Satu Hati 2 CINTA

Satu Hati 2 CINTA
Jangan ikat rambutmu!


__ADS_3

Arka: Rambutnya boleh diikat. Asal tidak ada yang lihat.


"Sudah selesai ya Mba ngepel nya?" Itu Zaki. Ia masuk ke ruangan kebersihan. Ralatnya tempat dimana Sekar sedang beristirahat siang. Yang sebentar lagi akan menyantap makan siangnya.


"Sudah," tukas Sekar diiringi senyuman.


"Ayo ke pantry. Kita makan disana. Sudah disediakan makanan" Zaki menjulurkan tangannya. Mengajak Sekar untuk ke pantry. Tempatnya tidak terlalu jauh. Masih berada di lantai ini. Letaknya berada di sebelah kamar Baby's room.


Sekar memperlihatkan kotak makanannya, "Saya sudah bawa bekal di rumah. Lagipula katanya saya di perbolehkan makan disini. Jadi saya makan disini saja." Sekar menolak dengan cara halus.


Zaki tersenyum. Ia kagum pada Sekar. Biasanya orang-orang akan senang makan makanan yang disediakan kantor. Pasalnya kantor memang jarang menyediakan makanan. Biasanya mereka membeli sendiri di restoran bawah atau bawa bekal dari rumah. Tapi entahlah untuk hari ini. Seolah-olah hari ini special.


"Bekal di rumah untuk di rumah. Kalau ada makanan yang tersedia di kantor mari makan," Zaki mengambil kotak bekal makan Sekar. Di letakan di atas meja kemudian menarik Sekar keluar lalu pergi menuju pantry.


"Disana makannya," Zaki menunjuk tempat makanan tersedia. "Nanti makannya disini. Ada yang perlu saya bicarakan."


Sekar mengangguk. Ia berjalan dengan menggenggam tangannya dan kepala menunduk. Tidak sampai Zaki berseru, "Jangan menunduk. Nanti nabrak orang."


Baru juga Zaki memperingati. Ketika Sekar membalikan badan ia menabrak orang. Sekar gelagapan. Buru-buru ia meminta maaf dan menundukan badan. "Maaf say--"


"Maafkan saya Bu Sekar," ucap pria itu sembari melenggang pergi. Kedua alis Sekar menyatu. Keningnya membentuk lipatan-lipatan kecil. Ia melirik orang tersebut sekilas. Harusnya Sekar yang minta maaf, kenapa jadi pria itu?


"Mau makan ya, Mba?" Tanya pelayan dengan ramah.


"I-iya," jawab Sekar gugup.


"Mau makan apa?"


Sekar melirik sekilas menu makanan yang kini sedang berada di depannya. Ada begitu banyak jenis makanan. Dalam hati ia sempat bergumam "Tidak kah perusahaan ini bangkrut menyediakan makanan sebanyak dan semewah ini?"


Namun ia menggeleng lalu menolehkan kepalanya ke belakang ketika seorang laki-laki berucap, "Berikan dia porsi ringan namun enak, mengenyangkan dan menyehatkan," teriak Zaki dari seberang sana. Yang sedang memperhatikan Sekar dan menunggu Sekar.


"Mba nya tunggu di sana saja. Sama Pak Zaki. Nanti biar saya yang antar," ujar pelayan tersebut dengan begitu ramah.


Sekar bingung. Ini hotel apa kantor? Dirinya lebih merasa di hotel saat ini.


"Ayo. Tunggu disana saja. Ini memang sudah menjadi keistimewaan kantor Arka. Memperlakukan semua karyawan sebaik mungkin," Zaki menyusul Sekar. Mengajak gadis itu duduk di bangku seberang meja makan. Tepatnya di depan jendela.


Sekar celingukan sendiri. Sesekali ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Orang-orang yang berlalu lalang selalu melemparkan senyuman ke arahnya. Ia menjadi salah tingkah dan tidak enak sendiri.


"Sebaik ini ya Pak para karyawan disini?" Tanya Sekar ketika mereka sudah duduk.


"Ya biasalah. Kalau sama orang baru memang mereka baik," ucap Zaki halus. Agar Sekar tidak salah paham.


