Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Perhitungan!


__ADS_3

Biasanya, Sekar akan lanjut beres-beres rumah ketika rumah sudah kosong dan Arka sudah berangkat bekerja.


Tapi tidak untuk hari ini. Setelah mandi, ia menata dirinya di depan cermin.


Mengenakan bedak baby powder, lip balm diombre dengan lipstik merah muda, menggunakan gamis brukat dan kerudung segiempat hitam.


Sederhana, namun mempesona. Karena kecantikannya terpancar dari hati yang keluar lewat lubang bola mata.


"Semoga kak Arnold senang aku bisa menghadiri acara itu." Ujarnya sambil memandangi cermin sesekali membetulkan letak kerudung nya.


***


"Pak Waluyo?"


"E eh iya Non."


Waluyo yang sedang rebahan sambil bertopang tangan langsung bangkit saat melihat majikan muda nya datang dan memanggilnya.


"Boleh tolong anterin saya?" Tanya Sekar sambil tersenyum.


"Boleh dong. Non Sekar mau kemana toh?"


Sekar masuk kedalam mobil terlebih dahulu, diikuti Waluyo dibelakangnya.


"Nanti saya tunjukin jalan nya."


Waluyo mengangguk, ia langsung pasang gigi dan tancap gas. OTW menuju tempat tujuan Sekar.


***


"Mas, kok kamu siang begini sih datangnya?"


Baru saja Arka keluar dari dalam lift, sudah ada Viona yang menunggu nya sambil berkacak pinggang.


Tidak lupa, bibir tebal merah merona nya sedikit ia manyunkan.


Tidak ada jawaban apapun dari Arka. Ia hanya membenahi dasi lalu masuk kedalam ruangan kerja nya.


"Bisa gak sih kamu tuh gak usah dingin gitu?"


Masih sama, tidak ada jawaban. Kehadiran Viona tidak berarti apa-apa bagi Arka sekalipun dirinya sedang penat. Yang ada, Viona membuat tambah penat.


"Kamu gak kerja?" Ujar Arka yang seolah-olah mengusir Viona dengan cara halus.


"Cih, Mas!"


Viona sudah mulai jengkel. Sudah pacar nya telat, di acuhkan pula.


"Mas! Aku mau kamu segera temuin mamah aku."


Padahal Arka tidak mengatakan perihal apa-apa soal hubungan mereka. Tiba-tiba saja Viona menjadi sangat serius dengan berkata seperti itu.


Akhirnya Arka mengalah, terpaksa harus menanggapi serius perkataan Viona jika sudah menyangkut soal hubungan atau perasaan.


Matanya menerawang ke depan, tangan nya ia lipat diatas meja.


"Aku belum siap mempunyai dua istri."


Singkat namun mematikan. Bagaikan tersengat tawon di area sensitif, itulah perasaan Viona saat ini. Bahkan lebih dari itu.


"Dari tahun-tahun sebelumnya juga kau selalu tidak siap! Mau kapan siap nya hah?! Menunggu lebaran kambing?!"


Bahkan kambing yang tidak tahu menahu pun terkena imbas mulut pedas Viona.


Arka menarik nafas berat, ia harus menghadapi situasi ini lagi selama bertahun-tahun lamanya.


"Akan kuberitahu kalau aku sudah siap."


"Kapan kau akan siap Mas? Menurut mu enak hah dijadikan pacar gelap?! Aku ingin hubungan kita ini sah! Nikahi aku, putuskan istrimu. Apa susahnya memutuskan hubungan dengan orang yang tidak kau cinta?!"


Soflent biru Viona sudah mulai ganti warna menjadi merah. Keringat mulai keluar tanpa permisi. Cukup memakan tenaga berkata seperti itu kepada Arka.


"Aku sudah terlambat, harus bekerja. Kembali lah keruangan kerjamu."


Pasti seperti itu lagi elak Arka.


"Aku akan mengatakan pada media kalau kita memiliki hubungan terlarang jika Mas tidak segera menikahiku!"


