.
__ADS_1