"Oh. Memangnya kantor menyediakan makanan dari dalam setiap hari yah? Memangnya tidak rugi? Pegawai disini kan banyak. Apalagi pekerja sepertiku juga di beri makanan gratis," ucap Sekar dengan begitu lugu nya.


"Tidak. Hari ini hari ulang tahun kantor. Sebagai perayaannya kami sengaja memberikan makanan gratis kepada pegawai disini," jelas Zaki.


"Ulang tahun kantor? Dan Arka tidak ada disini?" Tanya Sekar.


"Iya. Ada meeting di luar kota. Yah bukan masalah besar. Namanya juga Bos. Selalu sibuk. Bagaimana hubunganmu dengan Arka?" Tanya Zaki.


Sekar mengalihkan pandangannya. Menatap pemandangan di bawah sana. Tepatnya di lobby Selatan kantor ini. Disaat yang bertepatan seseorang membawakan Sekar makanan. Ada begitu banyak varian makanan sampai Sekar bingung sendiri bagaimana menghabiskannya.


"Kalah tidak habis nanti taro saja disini," ucap Zaki.


Sekar mengangguk. Gadis itu mulai memasukan suapan pertama. Sementara Zaki sendiri tidak makan. Ia hanya minum kopi yang tadi sempat dibuatkan oleh karyawan.


"Hubungan saya dengan Arka seperti sebelumnya. Tak ada yang berubah. Hanya saja sekarang kami sudah bercerai," jelas gadis itu. Ia bersusah payah menelan makannya yang padahal sudah dihaluskan oleh gigi nya sendiri. Sesak rasanya kala menceritakan hal tersebut lagi.


"Memangnya Arka sudah menalakmu? Dia tidak menceritakan itu padaku," jelas Zaki.


"Mungkin secara lisan belum. Tapi surat cerai kami sedang diurus. Lagipula kami sudah pisah rumah." Sekar tersenyum simpul, "Arka tidak mungkin bercerita tentang aku kepada siapapun. Apalagi Anda, orang yang penting. Saya ini bukan orang penting di kehidupan Arka. Hanya seorang pem--"


"Salah besar," potong Zaki. Ia membenahi duduk nya. Menatap Sekar dan membuat Sekar merunduk. "Salah besar jika kamu berkata seperti itu. Arka itu menyayangimu. Dia mencintaimu. Ingin tahu sesuatu? Dulu pernah Arka menelefonku tengah malam. Hanya untuk menanyakan bagaimana cara menyenangkanmu."


Sekar tersenyum. Ia menyimpan sendok makannya, "Saya percaya. Sangat percaya. Arka 'kan yang menyuruhmu mengatakan begitu? Karena Anda adalah sahabatnya. Pasti karena Arka rindu masakan saya? Eh bukan. Maksudnya dimana lagi ada pembantu seperti diriku. Iya 'kan?" Mata gadis itu menyipit. Ia tersenyum selebar mungkin. Namun getaran hebat di bibirnya tidak dapat di sembunyikan. Sekar kembali terluka.


"Jangan lihat orang lain dari luar Sekar. Mungkin dari luar Arka itu terlihat kejam dan garang. Tapi tidak dari dalam. Ia seseorang yang lembut. Percayalah. Itulah mengapa Kakak mu dulu mencintai Arka. Mempercayai Arka dan menyuruh Arka untuk menikahimu. Karena dia tahu Arka memang cocok untukmu," jelas Zaki. Mencoba memberi pengertian kepada Sekar.


Sekar tersenyum. Ia melanjutkan aktivitas makannya, "Rupanya Arka bercerita banyak pada Anda. Pasti karena dia membutuhkan sosok teman untuk dijadikan pengaduan. Sudahlah Pak. Saya ingin menyudahi semuanya. Biarkan saya dan Mas Arka hidup masing-masing. Saya akan menjadi cleaning service yang baik di kantor ini. Dan saya akan membiarkan Arka menjadi Bos yang baik juga."


Sekar berdiri. Mengambil piring dan minumannya, "Saya permisi. Mari Pak Zaki," ucap gadis itu sambil menunduk.


Sekar baru makan beberapa suap. Tapi ia sudah menyimpan piringnya ke tempat piring kotor. Harusnya ia makan banyak mengingat setelah ini dirinya harus bekerja. Tapi nafsu makannya mendadak hilang. Setelah Zaki berbicara tentang Arka.