"Viona?!"


Ia juga sudah mulai kesal, gadis di depannya ini tidak ada habis-habis nya mengajak adu emosi.

__ADS_1


"Apa hah?! Mau memukulku? Silahkan!"


Arka menarik nafas berat nya lagi. Sulit juga menghadapi nenek lampir muda satu ini.


"Kita bicarakan lagi nanti."


Ia kemudian duduk kembali di kursi kerja nya.


Tidak ada senyuman apapun yang tersirat di muka Viona, hanya kekesalan yang ada.


"CEO tampan menyebalkan!" Umpatnya sambil berlalu.


Memang selalu ada saja umpatan terakhir sebelum Viona meninggalkan ruang kerja Arka.


Nenek lampir sudah pergi, sudah saat nya untuk Arka fokus mengurusi semua bisnis kantor nya ini.


***


"Assalamualaikum." Sapa seseorang dari luar.


"Waalaikumsalam, Nak Sekar?!"


Laksmi langsung menghambur memeluk Sekar saat di dapatinya Sekar berdiri diluar dan yang tadi mengucapkan salam.


"Ibu kangen kamu, Nak."


Diciuminya pipi, kening, bahkan dagu Sekar.


"Sekar juga kangen sama ibu."


Sekar pun sama, ia mencium telapak tangan wanita tua itu dengan penuh kelembutan.


"Wah, kamu semakin cantik saja ya."


Tangan Laksmi pindah meraba tubuh ramping Sekar, ia memuji penampilan gadis itu.


"Terimakasih bu."


Senyum sederhana namun mempesona kembali terukir di bibir shape heart Sekar.


"Ayo masuk, Arnold sudah menunggu kamu."


Laksmi adalah ibu dari pria yang selama ini kerap disapa Arnold.


Tidak ada rahasia apapun antara mereka semua. Laksmi sepenuh nya tahu bahwa Sekar sudah dipinang seorang pengusaha kaya. Namun, Laksmi juga tahu bahwa hati Sekar bukanlah untuk pria yang kini sudah berstatus menjadi suaminya. Ia juga tahu bahwa suami Sekar itu tidak mencintai Sekar.


Meski janur kuning sudah melengkung, namun selagi hati Sekar di peruntukan untuk Arnold, tidak ada kata mundur.


Laksmi sangat baik dalam memperlakukan wanita yang gagal menjadi mantu nya ini. Ia memperlakukan Sekar seolah-olah gadis itu adalah anaknya sendiri, dan tidak ada pengecualian.


Ia masih berharap bahwa suatu hari Sekar akan menjadi menantu nya, pasangan hidup Arnold.


"Kak Arnold."


Sekar menyalami Arnold yang sudah rapih dan tampan yang kini sedang duduk di ruang tamu. Disambutnya si gadis dengan senyuman yang merekah.


"Duduk, Sekar."


Setelah di persilahkan, ia duduk bersebrangan dengan Arnold.


Kemarin Arnold baru saja menjalani kelulusannya, ia lulus sebagai sarjana dengan predikat S2. Untuk merayakan atas lulus nya Arnold di fakultas Gajah Mada itu, mereka mengadakan acara syukuran yang dihadiri oleh sanak saudara.


"Arnold, silahkan mulai. Semuanya sudah berkumpul." Ujar Laksmi.


Arnold hanya diam saja, ia menatap ke suatu titik tanpa berkedip.


Rupanya ia sudah salah fokus pada gadis yang kini sedang duduk dihadapannya, Sekar.


Meski sesederhana itu, Sekar terus saja bisa menarik perhatian Arnold sepenuhnya.


"Stt, Kak Arnold?!" Ujar Pasha.


Pasha menyenggol kakak nya agar kembali sadar dan memulai acara syukuran.


***


Pesan masuk


"Saya lihat bu Sekar pergi dengan pakaian rapih." Ujar orang tersebut di dalam SMS.