__ADS_1


"Maafkan aku Arka. Sekar ternyata sedikir keras kepala," gumam Zaki sambil memperhatikan kepergian Sekar.


***


"Assalamualaikum," ucap kedua pria serempak dari luar sana. Membuat seisi rumah keluar. Ada Iyam, Tami dan juga Arman.


"Halo anak Mamah," Tami langsung ambruk memeluk Arka. Ia berjinjit mengingat Arka lebih tinggi darinya.


"Kamu gimana kabarnya? Sehat 'kan?" Tanya wanita tua itu. Arka mengangguk, "Sehat Mah."


Kemudian Arka beralih kepada Arman dan juga Iyam yang ada disana.


"Halo Mas. Saya Jayur," ucap Jayur kemudian merangkul pundak Arman. Menepuk-nepuk punggung pria itu.


"Hahah iya iya Jayur. Apakabar kau? Sudah lama tidak bertemu," tanya Arman. Arman memang ramah kepada Jayur. Tidak ada kecanggungan sama sekali. Ia memperlakukan Jayur sebagaimana adiknya.


"Alhamdulilah baik. Mas Arman sama Mba Tami apa kabar?" Tanya Jayur sanbil sesekali melirik ke arah Tami. Yang dibalas anggukan oleh Tami.


"Arka kesini tidak hanya berdua, Pah," jelas Arka.


Arman dan Tami melirik sepintas ke belakang Arka. Selang beberapa menit mereka mengidikan bahu. Keningnya mengkerut.


"Tapi kok Papah gak liat siapa-siapa. Memangnya sama siapa?" Tanya Arman dengan alis yang naik sebelah.


"Mamah Lestari."


Dua kata namun mampu membuat Tami membulatkan matanya. Sejauh ini Tami memang belum tahu bahwa kepergian Arka adalah untuk menemui Lestari dan membawanya kemari.


Tami melirik ke arah Arman. Melemparkan mata elangnya. Arman hanya nyengir kuda sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Lupa ngasih tau hehe." Jelas Arman.


"Nanti Papah jelaskan. Sekarang mana Lestari?" Tanya Arman.


"Di rumah sakit Mas. Nanti sore biar kita jemput," ucap Jayur.


Atensi Arka teralihkan ketika benda pipih di saku celananya saat benda tersebut berdering dan mengeluarkan getaran hebat. Ia pergi menjauh dari Arman dan yang lainnya untuk mengangkat telefon.


"Halo? Iya?" Arka mangut-mangut, "Aku kesana sekarang," ucap Arka.


"Mah, Pah, Pak. Arka harus pergi. Nanti sore Arka jenguk Mamah Lestari." Arka berpamitan dan salaman kepada semuanya. Kemudian ia melenggang pergi memenuhi panggilan di telefon tadi.


Sekar sudah selesai dengan istirahat siangnya. Ia sudah harus berkutat lagi dengan kain pel pelan dan juga kanebo. Sekar mengalungkan sebuah serbet kotak-


kotak di bahu sebelah kanannya.


Saat ini yang harus ia bersihkan adalah Baby's room. Ruangan tersebut sudah cukup lama tidak dibersihkan karena jarang ada karyawan yang membawa bayi nya ke kantor.


Sekar mengucap bismillah. Ia mengikat rambutnya. Di cepol di atas. Sebuah senyuman manis terbit di bibir mungil gadis itu. Ia menghela nafas dalam lalu memejamkan matanya cukup lama , "Sekar bisa." Imbuhnya.


Ia melirik bagian playground. Dirinya akan mulai dari sana. Menyusun mainan yang tampaknya sedikit berantakan.


Langkah kaki Sekar terhenti ketika ada yang bergerak di belakangnya.


"Aku tidak suka melihat rambutmu di ikat," Arka menarik ikat rambut Sekar. Membuat Sekar membalikan badannya. Ia menatap Arka dengan mata bulat-bulat.


"Ini," Arka menunjuk ikat rambut Sekar. "Jangan dipake lagi ya," Arka memasukan ikat rambut Sekar ke saku celananya.


"M-Mas?" Beo Sekar.


"Iya," ucap Arka sambil tersenyum.


"Ke-kenapa disini?" Tanya Sekar dengan mata yang masih bulat sempurna.


"Lho? Lupa yah? Ini kan kantorku," Arka bersidekap tangan. Ia memiringkan senyumnya.


Seketika Sekar ingat, "Iya. Bisa tolong kembalikan ikat rambut nya?" Pinta Sekar dengan mengulurkan tangannya.


"Untuk apa?" Tanya Arka.


"Untuk dipakai. Aku kesusahan bekerja jika rambutku terurai begini," Sekar mengumpulkan rambutnya kembali. Hendak diikat.


Arka menepisnya dengan sekali hentakan. Membuat rambut Sekar kembali berantakan. Membuat Sekar memelotot tajam padanya, "Apa-apaan?!" Tegas Sekar.


"Kurang jelas yang tadi? Jangan diikat lagi rambutnya. Aku tidak suka. Leher depan dan belakangmu kelihatan jelas kalau diikat," jelas Arka.


"Tapi 'kan tidak ada orang juga di ruangan ini," ucap Sekar seraya melirik ke pintu masuk. Lagipula tidak ada anak kecil yang dititipkan. Mana mungkin ada orang yang berani masuk begitu saja tanpa ada keperluan.

__ADS_1


Arka maju beberapa langkah dengan senyum smirk nya. Ia mendekati Sekar. Namun Sekar mundur saat itu juga dengan perasaan tak karuan tatkala dirinya melihat senyum menyeringai Arka.


"Aku juga orang. Leher mu bisa menggoda. Bagaimana kalau aku tergoda?" Ucap pria itu. Sukses membuat tubuh Sekar bergetar hebat.


"Berhenti main-main! Saya minta ikat rambutnya!" Tegas Sekar. Ia hanya ingin pekerjaannya segera selesai lalu enyah dari tempat ini.


Arka tersenyum. Ia benar-benar tidak menyangka Sekar bisa berubah begini.


Arka membalikan badan Sekar. Mengumpulkan rambut Sekar menjadi satu. Lalu menggelungnya. Membuat sanggul di atas.


"Tapi kalau ada orang lain langsung di lepas ya ikatannya," Arka mengikat rambut Sekar. Jantung Sekar berdegup dua kali lebih kencang dari sebelumnya saat tangan halus Arka menyentuh kepalanya. Dan tanpa sengaja juga menyentuh leher Sekar. Membuat gadis itu menggeliat geli, "Geli ya?" Tanya Arka. Membuat Sekar tersipu malu.


"Jangan terlalu lelah bekerja. Kalau lelah berhenti saja. Akan ku tunggu disini."


Arka menarik sebuah bantalan besar yang memang biasa di gunakan untuk baby sister yang menunggu anak asuhan mereka atau biasa di pakai duduk anak-anak.


Arka duduk di kursi bantal tersebut. Memasukan kedua tangannya ke saku celana setelah tadi berhasil mengikat rambut Sekar. Lalu memandang Sekar dengan senyuman yang merekah.


Sekar masih menganga. Bukan apa-apa. Pasalnya Arka memang beda dari biasanya. Dulu, jangankan untuk mengikat rambut Sekar. Menyentuh sehelai rambut gadis itu pun Arka tidak mau. Namun sekarang? Apalagi Arka mengatakan bahwa dirinya akan menunggu Sekar. Membuat Sekar tak habis pikir karenanya.


Bukannya bekerja, Sekar malah melamun sambil terus menatap Arka. Ia masih tak percaya bahwa orang yang berada di hadapannya ini adalah Arka. Lagipula bagaimana Sekar mau bekerja jika ada Arka yang sibuk melihatnya. Membuat Sekar canggung dan sulit bergerak tentunya.


"Kenapa? Canggung yah?" Tanya Arka membuat Sekar gelagapan.


"Ti-tidak. Tapi bagaimana saya bisa bekerja kalau Anda ada disini," ujar Sekar gelagapan.


Hampir gelak tawa Arka pecah saat mendengar gaya bahasa Sekar yang mendadak berubah menjadi sangat baku. Apalagi wajah gadis itu bersemu. Ditambah ia terlihat gemetar. Terlihat sangat gemas.


"Ya kerja saja. Kamu beres-beres. Saya melihat ke arahmu," ucap Arka dengan senyum yang tak kunjung pudar.


"Bukannya Anda sendiri memiliki pekerjaan?" Tanya Sekar.