Padahal Sekar hanya mengenakan gamis biasa, tapi sudah dikatakan rapih.

__ADS_1


"Berani sekali dia pergi tanpa izin!"


Tangan Arka mencengkram erat handphone nya.


Lalu ia menekan nomor seseorang dan menelefon nya.


"Hallo, Waluyo?!"


Sudah pasti Waluyo menjadi sasaran utama untuk menggali informasi kemana perginya Sekar.


"Nde Pak?"


"Kemana si Sekar?"


Imbuhan kata 'si' memang kurang enak untuk di dengar, tapi itulah Arka.


"A-anu tuan."


Waluyo kikuk sendiri. Ia takut ada kebakaran besar kalau dirinya berkata jujur.


"Cepat katakan!"


"E-euh ke ke Jl. Teluk Tomini den."


Cengkraman tangan Arka semakin menguat. Jika saja yang di genggam nya itu pisang, pasti lah sudah penyek.


Amarah nya makin menjadi kala alamat itu disebut, ia tahu benar ke mana dan siapa tujuan Sekar.


"Keterlaluan!" Umpatnya sambil menutup laptop dengan kasar dan pergi begitu saja.


***


"Hahahaha. Terus-terus?"


Pasha sedang asyik menceritakan bagaimana dirinya menjahili teman-temannya kepada Sekar.


Dan Sekar pun sama hebat memberikan reaksi yang membuat Pasha senang.


"Mereka nyebur got kak."


Sekar mencakar rambut Pasha. Tingkah Pasha kali ini cukup keterlaluan hingga membuat Sekar gemas.


"Wah, kamu nakal juga ya." Ujar Sekar.


Dari dalam, Arnold datang dengan membawakan baki berisi macam-macam kue. Ada kue kacang, nastar, kuping gajah.


"Pasha masuk ya kak, mau ngerjadin PR." Ijin Pasha sambil berlalu meninggalkan Arnold serta Sekar setelah mendapati kedatangan Arnold.


Pasha, anak itu seperti mengerti saja kalau Kakak nya ini harus bedua saja agar bisa tenang dalam bercakap.


Dengan alasan mengerjakan PR, begitulah ia meninggalkan Arnold dan Sekar berdua.


Pasha merupakan adik pertama serta satu-satu nya Arnold, usia nya kini baru menginjak 13 tahun. Meski terbilang usianya yang masih sangat kecil, pemikiran Pasha bisa bisa dikatakan cukup dewasa.


Setelah Pasha pergi, tempat yang tadi di duduki Pasha kini diisi oleh Arnold. Yakni disamping Sekar.


Acara syukuran sudah berlangsung dengan lancar. Sebagian kerabat sudah pulang, hanya tinggal satu atau dua saja, termasuk Sekar.


Mereka sedang duduk diluar, menikmati semerik angin yang lewat.


"Jadi kakak besok mau mulai bekerja?" Tanya Sekar.


Arnold mengangguk.


"Iya. Saya akan langsung melamar pekerjaan besok pagi. Do'akan ya."


Sekar tersenyum. Ia turut bangga pada keberhasilan yang telah dicapai oleh usaha gigih Arnold.


"Bagaimana sikap Arka?" Tanya Arnold.


Sekar menunduk. Menyebut nama Arka disaat-saat seperti ini bukanlah hal yang bagus.


"Masih sama, dingin."


Arnold menatap gadis itu dengan nanar. Malang sekali nasib wanita yang dicintai nya ini.


"Bersabarlah, terus berdo'a kepada Allah SWT. Jika saya diberi kesempatan untuk memilikimu, akan saya bahagiakan dirimu."


Sekar tersenyum, ia sudah bahagia hanya dengan Arnold berkata seperti itu.


Harusnya Arka yang berjanji akan membahagiakannya, tapi ya sudahlah.

__ADS_1


Cinta masa kini tidak bisa, cinta masa lalu pun jadi.


__ADS_2