Arka mengangguk. Melipat tangannya di dada, "Iya. Dan pekerjaannya adalah mengawasimu."


Sekar menatap Arka dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Ia tidak tahu apa yang sedang Arka lakukan saat ini. Entah menghinanya, menganggunya atau apapun itu. Yang jelas Sekar menjadi kesulitan fokus bekerja. Apalagi Arka terus menatapnya seperti itu.


Sekar menghela nafas dalam. "Sabar. Dia Bos mu," batin Sekar.


Sekar tersenyum. Tangannya mulai lihai membereskan mainan yang berserakan. Dan dengan santainya Arka terus memperhatikan segala gerak-gerik Sekar. Seolah tak ingin melewatkan satu detik tanpa menatap Sekar.


"Sekar?" Panggil Arka.


"Iya?"


"Tahu tidak. Waktu kemarin aku hendak pergi ke Yogyakarta aku kesusahan memasang dasi," ucap pria itu.


Sekar tersenyum. Namun segera ia mengulum senyumnya. Melipat bibirnya. Malu kalau sampai ketahuan Arka.


Gadis itu tidak mengatakan apa-apa. Arka menunduk. Melihat lehernya yang saat ini pun tidak ada dasi tergantung di sana.


Arka bangkit dari duduk nya. Ia mencekal lengan Sekar. Membalikan badan Sekar. Terlalu kencang sehingga membuat tubuh Sekar menempel dengan badan Arka.


Sekar menggunakan kedua tangannya yang berada di dada Arka sebagai pembatas badannya dengan badan Arka. Kepalanya menonggak menatap Arka dengan mata yang melotot. Terkejut karena Arka menariknya.


Setelah itu Arka menciptakan jarak yang lebih jauh dengan Sekar, "Tolong pakaikan dasi ya. Aku belum bisa." Hilih Arka. Pasang dasi mesti modus dulu:v


Tidak. Sekar tidak akan bisa memasangkan dasi di leher Arka. Tubuhnya bergetar hebat. Apalagi tangannya. Jantungnya berdetak sangat cepat. Apalagi jarak mereka sangat dekat saat ini. Bahkan hembusan nafas Arka dapat Sekar rasakan.


Arka menurunkan badannya. Menyeimbangkan tinggi nya dengan tinggi Sekar. Kini kedua wajah mereka sangat berdekatan. Siapapun tolong berikan Sekar asupan pernafasan.


"Kok diam? Tidak mau ya memasangkan dasi pada suami?"


Tak hanya itu. Arka membuka kerah baju nya. Di simpannya di atas. Lalu ia mena


rik lengan Sekar. Arka menyimpan lengan Sekar di leher Arka. Arka mengeluarkan dasi nya dari saku celana.


"Tolong pasangin," Arka menyerahkan dasi itu kepada Sekar. Tapi tolonglah. Jangankan untuk memasangkan dasi. Bernafas pun Sekar sudah kesusahan. Jarak mereka benar-benar dekat saat ini. Apalagi Arka menatap mata teduh Sekar diriingi senyuman yang tak dapat di artikan.


"Kenapa diam?" Tanya Arka. Namun Sekar tak kunjung menjawab.


"Mau bicara sendiri atau aku yang membuatmu bicara?" Arka tersenyum smirk. Ia memiringkan kepalanya. Lalu menatap ke arah bibir Sekar. Yang dimana kini bibir bawahnya sedang di gigit Sekar karena gadis itu sedang degdegan bukan main.


Jika tadi Sekar yang mengigil gara-gara Arka. Kini Arka sendiri yang meneguk ludah nya kasar gara-gara Sekar. Niatnya mau menggoda Sekar malah Arka sendiri yang tergoda saat tanpa sadar pandanganya ke bawah turun ke bibir Sekar. Benda kenyal itu benar-benar menggoda di mata Arka. Sial sekali, Arka kini yang tergoda.


Berkali-kali Arka meneguk ludah nya kasar. Pikirannya sudah kemana-mana. Isi kepalanya mendadak kosonh. Bibir merah merona itu rasanya membuat Arka lapar sekaligus haus di satu waktu.

__ADS_1


Perlahan kepalanya menurun. Ia hendak lepas landas di bibir Sekar.


__ADS_2